
Hari ini Arini dan Aditya berencana untuk bertemu dengan Ani dan Ida, Arini sangat merindukan mereka berdua, karena sudah dua tahun lebih mereka tidak bertemu.
"Mas, lebih baik sekarang aku masak aja dulu ya, lagian ini baru jam enam pagi, rencana ketemu Ani sama Ida juga nanti habis dzuhur," ujar Arini kepada Aditya.
"Emang nya kamu udah gak sakit?" tanya Aditya sehingga membuat Arini tersipu malu.
"Ya udah gak usah di jawab, kayaknya ada yang masih ngebayangin tentang semalam sampai wajahnya merona begitu?" goda Aditya.
"Udah ah aku mau masak dulu," Arini pun berlalu ke dapur karena merasa malu dengan perkataan Aditya.
Baru juga Arini hendak memotong sayuran, dari belakangnya kini ada orang yang memeluk tubuhnya dengan erat.
"Lepas dong mas, jangan godain terus, nanti kapan beresnya aku masak," ucap Arini pada orang yang kini memeluk tubuhnya karena dia mengira kalau itu adalah Aditya. Namun, semakin lama dada Arini terasa semakin sesak karena pelukannya yang semakin erat, sehingga akhirnya dia melihat tetesan darah di bawah kakinya yang semakin lama semakin banyak.
Aaaaaaaaaaaaaa
Arini menjerit saking takutnya, lalu sesaat kemudian penglihatannya menggelap, dan Arini pun pingsan.
......................
Beberapa jam kemudian secara perlahan Arini berusaha untuk membuka matanya, nampak ada Aditya kini berada di samping tempat tidurnya dengan terus memegang erat tangan Arini serta melapalkan do'a.
"Maaaas.." ucap Arini dengan lirih.
"Sayang...Alhamdulillah sekarang kamu sudah sadar, kamu baik-baik saja kan? maafin mas ya, mungkin ini semua salah mas, karena semalam telah membuatmu kecapean hingga akhirnya sekarang pingsan," ucap Aditya dengan wajah yang terlihat sedih.
"Aku gak apa-apa kok mas, mungkin cuma masuk angin aja jadi kepalaku pusing sampai akhirnya pingsan," jawab Arini. Bukannya Arini tidak mau berkata jujur tentang kejadian sebenarnya, tapi dia takut jika Aditya malah tambah khawatir dengan keadaannya yang masih mendapatkan teror entah dari siapa lagi.
Sesaat kemudian, mereka berdua mendengar teriakan dari kedua teman Arini.
"ARINIII...." teriak Ani dan Ida yang kini nampak berlari ke arah Arini lalu memeluk tubuhnya dengan erat
"Astagfirulloh...kalian kebiasaan deh bukannya ngucapin Salam," ucap Arini pada mereka.
"Iya_iya, maaf deh kami lupa, Assalamu'alaikum Bu Ustadzah Arini yang cantik dan baik hati," ucap mereka secara bersamaan.
"Wa'alaikumsalam teman-temanku yang cantik dan rese," jawab Arini pada mereka.
__ADS_1
"Tapi kayaknya ada yang beda deh sama tubuh kalian, kalian gak ketukar lagi kan?" selidik Arini pada mereka.
"Enggak kok Rin, sekarang Ida kurusan karena dia lagi diet ekstra ketat, lalu aku sekarang gemuk karena lagi hamil anak pertamaku," ucap Ani.
"Wah selamat ya Ani, maaf waktu kamu Nikah aku gak bisa hadir karena masih koma," ucap Arini dengan menyesal.
"Iya gak apa-apa Rin, mudah-mudahan kamu juga cepet nyusul ya dapet momongan," ucap Ani.
"Amin.." ucap ku yang ternyata bersamaan dengan mas Aditya.
"Iiiih...So Sweat banget sih kalian berdua, kompak gitu jawabnya, jadi iri deh," rengek Ida.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari arah luar, kemudian Ida pun berlalu untuk membukanya, sehingga beberapa saat kemudian Ida kembali dengan menggandeng seorang cowok tampan.
"Arini, Mas Aditya, kenalin ini calon imamku namanya Jerry," ucap Ida.
Aditya dan Jerry pun nampak berjabat tangan, sedangkan Arink memberikan salam dengan cara menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Oh iya Rin, Ida sekarang masih tetep jadi Tom nya lho, kalau aku udah pensiun jadi Jerry nya karena sudah ada yang gantiin," celetuk Ani yang disambut gelak tawa oleh kami berempat.
"Gini lho mas, tau sendiri kan gimana Ani dan Ida yang setiap ketemu selalu saja ribut, jadi aku tuh ngasih julukan mereka Tom and Jerry, maksud Ani, dulu kan Ani tuh yang suka kita panggil Jerry karena badannya yang lebih kurus dari Ida, sekarang Ida kan udah punya Jerry beneran, makanya Ani nya jadi pensiun sebagai Jerry," jelas Arini pada Aditya.
"Lagian kamu tuh ada-ada aja deh sayang, masa anak orang di samain ama Kucing dan tikus," ucap Aditya dengan tersenyum.
"Ya kan cuma bercanda aja sayang, lagian itumah candaan kita waktu masih Ababil," ucap Arini.
"Apaan lagi tuh Ababil?" tanya Aditya.
"ABG Labil," jawab Arini dengan tertawa.
Mereka pun kembali tertawa dengan Aditya yang sesekali mengusap lembut kepala Arini dengan sayang. Namun, anehnya Arini melihat jika pacar Ida tidak suka melihat Arini yang terlihat mesra dengan Aditya.
Jerry terlihat emosi sehingga kini wajahnya nampak berubah menjadi merah dan matanya juga terlihat merah menyala, sehingga sesaat kemudian gelas yang sedang Jerry pegang pun tiba-tiba pecah oleh tangannya yang menggenggam dengan erat.
"Lho sayang kamu kenapa? kok gelasnya bisa sampai pecah begini? coba aku lihat tangan kamu kayaknya berdarah deh," ucap Ida yang sesaat kemudian mencari kotak P3K untuk mengobati luka Jerry.
Arini dan Aditya pun nampak heran dengan tingkah laku aneh Jerry, sehingga Arini bertanya pada Ani pada saat Ida dan Jerry berlalu dari kamarnya.
__ADS_1
"Ni, Ida sama Jerry emang udah hubungan berapa lama?" tanya Arini.
"Setahu aku sih Rin, mereka berdua ketemu pada saat pesta pernikahanku satu tahun yang lalu," jawab Ani.
"Kamu ngerasa ada yang aneh gak sih dengan Jerry?" tanya Arini pada Ani.
"Aku gak terlalu kenal juga sih Rin sama Jerry, kita juga baru beberapa kali ketemu saat Ida mengajaknya main ke rumahku," jawab Ani.
"Kok sekarang aku mempunyai firasat buruk ya Ni dengan kedekatan Ida dan Jerry," ucap Arini.
"Sudah sayang, gak usah banyak pikiran, kamu juga baru bangun dari pingsan, aku gak mau ya kalau sampai kamu kenapa-napa," ucap Aditya.
Beberapa saat kemudian Ida dan Jerry pun nampak masuk kembali ke dalam kamar Arini.
"Maaf ya, kami lama," ucap Ida.
"Iya gak apa-apa, gimana sekarang luka Jerry apa gak terlalu dalam?" tanya Arini pada Ida.
"Gak apa-apa kok Rin, tadi tangannya cuma tergores sedikit, jadi cukup aku kasih obat sama perban aja," jawab Ida.
"Oh ya Rin, tadi kenapa kamu sampai pingsan? apa jangan-jangan kamu lagi ngisi juga kayak Ani?" tanya Ida.
Arini pun bingung mau jawab apa, masa baru semalam berhubungan udah ngisi aja, pikir Arini
Aditya yang melihat Arink nampak kebingungan pun akhirnya membantu menjawab pertanyaan Ida.
"Minta do'a nya aja ya mudah-mudahan Arini cepet ngisi juga biar bisa nyusul Ani," jawab Aditya.
"Iya Amin, mudah-mudahan ya Rin, mas Aditya kalian cepet-cepet dapet momongan juga," ucap mereka.
"Rin, Mas Aditya maaf ya kami gak bisa lama-lama, soalnya masih ada keperluan lain," ucap Ida yang kini memeluk tubuh Arini, dan Ani pun gak mau ketinggalan.
"Ani mau ikut bareng gak biar sekalian kami anterin," ucap Ida.
"Boleh deh, lagian lumayan gratisan," jawab Ani sambil cekikikan.
"Kalian hati-hati ya di jalan, nanti kapan-kapan main ke Jawa," ajak Arini pada mereka sambil melambaikan tangan, hingga akhirnya mobil yang mereka bertiga tumpangi pun hilang dari pandangannya.
__ADS_1