
Keluarga Arini begitu terpukul atas kepergian Mirna, sosok hantu Kuntilanak yang sudah bertahun-tahun tinggal bersama mereka.
"Aa bahagia karena Ayah bisa kembali berkumpul bersama kami, tapi kenapa sekarang Aunty Mirna harus pergi meninggalkan kita Bunda?" ujar Aa dengan memeluk erat tubuh Arini.
Entah kenapa Aditya merasa ketakutan melihat Aa yang begitu dekat dengan Arini.
Astagfirulloh..mungkin aku sudah terhasut oleh perkataan Pangeran Genderewo tentang Aa yang suatu saat akan mengambil Cinta Istriku. Ampuni aku Ya Alloh, seharusnya aku tidak mempunyai perasaan seperti ini terhadap Anakku sendiri, ujar Aditya dalam hati.
"Ayah kenapa punya pemikiran seperti itu terhadap Aa?" tanya Dede kepada Aditya. Sehingga Aditya yang belum mengetahui kelebihan Dede pun merasa heran.
"Apa maksud Dede?" tanya Aditya.
"Sebenarnya Dede punya kelebihan Yah, yaitu dia dapat membaca isi hati oranglain," ujar Arini yang kini membuat Aditya merasa terkejut.
"Subhanallah..ternyata anak Ayah hebat semua ya," ujar Aditya yang kini memeluk erat tubuh Dede.
"Ayah..apa sebaiknya Keluarga Ida kita kasih tau tentang kepergian Mirna untuk selamanya?" tanya Arini.
"Iya Bunda, biar bagaimana pun Ida juga kan teman baik Mirna. lebih baik besok saja kita datang langsung ke rumah Ida, gak enak kalau harus ngasih tau nya lewat telpon dan sekarang kan sudah malam juga, sebaiknya kita semua beristirahat," ujar Aditya.
Kini mereka semua memutuskan untuk beristirahat dengan tidur bersama di ruang keluarga.
Kepergian Mirna sudah memberikan pelajaran kepada mereka, supaya lebih menghargai lagi keberadaan seseorang yang berada di samping kita. karena jika orang itu sudah pergi, maka yang tersisa hanyalah rasa Kehilangan.
Terimakasih Mirna karena kamu telah rela berkorban demi menyelamatkan nyawa Suamiku. Dan mulai sekarang aku akan lebih menghargai kebersamaan dengan orang yang aku sayangi, sebelum akhirnya maut yang akan memisahkan kami semua, ujar Arini dalam hati.
"Ayah tau, jika kepergian Mirna telah memberikan luka untuk kita semua, tapi setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan, dan Ayah harap Bunda juga harus ikhlas dengan ketentuan Allah SWT," ujar Aditya dengan memeluk tubuh Arini yang kini tengah menangis.
"Menangislah jika semua itu bisa membuat hati Bunda merasa lega, tapi jangan sampai berlarut-larut, karena Ayah yakin Mirna pasti akan ikut sedih jika dia melihat Bunda seperti ini," ujar Aditya.
......................
Keesokan paginya, Bima dan Ayu pamit kepada keluarganya, untuk pulang kembali ke Kerajaan Siluman Ular.
"Ibunda jangan terus-terusan bersedih ya, maaf jika kami tidak dapat berlama-lama berada disini, ujar Bima dan Ayu.
__ADS_1
"Iya sayang, maafkan Bunda juga karena Bunda tidak dapat berada di samping kalian," ujar Arini dengan memeluk tubuh Bima dan Ayu.
"Terimakasih ya Nak, kalian selalu membantu kami, ketika kami mengalami kesulitan," ujar Aditya yang kini bergantian dengan Arini memeluk Bima dan Ayu.
"Aa, Dede, tolong kalian berdua jaga Ayah dan Ibunda ya, kakak tau kalian adalah anak-anak yang hebat !" ujar Ayu kepada Aa dan Dede.
"Iya Kak, Kakak jangan khawatir, kami pasti akan menjaga Ayah dan Bunda," ujar Aa dan Dede yang kini berpelukan dengan Bima dan Ayu.
Kemudian Bima dan Ayu pun akhirnya kembali ke Kerajaan Siluman Ular setelah sebelumnya mengucap Salam.
"Ayah, Bagaimana kalau kita ke rumah Ida sekarang saja? ini kan weekend, takutnya kalau siang Ida keburu keluar rumah," ajak Arini.
"Ya sudah kalau begitu kita langsung berangkat saja," jawab Aditya. Sehingga mereka berempat pun memutuskan berkunjung ke rumah Ida untuk memberitahukan tentang kepergian Mirna.
......................
"Assalamu'alaikum.." ucap mereka begitu sampai di depan rumah Ida yang terlihat sepi.
"Lho kok sepi ya Bunda? apa Ida sedang bepergian?" tanya Aditya.
"Tanteu Ida ada kok di dalam, tapi sepertinya masih tidur," ujar Aa.
"Sebentar lagi Om Abdul juga datang kok Bunda," ujar Aa dengan tersenyum. Dan benar saja, sesaat kemudian Abdul dan Putri datang dengan menjinjing kantong makanan.
"Assalamu'alaikum," ujar Abdul dan Putri secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab keluarga Arini. Dan mereka pun kini saling bersalaman.
"Lho..kok pada di luar aja? kenapa gak pada masuk ke dalam?" tanya Abdul.
"Kami tadi sudah mengucap Salam, tapi tidak ada yang menjawab. Aku kira kalian pergi liburan," ujar Aditya.
"Sepertinya Mamah tidur lagi Put, kalau begitu putri bangunin Mamah dulu gih !" ujar Abdul kepada Putri.
"Mamahnya gak usah di bangunin Put, sini Bunda lihat makanan yang habis di beli sama Putri," ujar Arini. Lalu kemudian Arini membuka makanan tersebut yang berisikan ayam goreng. Dan benar saja dugaan Arini, tidak memerlukan waktu lama, Ida kini sudah berada di hadapan mereka dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Benar kan dugaan Bunda, Putri gak perlu susah-susah bangunin Mamah, karena Mamahnya Putri pasti bangun sendiri kalau mencium aroma makanan," ujar Arini. Sehingga mereka yang melihat kekonyolan Ida pun menertawakannya.
Ida kini mulai membuka matanya, dan dia berniat langsung melahap ayam goreng yang berada di hadapannya, tanpa memperhatikan ke sekeliling.
"Mah, lebih baik sana cuci muka dulu," ujar Abdul.
"Iya Pah bentar, Mamah mau nyobain dulu ayam goreng yang kelihatannya sangat lezat ini. Nanti ayamnya keburu kabur, kalau tidak segera di makan," ujar Ida.
"Memangnya kalau ayam yang sudah di goreng bisa kabur juga ya tanteu?" tanya Dede dengan polosnya kepada Ida.
"Lho kok ada suara anak kecil laki-laki?" ujar Ida dengan mengucek pelan matanya.
"Astagfirulloh Arini, sejak kapan kalian datang? kok aku gak dibangunin sih?" ujar Ida.
"Kami udah daritadi berada disini Da, kamu aja yang terlalu fokus sama makanan, sampai-sampai tidak melihat keberadaan kami, ternyata kebiasaan kamu dari dulu belum berubah ya, kalau nyium aroma makanan pasti langsung bangun, padahal sekarang kamu kan udah langsing," ujar Arini. Sehingga membuat Ida tersenyum malu.
"Ya udah kalau begitu, aku permisi ke belakang dulu ya mau cuci muka," ujar Ida.
Beberapa saat kemudian, Ida pun datang dengan membawa beberapa piring.
"Rin kamu kok gak bilang dulu sih kalau mau pada main kesini? tau begitu aku kan bisa masakin dulu, ayo sebaiknya kita sarapan dulu," cerocos Ida.
"Gak usah ngerepotin Da, lagian kami juga tadi sudah sarapan di rumah, lebih baik sekarang kalian sarapan saja dulu, nanti ada yang mau aku ceritain," ujar Arini. Sehingga keluarga Ida pun kini memulai sarapan.
Putri terus saja memaksa Aa dan Dede untuk makan. Tapi Aa tetap gak mau, sehingga Putri beralih memaksa Dede, dan Dede selalu tidak bisa menolak keinginan Putri, sehingga Putri beberapa kali terlihat menyuapi makanan kepada Dede.
"Rin ayo donk cepetan cerita, aku sudah gak sabar nih !" ujar Ida. Sehingga Arini kini terlihat menghembuskan nafas panjang, dan Aditya mengusap lembut pundaknya.
"Da, sebenarnya Mirna belum pulang semenjak di jemput oleh lelaki pada waktu di Sekolah itu," ujar Arini.
"Kenapa harus khawatir Rin? Mirna kan bukan anak kecil lagi, lagian kalau pacarnya cowok tampan kayak gitu, pastinya Mirna pengen nempel terus," ujar Ida dengan cengengesan.
"Tapi sebenarnya lelaki tersebut adalah Pangeran Genderewo yang sudah berniat membalaskan dendam atas kematian Ayahnya, yaitu Raja Genderewo," ujar Arini sehingga membuat wajah Ida kini menjadi pucat.
"Terus sekarang bagaimana dengan Nasib Mirna?" tanya Ida.
__ADS_1
"Semalam sebenarnya mas Aditya sudah pergi ke Istana Pangeran Genderewo untuk membebaskan Mirna dengan dibantu oleh Bima, Ayu dan juga Aa. Mas Aditya hampir saja kehilangan nyawanya, karena Pangeran Genderewo berusaha mendorongnya ke dalam jurang api Neraka, tapi Mirna mengorbankan dirinya dengan mendorong tubuh Pangeran Genderewo, sehingga Mereka berdua musnah," jelas Arini. Dan Ida pun kini terlihat begitu Syok.
"Ya ampun Mirna, maafin aku jika selama ini sudah banyak salah," ujar Ida dengan meneteskan airmata, dan Arini pun kini memeluk tubuh Ida, sehingga mereka berdua menangis bersama melepas kepergian Mirna.