
Seminggu sudah Arini dan Arga berada di Jawa, sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke Bandung.
"Dede, Putri, maaf ya sayang Bunda dan Aa harus pulang sekarang, kasihan Pak Burhan gak ada yang bantuin ngurus perusahaan," ujar Arini dengan memeluk tubuh Putri dan Dede.
"Iya Bunda, maafin kami ya karena tidak dapat mengantar Bunda sampai ke Bandung, insyaallah nanti kalau gak sibuk Dede dan Neng Putri pasti menjenguk Bunda dan Aa ke Bandung," ujar Arya.
"Iya sayang gak apa-apa, semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan ya, dan semoga secepatnya mendapatkan momongan, biar Bunda bisa segera menggendong Cucu," ujar Arini dengan tersenyum.
"Tenang Rin nanti aku pantau perkembangannya," bisik Ida kepada Arini.
"Awas ya Da kalau kamu berniat ngintip lagi, nanti mata kamu bintitan lho !" ujar Arini.
"Iya siap tapi aku gak janji ya," jawab Ida dengan cekikikan, sehingga Arini memutar malas bola matanya.
"Aku titip anak-anak aja ya Da, kalau ada waktu insyaallah kapan-kapan kami main kemari," ujar Arini dengan memeluk erat tubuh Ida.
Kemudian Arini dan Arga pun kini kembali pulang ke Bandung.
Sepanjang perjalanan, mereka selalu di ganggu oleh makhluk astral, untung saja sebelum berangkat Arga sempat memberikan pagar gaib di sekeliling mobilnya, jadi mereka hanya berseliweran di luar tanpa bisa masuk ke dalam mobil.
"Sayang, pelan-pelan saja bawa mobilnya !" ujar Arini mengingatkan Arga.
"Iya Bunda Aa juga pelan kok bawa mobilnya, lagian ngapain sih mereka pake ngikutin kita terus," ujar Arga kepada makhluk Astral yang terus saja mengikuti di sepanjang perjalanan mereka.
"Mungkin mereka kepo pengen kenalan sama anak Bunda yang ganteng ini," ujar Arini dengan cengengesan.
Setelah menempuh perjalan selama tujuh jam, Arini dan Arga pun kini telah sampai di Kota Bandung.
"A kita mampir dulu ke Supermarket ya, Bunda mau belanja bulanan dulu, di rumah kayaknya stok makanan juga sudah habis," ujar Arini.
Arga pun kini memarkirkan mobilnya di sebrang Super market karena tempat parkir di dalam dan halaman Super market sudah terlihat penuh.
"Bunda gak apa-apa kan kalau kita jalan dari sini," ujar Arga.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa sayang, Bunda duluan ya udah gak kuat nih pengen ke toilet" ujar Arini yang kini mencoba untuk menyebrang.
Pada saat Arini menyebrang tiba-tiba ada motor yang melaju kencang, sehingga Arga berteriak.
"Arini awas !" teriak Arga dengan langsung berlari memeluk tubuh Arini.
"Alhamdulillah, kamu tidak apa-apa kan sayang?" tanya Arga yang langsung memeluk erat tubuh Arini sehingga membuat Arini diam mematung.
Kenapa tadi Aa memanggilku dengan sebutan nama saja? terus kenapa kejadian ini mengingatkanku kepada Arga makhluk halus yang mencintaiku dulu, karena dulu juga Arga sempat menolongku ketika aku hendak tertabrak saat menyebrang, batin Arini.
"A kenapa tadi Aa hanya memanggil nama saja kepada Bunda?" tanya Arini dengan lirih.
Arga pun terlihat mengacak rambutnya dan dia terlihat sangat prustasi.
"Aku sudah mengingat semuanya !" tiba-tiba Arga angkat suara.
"Apa yang sudah Aa ingat?" tanya Arini heran.
"Rin coba lihat aku, apa kamu masih mengingatku?" tanya Arga yang kini menatap wajah Arini secara intens, dan Arga juga menelungkup kedua pipi Arini.
"Iya aku sebenarnya adalah Arga makhluk halus yang sangat mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku bahkan sejak kamu masih dalam kandungan," ujar Arga.
"Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin A, karena Aa adalah anak Bunda," ujar Arini dengan histeris.
"Aku sengaja melakukan tapa brata selama bertahun-tahun hanya untuk menjadi seorang manusia, dan itu semua aku lakukan hanya untukmu Arini, tapi kenapa aku justru terlahir dari rahim perempuan yang sangat aku cintai? ini semua tidak adil untukku !" ujar Arga.
"Itu semua sudah kehendak Allah SWT Nak, jangan pernah berkata seperti itu, sama saja Aa tidak menginginkan menjadi anak Bunda," ujar Arini.
"Aku memang menyesal karena sudah terlahir menjadi Anakmu, karena seharusnya aku menjadi kekasihmu bahkan Suamimu Arini, apalagi sekarang Aditya sudah meninggal, seandainya aku bukan Anakmu sekarang juga aku akan Menikahimu !" teriak Arga.
Plak..plak..
Arini kini mendaratkan tamparan di pipi Arga, dia pun merasa terkejut karena baru kali ini dia melakukan kekerasan terhadap Anaknya.
__ADS_1
"Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak bermaksud menampar Aa," ujar Arini karena dia merasa bersalah.
"Berhenti memanggil aku Aa, karena aku tidak mau menjadi Anakmu sayang, aku hanya ingin menjadi kekasihmu," ujar Arga yang masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Istighfar Nak, jangan kamu berkata seperti itu, buang perasaanmu jauh-jauh, Aa itu anak Bunda, dan selamanya kita tidak dapat merubah takdir !" ujar Arini dengan menangis.
"Maafkan aku Arini, mulai sekarang aku tidak bisa memanggilmu dengan sebutan Bunda lagi, karena hatiku rasanya sakit harus melakukan semua itu," ujar Arga, lalu kemudian Arga pun pergi entah kemana meninggalkan Arini dengan perasaan yang tidak menentu.
Cobaan apalagi ini Ya allah, kenapa semuanya harus seperti ini? berikanlah keikhlasan pada hati Arga untuk menerima semuanya, batin Arini.
Akhirnya Arini mengurungkan niatnya untuk belanja, kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan menggunakan taksi online karena Arga sudah lama tidak kunjung kembali.
Mungkin Arga perlu waktu untuk menerima semua ini, batin Arini.
Sesampainya di rumah Arini langsung melaksanakan Shalat Ashar, karena kecapean Arini terlihat tertidur di atas sajadah dengan masih mengenakan mukena.
Setelah Adzan Maghrib berkumandang, Arga pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Kemana Arini? kenapa lampu rumah masih belum dinyalakan? tanya Arga dalam hati.
Arga pun kini masuk ke dalam rumah yang tidak di kunci lalu menyalakan semua lampu di rumahnya. Kemudian dia mencoba membuka pintu kamar Arini, dan ternyata Arini terlihat tidur di atas sajadah.
Maafin aku Rin, aku belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang aku sudah terlahir menjadi anakmu, karena aku sangat mencintaimu, batin Arga.
Sesaat kemudian Arga pun memindahkan tubuh Arini yang masih terlelap ke atas ranjang, dan dia membuka mukena yang Arini kenakan.
Kamu sangat cantik Arini, rasanya aku ingin memilikimu seutuhnya, batin Arga yang kemudian langsung mencium bibir Arini. Entah setan mana yang telah menghasut Arga untuk melakukan semua itu terhadap Ibunya sendiri.
Pantas saja selama ini aku selalu memimpikan dirimu sayang, karena kamu adalah perempuan yang sangat aku cintai, ucap Arga dalam hati sehingga dia merebahkan dirinya di samping Arini, lalu kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.
Pada tengah malam Arini mencoba membuka matanya karena merasa haus, dia langsung terkejut karena saat ini dia sedang memeluk tubuh Arga yang dia kira adalah guling.
Sesaat netranya memandang wajah Arga yang begitu rupawan, sehingga dia merasa terpesona, dan merasakan debaran dalam dadanya.
__ADS_1
Astagfirulloh, apa yang sudah aku pikirkan, ingat Arini dia itu anak kamu, anak yang lahir dari rahim kamu, tidak sepantasnya aku mempunyai perasaan seperti ini. Ya Allah ampunilah hamba, batin Arini kini berkecamuk.