
Setelah pemakaman Arum selesai, Kek Soleh, Arga dan Arya pun kembali ke rumah.
"Alhamdulillah akhirnya Dede bisa terbebas juga dari gangguan hantu Arum, makasih banyak ya atas bantuan Kakek dan Aa," ucap Arya.
"Kamu harus bersyukur Nak, semuanya merupakan pertolongan dari Allah SWT, karena kita hanyalah sebagai perantaranya saja, tadi juga kalau tidak ada Sukma Kyai Wijaya Kusuma yang masuk ke dalam tubuh Nak Dede kita gak bakalan tau apa yang akan terjadi karena hantu Arum yang sudah diliputi amarah menjadi sangat kuat," ujar Kek Soleh.
"Iya Alhamdulillah Kek akhirnya semuanya berjalan dengan lancar," ujar Arga.
Arini yang baru keluar dari kamar Putri pun langsung menemui Anak-anaknya.
"Dede sayang, Dede gak kenapa-napa kan?" tanya Arini dengan memeluk Putranya yang sudah selama tiga tahun tidak ditemuinya.
"Alhamdulillah Bunda, bagaimana kabar Bunda, Bunda sehat kan? Dede kangen sekali sama Bunda, maaf ya selama tiga tahun ini Dede tidak pernah menengok Bunda," ujar Arya.
"Iya tidak apa-apa sayang, Bunda juga minta maaf karena Bunda dan Aa sibuk kuliah dan kerja sehingga tidak dapat menengok Dede juga," ujar Arini dengan meneteskan airmata karena melihat wajah Arya yang begitu mirip dengan mendiang Aditya.
"Dede lihat Bunda sekarang semakin cantik dan semakin muda saja ya," ujar Arya dengan cengengesan.
"Ada-ada aja kamu sayang," ujar Arini dengan tersenyum.
"Rasanya semua ini seperti mimpi, tidak terasa Anak Bunda sekarang sudah besar, dan sebentar lagi akan menjadi seorang Suami," sambung Arini.
Mas Aditya, seandainya mas masih ada bersama kami, mas pasti merasa bahagia juga bisa melihat anak kita yang sebentar lagi akan menikah, batin Arini.
"Bunda jangan sedih ya, Ayah juga pasti sudah bahagia di alam sana," ujar Arya yang mengetahui isi hati Bundanya.
"Ya sudah sekarang Dede mandi dulu, terus istirahat, kasihan pasti cape pulang kerja, apalagi Bunda denger Dede pernah ditempeli oleh sosok hantu," ujar Arini dengan mengelus bahu anaknya.
......................
Hari Pernikahan Arya dan Putri pun kini telah tiba, kedua mempelai terlihat sangat serasi dengan mengenakan pakaian yang senada, dan Alhamdulillah acara pun berlangsung dengan lancar tanpa ada lagi gangguan dari makhluk astral.
Semua Undangan yang hadir kini secara bergantian naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan Selamat kepada kedua mempelai, tapi Arini dan Arga menjadi sorotan juga karena mendampingi kedua mempelai dengan mengenakan pakaian yang senada dan tampak serasi, sehingga lagi-lagi banyak yang mengira jika mereka berdua adalah pasangan kekasih.
"Tuh kan Rin, yang aku bilang benar kan kalau kamu sama Aa seperti sepasang kekasih, aku juga aneh kenapa sih semakin bertambah umur kamu malah semakin cantik, aku kan jadi iri," bisik Ida.
__ADS_1
"Kamu juga tambah cantik Da, Body kamu aja tambah bohay," puji Arini.
"Kamu ngeledek aku ya, yang ada lemak aku semakin bertambah Rin, makanya aku suka khawatir jika mas Abdul bakalan kepincut sama perempuan yang lebih cantik," ujar Ida.
"Kamu sama mas Abdul kan berumah tangga sudah hampir Dua puluh tahun Da, jadi kamu gak boleh berprasangka buruk, mas Abdul kan selama ini juga udah setia sama kamu," ujar Arini.
"Iya sih Rin mas Abdul memang setia sekali sama aku, padahal banyak lho yang ngejar-ngejar dia, si Kuntilanak Ganjen juga masih berusaha mendapatkan mas Abdul, untung aja Suamiku kuat iman," ujar Ida dengan terkekeh.
"Oh iya Da, apa pernah anakku Bima atau Dinda datang berkunjung ke Pesantren? soalnya semenjak mereka menikah aku belum bisa berkomunikasi lagi dengan mereka," tanya Arini.
"Enggak pernah Rin, tapi kata Kek Soleh portal gaib menuju Kerajaan Siluman Ular masih tertutup, karena sudah beberapa kali ada Siluman lain yang mau mengusik Ketenangan di Kerajaan Bima," jelas Ida.
"Aku jadi kangen sama anak-anak, mudah-mudahan saja mereka baik-baik saja," ujar Arini.
"Iya kamu banyak berdo'a saja ya buat anak-anak," ujar Ida dengan memeluk tubuh Arini.
......................
Malam pun kini telah tiba, dengan perasaan yang berdebar Arya dan Putri pun masuk ke dalam kamar pengantinnya.
"Neng Putri makasih ya sudah menerima akang menjadi Suami Neng Putri, Kang Arya merasa menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini," ujar Arya dengan menggenggam tangan Putri.
"Iya sama-sama Kang, Putri juga merasa menjadi perempuan yang paling beruntung karena Kang Arya sudah memilih Putri menjadi Istri Akang," ujar Putri dengan malu-malu.
"Mudah-mudahan Kang Arya bisa menjadi Imam yang baik ya, serta bisa membimbing Neng Putri ke jalan yang benar, dan kita berdua menjadi keluarga yang Sakinah, Mawadah, Warahmah," ujar Arya dengan mengelus lembut rambut Putri.
"Iya Amin Kang, kalau begitu mari kita istirahat, kasihan Kang Arya pasti kecapean," ujar Putri.
"Memangnya Neng Putri gak mau kalau Kang Arya memberikan nafkah batin kepada Neng Putri untuk yang pertama kali?" tanya Arya.
"Kalau Putri gimana akang aja," ujar Putri dengan malu-malu.
"Ketika mereka berdua merebahkan diri di atas ranjang tiba-tiba ada suara yang menghentikan kegiatan yang akan Arya dan Putri mulai.
Bruk
__ADS_1
"Aduh sakit," ujar Ida yang kepentok pintu ketika menguping Putri dan Arya dari luar kamar.
Arini yang kebetulan lewat pun kini menegur Ida yang masih berada di depan kamar Pengantin Putri dan Arya.
"Da kamu lagi ngapain sih?" tanya Arini.
"Ssssstt, kamu jangan berisik Rin, aku lagi menguping Putri dan Arya yang mau belah Duren," bisik Ida.
"Astagfirulloh Da, kamu mau jadi Mirna kedua ya, inget donk dulu aja pas malam pertama kamu, kamu sampai marah-marah kan sama Mirna karena dia kepo sama malam pertama kamu dan mas Abdul," bisik Arini karena takut jika Putri dan Arya mendengar suara mereka berdua.
"Iiiih..Arini aku kan jadi mengingat kembali waktu itu, saking sakitnya aku gak sadar sampai jerit-jerit segala, kamu juga pasti denger kan?" tanya Ida.
"Ya iyalah gimana gak denger orang kamu teriaknya kenceng banget, untung aja semuanya tau kalau kamu teriak karena kemasukan tombak," ujar Arini dengan cekikikan, sehingga Arya dan Putri yang mendengar suara dari depan kamarnya pun kini mencoba untuk mengeceknya.
"Kang Arya kita lihat dulu yuk ke depan kamar, takutnya ada yang iseng ngintip kita yang mau belah duren," ujar Putri sehingga membuat Arya malu.
Ketika hampir sampai di depan pintu kamar Putri pun berbicara sebelum akhirnya membuka pintu.
"Siapa ya?" tanya Putri, sontak saja Ida dan Arini terkejut, dan Ida malah menjawab pertanyaan Putri.
"Kucing.." teriak Ida, sehingga Arini kini menarik tangan Ida untuk bersembunyi.
Putri akhirnya membuka pintu kamarnya, dan ternyata tidak ada siapa-siapa di sana, dan Putri pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar.
"Siapa sayang?" tanya Arya.
"Gak tau Kang, soalnya pas aku tanya, orangnya malah jawab kucing, tapi masa iya kucing bisa ngomong," ujar Putri dengan cengengesan, namun tawa Putri terhenti karena kini bibirnya sudah Arya bungkam dengan ciuman sehingga Putri terlihat membulatkan matanya.
"Rin kenapa sih kamu tarik-tarik, aku kan penasaran pengen dengar suara jeritan Putri," ujar Ida.
"Kamu tuh gak ada kerjaan banget sih Da, emang gak sadar apa tadi pas Putri nanya, kamu malah jawab Kucing, masa iya kucing bisa ngomong," ujar Arini yang terlihat gemas dengan kelakuan Ida.
"He..he..iya juga ya, kalau begitu kita ke sana lagi yuk," ujar Ida.
"Gak usah kepo ya Da, kayak belum pernah ngalamin aja, mendingan sekarang kita tidur," ujar Arini dengan menarik paksa tubuh Ida ke dalam kamarnya.
__ADS_1