Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 87 ( Penyakit Jantung )


__ADS_3

Arga kini telah keluar dari kamar mandi, dan Arini pura-pura tidur karena dia selalu bingung bagaimana harus menanggapi Arga.


"Sayang kamu gak mau mandi dulu?" tanya Arga, tapi Arini sama sekali tidak menjawab pertanyaannya.


"Sepertinya Arini sudah tidur, kasihan dia pasti kecapean," ujar Arga yang kini merebahkan diri di samping Arini.


"Selamat tidur sayang," ujar Arga dengan mengecup sekilas bibir Arini serta mengelus lembut rambutnya, kemudian Arga memeluk tubuh Bundanya tersebut dengan erat.


Kenapa sih A, Aa selalu memperlakukan Bunda seperti ini, bagaimana caranya supaya kita bisa lepas dari perasaan ini jika kita berdua terus bersama, batin Arini yang kini berada dalam dilema.


Akhirnya mereka berdua pun terlelap dalam mimpi masing-masing.


"Arini sayang," ucap seorang lelaki yang kini berada di dalam mimpi Arini.


"Mas Aditya, mas aku kangen banget sama mas," ujar Arini yang kini melihat sosok lelaki tersebut, kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


"Mas juga kangen banget sama kamu sayang, Mas tau ini semua berat untukmu, maafkan mas karena tidak bisa berada di sampingmu lagi," ujar Aditya dengan mengecup kening Arini.


"Maafkan aku mas jika telah membuat mas kecewa, tidak seharusnya aku mempunyai perasaan cinta terhadap anak kandung kita," ujar Arini yang kini menangis dalam pelukan Aditya.


"Bukan salah kamu sayang, tapi mas berharap kalian bisa segera mengakhiri semuanya, bukannya mas tidak kasihan kepada Arga karena mas tau betul pengorbanan Arga bahkan sejak kamu masih berada di dalam kandungan Bunda Ria, tapi di kehidupan saat ini kalian tidak akan mungkin bersatu karena Arga telah terlahir dari rahim kamu sayang," jelas Aditya.


"Sebaiknya sekarang aku ikut mas Aditya saja supaya Arga bisa melepaskanku," ujar Arini.


"Sekarang belum saatnya sayang, kamu harus sabar dulu ya, suatu saat pasti kita akan bertemu dan bersatu kembali," ujar Aditya yang kini menghilang secara perlahan.


"Mas Aditya," ujar Arini yang kini terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah sehingga Arga ikut terbangun juga.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Arga yang kini terlihat khawatir karena melihat wajah Arini yang terlihat pucat.


"Sayang dada Bunda sekarang rasanya sakit sekali," ujar Arini yang kini terlihat memegang dadanya yang sakit, sehingga Arga bergegas untuk membawanya ke Rumah Sakit.


"Kamu harus sabar sayang, kamu harus kuat," ujar Arga yang kini tengah mengemudi karena melihat Arini saat ini sudah pingsan.


Sesampainya di Rumah Sakit, Arga pun langsung menggendong tubuh Arini lalu berlari membawanya ke ruang IGD.

__ADS_1


"Dokter tolong Istri saya," teriak Arga. Dia tidak menyadari kalau Arini bukanlah Istrinya tapi dia adalah Bundanya.


Dokter pun kini segera menangani Arini.


"Mohon maaf Pak, sebaiknya Anda tunggu di luar supaya tidak mengganggu Dokter untuk menangani pasien, dan Anda juga harus menyelesaikan administrasi terlebih dahulu," ujar Suster kepada Arga.


Arga kemudian berlari menghampiri bagian administrasi, karena dia tidak mau terlalu lama meninggalkan Arini.


"Maaf saya mau menyelesaikan administrasi atas nama Istri saya Arini Purnama Maharani," ujar Arga.


Setelah menyelesaikan semuanya, Arga pun kembali ke ruang IGD untuk menunggu hasil pemeriksaan Dokter terhadap Arini.


Ketika Dokter keluar dari ruangan tempat Arini diperiksa Arga pun langsung menghampirinya.


"Dok, Bagaimana keadaan Istri saya saat ini?" tanya Arga.


"Sepertinya Istri Anda mengalami penyakit jantung, dan saya rasa kita harus segera melakukan pencangkokan jantung, tapi kita harus terlebih dahulu menemukan donor jantung yang tepat untuknya, karena penyakitnya sudah parah," ujar Dokter sehingga Arga syok mendengarnya.


"Tidak mungkin Arini punya penyakit jantung, apalagi kondisinya sudah separah itu, karena baru kali ini dia merasakan sakit di dadanya Dok," ujar Arga.


"Penyakit jantung memang bisa muncul mendadak Pak, tapi kami akan mencoba melakukan serangkaian tes kembali besok," ujar Dokter yang kemudian berlalu meninggalkan Arga yang masih diam mematung.


"Sayang, aku mohon bangunlah, apa kamu tidak kasihan kepadaku? padahal aku baru saja mengingat semua tentang perasaanku padamu setelah selama bertahun-tahun aku melupakan semuanya," ujar Arga dengan meneteskan airmata.


Tiba-tiba ponsel Arga berdering dan di layar ponselnya tertulis nama Arya.


📞 "Assalamu'alaikum De," ujar Arga.


📞"Wa'alaikumsalam A," jawab Arya.


📞"A bagaimana kabar Aa dan Bunda? soalnya Dede tadi mimpi buruk," ujar Arya. Mungkin karena ikatan batin Ibu dan Anak yang kuat sehingga Arya pun merasakan firasat yang buruk terhadap Bundanya.


📞"De, sekarang Bunda dirawat di Rumah Sakit," ucap Arga dengan lirih.


📞"Apa yang telah terjadi kepada Bunda A?" tanya Arya yang kini terlihat panik.

__ADS_1


📞"Kata Dokter Bunda mengalami penyakit jantung, dan beliau harus segera mendapatkan donor jantung," ujar Arga dengan terus mengeluarkan airmata.


📞"Innalillahi..kalau begitu sekarang juga Dede ke Bandung A, Aa yang sabar ya, Aa harus kuat," ujar Dede yang kemudian menutup telpon setelah mengucapkan Salam.


Waktu kini sudah menunjukan pukul tujuh pagi, dan Arga masih setia berada di samping Arini dengan memegang erat tangannya, tapi belum juga ada tanda-tanda Arini sadar dari pingsannya, sehingga Arga masih terus saja menangisi Arini.


Arya, Putri dan Ida pun kini telah sampai di Rumah Sakit, sedangkan Abdul tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan yang tidak dapat ia tinggalkan.


Saat ini mereka menanyakan kamar Arini kepada petugas yang berjaga karena handphone Arga tidak dapat mereka hubungi.


"Maaf Sus saya mau menanyakan kamar rawat Ibu saya," ujar Arya.


"Siapa namanya Pak?" tanya Suster.


"Namanya Arini Purnama Maharani," ujar Arya.


"tunggu sebentar Pak saya cari dulu," ujar Suster.


"Pasien yang semalam dibawa oleh Suaminya karena serangan jantung ya Pak?" tanya Perawat sehingga membuat Arya, Putri dan Ida merasa heran.


"Kok Suaminya sih Kang, kan Ayah Aditya sudah meninggal," bisik Putri.


"Mungkin mereka mengira Aa sebagai Suami Bunda, mereka berdua kan terlihat seperti pasangan kekasih," jawab Arga.


"Iya juga sih," ujar Ida dan Putri.


"Apa Suaminya bernama Arga?" tanya Perawat lagi.


"Iya Sus," jawab Arya yang membenarkan pertanyaan Suster karena ingin segera mengetahui kabar Bundanya.


"Pasien sekarang berada di kamar nomor 123 ruang VVIP Pak," ujar Perawat.


"Terimakasih Sus atas informasinya," ujar Arya. Dan mereka bertiga pun langsung menuju ruangan tersebut.


Ketika Arya, Putri dan Ida masuk ke ruangan Arini, mereka sampai membulatkan matanya karena melihat Arga yang sedang mencium bibir Arini, karena sebelumnya mereka bertiga lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.

__ADS_1


"Aa, apa yang sedang Aa lakukan?" tanya Arya yang kini merasa heran dengan apa yang tengah dilakukan oleh Arga.


"De, sebenarnya Aa dan Bunda saling mencintai," jawab Arga, sehingga membuat Arya, Putri dan Ida semakin kaget mendengar penuturan Arga.


__ADS_2