
Pov Arini
Aku dan Arga memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju rumah Nek Ipah, soalnya aku takut tenaga dalam Arga habis jika terus-terusan dipakai untuk menembus lorong waktu, jarak dari Istana Rangga ke rumah Nek Ipah juga tidak terlalu jauh.
Entah kenapa aku merasa perjalan yang kami lalui saat ini terasa sangat lama, mungkin karena dengan keadaan kami yang tanpa saling berbicara satu sama lain, aku pun bingung untuk memulai sebuah percakapan dengan Arga, sampai akhirnya aku lebih baik diam saja.
Arga pasti sangat kecewa dan sakit hati padaku, Arga pun sepertinya masih kesal dengan tingkah laku Rangga Wisesa yang dengan sengaja membuatnya cemburu.
Aku tau ini semua memang begitu berat untuknya, begitu juga untuk diriku, karena jauh dalam hati kecilku yang paling dalam, ada rasa sayangku untuknya meskipun bukan untuk seorang kekasih. Namun, Ya sudahlah....mungkin sekarang aku harus memberikan Arga waktu untuk sendiri dan memikirkan semuanya dengan kepala dingin.
Rumah Nek Ipah kini sudah terlihat, dan kami berdua hanya tinggal beberapa langkah lagi hampir sampai.
Arga kini mencoba berjalan untuk mendahuluiku, aku pun membiarkannya tanpa mencoba untuk memintanya menungguku. Namun, secara tiba tiba aku dikejutkan dengan cahaya berwarna merah yang dengan secepat kilat menyambar tubuhku.
Sreeeeeeeeeeet.....
"ARGA TOLONG AKU...."
Hanya teriakan itu yang mampu aku ucapkan hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.
......................
Pov Arga...
Aku menengok ke belakang disaat Arini berteriak meminta tolong padaku, aku sempat melihat ada cahaya berwarna merah yang secepat kilat menyambar tubuh Arini dan membawa jiwanya pergi, aku sangat menyesal karena tidak dapat menolongnya, aku hanya bisa berteriak memanggil namanya.
__ADS_1
"ARINI...."
Aku berlari untuk menghampiri tubuhnya yang kini tergeletak di atas tanah.
"Maafkan aku Arini, aku mohon bangunlah sayang, aku tau ini semua kesalahanku karena sudah berusaha meninggalkanmu," Ucapku dengan mendekap erat tubuhnya.
Sekarang aku hanya bisa menyesali perbuatan ku yang telah egois meninggalkan Arini dengan berjalan mendahuluinya. Hatiku saat itu terlalu sakit karena pada waktu aku menjemput Arini, Rangga Wisesa terus saja memanas-manasi ku. Sehingga akhirnya aku merasa terbakar oleh api cemburu dan sepanjang perjalanan aku sampai mengacuhkan Arini.
Aku terus berusaha menggoyang goyangkan tubuh Arini, kini tubuhnya terasa sangat dingin, sehingga aku pun memutuskan untuk bergegas membawanya menuju kediaman ki Soleh dan Nek Ipah.
Dengan membopong tubuh Arini aku berlari menuju rumah Ki Soleh, karena aku susah untuk membuka pintu akhirnya tanpa sadar aku pun membuka pintu rumah Ki Soleh dengan cara menendangnya, mungkin rasa khawatirku terhadap Arini telah mengalahkan akal sehatku, padahal bisa saja aku membawa Arini dengan cara menghilang, dan dalam sekejap mata kita pasti sudah sampai di tempat yang aku mau.
Ani, Ida beserta Kek soleh dan nek Ipah nampak terkejut melihat kedatanganku yang masuk dengan cara menendang pintu, sampai akhirnya mereka menyadari bahwa saat ini aku sedang menggendong tubuh Arini yang tidak sadarkan diri.Lalu kemudian mereka pun berusaha untuk membantuku membawa tubuh Arini ke dalam kamar.
Mataku kini memerah karena menahan amarah yang besar kepada makhluk yang sudah mengambil jiwa Arini, dan yang pasti aku tau kalau makhluk itu adalah Raja Genderewo. Aku yakin Raja Genderewo tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil Jiwa Arini, karena saat ini dia mengetahui bahwa Rangga Wisesa masih terluka.
Kini yang tersisa hanyalah rasa penyesalanku yang teramat besar karena semua kebodohan ku sehingga telah menyebabkan Arini yang menjadi korbannya. dan aku terus saja memegangi tangan Arini tanpa mau melepaskannya.
Beberapa saat kemudian, Aku pun berpikir sebaiknya aku secepatnya pergi ke Istana Raja Genderewo untuk mencari jiwa Arini yang tersesat sebelum Bulan Purnama tiba. Karena, jika sampai jiwa Arini tidak bisa kembali ke tubuhnya sampai Bulan Purnama nanti yang bertepatan dengan Ulang tahunnya yang ke delapan belas, maka selamanya jiwa nya akan tersesat di alam genderewo.
Akhirnya aku berkata kepada mereka supaya menjaga tubuh Arini : "Tolong kalian jaga tubuh Arini dengan baik sampai aku kembali."
Sesaat sebelum aku pergi aku juga sudah memasang pagar ghaib pada tubuh Arini supaya tidak ada makhluk lain yang berusaha memasukinya. Namun, disaat aku hendak pergi Ki Soleh tiba-tiba mencegahku.
"Tunggu Arga, jangan sampai amarahmu kini menguasai akal sehatmu, sekarang ayo lebih baik kamu duduk dulu, kita harus membicarakan semuanya dengan kepala dingin," ajak Ki Soleh dan aku pun menurutinya.
__ADS_1
"Ini semua terjadi karena kesalahanku ki, seandainya saja rasa cemburuku pada Rangga Wisesa tidak menguasai akal sehatku, mungkin sekarang Arini masih ada bersama kita," ucapku dengan prustasi sambil mengusap kasar rambutku.
"Hentikan Arga, kamu tidak boleh menyalahkan diri sendiri, jika sekarang kamu ke sana pergi sendirian, yang ada kamu juga akan ikut tertahan disana. Sekarang untuk mencari jalan keluarnya lebih baik kamu panggil Rangga Wisesa melalui mata bathin mu agar dia dapat membantu kita untuk menolong Arini," titah Ki Soleh.
Sebenarnya aku keberatan untuk melakukan hal yang diperintahkan oleh Ki Soleh, karena aku tidak mau kalau nanti Arini sadar, Rangga sampai membawa Arini kembali ke alamnya untuk selama-lamanya, rasanya hatiku belum siap jika semua itu terjadi.
"Kamu tidak boleh egois Arga, pikirkan Bagaimana dengan nasib Arini? Coba sekarang kamu pikir baik-baik Arga, Rangga Wisesa saja yang ilmu kanuragannya lebih tinggi dari kita bisa kalahkan oleh Raja Genderewo. Apalagi dengan kita? bahkan mungkin untuk membuka pagar Gaibnya saja kita tidak akan mampu," ujar Ki Soleh.
Perkataan Ki Soleh memang ada benarnya juga, akhirnya aku pun memutuskan untuk segera memanggil Rangga melalui mata bathinku. Namun, secara tiba-tiba disaat aku berusaha untuk memanggil Rangga kami dikagetkan dengan suara orang yang berusaha mendobrak pintu.
"JEBRED..."
Pintu yang berada dihadapan kami pun sampai hancur akibat tendangan kaki Rangga Wisesa, dan dengan membabi buta akhirnya Rangga berusaha untuk terus memukul diriku.
Ki Soleh yang melihat perkelahian kami pun tidak tinggal diam, dan dia berusaha untuk melerai kami yang malah adu jotos.
"Hentikan Arga, Rangga," teriak Ki Soleh. Sehingga kami berdua akhirnya berhenti berkelahi.
"Ingat... musuh kalian saat ini adalah Raja Genderewo, jangan sampai kalian membuang-buang waktu dan tenaga kalian hanya demi keegoisan kalian," Ki soleh kini memberi petuah untuk menyadarkan kami berdua.
"Maafkan aku Rangga aku tau ini semua kesalahanku, karena aku sudah meninggalkan Arini dengan berjalan terlebih dahulu," ucapku pada Rangga Wisesa.
"Aku juga meminta maaf padamu Arga, jika saja tadi aku tidak berusaha untuk membuatmu merasa cemburu, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," jawab Rangga Wisesa.
"Sebaiknya sekarang kita bekerjasama mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Arini," ucap Ki Soleh.
__ADS_1