
Pov Arga..
Hari ini aku dan Arini beserta kedua temannya memutuskan untuk bermain ke Air Terjun, aku selalu mencoba untuk menggenggam tangan Arini. Namun, dia selalu menepisnya.
Sehingga akhirnya Aku pun memohon dan berkata kalau mungkin ini untuk yang terakhir kalinya, karena kemungkinan setelah Arini bahagia bersama siapa pun itu, aku akan pergi dari kehidupannya.
"Rin aku mohon untuk kali ini saja, sebelum aku benar-benar pergi untuk selama-lamanya dari kehidupanmu," pintaku pada Arini.
Sampai akhirnya dia membiarkanku untuk menggenggam erat tangannya, rasanya seperti ada kupu-kupu yang menggelitik di dalam perutku, Mungkin begini ya rasanya dapat bergandengan tangan dengan orang yang kita cintai? gumamku dalam hati.
Sepanjang perjalanan Ida dan Ani yang berjalan di depan kami terdengar sedang bergosip, aku tau mereka pasti sedang membicarakan tentang kejadian semalam dan mungkin sekarang Ani sudah mengetahui tentang jati diriku sebenarnya.
Sebenarnya apa pun yang di bicarakan Ani dan Ida aku tidak peduli, karena yang penting sekarang hatiku sedang merasa bahagia karena kebersamaanku bersama Arini, gadis yang selalu aku cintai dari dahulu sampai sekarang, dan mungkin untuk selamanya.
Akhirnya kami berempat pun sampai di bawah Air Terjun, rasanya hati ini tidak rela melepaskan genggaman tangan Arini. Namun, hari ini Arini terlihat murung, aku bisa menebaknya karena semenjak pertarungan Rangga Wisesa dan Raja Genderewo aku selalu melihat kesedihan dalam matanya, bahkan untuk tidur pun dia nampak kesusahan.
Ani dan Ida berusaha untuk mengajak Arini masuk ke dalam kolam Air Terjun. Akan tetapi Arini nampak enggan sehingga menolak mereka secara halus dengan berkata kalau dia sedang tidak enak badan.
Aku tau saat ini tentang kegundahan hatinya, karena disaat hati Arini merasakan sakit, maka hatiku pun sama akan merasakan sakit juga, sehingga setelah beberapa kali aku menghembuskan napas untuk menghilangkan rasa sesak dalam dada ini, aku pun berusaha untuk menghiburnya.
Aku tau Arini kalau saat ini kamu pasti sedang merindukan Rangga Wisesa dan ingin mengetahui keadaannya, gumamku dalam hati.
Sehingga akhirnya aku memutuskan untuk membawa Arini bertemu dengan Rangga Wisesa, aku menyuruh Arini untuk memejamkan matanya agar iya tidak merasakan putaran dalam lorong waktu.
Namun, Arini sepertinya salah pham, sampai-sampai dia bilang kalau aku mau mencium dia, aku pun pura-pura marah karena sudah dituduh seperti itu oleh Arini, tapi sebenarnya aku malah gemas melihat perubahan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus disaat aku mencoba menggodanya, mungkin dia malu juga karena sudah berpikiran negatif padaku.
Sebenarnya tuduhan Arini ada benarnya, karena rasanya ingin sekali aku mencoba untuk mencium bibirnya. Namun, aku takut dia akan semakin menjauh dariku, dan sepertinya dia juga belum pernah berciuman dengan siapapun,Masa aku yang harus mengambil ciuman pertamanya, ucapku dalam hati.
__ADS_1
Sampai akhirnya Arini memejamkan matanya, aku pun akhirnya menggenggam erat tangan Arini dan berusaha untuk membawanya masuk ke dalam Istana Rangga Wisesa dengan menggunakan lorong waktu.
Aku dan Arini kini telah sampai di halaman Istana Kerajaan Ular milik Rangga Wisesa, sehingga aku pun menyuruh Arini untuk kembali membuka matanya.
Arini nampak terkejut dengan keberadaan kita saat ini, namun dia nampak sangat bahagia karena aku sudah mengantarkannya untuk menemui Rangga Wisesa kekasih hatinya.
Aku merasa kaget karena Arini secara tiba-tiba memeluk erat tubuhku, mungkin karena dia saking senangnya akan bertemu Rangga Wisesa, dia berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku, dan aku pun selalu mencoba menjawabnya dengan melihatkan senyuman palsuku.
Iya...semua itu hanyalah senyuman palsu karena sebenarnya hatiku ingin sekali rasanya berteriak kencang serta menangis, dadaku terasa sesak rasanya aku tidak sanggup untuk melihatnya menemui Rangga Wisesa, hingga akhirnya aku pun mencoba menyuruh dia untuk segera masuk sebelum tangisku keburu pecah.
Sebelum Arini melanjutkan langkahnya, dia sempat bertanya bagaimana nanti cara dia untuk kembali pulang ke rumah Ki Soleh, Namun aku menjawabnya kalau nanti malam aku pasti akan menjemputnya kembali sambil melihat keadaan Rangga Wisesa, walau pun sebenarnya aku belum tau bisa atau tidak menahan rasa sakit dalam dadaku nanti jika aku kembali melihat kebersamaan mereka.
Arini kini nampak berjalan secara perlahan memasuki Istana Rangga Wisesa, sambil sesekali menengok dan tersenyum cantik ke arahku, aku tau kalau sebenarnya dia juga masih ragu dengan perasaannya terhadap Rangga Wisesa karena perbedaan alam yang menghalangi Cinta mereka. Namun, Aku berharap dengan siapa pun Arini hidup nanti dia akan selalu bahagia walau hatiku pasti akan terluka.
Setelah Arini masuk akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari Istana Rangga Wisesa, kini aku berada di dalam Gua yang terletak tidak jauh dari Air Terjun sehingga akhirnya aku pun menumpahkan airmata yang sudah tidak terbendung lagi.
"ARINI.....kenapa cintaku harus bertepuk sebelah tangan? kenapa kamu lebih memilih Rangga Wisesa daripada aku?" Namun, tiba-tiba tangisanku pun berhenti disaat ada yang ikut-ikutan nangis di sampingku serta dia berusaha untuk menenangkanku dengan mengusap bahuku.
Hi...hi...hi...hi...hi...hi...hi....suara tangisnya malah terdengar seperti lagi nakutin orang, namun suaranya nampak terdengar sesegukan karena sepertinya sudah lama juga dia menangis.
Aku merasa ada orang yang bersandar di bahuku, dan saat aku menengoknya ternyata itu adalah kuntilanak yang semalam sudah nakut-nakutin Ida, matanya nampak bengkak sambil terus mengeluarkan airmata darah, entah apa yang terjadi padanya, akan tetapi aku tidak ada waktu untuk mengurusi kehidupan oranglain, memikirkan nasibku saja rasanya aku sudah putus asa.
Akan tetapi aku merasa terganggu dengan tangisannya sehingga akhirnya aku pun memutuskan untuk mencoba berbicara kepadanya.
"Heh kunti ngapain kamu pake ikutan nangis segala? pake nyender-nyender lagi," ucapku dengan terus mencoba mengikis jarak dengannya. Namun, kini si kunti malah memegang tanganku dengan erat,
"Jangan jauh-jauh dong babang tampan duduknya." ucap dia padaku.
__ADS_1
"Aku tau kok bagaimana perasaanmu Babang tampan, karena baru saja kemarin aku merasakan patah hati, sebenarnya aku baru putus dari si Pocong tampan menurutku itu juga, kalau menurut orang lain mah dia Pocong item karena wajahnya gosong," ucap Kuntilanak tersebut.
"Sudah berkali-kali teman arisanku mengingatkan aku agar waspada dengan Kuntilanak Merah, soalnya beberapa kali mereka memergoki Kuntilanak bergaun Merah itu menggoda si Tomi, Pocong tampan pacarku itu. Akan tetapi, aku sudah dibutakan oleh cinta sehingga tidak bisa melihat semua keburukan Tomi," ucap Kuntilanak tersebut kepadaku yang aku dengar seperti curahan hatinya.
"Namun, sepertinya sekarang aku harus mencoba mengikhlaskannya Bang, karena cinta tidak harus saling memiliki kan? asalkan dia bahagia aku rela Bang walau pun hatiku kini sakit seperti teriris pisau Bang. Abang juga pasti sekarang sedang berpikiran sama denganku kan?" tanyanya padaku.
Aku sempat bingung mendengar kata arisan sehingga salfok lalu menanyakan hal itu kepadanya.
"Ah sok tau kamu mah, eh emangnya ada yah Kuntilanak pada arisan?" tanyaku padanya karena saking penasarannya.
"Iiiiih... gemes deh si Abang tampan mah ketinggalan jaman deh, hari gini ya ada dong Bang, kita kan para sosialita gak mau kalah lah sama manusia," Jawab si kunti berbaju putih tersebut.
"Terus semalam kenapa kamu gangguin temannya Arini? apa maksudnya hem?" tanyaku padanya.
"Ah si Abang tampan mah suudzon aja sama aku, semalam aku bilang kok sama anak gendut itu kalau aku sedang numpang mandi, aku sakit hati karena Kuntilanak Merah sama si Tomi mantanku itu bilang kalau badanku bau, terus rambutku juga banyak kutunya, ya sudah aku numpang mandi aja disana sambil sekalian keramas biar tubuhku dan rambutku tambah wangi, lumayan kan bisa pake sabun sama shampo gratis disana," jawab Kuntilanak tersebut.
"Nih Abang mau coba cium rambutku gak?" ucap dia sembari menyodorkan kepalanya padaku.
"Iiiiih...ogah banget orang masih banyak belatung gitu, ternyata gak cuma manusia yah yang suka sama yang namanya gratisan, ternyata setan juga sama aja," ucapku padanya.
"Abang tampan biasa aja dong ngomong setannya jangan sambil liatin aku," rengek kuntilanak tersebut.
"Terus kamu mau dibilang apa? tuan putri? hanya Arini yang pantas dapat sebutan itu," ucapku padanya.
"Oh ya Bang gimana kabar anak gendut itu sekarang? dia kagak kenapa-napa kan? soalnya semalam aku lihat dia lari terbirit-birit sampai ngompol di celana lagi, dia lucu ya masa ketakutan malah baca do'a mau makan? emangnya sama dia aku kelihatan seperti makanan kali ya bang?" ujar kuntilanak.
"Dia baik-baik aja kok, malah sekarang lagi main tuh sama temennya di bawah Air Terjun, udah ah aku mau menjaga mereka saja," ucapku sambil berlalu dari hadapannya.
__ADS_1