
Pov Arini
Aku merasa bingung dengan perasaanku saat ini, rasanya hatiku sakit ketika mas Aditya tidak sedikit pun menjawab pertanyaanku yang berkata kepadanya bahwa aku telah mengingat masalaluku dengan Rangga Wisesa disaat jiwaku terjebak di alam siluman ular, apa mungkin sekarang mas Aditya sudah jijik dengan diriku? hati ku pun mulai menerka-nerka semuanya.
"Arini, sebaiknya sekarang kita makan dulu ya mungpung makanannya masih hangat," mas Aditya kini angkat suara, tapi bukan itu yang aku ingin dengar dari mulutnya sekarang, dan rasanya selera makan ku pun sudah hilang.
Tiba-tiba tangan mas Aditya kini mengusap lembut kepalaku,
"Sudahlah kamu tidak usah banyak pikiran, sebaiknya kita makan dulu, sebentar lagi waktu sholat Maghrib akan segera tiba, nanti setelah selesai makan dan sholat kita bicarakan lagi semua ini," ucap mas Aditya yang kemudian menarik lembut tanganku keluar dari kamar untuk makan.
Akhirnya, kami berdua makan tanpa ada yang mengeluarkan suara sepatah kata pun, sampai tiba-tiba aku menyudahi makanku yang masih tersisa setengah lagi.
"Arini, tidak baik menyisakan makanan, ayo cepat habiskan dulu semuanya, kamu harus bersyukur karena di luar sana masih banyak orang yang kelaparan," ucap mas Aditya padaku.
Kemudian aku pun akhirnya memaksakan diri untuk menghabiskannya, meski rasanya sekarang makananku terasa hambar, sehambar hatiku yang lagi galau.
Suara Adzan maghrib kini sudah berkumandang, kami berdua pun seperti biasa melakukan sholat berjamaah. akan tetapi, setelah beres Sholat, mas Aditya nampak meneruskannya dengan berdzikir, sehingga aku yang sudah merasa kecapean setelah perjalanan jauh pun akhirnya ketiduran di atas sajadah dengan masih memakai mukena.
Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mengangkat tubuhku lalu membaringkannya di ranjang, sehingga aku pun membuka mataku secara perlahan disaat mas Aditya mencoba untuk membuka mukena yang masih aku kenakan.
"Maaf Arini tidurmu jadi terganggu ya karena gerakan tanganku," ucap mas Aditya.
"Tidak apa-apa mas, harusnya aku yang meminta maaf karena sudah ketiduran, sehingga mas jadi repot harus memindahkanku," jawabku.
"Ya sudah kalau kamu belum mau melanjutkan tidur lagi, alangkah baiknya sekarang kamu Sholat Isya dulu, ada sesuatu hal juga yang harus kita bicarakan," ucap mas Aditya.
__ADS_1
Aku pun akhirnya menuruti apa yang diperintahkan oleh Suamiku, setelah selesai sholat kini aku termenung memikirkan tentang semuanya, memang benar pada kenyataannya mas Aditya adalah suamiku yang syah secara hukum dan agama, alangkah berdosanya aku selama ini karena belum bisa melaksanakan kewajibanku sebagai seorang Istri dengan melayani kebutuhan biologisnya, sehingga kini aku merasa bersalah terhadap suamiku.
Mas Aditya begitu setia menungguku dari koma selama dua tahun lamanya, sedangkan apa yang telah aku lakukan di alam bawah sadarku sungguh tidak mencerminkan seorang istri yang baik, aku sudah bersenang-senang dengan lelaki lain di alam sana bahkan sampai mempunyai anak, Astagfirulloh...apakah aku sudah berdosa? tapi mendiang Rangga wisesa juga di alam sana sudah menikahiku? kini hatiku bertanya-tanya, sampai akhirnya aku mendengar suara mas Aditya yang memanggilku.
"Arini..apa sudah selesai sholatnya?" tanya mas Aditya.
"Sudah mas," jawabku dengan membuka mukena lalu hendak memakai jilbab ku kembali.
"Arini bolehkah sekarang aku melihatmu tanpa memakai jilbab? sekarang kita hanya berdua di dalam kamar, tidak apa-apa kan jika seorang suami ingin melihat aurat istrinya," ucap mas Aditya padaku.
Aku pun merasa aneh mendengar permintaan mas Aditya, dan akhirnya aku mengurungkan niatku untuk memakai jilbab. Lalu kemudian aku duduk di sampingnya.
"Maafin mas ya yang daritadi tidak langsung menjawab pertanyaanmu tentang masalalu kamu dengan Rangga Wisesa, sehingga mas sudah membuatmu merasa bingung," ucap mas Aditya yang kini mencoba mengusap lembut rambutku.
Aku pun kini menangis lalu memeluk tubuhnya dengan erat, ada rasa takut kehilangan sosok lelaki yang selama ini sudah menjadi imamku.
"Tadi mas hanya bingung dengan status Pernikahan kita, makanya tadi setelah sholat maghrib mas mencoba berusaha untuk berkomunikasi melalui mata bathin, dengan orang yang lebih tau hukum dari pernikahan kita."
"Beliau bilang pernikahan kita syah secara hukum mau pun agama, dan kamu juga tidak termasuk berzina dengan Rangga wisesa, karena kalian juga sudah menikah di alam sana."
"Bahkan, pernikahan yang kalian lakukan pun berlangsung secara bersamaan dengan pernikahan kita di alam manusia, dan karena sekarang Rangga Wisesa sudah meninggal dunia, dan mas juga belum memberikan nafkah batin terhadapmu, jadi tidak ada masalah dengan pernikahan kita," ucap mas Aditya dengan tersenyum manis kepadaku.
"Jadi apa sekarang mas Aditya masih mau menerimaku apa adanya yang sudah pernah menikah dengan lelaki lain bahkan sampai mempunyai anak?" tanyaku padanya.
"Tentu saja sayang, itu semua bukan kesalahanmu, karena kamu juga tidak mengetahui pernikahan yang sudah kita lakukan di alam manusia bukan?" tanya mas Aditya yang aku jawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Kini akhirnya hatiku merasa lega setelah mas Aditya menjawab semua pertanyaanku.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita istirahat, kasihan kamu juga pasti kecapean," ucap mas Aditya.
"Apa mas tidak mau meminta hak mas kepadaku malam ini?" tanyaku pada mas Aditya.
"Mas tidak akan pernah memaksamu jika kamu memang belum siap, karena mas menikahi serta mencintaimu karena Alloh, bukan hanya sekedar nafsu," ucap mas Aditya yang kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku.
Cuaca malam ini sangat dingin hingga menusuk ke dalam tulangku, aku merasa kedinginan karena malam ini hujan turun begitu derasnya.
Mas Aditya yang melihatku sedang kedinginan pun kini mencoba memeluk tubuhku dengan erat. Namun rasanya aku masih tetap saja kedinginan, hingga akhirnya dia mencoba membuka bajunya dan bajuku lalu menempelkan kulit tubuhnya dengan tubuhku.
"Maaf Arini, mas hanya ingin membuat tubuhmu lebih hangat saja," ucapnya padaku.
Aku tau sebagai lelaki normal pasti dia sangat merasa tersiksa karena menahan gejolak yang ada pada tubuhnya, sehingga akhirnya kini aku membalikan tubuhku menghadap tubuhnya, dan kini matanya nampak membulat melihat perbuatanku yang sesaat kemudian langsung mencium bibirnya.
Malam ini aku berniat untuk melaksanakan kewajibanku sebagai seorang isteri dengan melayani suamiku sepenuh hati, sehingga akhirnya malam yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh mas Aditya pun terjadi.
Malam yang sangat indah kini kami lewati berdua dengan penyatuan tanpa ada paksaan dari pihak mana pun, kami melakukannya atas dasar cinta dan Ibadah.
Kini Adzan subuh sudah berkumandang, mas Aditya yang berada di sampingku pun kini berusaha untuk membangunkanku.
"Sayang ayo bangun udah subuh," ajaknya padaku.
"Iya mas," jawabku. Namun, kini aku masih merasakan sakit pada inti tubuhku, serta melihat bercak darah yang menempel di atas sprei.
__ADS_1
Aku pun menjadi bingung karena selama di alam Rangga Wisesa aku sudah pernah melakukannya bahkan hingga aku punya anak, tapi kenapa disini aku masih perawan.
Mas Aditya yang melihat aku meringis kesakitan serta sedang kebingungan pun lalu berkata, "Terimakasih ya sayang kamu sudah memberikan malam yang Indah untukku, kamu tidak usah bingung, mungkin jiwa kamu sudah pernah melakukan penyatuan dengan Rangga wisesa, tapi tidak dengan ragamu, karena aku adalah orang pertama yang mendapatkannya," ucap mas Aditya dengan tersenyum padaku.