
Pov Arini
Kami bertiga akhirnya menuju kamar Ida setelah sebelumnya menanyakan ruang perawatan Ida kepada suster yang barusan kami temui, dan beberapa saat kemudian kami pun menemukan ruangannya.
"Assalamu'alaikum..." ucap kami kepada Nek Ipah serta kedua orangtua Ida.
"Wa'alaikumsalam..." jawab mereka.
"Ayo Nak Arini, Nak Aditya masuk," ujar Nek Ipah.
Akhirnya kami pun masuk ke dalam ruang perawatan Ida, kemudian tak lupa mencium punggung tangan mereka.
Kami sangat terkejut karena di sebelah ranjang Ida ada seorang lelaki yang wajahnya sangat mirip dengan Jerry nampak tertidur pulas.
"IDA..." aku pun kini berhambur memeluk tubuhnya, Namun sepertinya Ida sedang fokus mengamati wajah lelaki yang kini berada di sampingnya.
"Arini...apa kabar? aku sangat merindukanmu," ucap Ida yang kini membalas pelukanku.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, aku juga sangat merindukanmu Ida, tetapi sekarang Ani sudah tidak dapat berkumpul lagi bersama kita," ucapku pada Ida dan kini kami sama-sama meneteskan airmata.
"Kalian jangan terus berlarut dalam kesedihan, ikhlaskan kepergian Ani, Do'akan supaya Ani tenang di alam sana," ucap mas Aditya kepada kami berdua.
"Iya mas, kami pasti akan selalu mendo'akan Ani," ucapku pada mas Aditya.
"Aku jadi merasa bersalah kepada Ani, seandainya waktu itu aku tidak mengajaknya pulang bersama, mungkin Ani sekarang masih hidup," ucap Ida.
"Hidup dan mati seseorang itu sudah Allah SWT atur Da, kita tidak tau kapan dan bagaimana cara kita meninggal," ucapku pada Ida.
"Ini semua sudah takdir Ani, dan Ani pun tadi berkata kalau dia sudah ikhlas dengan takdirnya, jadi kamu tidak usah merasa bersalah," tambah mas Aditya.
"Oh ya Da, siapa lelaki yang dirawat di sebelah ranjang kamu?" tanyaku pada Ida.
"Dia mirip banget sama Jerry ya Rin? aku jadi kangen sama dia," ucap Ida dengan tertunduk sedih.
"Apa mungkin dia memang Jerry ya Da? soalnya wajahnya mirip banget, kayak pinang di belah dua, kalau kata peribahasa mah," ucapku pada Ida.
"Gak mungkin Rin, soalnya tadi orangtuanya bilang kalau namanya adalah Abdul, dia sudah koma selama satu bulan, dan kini dia baru sadar dari koma nya."
"Ya sudah lebih baik kamu sekarang istirahat saja, jangan banyak pikiran, sekarang sudah jam dua pagi, sebaiknya aku dan mas Aditya pulang dulu ya, kami besok mau datang ke pemakaman Ani juga," ucapku pada Ida.
"Makasih ya Rin, mas Aditya, atas semuanya. Tolong sampaikan permintaan maafku pada keluarga Ani karena besok aku tidak bisa datang ke pemakaman nya," ucap Ida. aku pun kembali memeluk tubuhnya, setelah itu kami berdua pamit kepada keluarga Ida.
__ADS_1
......................
Sesampainya di rumah kami langsung merebahkan diri di tempat tidur.
"Rasanya badan mas pegel semua sayang,"
"Ya sudah sekarang mas coba buka baju nya," ucapku pada mas Aditya.
"Mau ngapain? nanti kamu pingsan lagi gara-gara kecapean lho," ucap mas Aditya.
"Mas tuh pikirannya ngeres banget sih, aku tuh cuma mau ngerokin tubuh mas biar cape nya hilang, terus dipijit biar gak pegel lagi."
"Kirain.." jawab suamiku dengan cengengesan.
"Udah cepetan buka, biar kita bisa tidur dulu sebelum subuh."
"Iya-iya gak sabaran banget sih istriku," ucap mas aditya yang malah mencubit pipi ku.
"Nanti pipi ku jadi chubby lho kalau dicubit terus."
"Gak apa-apa chubby juga tetap cantik kok," ucap suamiku hingga membuatku tersipu malu.
"Tapi kayaknya kamu gak usah pijitin mas segala deh, kasihan kamu juga pasti cape."
Beberapa saat kemudian aku pun selesai mengerok dan memijit tubuh suamiku, dan Mas Aditya pun kini nampak sudah tertidur pulas.
"Kasihan kamu mas, pasti cape banget ya, terimakasih atas semuanya," ucapku dengan mencium pipi nya, hingga akhirnya aku pun menyusulnya ke alam mimpi.
Beberapa jam kemudian...
Adzan subuh kini sudah terdengar berkumandang, mas Aditya pun nampak masih tertidur lelap.
"Mas ayo bangun sudah adzan subuh," aku berusaha untuk membangunkan suamiku.
"Alhamdulillah...tidur mas enak banget rasanya sayang, terimakasih ya karena semalam kamu sudah kerokin sama pijitin mas," ucap mas Aditya dengan mengecup pipiku.
"Alhamdulillah...kalau badan mas sekarang sudah enakan, ya sudah yu bangun, barusan sudah adzan subuh," ajak ku pada mas Aditya.
Akhirnya kami berdua sholat berjamaah, setelah itu kami memutuskan untuk memasak bersama.
"Emangnya mas bisa masak?"
__ADS_1
"Kamu gak tau aja sayang, dulu waktu ada lomba memasak di Pesantren, suamimu ini yang selalu menang," ucap mas Aditya dengan bangga.
"Ya sudah kalau begitu biar mas aja yang masak, nanti aku yang giliran nyicipin," candaku padanya hingga mendapatkan cubitan di hidungku.
Beberapa saat kemudian akhirnya masakan kami pun matang, dan kami langsung melakukan sarapan supaya tidak kesiangan untuk melayat ke rumah Almarhumah Ani.
"Lumayan juga masakan suamiku."
"Kok cuma dapat lumayan sih?" protes mas Aditya.
"Iya..iya...ini enak banget, mas pantes kalau jadi chef," ucapku memujinya, dan dia pun membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.
"Gak usah manis-manis juga senyumnya, nanti malah dikerubuti semut lagi dikiranya gula." canda ku pada mas Aditya sehingga dia langsung memeluk erat tubuhku.
Alhamdulillah hari ini tidak ada lagi gangguan dari mahkluk halus, mungkin karena mas Aditya selalu berada di sampingku, ucapku dalam hati.
"Mas habis ini kita langsung pergi ke rumah duka ya buat ngelayat Almarhumah Ani,"
"Iya sayang, tapi nanti disana kamu jangan melamun ya, mas gak mau kalau nanti kamu sampai ada yang gangguin lagi," ujar mas Aditya, dan Aku pun menjawab mas Aditya dengan anggukan kepala.
Setibanya di rumah Ani, sudah terlihat banyak pelayat yang berdatangan, kami berdua masuk dan mengucapkan Salam, lalu sesaat kemudian menghampiri keluarga Almarhumah Ani.
Ibu nya Ani yang melihat kedatangan kami langsung berhambur untuk memelukku, sehingga airmata ku kini tidak dapat di bendung lagi.
"Nak Arini, terimakasih ya sudah datang, maafin Ani kalau semasa hidupnya punya kesalahan," ujar Ibunya Ani.
"Ibu harus ikhlas ya, semasa hidupnya Ani adalah teman terbaik untuk Arini, dan Arini yakin Ani dan bayi yang ada dalam kandungannya pasti akan bahagia di alam sana, dan Ida juga semalam titip pesan supaya Arini menyampaikan permohonan maafnya karena Ida tidak bisa datang untuk melayat."
"Iya tidak apa-apa, mudah-mudahan Nak Ida juga lekas sembuh. Nak Arini, Ibu tau kamu punya kemampuan yang tidak dimiliki manusia pada umumnya, apa Nak Arini melihat Ani sekarang berada disini?" tanya Ibu nya Ani.
Aku pun akhirnya mencoba melihat ke sekeliling, dan ternyata benar, Ani kini terlihat berada di samping suaminya.
"Iya Bu, Arini lihat sekarang Ani sedang berada di samping suaminya, mungkin dia ingin berpamitan untuk yang terakhir kali," ucapku dengan sedih.
"Ani juga kemarin sempat berpesan, kalau dia meminta maaf pada semua keluarganya, dan dia juga bilang bahwa dia sangat menyayangi semuanya," ucapku mencoba menyampaikan pesan terakhir dari Ani.
"Iya Nak Arini, Ibu sangat berterimakasih untuk semuanya."
Akhirnya, kami semua berangkat mengantarkan Ani untuk menuju peristirahatan terakhirnya.
Nampak isak tangis mewarnai pemakaman Ani, begitu juga denganku yang tidak kuasa menahan airmata ini. Namun, aku sangat beruntung karena suamiku selalu berada di sampingku dan berusaha untuk menguatkan ku.
__ADS_1
Kini dari kejauhan nampak Ani melambaikan tangannya kepada kami sebagai salam perpisahan, dia nampak tersenyum bahagia dengan terus mengelus perutnya yang sudah terlihat membesar, aku dan mas Aditya yang melihatnya pun membalas senyuman Ani untuk yang terakhir kalinya, sampai akhirnya secara perlahan Ruh Ani menghilang dari pandangan kami berdua.
Selamat jalan teman terbaikku, Semoga kalian berdua selalu bahagia di Alam sana, Do'a kami akan selalu menyertaimu, ucapku dalam hati.