
...Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai untuk selamanya....
......................
Tiga bulan pun kini telah berlalu dari semenjak Aditya meninggal dunia.
Arya dan Putri kini memutuskan untuk masuk ke Pesantren milik Aditya yang berada di daerah Jawa dan akan melanjutkan Sekolah SMA di sana.
Arini dan Ida sebenarnya berat untuk melepaskan kepergian anak-anaknya, tapi itu semua untuk masa depan mereka juga.
"Apa Dede dan Putri sudah yakin akan Sekolah dan mondok di sana?" tanya Arini kepada Arya dan Putri.
"Insyaallah Bunda, Dede akan mencari ilmu yang bermanfaat untuk bekal di Dunia dan Akhirat," jawab Arya.
"Putri juga Mah, akan menuntut ilmu supaya kelak Putri bisa menjadi Istri yang saleha untuk Kang Arya," ujar Putri kepada Ida dengan tersenyum malu-malu.
"Sepertinya kita bakalan jadi besan Rin, Putri kayaknya pengen nemplok terus tuh sama Dede," ujar Ida sehingga mereka semua yang berada di sana tertawa.
"Alhamdulillah Da kalau kita bisa menjadi besan, jadi kita bisa lebih mempererat tali silaturahmi," ujar Arini.
"Aku juga gak nyangka kalau kamu dan Mirna sudah menjadi besan juga, Bima dan Dinda kan sudah menikah dua bulan yang lalu, jadi nanti giliran kita yang besanan deh," ujar Ida.
"Iya mudah-mudahan aja Da, kalau aku gimana anak-anak saja," ujar Arini dengan tersenyum.
"Assalamu'alaikum," ucap Abdul yang kini datang dan ikut bergabung bersama Arini, Ida dan anak-anaknya.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka semua.
"Mah kita juga sepertinya besok bakalan ikut pindah ke Jawa sama Putri dan Dede," ujar Abdul dengan antusias.
"Lho memangnya kenapa Pah kok kita jadi mendadak pindah juga?" tanya Ida.
"Alhamdulillah Papah dapat proyek di sana jadi sekalian bisa jagain Putri kesayangan kita," ujar Abdul.
__ADS_1
"Bilang aja Papah sengaja kan mau ngawasin aku biar gak deket-deket sama Dede terus," ujar Putri dengan cemberut.
"Sayang kok cemberut sih, Putri kan anak Papah satu-satunya jadi wajar dong kalau Papah khawatir sama Putri kesayangan Papah," ujar Abdul.
"Makanya Papah dan Mamah tuh bikinin Adik dong buat Putri biar punya mainan baru," ujar Putri.
"Kalau punya Anak lagi Papah gak mau Put, soalnya waktu ngidam sama ngelahirin kamu aja Papah habis dianiaya sama Mamah," ujar Abdul dengan bergidik ngeri.
"Ya sudah nanti Putri kasih Papah sama Mamah Cucu aja deh kalau gitu," celetuk Putri.
"Emang Putri sudah punya calon Suami?" tanya Abdul yang kini merasa heran karena belum mengetahui hubungan Putri dan Arya.
"Alhamdulillah Putri udah punya Akang Arya buat jadi imam Putri," ujar Putri dengan cengengesan sehingga membuat Arya malu juga.
"Jadi bener De kamu sama Putri udah jadian?" tanya Abdul.
"Iya Pah, maaf kami berdua belum jujur sama Papah, soalnya Dede masih malu Pah," ujar Arya pada Abdul.
"Kenapa harus malu, Papah justru senang karena Putri sudah jatuh hati sama pemuda yang saleh seperti Dede, yang penting kalian bisa jaga diri saja dan tidak melewati batas," ujar Abdul.
"Berarti pilihan kita untuk ikut pindah ke Jawa tepat mah, karena sepertinya Putri kita nih yang mepet-mepet terus sama Dede," ujar Abdul dengan terkekeh.
"Iiih Papah kenapa sih ngomong gitu? Putri kan jadi mau, eh malu maksudnya," ujar Putri dengan cengengesan.
"Putri pasti sudah kebelet tuh, persis kayak Mamahnya dulu," ujar Abdul sehingga membuat Ida geram.
"Lihat saja ya Pah, nanti malam Papah tidur di luar !" teriak Ida.
"Eh_eh_jangan dong Mah, nanti Papah kedinginan kalau gak ada Mamah," ujar Abdul.
"Makanya kalau ngomong tuh jangan asal jeplak, Papah udah bangunin Singa betina yang lagi tidur !" ujar Ida dengan cemberut.
"Udah Da jangan ngambek, kamu tuh harus rukun sama Suami, selagi pasangan kita masih ada, karena setelah orang yang kita sayangi pergi yang tersisa hanyalah rasa kehilangan," ujar Arini dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
"Maaf ya sayangku, kami jadi ngingetin kamu sama mas Aditya ya," ujar Ida dengan memeluk tubuh Arini.
"Iya gak apa-apa Da, aku sudah iklhas kok, karena mas Aditya pasti saat ini sudah bahagia di alam sana," ujar Arini.
"Oh iya Mbak, Aa kemana daritadi kok gak kelihatan?" tanya Abdul.
"Aa menjadi tulang punggung keluarga kami mas Abdul, Aa sekarang meneruskan usaha mas Aditya," ujar Arini dengan meneteskan airmata.
"Kamu yang sabar ya Rin, Aa kan anaknya pintar, jadi aku yakin dia pasti dengan mudah menghandle semuanya," ujar Ida.
"Tapi tadinya aku berharap Aa bisa melanjutkan Kuliah Da," ujar Arini.
"Bunda jangan sedih ya, Aa juga sudah bilang sama Dede kalau Aa bakalan Kuliah juga sambil kerja, dan Dede juga bakalan ngembangin usaha Peternakan Ayah di Jawa," ujar Arya dengan memeluk Bundanya.
"Makasih ya sayang, Bunda gak tau apa jadinya jika kalian tidak ada dalam hidup Bunda," ujar Arini dengan mengelus lembut kepala Arya.
"Da nanti aku titip Dede ya di sana, kalau bisa sebaiknya kalian tinggal di rumah kami yang berada di Pesantren saja, sayang juga rumahnya sudah lama kosong," ujar Arini.
"Iya Rin kami pasti akan menjaga calon menantu kami, dan pastinya kami akan senang jika tinggal di rumah kamu yang berada di Jawa, jadi kami bisa mengenang masalalu kita ya kan sayang," ujar Ida kepada Abdul.
"Gitu dong akur, jadi Putri gak pusing dengerin Mamah yang teriak-terik terus. Ngomong-ngomong apa gak sebaiknya Putri Nikah dulu sama Dede? nanti kan kita bakalan tinggal satu rumah, takutnya ada godaan Syetan," celetuk Putri sehingga mendapat pelototan dari semua orang.
"Kok malah pada ngelihatin Putri sih?" tanya Putri dengan polosnya.
"Putri sayang sabar dulu ya, tunggu sampai kalian berdua lulus SMA, nanti supaya tidak terjadi fitnah, Dede biar tidurnya di kobong saja," ujar Arini dengan mengelus lembut kepala Putri.
"Iya deh Bunda, Putri bakalan sabar nungguin Akang Arya," ujar Putri dengan cengengesan sehingga membuat Arya kembali malu.
"Kamu tuh malu-maluin saja Put, jadi cewek tuh tahan harga dikit, ini malah kamu yang sudah kegatelan," ujar Ida karena merasa gemas dengan kelakuan Putri.
"Putri tuh kayak gitu karena Mamah juga dulu agresif sama Papah," ujar Abdul keceplosan lagi sehingga kembali mendapatkan pelototan dari Ida.
"Aduh jadi salah lagi kan Papah, jangan marah ya Ratuku," ujar Abdul sehingga membuat Ida tertawa. Arini yang melihat Ida dan Abdul bercanda pun kini tersenyum miris karena kembali mengingat Suami tercintanya.
__ADS_1
Mas Aditya, aku kangen banget sama kamu mas, aku rindu canda dan tawa mas, batin Arini dengan meneteskan airmata, lalu kemudian dia segera menghapusnya sebelum ada yang melihat.