
Sesampainya di rumah, Ida dan Abdul pun membangunkan Putri dan Dinda yang masih tertidur pulas.
"Putri, Dinda, ayo bangun sayang," ujar Ida.
Dinda pun kini terbangun mendengar suara Ida, sedangkan Putri masih terlelap.
"Papah lihat, Putri kebiasaan banget deh kalau dibangunin susah," ujar Ida.
"Sama kayak Mamah juga kan?" ujar Abdul. Sehingga membuat Ida tersenyum malu.
"Ya sudah biar Papah gendong Putri aja, kasihan Putri pasti kecapean," ujar Abdul yang kini menggendong Putri masuk ke dalam rumahnya.
Setelah membaringkan Putri di tempat tidur, akhirnya Abdul pamit untuk berangkat bekerja.
"Mah, Papah mau berangkat kerja dulu ya, barusan anak buah Papah telpon katanya ada sedikit kesalahan teknis di lapangan," ujar Abdul yang terlihat buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Iya Pah, Papah hati-hati ya, bawa mobilnya jangan ngebut !" teriak Ida.
Kemudian setelah kepergian Abdul, Ida pun mengajak Dinda untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Dinda sayang, ayo kita masuk juga, sekarang kita sudah sampai di rumah baru Dinda," ujar Ida, sehingga membuat mata Dinda berkaca-kaca.
"Makasih banyak ya Mah, karena sudah mengijinkan Dinda untuk tinggal disini," ucap Dinda dengan memeluk tubuh Ida.
"Iya sayang, sekarang Dinda juga kan anak Mamah," ujar Ida yang kini menggandeng Dinda untuk masuk ke dalam rumah.
"Dinda mandi dulu ya, terus rambutnya pake shampo biar wangi," ujar Ida.
"Tapi mah Dinda gak pernah mandi, jadi gak tau gimana caranya mandi," jawab Dinda.
"Kasihan sekali kamu Dinda, ya sudah sini Mamah ajarin, sekalian juga kita main salon-salonan seperti yang dulu sering Mamah Ida lakuin sama Mamah Mirna," ujar Ida merasa sedih karena teringat dengan Mirna.
Mata Dinda kini terlihat berbinar karena bahagia.
"Memangnya Mamah gak takut sama Dinda?" tanya Dinda.
"Mungkin kalau Dinda pake mode nyeremin Mamah bakalan takut, dulu aja Mamah sampai ngompol waktu pertama kali ketemu sama Mamah Mirna," ujar Ida dengan cekikikan.
"Iya deh aku bakalan tetep pake mode cantik," ujar Dinda dengan tersenyum.
Setelah selesai mengajarkan mandi pada Dinda, akhirnya Ida pun memakaikan baju Putri yang masih baru kepada Dinda.
"Tuh lihat di cermin, Dinda terlihat cantik kan" ujar Ida.
"Kenapa sekarang Dinda jadi bisa terlihat di cermin ya Mah? padahal sebelumnya Dinda tidak dapat melihat bayangan Dinda di cermin?" tanya Dinda.
"Mungkin karena sekarang Dinda sudah memakai pakaian manusia," ujar Ida.
__ADS_1
Tiba-tiba ada seekor Cicak di dinding, dan Dinda pun menangkap Cicak tersebut.
"Lho, kenapa Cicaknya Dinda tangkap?" tanya Ida.
"Buat Dinda makan Mah," ujar Dinda yang kini hendak memasukan Cicak ke dalam mulutnya.
"Jangan Dinda ! kamu jorok banget sih, Mamah sampai mual melihatnya," ujar Ida yang hampir saja muntah.
"Tapi selama ini Dinda suka memakannya," ujar Dinda.
"Mulai sekarang Dinda tidak boleh makan sembarangan lagi ya, Dinda harus belajar memakan makanan manusia," ucap Ida.
"Iya Mah, Dinda bakalan nurut," ujar Dinda.
"Ya sudah, kalau begitu kamu buang dulu cicaknya," ujar Ida yang terlihat jijik. Dan Dinda pun langsung membuang cicak tersebut.
Ida pun kini mengajak Dinda menuju meja makan.
"Ayo sekarang Dinda makan ini ya," ujar Ida dengan meletakan piring lalu mengisinya dengan nasi dan daging.
Akhirnya dengan ragu Dinda mencoba untuk memakannya.
Awalnya Dinda merasa aneh merasakan makanan yang diberikan oleh Ida, tapi lama kelamaan Dinda semakin lahap memakannya.
"Makanannya enak juga ya Mah," ujar Dinda.
Putri kini telah terbangun dari tidurnya, kemudian dia langsung mencari keberadaan Dinda.
"Ternyata Dinda lagi makan ya, Putri mau makan juga donk Mah," ujar Putri.
"Putri cuci muka dulu sana, tuh lihat jigongnya masih pada nempel di pipi," tunjuk Ida sehingga membuat Putri merasa malu. Dan Putri pun bergegas pergi ke kamar mandi.
......................
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dan Abdul pun kini telah pulang dari tempat kerjanya.
"Mah, Papah bawa buah-buahan nih," ujar Abdul pada saat turun dari mobil.
Ida pun kini menghampiri Suaminya.
"Papah kok kayak kecapean gitu? papah lagi gak enak badan ya?" tanya Ida.
"Gak tau Mah, pundak Papah jadi berat banget kayak ada yang nindihin," jawab Abdul.
"Ya sudah ayo kita masuk, nanti Mamah kerokin, kayaknya Papah masuk angin deh," ujar Ida dengan membopong tubuh Abdul untuk masuk ke dalam rumah.
"Lho Mah, Papah kenapa?" tanya Putri.
__ADS_1
"Papah kayaknya masuk angin Put, kalau begitu Mamah mau kerokin Papah dulu ya, kalian lanjutin saja makannya," ujar Ida kepada Putri dan Dinda.
"Put, tadi kamu lihat sesuatu gak di punggung Papah?" tanya Dinda.
"Aku enggak lihat apa-apa kok Dinda, emangnya ada apa di punggung Papah?" Putri balik nanya.
"Sepertinya Papah di ganggu oleh makhluk halus yang sejenis denganku, yang kini terlihat nemplok di punggung Papah," jawab Dinda.
"Kalau begitu kamu tolongin Papah ya Dinda, aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama Papahku," ujar Putri.
"Pasti Put, nanti aku bantu kalau Kuntilanak itu sedang lengah," ujar Dinda.
Abdul pun kini menelungkupkan badannya di kasur, dan Ida kini mulai mengerok tubuh Abdul.
"Mamah kok badannya berat banget sih, gak kaya biasanya?" tanya Abdul.
"Masa sih Pah? Mamah perasaan kerokin Papah sambil duduk di samping Papah deh, gak naik ke badan Papah juga," jawab Ida.
"Tapi aneh banget Mah, badan Papah sekarang terasa berat seperti ada yang dudukin," ujar Abdul, sehingga membuat Ida merasa heran.
"Ya sudah sebaiknya sekarang Papah istirahat dulu, Mamah mau lihat anak-anak dulu ya," ujar Ida dengan berlalu dari kamarnya.
"Mah gimana keadaan Papah sekarang?" tanya Putri.
"Pas mamah ngerokin Papah katanya punggungnya terasa berat seperti ada yang dudukin gitu, padahal jelas-jelas Mamah duduknya di samping Papah, aneh banget kan?" ujar Ida.
"Sebenarnya tadi Dinda bilang kalau ada yang nemplok di badan Papah, sejenis hantu Kuntilanak," ujar Putri.
"Duuuuuh gimana donk, Mamah takut kalau Papah sampai kenapa-napa, Apa Mamah hubungin Arini saja ya supaya datang kemari?" ujar Ida yang kini nampak berpikir.
"Ya sudah sekarang Mamah cepetan telepon Bunda Arini," ujar Putri. Dan Ida pun kini mencoba untuk menghubungi Arini, tapi anehnya nomor arini atau pun Aditya sama sekali tidak dapat di hubungi.
"Duh gimana ini Put, nomor Arini sama mas Aditya gak ada nyambung," ujar Ida.
"Mamah jangan panik ya, meski pun kekuatan Dinda tidak akan bisa mengalahkan Kuntilanak tersebut, tapi Mamah dan Putri bisa membantu Dinda dengan do'a," ujar Dinda.
"Memangnya Dinda gak kepanasan kalau dengar Mamah dan Putri baca do'a?" tanya Ida.
"Tidak semua makhluk halus merasa kepanasan oleh bacaan do'a, karena Dinda termasuk golongan putih yang menganut agama yang sama dengan Mamah dan Putri," ujar Dinda.
"Ya sudah kalau begitu kita Sholat Maghrib dulu ya," ajak Ida pada Dinda dan Putri.
Setelah mereka melakukan Sholat berjamaah, mereka bertiga pun kini melihat keadaan Abdul yang terlihat kepanasan.
"Papah kenapa? kok badannya seperti kepanasan? tanya Ida.
"Gak tau Mah, tiba-tiba badan Papah terasa panas semua pas tadi dengar Adzan Maghrib," ujar Abdul.
__ADS_1