Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 6 ( Hantu Lumpur )


__ADS_3

Pov Arini


Nek Ipah nampak terkejut beliau bilang kalau muntahanku itu tidaklah wajar.


"Ayo sebaiknya kita harus cepat masuk ke dalam rumah, Nenek takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan dengan Neng Arini," ucap Nek Ipah.


Saat kami hendak memasuki rumah tiba-tiba datang angin topan dengan kencangnya disertai dedaunan kering yang beterbangan ke arah kami.


"Cepat baca do'a sebisa kalian, ingat jangan sampai melamun," ujar Nek Ipah.


Kami bertiga berusaha memeluk tubuh Ida dengan erat, karena disini Ida yang paling gemuk badannya, jadi kami pikir Ida gak bakalan mungkin terbawa oleh angin. Namun naas pegangan Ani terlepas dari Ida sampai akhirnya terpental jauh ke belakang tubuh kami, lalu tercebur ke dalam empang.


Byuuuuuuur......


"TOLONG......" teriak Ani dengan kencangnya.


Kami semakin ketakutan melihat kejadian yang menimpa Ani tanpa bisa berbuat apa-apa.


Sekarang aku hanya bisa berdo'a dalam hati semoga Allah SWT memberikan pertolongan kepada kami semua. Namun, tanpa disangka dan diduga, secara tiba-tiba munculah Arga yang berusaha memegangi kami, sampai angin kencang tadi pun akhirnya berhenti.


"Alhamdulillah..." ucap kami bersamaan.


"Terimakasih Nak karena sudah bersedia untuk menyelamatkan kami," ucap Nek Ipah kepada Arga.


"Iya sama-sama Nek, tadi saya kebetulan lewat sini, lalu tidak sengaja melihat kejadian yang menimpa kalian semua," jawab Arga.


Lagi tegang-tegangnya begini Ida malah berkata : "Waaaaaaaah.....Babang tampan," Ida pun menatap wajah Arga tanpa berkedip.


"ARINI....IDA....kok kalian malah diem aja sih, gak mau bantuin aku gitu?" teriak Ani dari dalam empang.


"Astagfirullah...Ani" aku pun baru teringat dengan Ani ketika mendengar teriakannya.


Lalu kami bergegas menuju empang untuk menolong Ani yang tadi sempat tercebur ke dalamnya.


Ani nampak seperti manusia lumpur, dan Ida pun malah berteriak sambil berlari ke dalam rumah.


"TOLONG...TOLONG...ada hantu lumpur."


Kami hanya tertawa melihat tingkah Ida, kecuali Ani yang kini nampak cemberut.


"Ida lupa apa pikun sih?" tanya Ani padaku.


"Perasaan lupa ama pikun kayaknya artinya sama deh Ni," aku bukannya menjawab namun malah berpikir tentang ucapan Ani.


"Ah kamu sama Ida mah sama aja sebelas dua belas, sama-sama nyebelin," Ani pun terlihat kesal padaku.

__ADS_1


"Iya-iya maaf nanti cantiknya ilang lho," aku coba untuk merayu ani.


Tiba-tiba Ani pun berteriak, aku sampai mengelus dada saking kagetnya.


"LEE MIN HOO..." teriak Ani, disaat dia melihat Arga yang berada di hadapannya.


Aku pun sampai menepuk pelan keningku saking keselnya liat tingkah Ani dan Ida jika sudah melihat cowok ganteng.


"Woy..woy...sadar...sadar....biasa aja kali lihatnya."


"Iiiih....Arini...ganggu aja deh, aku lagi melihat pemandangan indah tau, terus kalau aku sampai ngedipin pandangan pertamaku, lalu kalau kemudian aku melihatnya lagi, nanti aku dosa kan karena melihat laki - laki yang bukan muhrimku, itu juga kamu kan yang bilang," cerocos Ani.


"Ah alasan aja kalian mah, dasar pada gak tau keadaan, liat cowok bening dikit aja, gak Ani, gak Ida matanya pada jelalatan noh !!" tunjukku pada mata Ani.


"Lihat dulu tuh Ni keadaanmu sekarang, Ida aja sampai lari terbirit-birit karena tadi mengira kamu hantu lumpur," ucapku mencoba untuk menyadarkan Ani.


Aaaaaaaaaaaa.....tidaaaaaaaak..


dia pun baru sadar setelah melihat tubuhnya penuh dengan lumpur yang bau.


"Babang tampan jangan lihat aku, aku malu, nanti aja ya lihatnya kalau udah cantik," Ani terlihat menutup wajah dengan kedua tangannya saking malunya sama Arga.


"Cepet noh bersihin lumpurnya jangan kecentilan terus, nanti kalau kelamaan bisa-bisa kamu berubah jadi manusia lumpur !!" ledekku pada Ani.


"Mana dong handuknya, aku sama babang tampan kan belum muhrim, nanti aku malu dong kalau keluar dari toilet gak pake apa-apa," Ani nampak masih saja cengengesan.


Kemudian aku pun berlalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil handuk serta mencari Ida.


"Ida..Ida ..where are you..." aku pun mencoba memanggil Ida.


"Ida gak ada.." ucap Ida menjawab panggilanku.


Terus kalau Ida gak ada yang barusan nyaut panggilanku siapa dong? tanyaku dalam hati.


Aku pun kembali berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk.


"Tapi sepertinya ada yang aneh deh," gumamku.


Aku heran karena di ranjang kamar tidur kami nampak ada seseorang yang tidur sambil menyelimuti tubuhnya. Sampai akhirnya aku mencoba memberanikan diri untuk membuka selimut tersebut.


"Astagfirulloh....Ida.."


"Ngapain sih kamu malah sembunyi di balik selimut? bukannya nolongin temen, Ani tuh tadi sempet nyungsep ke empang," ujarku mencoba untuk mengingatkan Ida.


Tanpa menjawab perkataanku, secara tiba-tiba Ida malah berlari menuju empang setelah dia mendengar yang aku ucapkan.

__ADS_1


"Ida sepertinya baru sadar kali ya?" aku pun sampai geleng-geleng kepala dibuatnya.


"ANI..." teriak Ida yang berlari sambil merentangkan tangannya.


"RHOMA....." teriak Ani pun dengan membalas merentangkan tangan hingga mereka berdua berpelukan.


Kami yang melihat adegan tersebut pun malah tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai perutku sakit melihat kelakuan somplak kedua temanku.


"Ida ngapain sih tadi malah kabur lihat Ani?"


"Iya sorry..sorry...aku kira tadi hantu lumpur," jawab Ida cekikikan.


"Sudah..sudah...kalian berdua sana gih mandi bareng, udah sama-sama kotor juga, nih handuknya," aku pun memberikan handuknya pada mereka.


"Untung saja tadi aku bawa dua, karena sudah yakin bakalan ada adegan film india," ucapku sambil tertawa.


Namun, saat aku melirik ke arah beranda rumah Nek Ipah, disana terlihat Arga yang sedang tersenyum melihat kelakuan kami, dan tanpa sadar aku pun berkata,


"Duh meleleh hati Neng, Bang..."


"Astagfirulloh..ngapain ni mulut pake ikut-ikutan kayak Ani dan Ida segala sih, pasti aku ketularan mereka nih," mudah-mudahan saja tadi Arga gak denger ucapanku, gumamku sambil menepuk-nepuk mulutku secara perlahan.


"Neng Arini disini nungguin teman-teman nya, tolong temenin Nak Arga dulu, kasihan dari tadi sendirian, Nenek masih banyak pekerjaan di dapur," teriak Nek Ipah.


Nek Ipah pun nampak kembali masuk ke dalam rumah.


Dengan ragu akhirnya aku melangkahkan kaki menghampiri Arga lalu duduk di sampingnya.


Netra kami berdua sesaat saling terkunci, dan entah kenapa rasanya jantung ini berdetak kencang, ini mungkin baru pertama kalinya aku merasakan getaran di dadaku kepada seorang lelaki.


Sesaat hanya hening yang menyelimuti suasana yang kami berdua rasakan, karena aku juga bingung harus memulai percakapan darimana.


Sebelumnya aku dan Arga memang sudah beberapa kali bertemu, tapi aku kira itu hanya dalam mimpi, tapi kenapa dia mempunyai nama serta wajah yang sama dengan Arga yang beberapa kali bertemu denganku di alam mimpi? hatiku pun masih bertanya-tanya.


"Arini..kamu tidak usah bingung dengan semua pemikiran mu, karena semua itu memanglah nyata," ucap Arga seperti mendengar semua isi hatiku.


"Sebelumnya aku berterima kasih karena tadi kamu sudah menolong kami, tapi kenapa kamu bisa tau apa yang sekarang ada dalam pikiranku? apakah kamu seorang indigo?" tanyaku padanya.


Namun, belum juga sempat Arga menjawab pertanyaanku, tiba-tiba sudah datang dua makhluk centil yang kemudian duduk mengapit Arga, siapa lagi kalau bukan teman-temanku, serta tanpa tahu malunya mereka malah nyender-nyender di bahu Arga.


"Hello...ingat...ingat bukan muhrim lho," aku mencoba untuk mengingatkan mereka.


Namun saking asyiknya mereka tidak mendengar apa yang aku ucapkan, hingga akhirnya aku berusaha menarik tubuh Ani dan Ida yang dengan centilnya nempel terus sama Arga, dan Arga pun terlihat risih juga dengan kelakuan mereka.


"Udah...udah...jangan nempel terus kaya perangko."

__ADS_1


"Iiiiih....Arini syirik aja sih, kapan lagi kami deket sama cowok ganteng yang mirip opa-opa korea idola kami," ucap mereka sambil melepaskan pegangan tangannya kepada Arga, meskipun nampak tak rela.


Dari kejauhan aku melihat pemuda yang tempo hari berada di bawah Air Terjun, dia terlihat marah dan dengan mengepalkan tangannya.


__ADS_2