Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 24 ( Pertukaran kembali jiwa Ani dan Ida )


__ADS_3

Kini kuntilanak merah nampak murka terhadap Arini.


"Lagi-lagi kamu selalu mengambil lelaki yang aku inginkan Roro Ajeng !" teriak Kuntilanak Merah.


"Dulu aku begitu mengagumi Rangga Wisesa, tapi malah kamu yang dia pilih menjadi Istrinya. Dan kamu tau, tadi siang disaat Arga duduk termenung di atas batu yang berada di dekat Air Terjun, aku mencoba untuk menggodanya. Namun, sedikit pun dia tidak melirikku sama sekali, padahal aku sudah merendahkan diriku dihadapannya, tapi dia selalu menolakku dengan alasan Arini...Arini..dan hanya Arini yang dia cintai."


"Bahkan demi kamu dia sekarang rela pergi ke alas purwo untuk bertapa agar di kehidupan selanjutnya dia bisa terlahir menjadi seorang manusia, dan bisa selalu mendampingimu," ujar Kuntilanak Merah.


Arini yang mendengar cerita Kuntilanak Merah tentang Arga pun merasa terharu hingga meneteskan airmata.


"Kenapa Roro Ajeng selalu kamu yang mendapatkan semuanya?" teriak Kuntilanak Merah.


"Kamu jangan pernah bertanya kepada Arini, tapi tanyalah kepada dirimu sendiri, apa selama ini kamu sudah menjadi makhluk yang baik? apakah kamu sudah melakukan kewajiban terhadap tuhanmu?" tanya lantang Aditya.


"Sudahlah kau tidak usah ikut campur urusanku bocah ingusan, sekarang kalian terimalah pembalasanku," ucap Kuntilanak merah tersebut dengan tawanya yang menyeringai.


Kini dia telah menunjukan wajah aslinya, seluruh tubuhnya mengeluarkan darah dan nanah yang dipenuhi oleh belatung, sehingga kini bau anyir menyeruak memasuki rongga hidung mereka bertiga sampai-sampai Arini tidak kuat lalu memuntahkan isi perutnya.


"Arini kamu tidak apa-apa?" tanya Aditya dengan menghampirinya serta memijit lembut tengkuk leher Arini.


"Aku tidak apa-apa Aditya, terimakasih atas bantuannya," ujar Arini.


"Nak Aditya, Nak Arini, jangan sampai kalian terkecoh dengan tipu muslihatnya, ayo cepat bacalah dzikir jangan sampai putus." ucap Kek Soleh.


Hiii..hiii...hiii...hiii....hiii....


Kini suaranya terdengar melengking sehingga memekikkan gendang telinga. Namun, belum juga mereka berusaha menyerangnya kini Kuntilanak Merah sudah mengeluarkan para pengikutnya, kebanyakan dari mereka pun berwujud kuntilanak dan pocong.


Hiii...hiiii...hiiii...hiiii...hiiiii...


Haaaa...haaaa...haa...haa....


terdengar suara tawa menggema yang saling bersahutan.


Mereka bertiga rasanya sudah kewalahan untuk melawan semua pasukan Kuntilanak Merah, bahkan Kek Soleh dan Aditya pun sudah terpental berkali-kali.

__ADS_1


Ya Alloh tolonglah kami. Arini pun terus memanjatkan do'a kepada Alloh SWT semoga mengirimkan bantuannya.


tiba-tiba datang segerombolan Kuntilanak yang memakai daster warna-warni yang kini membantu mereka bertiga.


"Kamu tidak apa-apa kan Arini?" tanya salah satu kuntilanak berdaster putih.


"Darimana kamu tau namaku?" tanyaku pada kuntilanak tersebut.


"Namaku Mirna, aku temannya Arga, aku adalah kuntilanak yang tempo hari menumpang mandi di empang Ki Soleh," jawab Mirna sambil cekikikan.


"Terimakasih Mirna kamu sudah berkenan membantu kami," ucap Arini.


"Slow aja cantik, lagian aku juga disuruh Arga untuk selalu membantumu karena dia sekarang sedang pergi untuk bertapa," jawab Mirna.


"Oh ya nanti aku kenalkan kepada teman-teman arisan sosialitaku, kuntilanak-kuntilanak cantik yang memakai daster berwarna-warni itu," tunjuk Mirna.


Arini pun hanya menjawab ucapan Mirna dengan anggukan kepala, karena dia masih bingung, Kok bisa ya kuntilanak mengadakan arisan? Terimakasih Arga ternyata kamu masih peduli sama aku, ucap Arini dalam hati.


Pertempuran pun kini berlangsung dengan seimbang, sudah beberapa makhluk dari musuh Arini kalah lalu terbakar menjadi abu. Namun, disaat Arini lengah tiba-tiba Kuntilanak Merah mencoba menyerangnya. Karena tidak siap Arini pun terpental jauh ke belakang dan pada saat Arini hampir terjatuh nampak ada cahaya biru yang secepat kilat membawa tubuhnya.


"Rangga Wisesa, terimakasih kamu sudah datang untuk menolongku," ucap Arini kepada Rangga Wisesa.


"Sudah seharusnya kan aku menyelamatkan pujaan hatiku?" jawab Rangga Wisesa dengan senyuman yang sangat menawan sehingga membuat semua perempuan yang sedang berada di sana menjadi meleleh serta gagal fokus dengan pertarungan yang sedang berlangsung.


"Rangga...Rangga...Rangga..." terdengar mereka menyerukan nama Rangga secara bersahutan.


"Sebenarnya ini sedang perang apa konser?" tanya Arini heran.


Kini Kuntilanak Merah telah berada di hadapan Arini dan Rangga Wisesa, dia terlihat sedih dan marah melihat kebersamaan mereka. Kuntilanak Merah kemudian mencoba melesatkan kekuatannya kepada Arini tapi dengan cepat Rangga menangkis semua serangan dari Kuntilanak merah.


"Mira...tolong hentikan semuanya !" ucap Rangga Wisesa.


"Apa untungnya bagiku jika aku menghentikan pertarungan ini?" tanya Mira pada Rangga.


"Aku tau di dalam hatimu pasti masih mempunyai kebaikan, janganlah amarah serta dendam menguasaimu Mira," ucap Arini pada Kuntilanak Merah.

__ADS_1


"Aku benci kamu Roro Ajeng, Aku sangat...sangat...membencimu !" teriak Mira pada Arini.


"Terserah kamu mau membenciku atau tidak, Keluarkan semua uneg - unegmu jika itu dapat membuat hatimu menjadi tenang dan bahagia, Namun yang pasti dalam hatiku aku tidak sedikit pun membencimu Mira," ujar Arini.


"Aku akan bahagia jika sudah melihatmu menderita Roro Ajeng !" teriak Mira pada Arini.


"Sekarang aku akan memberikan sebuah penawaran menarik untukmu, mari kita bertarung Roro Ajeng, jika kamu menang aku akan memberikan jiwa kedua orang temanmu, Namun, jika aku yang menang, kau dengan senang hati harus memberikan kekasihmu Rangga Wisesa untuk menjadi Budak Cintaku, bagaimana ide ku bagus bukan?" ucap Mira.


Rangga Wisesa kini nampak murka dan sudah siap mengeluarkan cahaya biru dari dalam telapak tangannya untuk menyerang Mira si kuntilanak merah. Arini pun memeluk Rangga supaya dia merasa lebih tenang.


"Apa kamu pikir Rangga adalah sebuah boneka yang bisa dengan sesuka hati kau rebut? maaf Mira, Rangga terlalu berarti untukku, jika aku harus mengorbankan nyawaku untuknya aku pun dengan senang hati akan melakukannya," ucap Arini kepada Mira.


Nampak pipi Rangga kini bersemu merah karena mendengar kata-kata Arini.


"Namun jika kau masih kekeuh ingin bertarung denganku Mira, mari dengan senang hati juga akan aku layani, Loe jual Gue beli," ucap Arini yang entah mendapatkan kata-kata itu darimana.


Rangga sudah mencoba memegang pergelangan tangan Arini tapi dia meyakinkan Rangga kalau semuanya akan baik-baik saja.


Pertarungan Arini dan Mira pun kini sudah berlangsung, Arini belum mencoba untuk menyerang Mira karena itu akan mengurangi kekuatannya, sehingga dia terus mencoba untuk memancing amarah Mira.


Arini sengaja membuat Mira cemburu dengan mencium serta memeluk tubuh Rangga di sela-sela pertarungannya, dan sekarang Mira sudah membabi buta menyerang Arini sehingga tidak fokus melawannya.


Disaat Arini mendapatkan celah untuk menyerang Mira, Arini pun berhasil mengalahkannya.


Tadinya Arini berniat untuk memusnahkan Mira, tapi dia masih mempunyai rasa kasihan kepada Mira.


"Ayo musnahkan aku Roro Ajeng," tantang Mira kepada Arini.


"Maaf Mira, aku bukanlah seorang manusia yang berhati Iblis, sekarang pergilah dari tempat ini dan bawalah semua teman-temanmu, mudah-mudahan kalian semua bisa bertaubat," ucap Arini kepada Mira.


Mira kini nampak pergi dengan pengikutnya, dan kini Arini sudah melihat segerombolan kuntilanak-kuntilanak centil sedang mengerubuti Rangga dan meminta Selfi padanya, "bener-bener Kuntilanak narsis," ucap Arini.


Kini jiwa Ani dan Ida sudah nampak bisa keluar dari dalam gubuk, dan akhirnya mereka semua pun memutuskan pulang agar secepatnya bisa menukar kembali jiwa Ani dan Ida, setelah sebelumnya mereka mengucapkan terimakasih kepada pasukan kuntilanak berdaster.


Akhirnya kini Ani dan Ida sudah kembali ke dalam tubuh masing-masing.

__ADS_1


"Alhamdulillah Ya Alloh..." ucap semua secara bersamaan.


__ADS_2