Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 33 ( Tipu muslihat Raja Genderewo )


__ADS_3

Pov Arini


Aku merasa kaget karena disaat aku membuka mataku, yang pertama aku lihat adalah mas Aditya yang sedang mencium bibirku, dan aku masih tidak percaya jika aku sudah menikah dengannya bahkan sudah dua tahun lamanya.


Aku berusaha untuk mengingat semuanya, terlintas sejenak dalam pikiranku bahwa Rangga wisesa lah yang sudah menikahiku dan kami telah mempunyai dua orang anak, tapi kenapa justru kenyataan yang ada mereka bilang aku baru saja terbangun dari tidur panjangku, bahkan sampai dua tahun lamanya, apa mungkin bayangan tentang kehidupanku dengan Rangga wisesa hanyalah mimpi? hatiku kini bertanya-tanya.


Yang terekam jelas dalam ingatanku sekarang adalah disaat Ayah terjatuh ke bawah Air terjun, dan itu membuat penyesalan yang teramat dalam untukku karena tidak dapat menolongnya, bahkan dalam mimpi pun aku selalu merasa bersalah sehingga semua itu selalu menjadi mimpi buruk untukku.


Tapi entah kenapa sosok mas Aditya selalu berhasil untuk menenangkanku, dan aku merasa nyaman disaat berada dalam pelukannya.


Tiba-tiba secara samar-samar aku mendengar suara seseorang yang sangat aku rindukan.


"Arini sayang...berusahalah membuka hatimu untuk Aditya, dia adalah pemuda soleh yang Allah kirimkan untuk mendampingi serta melindungimu, semoga kalian selalu berbahagia."


Aku tau betul jika itu adalah suara dari Rangga Wisesa, sosok lelaki yang selama dua kehidupan sudah mendampingiku, mungkin sekarang aku sudah berdosa jika merindukannya karena statusku sudah menjadi istri dari oranglain.


Secara perlahan aku pun mencoba membuka hatiku untuk mas Aditya, memang benar yang dikatakan oleh Bunda dan Rangga wisesa kalau mas Aditya adalah pemuda yang baik, dia selalu menjadi imam Sholat untukku, serta selalu sabar dalam menghadapiku yang belum bisa seutuhnya menerima kehadirannya dalam kehidupanku. hingga akhirnya, sekarang aku merasakan ada getaran aneh yang menjalar dalam hatiku disaat sedang bersamanya.


Beberapa hari kemudian setelah aku tersadar dari tidur panjangku, aku dan mas Aditya memutuskan pergi ke Bandung untuk berziarah ke makam Ayah, kami hanya berangkat berdua karena Bunda sedang tidak enak badan.


Setibanya di Bandung, kami langsung berziarah sebelum akhirnya pulang ke rumah orangtuaku.


"Assalamu'alaikum Yah, maaf Arini baru bisa datang sekarang, semoga Ayah di alam sana selalu bahagia ya," ucapku disaat tiba di makam Ayah. lalu kemudian, aku dan mas Aditya pun membaca surat Yasin.


Setelah kami melepas rindu dengan Ayah, kami pun pulang ke rumah orangtuaku, karena perjalanan dari Jawa ke Bandung yang lumayan jauh dan cukup melelahkan, kami pun memutuskan untuk menginap beberapa hari di sini.

__ADS_1


Setibanya di rumah aku pun membersihkan diriku, mas Aditya tadi meminta ijin keluar untuk membeli makanan. Namun, aku kaget ketika keluar dari kamar mandi tiba-tiba mas Aditya sudah ada di dalam kamarku.


"Lho mas kok sudah pulang lagi? emang gak jadi beli makanannya?" tanyaku padanya, bukannya menjawab tetapi secara tiba-tiba dia memeluk tubuhku dengan penuh napsu, matanya terlihat merah menyala dan aku merasa aneh dengan sikapnya yang sedikit kasar karena berusaha untuk membuka pakaianku secara paksa hingga bajuku kini robek oleh perbuatannya.


Aku merasa takut dengan keanehan yang ada pada diri mas Aditya saat ini, padahal dia sendiri yang selalu bilang kalau dia tidak akan memaksaku untuk memberikan hak nya jika aku belum siap, tapi sekarang dia seperti seseorang yang ingin memperkosaku.


Tiba-tiba disaat dia hampir berhasil melepas pakaianku, ada cahaya biru yang menyerangnya hingga membuat tubuhnya terpental jauh entah kemana, lalu setelah itu munculah sepasang anak kembar lelaki dan perempuan yang kini berada di hadapanku.


"Ibunda tidak apa-apa kan?" tanya Anak perempuan yang menurutku sangat cantik, dan ketika aku melihat wajahnya, aku seperti melihat diriku saat masih kecil dulu.


"Ibunda tidak usah takut, aku pasti akan melindungi Ibunda dari Raja Genderewo," ucap Anak yang lelaki.


"Kalian siapa?" tanyaku pada kedua anak tersebut.


"Ibunda pasti tidak ingat kami, karena disaat jiwa Ibunda kembali masuk ke dalam raga Ibunda di alam manusia, maka ingatan Ibunda terhadap kami pun akan hilang."


Secara perlahan aku pun kembali mengingat tentang mereka walau pun tidak semuanya.


"Maafkan Bunda ya Nak karena telah melupakan keberadaan kalian," ucapku pada mereka.


"Ibunda jangan bersedih, kami selalu bahagia karena Kakek selalu membimbing kami dengan baik serta mengajarkan tentang agama yang Ibunda anut juga, agar kami menjadi anak yang soleh," ucap mereka berdua yang membuat aku merasa bangga sehingga memeluknya.


"Maaf Ibunda kami harus pergi sekarang, karena sebentar lagi Ayah Aditya akan pulang, dan yang tadi menjelma sebagai Ayah Aditya adalah Raja Genderewo yang masih mengincar Ibunda."


"Ibunda harus selalu waspada ya, Kakek juga selalu mengajarkan kami agar selalu berdzikir, jadi Ibunda juga harus selalu melakukannya," ucap mereka yang sesaat kemudian menghilang.

__ADS_1


Terimakasih Ayah karena sudah membimbing anak-anakku dengan baik, ucapku dalam hati.


Tiba-tiba dari luar kamar ada yang mengetuk pintu dan mengucap salam.


"Arini kamu udah selesai mandinya belum? yuk kita makan dulu," terdengar suara mas Aditya memanggilku, aku pun tidak berani menjawab apalagi membuka pintu karena aku masih takut jika itu adalah Raja Genderewo yang kembali menyamar sebagai mas Aditya.


Setelah beberapa saat kemudian, terdengar suara seseorang yang membuka pintu kamarku dari luar, dia nampak khawatir padaku lalu berusaha untuk menghampiriku.


"Arini kamu kenapa? apa yang terjadi sehingga bajumu robek?" tanya seseorang yang wajahnya mirip mas Aditya.


"Tolong jangan sakiti aku, aku mohon," teriakku padanya.


"Arini.. ini aku suamimu Aditya," dia pun berusaha untuk memelukku hingga aku merasa tenang.


"Kamu kenapa sayang? apa yang sebenarnya sudah terjadi disaat aku pergi?" tanya mas Aditya padaku.


"Mas, aku sangat ketakutan karena tadi Raja Genderewo datang kesini dengan menyerupai wajah mas Aditya, dan dia berusaha untuk menodaiku," lirih ku padanya.


"Astagfirulloh, tapi kamu tidak kenapa-kenapa kan?" tanya mas Aditya padaku.


"Alhamdulillah tadi ada Bima dan Ayu yang menolongku melawan Raja Genderewo."


Mas Aditya pun nampak bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Bima dan Ayu.


"Mas maafkan aku, sekarang aku sudah mengingat semuanya tentang kejadian disaat aku koma," ucapku pada mas Aditya.

__ADS_1


"Apa mas akan menerimaku apa adanya jika mas tau bahwa disaat aku koma jiwaku terjebak di kerajaan siluman ular, sehingga aku dan Rangga wisesa menikah disana, lalu akhirnya kami memiliki sepasang anak kembar yang kami beri nama Bima dan Ayu?" ceritaku padanya. Namun, aku sangat takut jika mas Aditya tidak dapat menerima semuanya, karena dia hanya terdiam tanpa memberikan jawaban.


__ADS_2