Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 11 ( Kuntilanak Numpang Mandi )


__ADS_3

Pop Arini


Aku mencoba untuk bertanya kepada Arga tentang keberadaan Rangga Wisesa saat ini.


"Arga apa kamu mengetahui sesuatu tentang suamiku?"


"Yang aku tahu Rangga sekarang sudah berada di Istananya. Namun, dia belum bisa menjemputmu karena harus memulihkan tenaga dalamnya terlebih dahulu," jawab Arga.


"Lalu apa yang kamu ketahui dengan nasib Raja Genderewo?" tanyaku lagi.


"Rangga berpesan agar kamu selalu berhati-hati Arini, karena Raja Genderewo telah berhasil melarikan diri serta kembali lagi ke Kerajaannya, kemungkinan besar dia akan kembali lagi mencarimu setelah lukanya pulih kembali. Namun, kamu tenang saja Arini aku pasti akan selalu menjagamu segenap jiwa dan ragaku."


"Terimakasih Arga, karena kamu sudah mau menjagaku. Akan tetapi, maaf jika aku tidak akan pernah bisa membalas semua perasaanmu," ujarku pada Arga, karena aku tidak mau kalau sampai memberikan harapan palsu kepadanya.


"Arini aku tau kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku. Namun, apakah kamu tidak bisa memberikanku kesempatan untuk sekali saja?" pinta Arga.


"Maaf Arga Aku tidak bisa mengkhianati cintaku, dari dahulu sampai sekarang hanya Rangga Wisesa yang aku cintai, dan mungkin selamanya akan seperti itu."


"Tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda Arini, kalian tidak akan pernah bisa bersatu lagi karena sudah berbeda alam," Ucap Arga.


"Lalu apa bedanya denganmu yang selalu mengharapkan cintaku? kamu juga sadar kan kalau kita juga berbeda alam dan tidak akan pernah bisa bersatu juga?" ucapku pada Arga.


"Aku yakin sekali Arga kalau suatu saat kamu akan menemukan perempuan yang lebih baik dariku !!"


Arga pun nampak terdiam dan tertunduk sedih mendengar ucapanku.


Maafkan aku Arga karena aku selalu menyakitimu, Ucapku dalam hati. dan aku pun kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Beberapa jam kemudian...


Malam pun kini telah tiba, akan tetapi mata ini tidak dapat terpejam, aku sudah mencoba berkali-kali menutup mataku, namun hanya wajah Rangga saja yang selalu terbayang dalam pikiranku, serta suaranya selalu terngiang-ngiang di telingaku, aku pun hanya bisa tersenyum-senyum sendiri menyadari kelakuanku.


Rangga...aku sangat merindukanmu, aku mohon cepatlah datang kemari.


Sampai akhirnya aku memutuskan keluar untuk mencari angin, lalu berniat untuk duduk di beranda rumah, aku sangat berharap Rangga akan datang untuk menemuiku, namun yang datang bukanlah Rangga, melainkan Arga, kami pun akhirnya duduk bersama.


Sesaat kemudian kami terkejut karena mendengar teriakan dari arah empang..

__ADS_1


Aaaaaaaaaaaaaa....toloooooong...


"Ga..kamu denger sesuatu gak dari arah empang?" tanyaku pada Arga.


"Iya kayak orang minta tolong gitu," jawab Arga.


Lalu secara tiba-tiba Ida kini nampak berada di hadapan kami, dengan napas yang ngos-ngosan.


"Hah..hah..hah.."


"Kamu kenapa sih Da, sudah malem gini juga masih teriak-teriak? bikin kaget aja tau," ucapku pada Ida. Akan tetapi, Ida belum juga menjawab pertanyaanku, karena aku melihat dada nya masih naik turun dan berusaha untuk mengatur napas.


"Ya sudah kamu duduk sini dulu kemudian baca istighfar biar tenang, terus nih kamu minum," aku pun menyodorkan segelas air putih pada ida.


"Makasih Ya Rin..." ucap Ida setelah air di gelas tandas.


"Ada lagi gak? tapi air nya yang manis apalagi kalau tambah es batu." Ida nampak ngiler hanya dengan membayangkannya saja.


"Ida..Ida...itumah namanya ngelunjak, lagian mana ada malam-malam gini minum es, itu gak sehat say," ucapku mencoba untuk mengingatkan Ida.


"Ya Allah Rin bisa gak sih gak usah malu-maluin aku di depan Lee Min Hoo?" Ucap ida sambil menutup wajah dengan kedua tangannya karena malu.


"Ya udah kalau gitu ayo kamu mulai cerita saja."


"Ceritanya gini ya Rin, tadi aku kan kebangun karena pengen pipis, aku sebenarnya takut, aku udah coba bangunin Ani, tapi gak bangun-bangun juga, tadinya aku mau minta di anter sama kamu, tapi karena udah kebelet dan takut keburu keluar di celana juga akhirnya aku beraniin tuh pergi sendiri."


"Namun, pada saat aku berada di depan bilik toilet aku mendengar suara orang lagi mandi, aku berpikir mana mungkin malem-malem gini ada yang mandi nanti malah jadi beku tuh karena kedinginan."


"Aku sudah beberapa kali memanggil-manggil orang yang berada di dalam bilik toilet, namun nihil gak ada jawaban juga, sampai akhirnya aku mencoba untuk membuka pintunya, dan ternyata disana kosong gak ada siapa-siapa."


"Perasaanku pun akhirnya mulai tidak enak, jantungku juga ikut berdetak kencang, apalagi dari belakang tubuhku tiba-tiba ada yang nyolek-nyolek gitu, dengan kaki yang gemetar akhirnya aku memberanikan diri untuk berbalik badan, dan ternyata ada perempuan berbaju putih yang nampak melayang layang dihadapan ku."


"Aku sangat ketakutan karena dengan senyumnya yang menyeringai serta mengeluarkan darah, dia menatap wajahku, apalagi seluruh wajahnya dipenuhi oleh banyak belatung, iiiiy.....Ida nampak bergidik ngeri."


"Trus kenapa kamu gak berusaha buat baca ayat kursi gitu?" tanyaku.


"Rin jangankan ayat kursi, otak ku malah ngebleng, sehingga aku malah membaca do'a mau makan," cengir Ida.

__ADS_1


"Astagfirulloh Ida, kamu sih ingetnya makan terus, makanya yang diinget pun do'a mau makan juga," ucapku yang kesal terhadap kelakuan Ida.


"Iya sih...hehe...tadi aku juga sangat berharap pengen pingsan aja Rin, udah pura-pura merem juga malah setan yang ku kira jenis kuntilanak itu memegang tanganku lalu malah bertanya :


"Mbak tadi cari aku yah? maaf tadi tanggung lagi numpang mandi," kemudian akhirnya dia tertawa cekikikan dengan khas suara kuntilanak karena menertawakan bacaan do'a ku juga."


Hihihihihihihihihihi...hihihihihihihihhihih..


"Suaranya terdengar sangat menyeramkan, apalagi disaat aku mencoba untuk membuka mata nampak banyak belatung yang menggeliat manja di tanganku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk lari saja kemari dan kamu lihat sendiri kan kalau celanaku sampai basah."


"Sok aja Rin kalau kalian mau pada ketawain aku mah, aku ikhlas kok," ucap Ida.


Dengan menahan tawa aku mencoba memeluk tubuh Ida dan menenangkannya, kasihan juga kan orang habis kesusahan masa malah di ketawain.


"Ya udah maafin aku ya Da, karena tadi aku gak bisa menemani kamu," ucapku pada Ida.


"Oh ya Ga, kenapa kuntilanak itu bisa masuk ke dalam pagar ghaib yang kamu dan Kakek Soleh buat?" tanyaku.


"Pagar ghaib yang kami buat hanya tidak akan bisa di masuki oleh makhluk halus yang mempunyai niat jahat saja. contohnya aku, kamu lihat sendiri kan aku juga bisa masuk kesini? apalagi sampai bisa tinggal di rumah ini untuk berusaha menjagamu," Ucap Arga dengan mengelus lembut kepalaku.


"Aduh gusti meronta hati yang jomblo ini Bang," teriak Ida.


Kami pun hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Tapi-tapi tunggu dulu deh Rin, secara tidak langsung berarti tadi Arga ngomong kalau sebenarnya dia juga makhluk halus gitu?" teriak Ida lagi sampai akhirnya dia pingsan karena shock.


"Astagfirulloh...Ida..Ida..pake acara pingsan segala, tadi aja diliatin penampakan seram gak bisa pingsan, sekarang giliran lihat penampakan cowok ganteng malah pingsan," Ucapku sambil tersenyum melihat Arga yang sedari tadi juga tersenyum dan tidak mau melepas pandangannya dari wajahku.


"Terus ini gimana Ga? Ida kan berat, jadi kita berdua gak bakalan kuat buat gotongnya," tanyaku pada Arga.


"Kamu coba deh goyang-goyangin dulu badannya." ucap arga.


Aku pun berusaha menggoyang-goyangkan tubuh Ida, Namun, bukannya Ida bangun yang ada aku malah denger dia ngorok.


"Beuh....ini mah bukan cuma pingsan, tapi langsung masuk alam mimpi, Ya udah aku panggil Kakek Soleh dulu deh buat bantuin kita," ujarku pada Arga dengan melangkahkan kaki ke dalam rumah.


Akhirnya kami bertiga pun menggotong tubuh Ida masuk ke dalam kamar, lalu kemudian kami memutuskan untuk beristirahat juga.

__ADS_1


__ADS_2