
Enam bulan kini telah berlalu dari semenjak kepergian Bunda, kami memutuskan untuk menetap di Bandung, karena usaha suamiku yang berada disini juga tidak bisa di tinggalkan.
Namun, ada keanehan yang terjadi pada Aa, karena di usia nya yang baru 7 bulan dia sudah bisa berjalan dan berbicara, sedangkan Dede pertumbuhannya normal seperti bayi pada umumnya yang baru bisa merangkak.
"Bunda, kenapa ya Aa pertumbuhannya berbeda dari bayi normal pada umumnya? Dede aja baru bisa merangkak, Aa malah sudah bisa jalan dan fasih juga dalam berbicara," tanya mas Aditya.
"Harusnya Ayah itu bersyukur karena berarti Aa cepet gedenya, jadi Bunda kan gak harus gendong dua bayi kalau jalan-jalan gak ditemani sama Ayah," jawabku.
"Kenapa Bunda gak minta tolong sama Mirna aja buat gendong Aa," ujar mas Aditya.
"Memangnya Ayah lupa kalau Mirna itu siapa? dulu aja waktu Aa belum bisa jalan terus Mirna yang gendong, orang-orang pada lari ketakutan, karena mereka tidak bisa melihat Mirna," ujarku pada mas Aditya.
"Oh iya ya ayah lupa, Sekarang kan Aa dan Dede sudah tidur, boleh dong sekarang giliran Ayah yang di nina boboin," ujar suamiku dengan cengengesan.
"Ya sudah Ayah mau Bunda bacain dongeng apa?" tanyaku sama mas Aditya sehingga dia memanyunkan bibirnya. Aku yang merasa gemas pun langsung mencium sekilas bibirnya sehingga dia kembali tersenyum. Akan tetapi tiba-tiba Aa bangun dan kemudian menghalangi kami berdua dengan tidur di tengah-tengah kami.
"Kenapa sih Aa kayaknya gak suka kalau Ayah dekat-dekat sama Bunda?" tanya suamiku.
Kami sering merasa aneh dengan Aa, karena setiap kali mas Aditya mencoba untuk mendekatiku dan berniat untuk memberikan nafkah bathin, Aa selalu saja menggangu kami, sehingga setelah aku melahirkan Aa dan Dede, mas Aditya belum bisa memberikan nafkah bathin padaku. Aku pun merasa kasihan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan biologis suamiku.
"Kayaknya Ayah puasa lagi nih," ujar Suamiku dengan cemberut.
"Ayah yang sabar ya, Bunda coba minta tolong dulu deh sama Mirna buat jagain Aa," ucapku.
"Mana mau Aa di jagain sama Mirna kalau lihat Ayah sudah dekat-dekat sama Bunda, yang ada nanti dia nangis tuh seperti biasa," ujar mas Aditya. dan Aa kini malah memeluk tubuhku dengan erat seakan takut dipisahkan dariku.
Mas Aditya kini terlihat gelisah, mungkin kepalanya merasa pusing karena berusaha menahan hasratnya, sehingga aku mencoba memanggil Mirna.
"Mir aku boleh minta tolong gak?" tanyaku pada Mirna, dan kini Mirna sudah berada di hadapan kami.
"Ada apa cantik? mau minta tolong jagain Aa ya karena mas Aditya kepalanya sakit?" ujar Mirna dengan cekikikan.
"Iya Mir kasihan mas Aditya puasa terus," ucapku pada Mirna dengan mendelikan mata kepada suamiku.
"Ya sudah Bunda coba ngomong dulu ya sama Aa," ucapku pada mas Aditya.
__ADS_1
"Aa mana ngerti Bunda, emang dasarnya Aa aja yang mau merebut Bunda dari Ayah," ujar suamiku yang kini terlihat kesal.
"Ayah kenapa sih kok ngomongnya gitu? Aa juga kan anak Ayah, masa sama anak sendiri cemburu?"
"Aa sih masih bayi aja sudah ngeselin Ayah terus, gimana kalau sudah besar, bisa-bisa nanti dia sepenuhnya berusaha buat menguasai Bunda."
"Istighfar Ayah, omongan itu do'a, jadi Ayah gak boleh ngomong sembarangan, pamali tau," Aku pun mencoba mengingatkan suamiku.
"Astagfirulloh...maaf Bunda, ayah khilaf, terimakasih ya sudah mengingatkan Ayah," ucap Suamiku.
"Iya sama-sama, Ayah sabar sebentar ya, Bunda mau coba bicara dulu sama Aa."
"Aa sayang boleh Bunda minta tolong?" ucapku pada Aa.
"Bunda mau minta tolong apa?" tanya Aa.
"Aa main dulu ya sama Aunty Mirna,"
"Bunda mau kemana?" tanya Aa.
"Bunda mau ngobatin Ayah dulu, kasihan Ayah kepalanya sakit, nanti Aa main lagi sama Bunda kalau Bunda sudah beres ngobatin Ayah ya," ucapku pada Aa dengan mencium pipinya sehingga dia mengangguk dan tersenyum kepadaku.
"Iya-iya ngerti, aku juga gak bakalan ngintip kalian kok," ucap Mirna dengan cekikikan.
"Emang Aunty mau ngintip siapa?" tanya Aa pada Mirna.
"Bocah gak boleh kepo, ayo cepetan ikut Aunty, kita main ke rumah Abang Jarwo si Genderewo Macho," ajak Mirna pada Aa.
"Jangan jauh-jauh Mir ngajak mainnya,"
"Iya-iya, kamu gak usah khawatir kita juga cuma main di depan rumah," ujar Mirna yang kini membawa Aa keluar dari kamar.
"Aneh banget tuh anak, giliran Bunda nya aja yang ngomong langsung nurut," ucap mas Aditya dengan senyum-senyum sendiri.
"Ngapain senyum-senyum sendiri, ayo cepetan tidur, katanya pusing !"
__ADS_1
"Ayah mau buka puasa dulu," ujar mas Aditya sehingga langsung saja memakanku.
......................
Kami baru terbangun ketika Adzan subuh berkumandang.
"Astagfirulloh Ayah kita sampai ketiduran," ujarku yang kini mencoba untuk membangunkan Suamiku.
"Ayah ayo bangun cepetan mandi dulu, nanti waktu subuh nya keburu habis," Aku pun mencoba untuk membangunkan Suamiku yang masih tertidur dengan memeluk tubuhku.
Tiba-tiba Aa datang dan menarik tubuh mas Aditya.
"Ayah bangun jangan peluk-peluk Bunda nya Aa !" teriak Aa dengan kesal sehingga mas Aditya pun kini terbangun.
"Aa ganggu aja sih," ucap mas Aditya.
"Bangun Ayah ini udah subuh, ayo cepetan kita mandi dulu, terus Sholat berjamaah," ajak ku pada mas Aditya.
"Aa juga mau ikut mandi sama Bunda," ucap Aa yang kini merengek padaku.
"Ya udah sebaiknya Ayah mandi duluan aja, Bunda mau nenangin Aa dulu," ucapku pada mas Aditya, Kemudian mas Aditya pun bergegas buat mandi.
"Aa mandinya nanti ya kalau udah siang, ini kan masih subuh, nanti Aa bisa masuk angin kalau mandi subuh-subuh," jelas ku pada Aa.
"Tapi Bunda sama Ayah boleh Mandi subuh-subuh?" tanya Aa dengan berlinang airmata.
"Bunda sama Ayah kan sudah besar, kalau Aa masih kecil, malah Aa masih bayi, Bunda juga mau minta tolong sama Aa buat jagain Dede dulu ya, Bunda nya mau mandi terus Sholat dulu," ucapku pada Aa dengan memeluk serta mencium pipinya, sehingga Aa kini duduk di samping Dede yang masih tidur.
Akhirnya aku dan mas Aditya pun melaksanakan Sholat subuh berjamaah, lalu setelahnya mas Aditya seperti biasa selalu membantuku memasak sebelum berangkat kerja.
"Duuuh...jadi pengen deh punya suami idaman kaya mas Aditya," celetuk Mirna.
"Mirna ingat ya jangan mulai mancing-mancing emosi aku !" ujarku pada Mirna.
"Iya..iya..posesif banget sih, padahal mas Aditya juga gak bakalan tergoda sama aku," ujar Mirna yang kini terlihat cemberut.
__ADS_1
"Biarin, posesif juga sama suami sendiri, daripada nanti digondol Pelakor," ujarku pada Mirna.
Mas Aditya yang mendengar aku dan Mirna terus berdebat pun, kini terlihat tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.