
Pov Arini
Hari pertama anak-anak belajar di Sekolah berjalan dengan lancar. Kami merasa bahagia karena di hari pertama mereka bersekolah kami bisa mengantarnya. Namun, Mas Aditya di panggil oleh Wali kelas Aa dan Dede, entah apa yang mau dibicarakan.
"Alhamdulillah ya Da, semuanya berjalan dengan lancar," ucapku pada Ida.
"Iya Rin, Alhamdulillah banget, oh iya Rin mas Aditya kok sampai di panggil oleh Wali kelas Aa dan Dede, memangnya Ada apa?" tanya Ida.
"Gak tau Da, aku kan gak ikutan masuk, kita tunggu aja orangnya biar bisa nanya langsung," jawabku pada Ida, hingga beberapa saat kemudian Suamiku terlihat menghampiri kami.
"Ayah ada apa Wali kelas anak-anak sampai manggil Ayah?" tanyaku pada Mas Aditya.
"Kita di suruh mindahin Aa ke SD, Bunda," ujar mas Aditya.
"Lho kok bisa, kan umur Aa baru 5 tahun?" tanyaku heran.
"Sebab kata Wali kelas anak-anak Kecerdasan Aa melebihi anak usianya, Bunda lihat sendiri kan tadi waktu anak yang lain main, Aa malah baca buku dan menulis, makanya Wali kelasnya nyaranin untuk Aa masuk SD yang berada disini juga," ujar Mas Aditya.
"Terus gimana sekarang keputusan Ayah?" tanyaku pada Mas Aditya.
"Kalau Ayah sih terserah Bunda saja, tapi sepertinya itu ide yang bagus, siapa tau di usia Aa yang masih muda nanti, Aa sudah punya gelar Sarjana," ujar Suamiku.
"Amin...Betul juga sih Yah, kalau begitu sekalian aja sekarang Ayah daftarin Aa ke SD mungpung sekalian masih berada disini," ujarku pada Mas Aditya. Kemudian Suamiku pun kembali masuk ke dalam Sekolah.
"Senengnya punya anak pintar," ujar Ida.
"Iya sih Da, dari kecil aku gak pernah kesusahan buat ngurus Aa, bahkan sampai umur 5 tahun alhamdulillah dia gak pernah sakit," ujarku pada Ida.
"Tapi kalau aku lihat-lihat kok Aa mirip banget sama Lee Min Hoo ya, dan wajahnya itu sangat familiar gitu," ujar Ida yang kini terlihat sedang berpikir.
"Apa kamu berpikir dia mirip Arga? makhluk halus yang dulu selalu menjagaku?" tanyaku pada Ida.
"Iya bener banget Rin, kok aku sampai lupa ya sama si Babang tampan yang satu itu ya," ujar Ida.
"Siapa Ma yang tampan selain Papa?" tanya Abdul yang kini sudah berada di belakang Ida.
"Eh Papa ternyata, gak ada yang lebih tampan dari Papa kok, Hanya Papa seorang yang paling tampan di Dunia ini," ujar Ida dengan cengengesan.
__ADS_1
"Rin gak apa-apa kan kami pulang duluan? soalnya kami berencana mau ke rumah mertuaku dulu," ujar Ida.
"Iya gak apa-apa Da, sebentar lagi juga Suamiku datang, lagian ada Aa sama Dede juga yang nemenin aku," jawabku kepada Ida.
"Ya sudah hati-hati ya say," ujar Ida dengan memeluk tubuhku sebelum pergi serta mengucapkan salam.
Sesaat kemudian Angin berhembus begitu kencangnya, disertai bau busuk yang menyeruak ke dalam rongga hidungku, sampai-sampai aku memuntahkan semua isi perutku. Lalu angin itu berhenti ketika Aa menghampiriku yang sedang muntah.
"Bunda tidak apa-apa kan?" tanya Aa terlihat cemas.
"Bunda tidak apa-apa sayang," jawabku pada Aa.
"Beraninya kamu mengganggu Bundaku, aku tidak akan membiarkannya," ujar Aa dalam hati.
"Aa kenapa melamun? Bunda tidak apa-apa kok," ujarku pada Aa karena melihat kekhawatiran di wajahnya.
"Sebaiknya Bunda minum dulu," ujar Aa dengan memberikan sebotol air mineral padaku.
"Terimakasih ya sayang," ucapku pada anakku dengan memeluk tubuhnya.
"Bunda gak apa-apa Yah, mungkin cuma masuk angin saja, gimana sudah beres daftarnya? tanyaku pada Suamiku.
"Sudah Bunda, mulai besok Aa sudah bisa masuk SD," jawab mas Aditya.
"Aa gak apa-apa kan kalau besok Aa Sekolahnya gak bareng Dede lagi?" tanyaku pada Aa.
"Iya gak apa-apa Bunda, Aa juga sudah besar, jadi nanti Aa bisa cepat-cepat cari uang buat bahagiain Bunda," jawab Aa sehingga membuatku heran mendengar jawabannya.
"Emang Aa mau beliin Bunda apa?" tanya Mas Aditya kepada Aa.
"Aa mau beliin Bunda rumah, mobil, dan semua yang Bunda mau pasti Aa beliin," jawab Aa.
"Terus Aa mau beliin Ayah apa kalau punya uang nanti?" tanya Mas Aditya lagi.
"Enggak beliin apa-apa, Ayah kan bisa cari uang sendiri !!" jawab Aa sehingga membuat Mas Aditya cemberut.
"Dasar anak Bunda, apa-apa juga buat Bunda," ujar Suamiku.
__ADS_1
"Aa gak boleh gitu, lihat Ayahnya kan jadi cemberut !! kasihan kan? Aa kalau sayang sama Bunda harus sayang juga sama Ayah, Ayah juga kan orangtua Aa, jadi sama semua orang anak Bunda harus baik dan sayang, ya Nak," ucapku mencoba menasehati Aa.
"Iya Bunda Aa juga cuma bercanda, Ayah nya aja yang Baper," jawab Aa.
"Emh..pasti didikan Mirna nih, anak kecil pake tau Baper segala," ujar Mas Aditya dengan terkekeh.
"Ya sudah mending sekarang kita pulang aja ya Yah, Bunda juga sudah lapar banget nih," ajakku pada Suamiku.
"Terus Dede mana?" tanya Suamiku.
"Tuh Dede sudah masuk mobil," tunjuk Aa.
"Lho kok mobilnya bisa di buka? perasaan Ayah kunci deh," ujar Suamiku, yang bergegas mengecek pintu mobil.
"Dede kok bisa masuk? siapa yang bukain pintunya?" tanya Suamiku.
"Tadi Aa yang bukain," jawab Dede sehingga Mas Aditya kembali terlihat heran.
"Sudah Ayah gak usah heran, Ayah tau sendiri kan kalau Aa itu spesial," ujarku pada mas Aditya dengan masuk ke dalam mobil.
"Ayo cepetan Ayah masuk, nanti kalau gak masuk juga Aa yang nyetir lho," ucap Aa sehingga Mas Aditya bergegas duduk di bangku kemudi.
"Bismillah..." ucap mas Aditya sebelum menyalakan mobilnya, dan akhirnya mobil pun maju secara perlahan membelah jalanan yang sedikit macet.
Setibanya di rumah aku mengucap salam dan membuka pintu. Namun, lagi-lagi bau busuk kembali menyeruak ke dalam rongga hidungku. Pada saat aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah tiba-tiba ada tetesan darah yang mengalir dari atap rumah sehingga mengenai kepalaku dan aku pun menjerit karena kaget.
"Aaaaaaaaaaaaa..."
Aku berteriak begitu kencang sehingga mas Aditya beserta kedua anakku kini bergegas menghampiriku.
"Bunda kenapa?" tanya Suamiku yang kini terlihat panik.
"Ayah lihat banyak darah kan di jilbab Bunda?" aku menunjukan kepalaku pada Suamiku yang tadi terkena tetesan darah dari atap rumah.
"Tapi jilbab Bunda bersih kok, gak ada darahnya sama sekali," ucap Suamiku.
"Tadi di kening Bunda juga banyak darahnya Yah," Ujarku yang kemudian mencoba kembali memegang keningku, tapi anehnya sekarang sudah bersih, sehingga Aku pun menjadi bingung dengan yang Aku alami tadi.
__ADS_1