Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 89 ( Pesan terakhir Arga )


__ADS_3

Seminggu sudah Arini melakukan operasi pencangkokan jantung, tapi belum ada tanda-tanda Arini sadar dari koma nya.


"Neng Putri, kok Bunda belum sadar juga ya padahal Bunda sudah seminggu melakukan operasi pencangkokan jantung, Akang jadi khawatir," ujar Arya kepada Putri.


"Akang yang sabar ya, Putri yakin jika Bunda akan baik-baik saja, Bunda juga sekarang sudah melewati masa kritisnya kan," ujar Putri mencoba untuk menenangkan Suaminya.


"Mudah-mudahan saja ya sayang, tapi Akang takut jika sampai Bunda tau kalau yang mendonorkan jantungnya adalah Aa, karena Bunda pasti akan sangat syok," ujar Arya tertunduk sedih.


......................


Di alam bawah sadar Arini, Arini merasa kalau dia berada di tengah-tengah hamparan bunga, dan dia begitu takjub melihat keindahan tersebut.


"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Arga yang kini memeluk tubuh Arini dari belakang.


"Aku sangat bahagia sayang, karena sekarang kita bisa selalu bersama," ujar Arini dengan membalikan badannya lalu memeluk tubuh Arga dengan erat, seakan Arini tidak mau berpisah dengan Arga.


"Kamu pasti akan selalu bahagia Arini, karena aku akan selalu menemanimu dalam setiap detak jantungmu," ujar Arga.


"Aku ingin selamanya seperti ini sayang, jangan pernah pergi dari sisiku karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu," ujar Arini yang dijawab senyuman oleh Arga.


"Aku juga ingin selamanya bisa seperti ini dan hidup bahagia bersama perempuan yang sangat aku cintai, karena bagiku kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku Arini, tapi sekarang kamu harus segera pergi dari tempat ini, kasihan orang-orang yang menyayangi kamu, mereka pasti sudah menunggumu untuk segera sadar dari tidur panjangmu sayang," ujar Arga dengan mengelus lembut kepala Arini.


"Aku tidak mau berpisah denganmu Arga, aku ingin selamanya hidup bersamamu dan aku juga sangat mencintaimu," ujar Arini dengan menangis dalam pelukan Arga.


"Sekarang sudah saatnya kamu pergi dari tempat ini sayang, karena sekarang dunia kita sudah berbeda, ingatlah jika aku sangat mencintaimu untuk selamanya," ujar Arga.


Sesaat kemudian Arya dan Putri melihat pergerakan tangan Arini, sehingga Arya bergegas menekan tombol darurat.


"Arga," ucap Arini dengan lirih ketika dia sadar dari koma nya.


"Bunda ini Dede Bunda, Alhamdulillah Bunda akhirnya sadar juga," ujar Arya.


Dokter pun kini sudah terlihat memasuki ruangan untuk memeriksa keadaan Arini yang baru saja sadar.


"Mohon maaf Pak, Bu, sebaiknya Ibu dan Bapak tunggu di luar dulu ya, biar Dokter memeriksa Ibu Arini," ucap Perawat, sehingga Arya dan Putri kini menunggu Arini di luar ruang perawatan Arini.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Dokter pun selesai memeriksa keadaan Arini, lalu keluar dari ruangan perawatannya.


Arya dan Putri kini bergegas menghampiri Dokter untuk menanyakan kondisi Ibu mereka.


"Dok bagaimana keadaan Ibu saya?" tanya Arya.


"Alhamdulillah kondisi Bu Arini saat ini sudah lebih baik, Bapak dan Ibu bisa langsung masuk untuk menemuinya, tapi saya harap jangan membicarakan hal yang berat-berat dulu ya kepada Bu Arini, sampai kondisinya benar-benar pulih," ujar Dokter kemudian berlalu meninggalkan Arya dan Putri.


Arya dan Putri memutuskan untuk segera masuk karena sudah tidak sabar untuk melihat Bundanya.


"Bunda," ucap Arya dan Putri dengan berlari menghampiri Arini yang saat ini sedang duduk termenung.


"Sayang, Bunda bahagia sekali karena Bunda masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan Dede dan Putri," ujar Arini yang kini memeluk tubuh Arya dan Putri.


"Kemana Aa kenapa dia tidak ada di sini? padahal tadi Bunda bermimpi sedang bersamanya," tanya Arini yang kini terus saja menanyakan keberadaan Arga.


Arya dan Putri pun kini saling berpandangan, karena mereka bingung harus menjawab apa kepada Arini.


"Aa sebenarnya lagi keluar dulu Bunda," ujar Arya.


"Aa sebenarnya pergi ke luar Negri Bunda," ujar Arya yang kini mencoba mencari alasan.


"Bunda gak percaya kalau Aa sampai pergi ninggalin Bunda ketika Bunda sakit, padahal Bunda sangat tau jika Aa sangat menyayangi Bunda" ujar Arini.


"Sebenarnya Aa mendadak mendapatkan beasiswa buat nerusin kuliah S2 di sana," ujar Arya.


"De udah gak usah bohong, Bunda tau sifat Dede, kalau Dede orangnya gak bisa bohong," ujar Arini.


"Maaf Bunda, Dede gak bermaksud untuk membohongi Bunda, Dede hanya takut jika Bunda sampai terkena serangan jantung, padahal Bunda kan baru satu minggu melakukan operasi pencangkokan jantung," ujar Arya.


Degg


"Jangan bilang kalau Aa yang sudah mendonorkan jantungnya untuk Bunda !" teriak Arini yang kemudian menangis dengan histeris.


"Iya Bunda, Aa sudah mendonorkan jantungnya kepada Bunda, karena ketika Aa pulang dari Mesjid, Aa tertabrak mobil," ujar Arya dengan meneteskan airmata.

__ADS_1


"Gak mungkin, gak mungkin Arga ninggalin Bunda, Arga kenapa kamu tega ninggalin aku, padahal aku sangat mencintai kamu," teriak Arini, kemudian Arini pun pingsan karena syok mendengar kenyataan pahit tentang Anak sekaligus lelaki yang dicintainya.


......................


Satu minggu kemudian..


Arini kini sudah diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik, dan dia meminta kepada Arya dan Putri untuk mengantarkannya terlebih dahulu ke makam Arga, yang kebetulan berdampingan dengan makam Aditya, Ayah dan Bundanya Arini.


"Assalamu'alaikum Aa, mas Aditya, Ayah dan Bunda," ujar Arini dengan meneteskan airmata.


"A, Bunda tau jika Bunda juga telah berdosa karena sudah mempunyai perasaan cinta terhadap Anak kandung Bunda sendiri, meskipun dulu Aa adalah Arga sosok makhluk halus yang selalu melindungi Bunda bahkan ketika Bunda masih berada di dalam kandungan."


"Terimakasih atas semua pengorbanan yang sudah Aa lakukan untuk Bunda ya, semoga Aa bahagia di alam sana," ujar Arini dengan terus meneteskan airmata.


Akhirnya Arini, Arya dan Putri pun pulang ke rumah mereka karena hari sudah semakin sore, dan sepertinya akan turun hujan juga.


Ketika sampai rumah, Arini langsung masuk ke dalam kamarnya, dan dia langsung membuka surat yang ditulis oleh Arga sebelum meninggal.


Arini sayang, kamu adalah Mentari yang selalu menyinari hidupku, pada saat pertama kali aku melihatmu, aku merasakan kehangatan yang selalu terpancar dari dirimu.


Ketika kamu masih dalam kandungan Bunda Ria, aku selalu menjagamu dari makhluk halus lainnya yang ingin melukaimu, lalu pada saat kamu dilahirkan ke dunia ini, aku pun langsung merasa jatuh Cinta pada pandangan pertama.


Banyak hal yang telah kita lalui, sampai akhirnya aku menyerah demi kebahagiaanmu dan memutuskan untuk bersemedi selama bertahun-tahun supaya aku bisa menjadi manusia seutuhnya, agar aku juga bisa memilikimu.


Tapi takdir berkehendak lain, karena aku harus terlahir dari rahim perempuan yang paling aku cintai di dunia ini, yaitu dirimu.


Bahkan ketika kamu sudah tidak punya pendamping hidup, aku pun tidak dapat memilikimu seutuhnya karena status kita sebagai Ibu dan Anak.


Ketika aku mendengar kamu harus mendapatkan donor jantung, hatiku pun hancur, tapi aku rela jika harus memberikan jantungku kepadamu.


Maafkan aku sayang, karena tidak dapat berada di sampingmu lagi, mungkin ini adalah pesan terakhirku, dan pasti saat kamu membaca surat ini, jantungku sudah berada di dalam tubuhmu, semoga saja di kehidupan selanjutnya kita ditakdirkan sebagai pasangan Suami-Istri yang saling mencintai. Aku mencintaimu Arini dengan segenap jiwa dan ragaku, dan aku bahagia karena jantungku akan selalu menemanimu sampai akhir hayatmu.


Itulah pesan terakhir yang Arga tulis untuk kekasih hatinya.


"Aku juga mencintaimu Arga," ujar Arini dengan meneteskan airmata.

__ADS_1


__ADS_2