
Kami akhirnya berencana untuk langsung berangkat ke Bandung supaya Bunda bisa segera dimakamkan.
Di sepanjang perjalanan aku masih saja terus menangisi kepergian Bunda.
Aku satu mobil bersama Ida dan suaminya, sedangkan mas Aditya ikut menemani jenazah Bunda di dalam Ambulance.
"Ya Alloh berikanlah keikhlasan padaku," ucapku dalam hati. Lalu tiba-tiba Aa Arga yang berada dalam pangkuanku kini mengelap airmataku yang masih menetes di pipi, seakan bayiku mengerti dengan yang aku rasakan saat ini. Aku semakin heran dengan Arga karena meskipun dia baru 40 hari dilahirkan, tapi dia sepertinya selalu mengerti dengan semua yang aku bicarakan.
Ida kini nampak terlelap dengan menggendong Dede Arya. Aku merasa beruntung karena masih mempunyai teman sebaik Ida yang selalu berada disaat suka maupun duka.
Akhirnya, Kami pun sampai di kediaman Bunda yang berada di Bandung. Para tetangga sudah nampak berkumpul menyambut kedatangan Jenazah Bunda, karena sebelumnya aku sudah sempat mengabarinya. Mirna bersama si kembar Bima dan Ayu sudah tiba terlebih dahulu disana, orangtua Ida, orangtua Almarhumah Ani, bahkan Kek Soleh dan Nek Ipah pun sudah datang untuk membantu pemakaman Bunda.
Aku merasa terharu karena disaat aku merasa terpuruk, ternyata masih banyak orang yang peduli terhadapku.
"Nak Arini yang sabar ya, Ikhlaskan Bunda supaya tenang di alam sana," ucap Nek Ipah dengan memeluk tubuhku.
"Iya Nek terimakasih, dan terimakasih juga untuk semuanya karena sudah berkenan hadir," ucapku dengan masih meneteskan airmata.
Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum nanti pagi mengantarkan Bunda ke tempat peristirahatan terakhirnya.
......................
Waktu sudah menunjukan pukul Tujuh pagi, dan kami pun sudah bersiap menuju pemakaman.
Setelah kami sampai di TPU yang tidak terlalu jauh dari rumah, Proses Pemakaman pun segera dimulai. Bunda dimakamkan tepat di samping kuburan Ayah sesuai keinginan terakhir Bunda. Setelah pemakaman selesai mas Aditya pun mewakili keluarga kami untuk meminta maaf serta berterimakasih atas nama Bunda.
"Assalamu'alaikum.....Saya atas nama keluarga dari Almarhumah Bunda Ria, mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran Ibu dan Bapak sekalian karena sudah berkenan untuk mengantarkan Almarhumah ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dan saya juga mengucapkan Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila selama hidup Almarhumah mempunyai kesalahan yang di sengaja maupun tidak disengaja." ucap mas Aditya yang setelahnya ditutup oleh do'a serta mengucapkan Salam.
Pada sore harinya, kami langsung menggelar acara Pengajian, dan setelah acara pengajian selesai, Ida bersama yang lain akhirnya pamit untuk pulang, Bima dan Ayu pun sudah kembali ke kerajaan Siluman Ular.
__ADS_1
Kami sekeluarga memutuskan untuk tinggal di Bandung sementara waktu, karena mas Aditya juga kebetulan ada pekerjaan disini.
Sekarang tinggal aku dan mas Aditya beserta si kembar Aa dan Dede yang tinggal di rumah peninggalan kedua orangtuaku.
"Arini Cantik jangan sedih ya, Ayah dan Bunda pasti sudah tenang di alam sana, tenang saja aku pasti akan selalu membantu kamu mengurus si kembar," ujar kuntilanak Mirna yang secara tiba-tiba muncul dihadapan kami.
"Terimakasih ya Mir, aku kira kamu ikut Ida ke rumahnya," ucapku pada Mirna.
"Gak mungkin aku keluyuran sedangkan kamu sekarang lagi berduka," ucap Mirna dengan memelukku.
"Tapi kamu sebaiknya jangan muncul di depan Dede ya Mir, sepertinya dia sawan kalau lihat kamu, beda dengan Aa yang gak ada takut-takutnya," ujar Aditya.
"Iya siap deh, mas tampan tenang aja, aku khusus jadi baby susternya Aa aja," ucap Mirna.
"Jangan mulai deh Mir, inget yang kamu bilang tampan tuh suami aku," ujarku pada Mirna.
"Eh iya sorry cantik, aku suka keceplosan kalau lihat yang bening-bening," ujar Mirna.
"Gitu dong senyum, jadi kamu terlihat jauh lebih cantik," ucap Mirna dengan tersenyum juga.
"Entah apa jadinya jika tidak ada kalian dalam hidupku," ucapku pada mas Aditya dan Mirna.
"Mas pasti akan selalu berada di sampingmu sayang," ujar suamiku dengan memeluk erat tubuhku. Namun, tiba-tiba Aa yang sedang tidur pun menangis.
"Duh ganggu momen Romantis aja si Aa, kayaknya dia cemburu sama Ayahnya," ucap Mirna sehingga membuat aku dan mas Aditya tersenyum.
"Iya Mir aku juga suka cemburu sama Aa, kayaknya dia mau rebut Arini dari aku," celetuk mas Aditya yang kini membuat Mirna kaget. Entah apa yang Mirna pikirkan karena dia nampak melamunkan sesuatu.
"Mudah-mudahan aja apa yang dipikirkan mas Aditya tidak jadi kenyataan, karena sebenarnya Aa adalah titisan dari Arga, Makhluk halus yang sudah mencintai Arini bahkan sejak Arini berada dalam kandungan Bunda Ria." ucap Mirna dalam hati.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Mir sampai kaget gitu? lagian mas Aditya juga cuma bercanda," ujarku hingga menyadarkan Mirna dari lamunannya.
"Aku gak apa-apa kok, cuma heran aja sama Aa yang masih bayi, tapi dia kayaknya udah pinter banget ya, emang bener kata Ida kalau Aa ini bayi ajaib," ujar Mirna yang kini nampak membaringkan tubuhnya di samping Aa.
"Ya udah sayang, sebaiknya kamu istirahat dulu ya, kamu kan lagi menyusui, jadi harus banyak istirahat biar ASI nya tetep banyak, tapi sebelumnya minum susu ini dulu ya, mas sudah buatin spesial buat istri mas tercinta," ucap mas Aditya dengan memberikan segelas susu untukku.
"Terimakasih banyak ya Suamiku sayang, mas emang pengertian banget deh, aku beruntung banget bisa memiliki mas," ucapku dengan memeluk tubuh mas Aditya.
"Duh so sweat banget sih kalian..aku juga jadi pengen deh ada yang meluk," ucap Mirna.
"Nih kamu peluk aja ini," ujar mas Aditya yang kini melemparkan guling ke tubuh Mirna.
"Sedihnya nasib jomblo, selalu saja menjadi obat nyamuk," ujar Mirna.
"Lho bukannya kamu sudah dapat gandengan waktu pergi ke lombok?" tanya mas Aditya.
"Tadinya aku pikir dia masih singel makanya aku nerima Cintanya, tapi ternyata dia sudah Doble," ucap Mirna.
"Kamu tuh bicara apaan sih Mir, gak jelas banget deh," ujarku yang masih belum paham dengan maksud Mirna.
"Ya ampun..jadi apa yang tadi aku omongin tuh belum jelas ya? gini cantik, tadinya aku ngira dia itu belum punya Bini gitu, eh taunya malah udah buntutan, bahkan istrinya itu sempat telpon aku dan bilang kalau aku itu PELAKOR." cerita Mirna.
"Emang jaman udah canggih banget ya, makhluk halus aja sudah pada punya handphone," ujar mas Aditya.
"Ternyata bukan hanya di alam manusia juga ya yang banyak Pelakor, di alam lain juga Pelakor sudah Viral," ucapku dengan tertawa.
"Iya Arini cantik, makanya lebih baik aku mundur alon-alon saja, gak banget kan seorang Mirna yang cantik Jelita ini harus menjadi Pelakor, kayak gak ada lelaki lain saja," ujar Mirna dengan mengibas-ngibaskan rambutnya seperti yang sedang iklan Shampo.
"Awas Mir, nanti belatung kamu tuh pada loncat ke tubuh Aa dan Dede," ujar Suamiku.
__ADS_1
"Iiiiiih...mas Aditya jahat banget deh, sekarang rambut Mirna sudah gak banyak belatung lagi dan terbebas dari segala macam serangga, kan Mirna selalu main salon-salonan sama Ida," ujar Mirna.
"Udah-udah..yuk mendingan kita bobo aja sayang mungpung ada Mirna yang jagain Aa dan Dede," ucapku dengan memeluk tubuh mas Aditya sehingga membuat Mirna memanyunkan bibirnya.