Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 25 ( Rencana Rangga menjadi manusia )


__ADS_3

Pov Arini


Setelah kejadian tertukarnya jiwa Ani dan Ida tempo hari, saat ini mereka nampak lebih bahagia dengan mensyukuri semua hal yang mereka punya, baik itu kelebihan atau pun kekurangan masing-masing.


Meski pun kadang masih sering meributkan hal yang tidak penting, tapi sekarang mereka selalu kompak, dan yang lebih baiknya lagi sekarang mereka lebih taat dalam hal beribadah. Mungkin memang benar kalau dibalik semua musibah ternyata ada hikmah yang tersembunyi.


Rangga Wisesa kini sudah selesai dari semedinya, dia berkata bahwa sekarang dia sudah mempunyai petunjuk untuk mengubah dirinya agar bisa menjadi manusia seutuhnya. Aku merasa sangat bahagia, namun ada rasa yang mengganjal di dalam hatiku pada saat aku melihat wajah Aditya. Wajahnya kini menyiratkan kesedihan yang mendalam karena mungkin dia tidak bisa mewujudkan impian mendiang kedua orangtuanya yang terakhir.


Saat ini Aku juga mengingat Arga yang keberadaannya entah dimana, walau pun banyak yang bilang kalau dia sedang bertapa di Alas purwo. Mudah-mudahan saja dimana pun Arga berada, Alloh SWT selalu melindunginya, ujarku dalam hati.


Kami semua kini sedang berkumpul di dalam rumah Kek Soleh dan Nek Ipah, waktu sudah menunjukan tengah malam setelah kami menyelesaikan pertarungan yang menguras emosi dan energi.


Kini Kek Soleh dan Aditya nampak sedang mencoba untuk memulihkan tenaga dalam mereka, sedangkan Aku tidak terlalu mendapatkan luka dalam yang parah karena pertolongan Rangga yang berkali-kali menangkis serangan untukku pun akhirnya merebahkan diri di pangkuan Bunda, dengan Rangga yang berada di sampingku serta terus saja menggenggam erat tanganku.


"Hemmm dasar Bucin," ledek Ani dan Ida pada Rangga, yang hanya dibalas Rangga dengan senyuman.


"Oh ya Pak, besok malam kebetulan bulan Purnama akan muncul, dan saat itulah saya bisa melakukan ritual untuk mengubah diri saya menjadi seorang manusia," ucap Rangga pada Ayah.


"Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik Nak Rangga?" tanya Ayah.


"Tidak ada yang harus saya pikir-pikir lagi pak, asalkan saya bisa bersama dengan Arini saya rela harus melakukan apa pun juga," jawab Rangga Wisesa.


"Tapi nanti setelah kamu menjadi manusia seutuhnya, umurmu tidak akan abadi seperti sekarang saat menjadi siluman ular Rangga," ujar ayah.


"Tidak apa-apa Pak jika memang itu syarat yang harus saya bayar, asalkan saya bisa mendampingi Arini hingga maut yang memisahkan kami," jawab Rangga Wisesa.


"Kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu Bapak hanya bisa mendukungnya saja Nak Rangga," ucap Ayah.


"Nak Rangga terus bagaimana dengan nasib di kerajaan ular? dan apa nanti kalian akan melakukan ritualnya di atas Air terjun?" tanya Kek Soleh.

__ADS_1


"Jika memang semua pengikutku ingin mencari kebahagiaan mereka diluar sana, mereka bisa pergi dengan bebas kemana pun mereka mau Ki, Namun jika mereka tidak mempunyai tempat untuk kembali maka pintu Istana pun akan selalu terbuka untuk mereka semua," jawab Rangga Wisesa.


"Iya Ki, kami harus melakukan ritual itu tepat di atas Air terjun disaat bulan Purnama pada pukul jam dua belas nanti malam, Arini harus mengikrarkan cintanya kepadaku, maka Mustika abadi yang aku miliki dengan dibantu oleh cahaya bulan Purnama dan kekuatan dari cinta sejati, perlahan akan mengubahku menjadi manusia seutuhnya," jelas Rangga Wisesa.


"Terus apa selanjutnya langkah yang akan kamu ambil setelah menjadi manusia Rangga?" tanya Aditya.


"Hal yang pertama akan aku lakukan adalah masuk ke dalam agama yang Arini peluk, kemudian setelahnya aku akan menikahi Arini, aku akan berusaha mencari pekerjaan sebagai manusia normal untuk menafkahi anak dan Istriku nanti," jawab Rangga dengan mantap.


"Alhamdulillah...mudah-mudahan rencana baikmu akan mendapatkan kemudahan dari Alloh SWT, Amin Yarobbal Alamin, ucap Aditya, dengan berkata tulus namun hatinya kini merasa sesak.


"Aamiin...." ucap kami semua dengan serempak.


"Maafkan aku ya Arini, karena tempo hari sudah memaksamu untuk menikah denganku hanya demi ambisiku mewujudkan keinginan terakhir dari mendiang orangtuaku," ucap Aditya.


"Iya tidak apa-apa Aditya, lagian manusia kan tempatnya salah dan dosa, aku juga kalau berada di posisi kamu mungkin akan melakukan hal yang sama," jawabku pada Aditya.


"Sekarang aku sudah sadar bahwa Cinta tak harus saling memiliki, omongan Arga tempo hari sudah menyadarkan aku yang sudah keliru dengan makna dari Cinta yang sesungguhnya," ucap Aditya.


"Amin..mudah-mudahan saja, terimakasih ya atas do'anya," jawab Aditya.


"Bang Aditya boleh dong kita daftar buat jadi kandidatnya?" goda Ani dan Ida.


"Beuh...mulau lagi nih kambuh, duo centil mulai beraksi, aku kira kecentilan kalian juga ikut hilang?" ledekku pada Ani dan Ida yang diikuti oleh gelak tawa dari semuanya.


"Udah jam dua pagi nih, yuk kita bobo," ucapku pada semuanya.


"Iya nih badan kami juga udah pada pegel semua," ucap Ani dan Ida.


"Ya sudah kalau kalian mau istirahat sana masuk kamar saja, lagian kasihan kalian pasti cape karena tadi sudah melakukan perjalanan supra natural," ucap Bunda.

__ADS_1


"Terus Bunda tidur dimana?" tanyaku pada Bunda.


"Bunda tidur disini saja sama Ayah, Nak Aditya dan Nak Rangga juga akan beristirahat di Mushola sambil membantu Nak Rangga untuk mengenal lebih dalam lagi agama kita," jawab Bunda.


"Ya udah semuanya kalau gitu aku duluan yah, yuk Ni, Da, kita bobo cantik dulu sebelum sholat subuh," ajakku kepada Ani dan Ida.


"Bunda nanti kalau sudah masuk waktu subuh bangunin ya kalau kita belum bangun," ujarku.


"Iya sayang nanti pasti Bunda bangunin."


Setelah beberapa jam kami tertidur, Bunda pun kini membangunkan kami untuk melakukan Sholat Subuh.


Aku yang bangun terlebih dahulu pun langsung pergi ke bilik toilet serta kemudian berjalan menuju mushola yang berada di sampingnya. Namun, entah kenapa aku merasakan kalau ada sepasang mata yang terus saja mengikutiku, Ah..mungkin itu hanya perasaanku saja, ucapku dalam hati.


Kini giliran Ani dan Ida yang akan masuk ke dalam bilik toilet, Namun, mereka tiba-tiba menjerit karena kaget melihat penampakan.


"Baaaaaaaaaaaa...."ucap kuntilanak yang berada di dalam toilet.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa....Kun... kun... kun...kuntilanak...." teriak mereka...


Aku dan yang lainnya pun yang baru selesai melaksanakan sholat akhirnya menghampiri mereka yang sedang ketakutan.


"Ya Alloh Mirna, ngapain sih pake nakutin temen-temen aku segala?" tanyaku pada Mirna.


"Idiiih...lagian mereka nya aja yang udah gangguin aku, harusnya tuh kalau mau masuk ke dalam toilet tuh baca do'a dulu, ketok pintu dulu, ini mah main nyelonong aja ampe aku yang lagi mandi juga kaget, mana aku belum selesai keramas lagi, tuh lihat masih banyak shampo di kepalaku !" tunjuk Mirna.


"Ani, Ida kebiasaan deh kalau gak diingetin suka lupa," Aku pun menegur Ani dan Ida


"Waaaah mbak kuntinya kalau lagi mode cantik ternyata gak serem, celetuk Ida.

__ADS_1


"Iya_iya maaf ya mbak Mirna ini semua salah kami, untuk menebus semua kesalahan kami, nanti setelah kami selesai sholat subuh kami bantu Mbak Mirna keramas deh, plus pake conditioner sama vitamin rambut sekalian biar tambah lembut rambutnya, cerocos Ani dan Ida yang berkata dengan penuh semangat. dan kini Mirna pun terlihat bahagia dengan apa yang akan mereka lakukan nanti.


"Ya udah cepetan Sholatnya, nanti waktu Solat Subuhnya keburu habis. Biar Mirna juga gak kelamaan nungguin kalian buat main salon-salonannya, ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala karena merasa lucu melihat tingkah mereka bertiga.


__ADS_2