
Pangeran Genderewo kini telah berubah ke wujud aslinya, dan akhirnya pertempuran di Istana Pangeran Genderewo pun terjadi. Aditya dan ketiga anaknya kalah jumlah, Akan tetapi semangat mereka begitu besar sehingga anak buah Pangeran Genderewo kini sudah banyak yang musnah.
"Anak-anak jangan pernah putus berdzikir, semoga Alloh SWT memberikan Pertolongan-Nya," ujar Aditya.
"AYAH AWAS.." tiba-tiba Aa berteriak kepada Aditya karena kini Pangeran Genderewo telah mengeluarkan cahaya merah yang hampir saja mengenai tubuh Aditya, untung saja Aditya keburu menghindar karena mendengar teriakan Aa.
"Terimakasih sayang," ujar Aditya kepada Aa dengan tersenyum.
Titisan siapa pun kamu, tapi bagi Ayah, Aa akan tetap selamanya menjadi anak Ayah, ujar Aditya dalam hati.
Pertarungan kini berlangsung dengan seimbang, karena sebagian besar anak buah Pangeran Genderewo telah berhasil mereka musnahkan.
"Kamu itu bodoh Aditya, karena suatu saat anak kecil itu akan merebut cinta Istrimu," ujar Pangeran Genderewo memancing emosi Aditya.
"Kamu tidak akan mempan memancing emosiku Pangeran Genderewo, karena bagaimanapun juga Aa selamanya akan menjadi anakku, meski pun dia titisan dari seseorang," jawab Aditya sehingga Pangeran Genderewo semakin murka.
Ternyata Istana Pangeran Genderewo berbatasan dengan Api Neraka, sehingga siapa pun yang jatuh ke dalamnya, maka ia akan langsung musnah.
Sebelum aku memusnahkan anak-anaknya, sebaiknya aku memusnahkan Ayahnya terlebih dahulu, ujar Pangeran Genderewo dalam hati. sehingga dia sengaja memancing Aditya ke jurang Api Neraka disaat anak-anaknya sibuk melawan anak buah Pangeran Genderewo.
"Sekarang saatnya kamu musnah Aditya," teriak Pangeran Genderewo terhadap Aditya dengan mendorong tubuh Aditya ke jurang Api Neraka.
Byuuuuuur....Aaaaaaaaa...
terdengar teriakan seseorang yang masuk kedalam jurang Api Neraka.
"AYAH.." teriak Aa bersamaan dengan Bima dan Ayu.
Bima, Ayu, dan Aa kini telah berhasil mengalahkan semua anak buah Pangeran Genderewo. Bukannya senang atas kemenangan mereka, sekarang mereka menjatuhkan tubuhnya lalu menangis, karena mereka mengira Aditya telah terjatuh ke dalam Jurang Api Neraka.
"Bagaimana ini Kak, apa yang harus kita katakan pada Ibunda?" tanya Ayu.
"Maafkan Aa Yah, karena sebenarnya Aa sudah mengetahui semua ini akan terjadi, tapi Aa tidak bisa mencegahnya," ujar Aa dengan menangisi kepergian Aditya.
"Sudahlah Aa jangan menyalahkan diri sendiri, mungkin semua ini sudah menjadi takdir Ayah. Sebaiknya sekarang kita pulang, nanti biar Kak Bima yang menjelaskan semuanya terhadap Ibunda," ujar Bima kepada kedua adiknya, sehingga mereka bertiga kini kembali pulang ke rumah Arini.
__ADS_1
Aa kini sudah kembali masuk ke dalam raganya dan dia mulai membuka kedua matanya, lalu berlari memeluk tubuh Arini yang kini terlihat sedang terus melapalkan dzikir bersama Dede.
"Bunda maafin Aa karena tidak bisa menolong Ayah," ujar Aa dengan menangis, sehingga membuat jantung Arini berhenti berdetak untuk sesaat.
"Apa maksud Aa? Kenapa Ayah belum sadar juga?" tanya Arini yang kini menghampiri tubuh Aditya yang terbujur kaku.
"Mas..bangun Mas..jangan tinggalkan kami, aku mohon buka mata Mas sekarang juga !" ujar Arini dengan terus menggoyang-goyangkan tubuh Aditya.
"Bunda yang sabar ya, ikhlaskan kepergian Ayah," ujar Bima.
Kini anak-anak Arini pun mengelilingi tubuh Aditya dan memeluk tubuh Arini.
"Ibunda yang sabar ya, maafkan kami yang tidak bisa menyelamatkan Ayah," ujar Ayu.
Anehnya Dede sama sekali tidak terlihat menangis, sehingga Arini pun kini memeluk tubuh anak bungsunya, karena Arini mengira Dede begitu Syok dengan kepergian Ayahnya, sehingga Dede tidak dapat mengeluarkan airmata nya setetes pun.
"Kenapa Ibunda dan Kakak-Kakak menangisi Ayah yang sedang tidur?" tanya Dede.
"Dede ikhlaskan kepergian Ayah ya, Ayahnya Dede bukan sedang tertidur, tapi Ayah tidak akan bangun lagi sayang," ujar Arini dengan memeluk tubuh Dede.
Kasihan kamu Nak, mungkin kamu belum mengerti dengan yang telah terjadi kepada Ayah, ucap Arini dalam hati.
"Dede mengerti kok Bunda tentang hidup dan mati seseorang, kan semuanya ada dalam Al-qur'an," ujar Dede sehingga membuat Arini terkejut.
Kenapa Dede mengetahui apa yang sedang aku pikirkan, apakah Dede bisa membaca pikiranku? tanya Arini dalam hati.
"Iya Bunda, Dede tau apa yang sedang Bunda pikirkan sekarang," ujar Dede.
"Subhanallah Nak, ternyata Dede mempunyai kelebihan yaitu bisa membaca isi hati seseorang," ujar Arini
Tiba-tiba Dede menghampiri tubuh Aditya yang terlihat pucat pasi, lalu kemudian dengan merdunya Dede membacakan Ayat-ayat suci Al-qur'an dengan memegangi tangan Aditya.
"Ayah bangun Yah, tidurnya jangan terlalu lama, kasihan Bunda dan Kakak-Kakak Dede jadi menangis," ujar Dede sehingga membuat Arini dan ketiga anaknya semakin menangis mendengar perkataan Dede.
Tiba-tiba tubuh Aditya yang dingin kini menjadi kembali hangat, dan wajahnya yang sudah pucat pasi kini terlihat kembali berseri.
__ADS_1
"Subhanallah.." ucap Arini bersama ketiga anaknya. Dan Dede masih saja melapalkan do'a.
Secara perlahan Aditya kini membuka matanya.
"Alhamdulillah Ya Alloh.." teriak Arini dengan memeluk tubuh Suaminya.
"Bunda jangan menangis ya, maafkan Ayah karena sudah membuat kalian merasa khawatir," ujar Aditya yang kini terlihat duduk dengan masih memeluk tubuh Arini.
"Apa yang sebenarnya terjadi yah?" tanya Bima.
"Kami kira Ayah sudah pergi meninggalkan kami semua," ujar Ayu dengan menangis.
"Mungkin Ayah masih diberikan kesempatan oleh Alloh SWT untuk beribadah dan berbuat kebaikan di Dunia ini," ujar Aditya.
"Astagfirulloh, rencana kita pergi ke Istana Pangeran Genderewo kan untuk membebaskan Aunty Mirna," ujar Ayu.
"Lalu Mirna sekarang dimana? kenapa dia tidak pulang bersama kalian?" tanya Arini
"Sekarang Aunty Mirna sudah pergi untuk selamanya," ujar Aa.
"Tidak mungkin..tidak mungkin Mirna meninggalkan kita," ujar Arini dengan menangis.
"Bunda jangan bersedih ya, kita harus berterimakasih terhadap Mirna, karena berkat dia Ayah bisa kembali berkumpul bersama kalian semua," ujar Aditya.
"Kami masih bingung Yah, lalu kemana Pangeran Genderewo? bukannya tadi dia memancing Ayah supaya terjatuh ke dalam jurang Neraka?" tanya Bima.
"Iya..Pada awalnya Pangeran Genderewo berniat mendorong Ayah supaya masuk ke dalam Jurang Neraka, tapi disaat Ayah hampir terjatuh tiba-tiba Mirna menubruk tubuh Pangeran Genderewo, sehingga mereka berdua terjatuh ke dalam Api Neraka, lalu Mirna dan Pangeran Genderewo pun musnah," ujar Aditya.
"Innalilahi Waina Ilaihi Raji'un..ucap Arini dengan menutup mulutnya.
"Mirna maafin aku jika selama ini mempunyai salah kepadamu," ujar Arini.
"Bunda yang sabar ya, sebaiknya kita kirim do'a untuk Mirna, semoga Mirna bahagia di alam sana," ujar Aditya.
"Jadi ternyata Ayah bisa selamat karena ditolong oleh Aunty Mirna?" tanya Aa dengan terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1