Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 56 ( Ida Melahirkan !!! )


__ADS_3

Selama kehamilan Ida, Abdul selalu saja di kerjain oleh Ida yang sering ngidamnya aneh-aneh.


"Mas aku mau mangga muda dong," ujar Ida.


"Ya sudah mas beliin dulu ya ke pasar," jawab Abdul.


"Aku maunya sekarang, mangga punya Pak Anas, tuh yang ada di sebrang kolam," tunjuk Ida.


"Ya sudah sekarang mas minta dulu ya sama Pak Anas, biar sekalian pinjem sama galah nya," ujar Abdul.


"Pokoknya mas harus naik sendiri ke pohonnya, aku gak mau tau, TITIK !!" teriak Ida dengan menangis.


"Tapi sayang, pohon mangga nya kan tinggi," keluh Abdul.


"Mas mau ya nanti anaknya ngiler?" tanya Ida.


"Iya..iya..gini amat sih perjuanganku," gumam Abdul.


"Mas barusan ngomong apa?" tanya Ida.


"Enggak, barusan cuma lagi nyanyi aja," jawab Abdul dengan tersenyum, kemudian berlalu ke rumah Pak Anas.


"Pak Anas saya mau minta mangga mudanya ya," ucap Abdul.


"Iya ambil aja mas Abdul, maaf saya gak bisa ambilkan soalnya tanggung lagi mandi," teriak Pak Anas dari dalam rumahnya.


"Iya gak apa-apa Pak, terimakasih, lagian Ida maunya saya yang manjat sendiri," jawab Abdul sehingga secara perlahan dia manjat ke atas pohon mangga.


baru juga Abdul naik, dia sudah dikerubuti semut, sehingga dia loncat-loncat membersihkan semut yang berada dalam bajunya.


"Semangat sayang, kami menunggumu," teriak Ida, dan Abdul pun terpaksa naik lagi demi Ida dan bayi dalam kandungannya.


"Bismillah..." ucap Abdul. Lalu kemudian Abdul pun berhasil naik dan mengambil mangga nya.


"Alhamdulillah dapat juga." Akan tetapi, disaat Abdul hendak turun dia tidak sengaja menyenggol sarang lebah yang berada di pohon mangga, sehingga Abdul kini dikerubuti oleh Lebah.


"Lari mas lari," teriak Ida yang kini melihat suaminya sudah dikerubuti lebah.


Abdul pun lari pontang panting, tapi tetap saja lebah itu mengejarnya.


Byuuuuur..


Abdul memutuskan untuk menceburkan dirinya ke dalam kolam ikan dan akhirnya lebah pun berhenti mengejarnya.


Kini tubuh Abdul basah kuyup dan penuh dengan lumpur, Ida pun menghampirinya dengan merasa bersalah.


"Aduh mas maafin aku ya, gara-gara aku ngidamnya aneh-aneh wajah tampan mas jadi hancur begini di cium lebah," ujar Ida.


"Udah gak apa-apa sayang, yang penting kamu dan bayi kita merasa bahagia," ucap Abdul.


"Ya sudah sini aku mandiin biar bersih," ajak Ida.


"Alhamdulillah...perjuanganku tidak sia-sia meski pun wajah sampai bengkak begini" ucap Abdul dalam hati.

__ADS_1


......................


Usia kehamilan Ida kini sudah memasuki sembilan bulan, Abdul pun selalu Siaga di sampingnya.


"Mas sepertinya perut aku kontraksi nih," ucap Ida.


"Lho, taksiran persalinannya kan dua minggu lagi," jawab Abdul.


"Ya nggak tau, mungkin anak kita sudah gak sabar pengen ketemu orangtuanya," ujar Ida.


"Ya sudah biar lahirannya mudah, mas coba deh merangkak kaya bayi, terus keliling ruangan," ujar Ida. dan Abdul pun kini menurutinya.


Dari arah luar kini nampak Ibunya Ida masuk ke dalam rumah.


"Lho, Nak Abdul ngapain Da pake acara merangkak segala? tanya Ibunya Ida.


"Itu lho Bu, kan katanya kalau orang mau lahiran itu harus merangkak biar gampang lahirannya," ujar Ida.


"Udah belum sayang? aku udah cape nih," ucap Abdul dengan napas yang ngos-ngosan.


"Udah-udah Nak Abdul ayo bangun, lagian kalian tuh aneh-aneh saja, memangnya disini siapa yang mau melahirkan?" tanya Ibunya Ida.


"Ya Ida lah Bu, masa Abdul," celetuk Abdul.


"Terus ngapain jadi nak Abdul yang merangkak ke sana kemari?" tanya Ibunya Ida. Sehingga Abdul dan Ida pun tertawa karena telah menyadari kekonyolan mereka.


dua minggu kini telah berlalu, Setiap malam Abdul selalu begadang, karena Ida selalu mengalami kontraksi palsu, mereka pun sudah menyiapkan baju untuk dibawa ke Rumah Sakit.


"Mas sebaiknya tidur aja, sepertinya malam ini kontraksinya juga gak ada lagi," ujar Ida.


Waktu sudah menunjukan jam 2 pagi, dan sekarang Ida merasakan kontraksi yang hebat sehingga berkali-kali dia membangunkan suaminya.


"Mas Abdul bangun mas, mas perutku sakit banget, aku sudah gak kuat," ucap Ida dengan menggoyang-goyangkan tubuh Abdul.


"Hemmm..." ucap Abdul yang kemudian tertidur lagi karena masih ngantuk.


Akhirnya Ida membangunkan Abdul dengan segelas air putih yang berada di atas nakas.


Byur..


"Astagfirulloh..sayang kok mas nya di guyur sih? lagi enak-enak tidur juga," ucap Abdul.


"Mas..aku tuh sudah berkali-kali bangunin mas, aku udah gak kuat banget, sepertinya sekarang aku beneran mau melahirkan," ujar Ida yang kini mencengkram kuat rambut Abdul.


"Sayang lepasin dulu rambutnya, mas kesakitan," ujar Abdul.


"aku sudah gak kuat mas," teriak Ida.


"Aduh gimana ini?" ujar Abdul yang kini malah mondar mandir di kamar. Beberapa saat kemudian Ibunya Ida yang kebetulan sedang menginap pun masuk ke dalam kamar Ida karena mendengar suara keributan.


"Astagfirulloh Nak Abdul Kenapa malah mondar mandir?" tanya Ibunya Ida.


"Itu Bu Ida katanya udah gak kuat mau melahirkan," jawab Abdul.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit," ajak Ibunya Ida. Namun, Abdul terus saja mondar-mandir saking paniknya.


"Nak Abdul ayo cepat gendong Ida," Ibunya Ida pun kini menarik Abdul supaya segera menggendong Ida.


......................


Kini Abdul melajukan mobilnya menuju Rumah sakit, bahkan dia masih memakai piyama dan tidak sempat menggantinya.


Sesampainya di Rumah sakit Abdul berlari masuk ke dalam dan meninggalkan Ida yang masih berada di dalam mobil bersama Ibunya.


"Suster tolong saya mau melahirkan," ujar Abdul dengan napas yang terengah-engah, sehingga membuat perawat disana keheranan.


"Maaf Pak coba sekarang Bapak tarik napas dulu dari hidung lalu perlahan buang dari mulut," ujar Perawat.


"Terimakasih sus sekarang saya sudah sedikit tenang, maaf tadi apa yang saya ucapkan ya sus?" Abdul malah balik nanya kepada Perawat.


"Bapak tadi bilang kalau Bapak mau melahirkan," ucap perawat tersebut dengan tersenyum.


"Maksud saya Istri saya yang mau melahirkan, ayo sayang kita masuk ke ruang bersalin," ajak Abdul kepada Ida.


"Lho mana Istri saya ya? tanya Abdul.


"Bapak tadi kesini cuma sendiri kok tidak bersama Istrinya," ujar Perawat.


"Aduh gawat ini," ucap Abdul yang kini menepuk jidatnya.


"MAS ABDUL.." teriak Ida dari kejauhan sehingga kini Abdul pun berlari menghampirinya.


"Aduh maaf sayang mas sampai lupa, ujar Abdul dengan ketakutan.


"Mas tega banget sih sampai lupa sama Istrinya sendiri," ucap Ida dengan menangis.


"Sudah..sudah, sebaiknya sekarang kita masuk ke Ruang bersalin kasihan tuh anak kamu sudah mau brojol, ujar Ibunya Ida. Sehingga Ida pun kini dibantu oleh Perawat untuk masuk ke Ruang bersalin.


"Ibu dan Bapak tunggu di luar ya," ucap Perawat kepada Abdul dan Ibunya Ida.


"Pokoknya aku mau mas Abdul ikut masuk mendampingiku !!" ujar Ida yang masih menggenggam tangan Abdul, sehingga Dokter pun mengijinkan Abdul masuk.


Kini Dokter berusaha memberikan pengarahan untuk mengejan kepada Ida yang sudah terbaring di atas ranjang persalinan., karena air ketubannya juga sudah pecah.


"Ayo Bu tarik napas dari hidung, kemudian keluarkan dari mulut," ucap Dokter. Dan Ida pun mengikuti arahan Dokter tersebut.


"Aku gak kuat mas sakit banget," ujar Ida yang kini mencakar wajah Abdul.


"Kamu pasti bisa sayang," ujar Abdul yang terus menggenggam erat tangan Ida.


"Coba mas ngerasain juga, jangan mau enaknya aja, kita juga kan bikinnya berdua !!" teriak Ida yang terus saja mencakar dan menjambak rambut Abdul.


"Iya...iya..mas rela kamu cakar dan jambak, asal rasa sakit kamu berkurang," ucap Abdul.


"Ayo Bu terus sedikit lagi, kepalanya sudah kelihatan," ujar Dokter.


Oek..oek...oek...

__ADS_1


"Alhamdulillah...akhirnya lahir juga," ucap semuanya yang kini terlihat lega, Abdul bahkan sampai bercucuran keringat, apalagi dia masih memakai baju basah karena tadi sempat di siram oleh Ida.


"Ya Alloh terimakasih bayi saya sudah lahir dengan selamat, tapi kalau boleh meminta satu anak saja sudah cukup, saya gak kuat harus nahan cakaran dan jambakan," ucap Abdul yang kini menjatuhkan bokongnya di lantai, sehingga semua orang yang berada disana tersenyum mendengar do'a Abdul.


__ADS_2