Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 73 ( Rencana Pernikahan )


__ADS_3

Bima dan Dinda kini berniat untuk menemui Aa dan Dede yang terlihat sedang mengobrol di dekat tenda mereka.


"Assalamu'alaikum Adik-adik Kakak yang tampan," ucap Bima.


"Wa'alaikumsalam Kak Bima," jawab Aa dan Dede secara bersamaan, kemudian mereka bertiga pun berpelukan.


"Lho Kak Bima kapan ke sini? kok mau datang kesini gak ngasih kabar dulu," tanya Arya.


"Iya De Kakak tadi sudah menemui Bunda untuk memberitahukan tentang rencana Pernikahan Ayu dan Pangeran Sanca," ujar Bima.


"Memangnya kapan Kak Pernikahannya?" tanya Arya.


"Nanti minggu depan, kalian usahakan hadir ya," ujar Bima.


"Iya Kak insyaAlloh," jawab Arya.


"Tapi kayaknya Pernikahan Kak Ayu akan dilaksanakan bareng sama Kak Bima deh De," ujar Arga.


"Memangnya Kak Bima udah dapat gitu pengganti Kirana?" tanya Arya.


"Tuh kamu lihat aja sendiri daritadi tangan Kak Bima megangin terus tangan Dinda," tunjuk Arga.


"Iya aku baru sadar kalau tadi mereka nempel terus kata perangko," ujar Arya dengan cekikikan.


"Kakak bertemu dimana sama gadis bawel itu?" tanya Arya.


"Sekarang Dinda calon Kakak Ipar kalian jadi kalian harus belajar memanggil dia Kakak ya," ujar Bima sehingga membuat Dinda tersipu malu.


"Cepet amat udah jadian aja, emang gak mau PDKT dulu?" tanya Arya.


"Pacarannya lebih enak kalau udah Nikah," jawab Bima dengan cengengesan.


"Biasanya Dinda suka kecentilan kalau lihat Aa, tumben banget sekarang cuma mesem-mesem aja," sindir Arya.


"Semua orang kan punya masalalu De, aku juga harus move on dong, dulu aku hanya mengagumi Arga tanpa bisa memilikinya," ujar Dinda dengan cengengesan.


"Iya Dinda cinta bertepuk sebelah tangan itu memang menyakitkan, mungkin aku juga lebih baik move on dari Putri," ujar Arya.


"Kamu yang semangat donk De, kamu sama Putri kan sama-sama manusia jadi masih mempunyai kesempatan untuk bersama, sedangkan aku sama Aa kan beda alam jadi gak akan mungkin bisa bersama," ucap Dinda.

__ADS_1


"Iya De kamu jangan menyerah, lagian Aa juga gak suka sama Dinda, karena Aa sudah mempunyai pujaan hati," ujar Arga.


"Wah siapa tuh? aku jadi penasaran," tanya Arya.


"Masih Rahasia, nanti kamu malah ikutan suka lagi sama perempuan yang Aa taksir," ujar Arga.


Sebenarnya aku hanya bertemu dengan perempuan itu dalam mimpiku saja, tapi entah dimana sekarang dia berada karena wajahnya begitu mirip dengan Bunda sehingga Aku merasakan getaran aneh ketika berada di dekat Bunda. Perasaan itu bukan hanya sekedar rasa sayang seorang anak kepada Ibunya, Ya Alloh ampunilah aku, aku tidak mau menjadi anak durhaka, mudah-mudahan saja aku segera bertemu dengan gadis dalam mimpiku. batin Arga.


"Woy jangan melamun aja, nanti kesambet lho," celetuk Arya.


"Aa lagi mikirin sesuatu De, emangnya kamu yang udah bucin akut sama Putri," sindir Arga.


"Kok tau sih?" tanya Arya dengan cengengesan.


"Tuh lihat di jidat kamu ada nama Putri nya," ujar Arga sehingga Arya kini memegangi jidatnya dan semua orang yang berada di sana pun menertawakannya.


"Oh iya De kamu lihat Putri gak?" tanya Dinda.


"Astagfirulloh aku sampai lupa Kak Dinda, tadi Putri nyariin Kak Dinda lho, dan dia terlihat cemas sekali," ujar Arya.


"Gitu dong biasain panggil pujaan hati Kakak dengan sebutan Kakak juga," ujar Bima dengan tersenyum.


"Sayang aku mau nemuin Putri dulu ya, aku takut kalau nanti dia khawatir karena tadi aku gak pamit waktu pergi ke hutan," ujar Dinda.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya, perlu Abang antar gak?" tanya Bima.


"Gak usah itu tendanya juga kelihatan dari sini," ujar Dinda yang kini hendak melangkahkan kakinya untuk menemui Putri, baru juga dia melangkah tiba-tiba dia terpeleset karena menginjak kulit pisang, untung saja Bima langsung sigap menangkapnya.


"Awww" teriak Dinda yang kini tubuhnya di tangkap oleh Bima sehingga terjadilah adegan saling memandang.


"Kayaknya kita jadi obat nyamuk nih A," ujar Arya kepada Arga.


"Kalau orang lagi jatuh Cinta tuh dunia seakan milik berdua, yang lain mah pada ngontrak De," sindir Arga sehingga menyadarkan kedua sejoli yang sedang dimabuk asmara.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bima.


"Makasih ya sudah menolongku, aku gak apa-apa kok sayang," ujar Dinda dengan tersipu malu kemudian dia langsung berlari ke arah tenda Putri, tapi karena jalan yang licin akibat gerimis akhirnya terdengar suara Gedebuk dan Dinda pun jatuh juga.


Tapi karena malu Dinda langsung berdiri lagi kemudian masuk ke dalam tenda Putri.

__ADS_1


"Ha_ha_ha_ha_ha dasar kocak," Arga dan Arya pun kini tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan Dinda, dan mereka pun langsung berhenti tertawa karena mendapat pelototan dari Bima.


"Iya_iya maaf Kak, habisnya calon istri Kakak kelakuannya konyol sama bar-bar," ujar Dede dengan cekikikan.


"Tapi aku tetap Cinta," ujar Bima dengan tersenyum.


"Iyalah Cinta kan Buta dan Tuli," ujar Arga.


"Oh Ya A, kamu mau nerusin kuliah kemana?" tanya Bima.


"Aku udah ada beberapa tawaran beasiswa dari beberapa Universitas terbaik, tapi aku kayaknya ambil yang masih di daerah Bandung aja Kak biar bisa pulang_pergi," jawab Arga.


"Emangnya Aa gak mau cari pengalaman keluar kota?" tanya Bima.


"Mana mau Aa keluar kota, Kak Bima tau gak pas tadi dia mau berangkat kesini juga Aa sampai rengek-rengek gak mau ikut karena gak mau pisah sama Bunda, Aa parah banget kan Kak," ujar Arya.


"Masa sih seorang Aa yang pintar dan mandiri sikapnya masih seperti anak kecil?" tanya Bima seakan tak percaya.


"Kak Bima gak tau aja setiap hari kelakuan Aa di rumah yang suka nempel terus sama Bunda, sampai-sampai Ayah suka kesel sama cemburu dengan kelakuan Aa yang berlebihan terhadap Bunda," ujar Arya yang kini tertawa.


Mudah-mudahan saja perkataan Pangeran Genderewo dulu tidak terjadi, kalau Aa bakalan merebut Bunda dari Ayah Aditya, batin Bima.


Kini Dinda dan Putri pun terlihat menghampiri mereka dengan membawa sebuah tas besar.


"Kamu gak apa-apa kan sayang, tadi aku sampai khawatir lihat kamu jatuh, maaf ya aku gak sempet nolongin kamu," ucap Bima yang kini memegang pergelangan tangan Dinda lalu mengajaknya duduk di atas tikar.


"Aku gak kenapa-napa sayang, kamu jangan bahas lagi ya, aku kan jadi malu," jawab Dinda yang kini bersembunyi di dada Bidang Bima.


Putri yang melihat Bima dan Dinda pun kini terlihat bengong,


"Sepertinya aku telah melewatkan sesuatu ya?" tanya Putri.


"Ya udah kamu sini duduk aja nanti aku ceritain," ujar Dinda.


Mereka kini membuat api unggun karena rencananya mau begadang.


"Ayo semuanya kita pesta makanan," ujar Dinda dengan membuka tas besar yang berisikan banyak makanan.


"Jadi ini ya isi Tas Hantu yang bikin si Adi pingsan?" ujar Arya dengan mengambil makanan dari tas tersebut dan mereka semua pun tertawa mendengar ucapan Arya.

__ADS_1


__ADS_2