Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 29 ( Pernikahan beda Alam )


__ADS_3

Dilain tempat setelah kejadian Ayah Eko yang terjatuh ke bawah Air Terjun, kini Arini telah terbangun dari pingsannya.


"AYAH..." teriak Arini ketika dia terbangun dari pingsannya, dan ternyata saat ini dia berada di Kerajaan Siluman ular Rangga Wisesa.


Pada saat Ayah Eko terjatuh ke bawah Air terjun Jiwa Arini pun ikut terlepas dari raganya karena terlalu syok dengan kejadian yang menimpa Ayahnya, bahkan di depan mata kepalanya sendiri.


Rangga Wisesa yang sempat berusaha menolong Ayah Eko pun hanya mampu menyelamatkan jiwanya saja sebelum akhirnya raga ayah Eko jatuh ke bawah Air Terjun dan meninggal seketika. karena pada saat itu kekuatan Rangga sudah terkuras habis saat bertarung dengan Raja Genderewo.


"Arini..syukurlah akhirnya kamu sudah sadar Nak," ucap Ayah Eko yang dengan lembut membelai kepala Arini.


"Ayah...aku sedang tidak bermimpi kan? Alhamdulillah..ternyata yang tadi aku lihat Ayah telah jatuh ke bawah Air Terjun ternyata hanyalah mimpi buruk saja," ucap Arini dengan memeluk tubuh Ayahnya.


"Semua itu memang benar terjadi Nak, apa yang kamu lihat tadi memang kenyataan, kini di alam manusia raga Ayah memang sudah meninggal dunia," ujar Ayah Eko dengan terlihat sedih.


"Lalu apa aku juga sama dengan Ayah yang sudah meninggal dunia?" tanya Arini.


"Belum Nak, tubuhmu di alam manusia kini sedang mengalami koma, karena sekarang jiwa kamu ikut tertarik bersama Ayah," jawab Ayah Eko.


"Terus kenapa sekarang jiwa kita bisa berada di Istana Rangga wisesa?" tanya Arini.


"Karena Rangga Wisesa lah yang telah mengeluarkan jiwa ayah dari dalam raga ayah sebelum akhirnya jatuh terbentur batu kemudian meninggal seketika. Jadi Ayah tidak merasakan bagaimana sakitnya meregang nyawa," ucap Ayahnya Arini.


"Terus sekarang Rangga dimana Yah? bagaimana keadaannya?" tanya Arini yang kini terlihat mencemaskan kekasih hatinya.


"Apa sekarang kamu sudah kuat untuk berjalan Nak apabila kita menemui Rangga Wisesa?" tanya Ayah Eko.


"InsyaAlloh aku sekarang sudah kuat Yah," jawab Arini.


Akhirnya kini Arini dan Ayahnya masuk ke dalam kamar Rangga Wisesa untuk melihat keadaannya.


"Rangga bagaimana dengan keadaanmu sekarang sayang?" tanya Arini.

__ADS_1


"Aku sudah baik-baik saja Permaisuriku, aku hanya tinggal memulihkan tenaga dalam saja," jawab Rangga Wisesa.


"Terus bagaimana dengan keadaanmu Permaisuriku? apakah masih ada yang sakit?" tanya Rangga kepada Arini.


"Alhamdulillah aku juga sudah baik-baik saja, dan terimakasih kamu juga sudah menyelamatkan jiwa ayahku," ucap Arini.


"Maafkan aku Permaisuriku, karena aku tidak mampu untuk menyelamatkan raga Ayah," ucap Rangga Wisesa.


"Tidak apa-apa Nak Rangga, yang penting sekarang Ayah masih bisa melihat kalian, walau pun sekarang ayah sudah tidak dapat lagi hidup bersama Bundanya Arini," Ucap Ayah Eko dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi bagaimana sekarang dengan nasib Arini Yah? dia belum bisa kembali lagi ke alam manusia karena portal Ghaib sudah tertutup, dan kemungkinan besar dua tahun lagi baru akan terbuka," ucap Rangga Wisesa


"Rangga apakah bisa jiwaku sekarang tinggal disini selama portal ghaib belum terbuka?" tanya Arini.


"Tentu saja Permaisuriku sayang, aku akan melakukan apa pun untukmu, dan agar jiwa serta ragamu baik-baik saja selama terpisah, maka aku akan memberikan separuh nyawaku yang berada dalam mustika abadi," ujar Rangga Wisesa.


"Tapi Rangga itu akan membuat umurmu berkurang?" tanya Arini.


"Tidak apa-apa sayang, walau pun hari esok aku harus meninggal dunia, yang penting orang yang sangat aku cintai merasa bahagia," ucap Rangga Wisesa.


......................


Ayah Eko pun terlihat sangat bahagia karena dapat menyaksikan pernikahan anaknya. Namun, ternyata di alam manusia kini Aditya pun sedang melakukan ijab kobul pernikahan dengan raga Arini yang tanpa jiwa.


Sungguh kisah Cinta yang sangat rumit, karena secara bersamaan, dihari dan jam yang sama pula namun,di tempat serta dengan lelaki yang berbeda, kini Arini telah melakukan janji suci Pernikahan dengan Aditya di alam manusia, serta Rangga di kerajaan siluman ular.


Resepsi di kerajaan siluman ular pun nampak di adakan dengan meriah, Arini dan Rangga wisesa yang kini berada di atas pelaminan terlihat sangat bahagia.


Setelah acara resepsi pernikahan selesai, kini mereka memasuki kamar pengantin dengan hati yang berdebar, meskipun ini bukan pernikahan mereka yang pertama, karena dulu Rangga wisesa juga pernah menikahi Arini sebagai Roro ajeng.


Malam Pertama Aditya dengan raga Arini yang tanpa jiwa, tidak berjalan seindah yang kini Arini dan Rangga Wisesa lewati, karena Aditya sama sekali tidak mau menyentuh Arini yang belum bangun dari tidur panjangnya.

__ADS_1


Sedangkan jiwa Arini yang kini berada di kerajaan siluman ular sedang menghabiskan malam yang syahdu dengan cumbu dan rayu bersama kekasih hatinya yang kini sudah resmi menjadi suami beda alam untuk Arini.


......................


Kini beberapa bulan telah berlalu setelah Pernikahan Arini dan Rangga, mereka melaluinya dengan bahagia serta diwarnai oleh cinta dan kasih sayang, Ayah Arini yang melihat kebahagiaan anaknya pun juga selalu terlihat bahagia, walau pun di lubuk hatinya yang paling dalam, Ayah Eko selalu merindukan Bunda Ria yang tidak mungkin dapat ia temui lagi.


Pagi ini tiba-tiba Arini merasakan pusing serta mual yang hebat, beberapa kali Arini muntah-muntah dan Rangga dengan setianya memijat tengkuk leher isterinya.


Rangga nampak khawatir melihat istrinya yang kini terbaring lemah, sehingga Rangga Wisesa memutuskan untuk memanggil tabib istana.


"Bagaimana tabib dengan keadaan Permaisuriku?" tanya Rangga.


"Selamat Paduka Raja, anda dan Ratu sebentar lagi akan memiliki pewaris kerajaan ini," Ucap tabib.


"Apa aku tidak salah dengar tabib?" tanya Rangga Wisesa dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja Paduka, Ratu Arini kini sedang mengandung sepasang bayi kembar yang beberapa bulan lagi akan lahir," jawab Tabib.


"Terimakasih Ya Alloh," Ayah Eko yang mendengar kabar gembira tentang kehamilan putrinya pun kini nampak berpelukan dengan Rangga Wisesa.


Dilain tempat, setelah beres acara tahlilan ke empat puluh hari Almarhum Ayah Eko, Aditya berniat untuk memboyong Istri serta mertuanya ke tempat tinggalnya di Pesantren yang berada di daerah Jawa.


Anehnya, meskipun raga Arini di alam manusia sudah hampir dua bulan tidak bangun juga dari tidur panjangnya, tetapi setiap Aditya memeriksakan keadaannya ke Dokter, Dokter selalu berkata kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tubuh Arini, dia sama sekali tidak kekurangan cairan serta asupan makanan sehingga tidak perlu memakai infus untuk menutrisi tubuhnya.


Disaat hari keberangkatan Arini ke Pesantren Ani dan Ida pun nampak datang untuk melepas kepergian mereka.


"Mas Aditya jaga Arini dan Bunda baik-baik ya, kami boleh kan jika berkunjung ke sana untuk mengobati rasa kangen kami?" tanya Ida dan Ani.


"Iya pasti, karena Arini dan Bunda sudah menjadi tanggung jawab saya di dunia dan akhirat, dan kalian tentu saja boleh berkunjung ke sana kapan pun kalian mau, karena pintu Pesantren akan selalu terbuka untuk kalian," jawab Aditya.


"Makasih banyak ya mas Aditya, mudah-mudahan aja ada santri mas Aditya yang nanti kecantol sama kami," celetuk Ani dan Ida yang hanya di tanggapi aditya dengan senyuman.

__ADS_1


Akhirnya setelah mengucapkan salam Aditya bersama keluarganya pun kini pergi meninggalkan tanah kelahiran Arini dan juga Bunda.


Sesampainya di Pesantren banyak santri yang menyambut rombongan Aditya bersama keluarga, Aditya pun nampak bahagia lalu berkata dalam hati, Assalamu'alaikum Pak, Bu, Aditya pulang membawa menantu idaman kalian, dan sekarang Aditya sudah memenuhi keinginan Bapak dan Ibu yang terakhir dengan menikahi Arini.


__ADS_2