
Kini kehamilan Arini sudah memasuki bulan ke tujuh, hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Arini, Arini dan Aditya kini berangkat menuju Klinik Dokter kandungan yang lumayan cukup jauh dari rumah mereka.
"Sayang, mungkin sekarang jenis kelamin anak kita sudah kelihatan ya?" tanya Aditya.
"Nanti kita tanyain aja sama Dokter mas biar gak penasaran," jawab Arini.
"Aku sebenarnya mengharapkan anak laki-laki biar ada teman main bola, tapi mau laki-laki atau perempuan juga Alhamdulillah karena itu adalah rezeki terbesar dari Alloh SWT."
"Iya mas, yang penting nanti anak kita lahir dengan sehat serta tidak ada yang kurang satu apa pun," ucap Arini.
"Amin, Iya sayang mudah-mudahan saja, yang penting kita selalu berdo'a," jawab Aditya.
"Oh ya sayang, Ida dan Abdul jadi gak nikah bulan depan?" tanya Aditya.
"Katanya insyaAlloh mas, dan mereka pengen acaranya di adakan di Pesantren, soalnya Ida takut kalau aku gak bisa datang kalau acaranya di adakan di Bandung, katanya nanti kasihan karena sudah dekat waktunya sama lahiran."
"Mau dimana juga yang penting acaranya lancar, kalau bulan depan memang sudah hampir dekat sama taksiran persalinan juga kan, jadi kalau di Bandung, sudah pasti kita gak bakalan bisa datang." jawab Aditya.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di klinik Dokter kandungan.
"Ayah seneng deh sebentar lagi bisa lihat kamu sayang," ucap Aditya dengan mengelus lembut perut Arini.
"Iya ayah, dede bayinya juga seneng bakalan ketemu sama ayahnya yang ganteng," ucap Arini dengan tersenyum memandang wajah suaminya.
Beberapa saat kemudian tiba giliran Arini untuk diperiksa, dengan setia Aditya terus menggenggam erat tangan Arini.
"Sekarang pasti Ayah dan Bunda penasaran ya dengan jenis kelamin bayi nya?" tanya Dokter yang di jawab dengan anggukan kepala dari Arini dan Aditya.
"InsyaAlloh nanti bayi nya berjenis kelamin laki-laki ya, dan semuanya juga sehat, semoga nanti proses persalinan nya juga lancar ya Bunda," ucap Dokter.
"Amin.." jawab Arini dan Aditya secara bersamaan.
"Apa masih ada keluhan di trimester terakhir ini Bunda? atau ada yang mau ditanyakan?" tanya Dokter hingga membuat Arini dan Aditya saling memandang.
__ADS_1
"Biasanya calon orang tua baru sering menanyakan boleh tidaknya berhubungan Suami-istri jika sudah memasuki trimester tiga?" ucap dokter yang membuat Aditya tersenyum.
"Jawabannya boleh-boleh saja ya, tapi jangan terlalu sering juga," jelas dokter dengan tersenyum, dan Aditya kini nampak lega dengan penjelasan dokter tersebut, dia sebenarnya ingin menanyakan hal itu tapi karena malu dan dilarang oleh Arini makanya Aditya mengurungkan niatnya.
"Terimakasih banyak ya Dok, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Arini lalu kemudian mereka pun melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan dokter setelah sebelumnya mengucapkan salam.
"Mas kenapa senyum-senyum begitu? seneng ya sudah dapat jawaban dari dokter tanpa harus bertanya?" ucap Arini.
"Kamu tau aja sih sayang, jadi kalau aku kangen sama bayi kita, bisa langsung menengoknya karena kata dokter juga boleh?" jawab Aditya.
"Pinter banget sih alasannya suamiku ini," ucap Arini dengan gemas, sehingga mencubit hidung mancung Aditya.
"Sepertinya mas sekarang harus membeli baju bola sekalian sama bola nya nih," ucap Aditya dengan antusias.
"Memangnya nanti kalau bayinya lahir, bakalan langsung bisa jalan terus nanti mau langsung di ajakin main bola gitu? mas tuh ada-ada aja sih," ucap Arini dengan gemas.
"Eh mas, sebaiknya kita makan siang dulu ya, dede bayinya udah lapar katanya."
"Itu mah emang Bunda nya aja yang pengen makan terus, tuh badan nya sampai montok gitu," ucap Aditya yang mendapat pelototan dari Arini.
"Kok gitu sih sayang, mas kan cuma bercanda, nanti gimana kalau dede bayinya nyariin Ayahnya?" rengek Aditya.
"Bodo amat ah, aku ngambek."
"Jangan ngambek dong sayang nanti cepat tua."
"MAS, tuh kan aku malah di katain tua," teriak Arini.
"Duh kenapa aku jadi salah ngomong lagi sih, ternyata memang benar kata orang kalau perempuan hamil itu sensitif banget," gumam Aditya dalam hati.
"Iya-iya maaf, mas cuma keceplosan, yuk kita makan, sayang mau makan apa aja boleh, apa sekalian mau di borong sama restauran nya?" ucap Aditya yang kini membuat mood Arini kembali membaik.
"Tuh kan tadi aja ngambek, sekarang aja ketawa-ketawa, mood Ibu hamil gampang banget berubah ya, sabar-sabar Aditya," ucap Aditya dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam restauran.
"Mas aku boleh pesen apa aja kan?" tanya Arini antusias.
"Iya sayang apa aja boleh, asal jangan makan kayu sama batu saja," canda Aditya.
"Mbak saya mau pesen Steak sapi, Spaghetti, fried chicken, sate kambing, jus jeruk sama teh manis," ucap Arini kepada pelayan yang sedang menuliskan pesanan.
"Mas mau pesen apa?" tanya Arini kemudian.
"Lho..kirain itu pesanan sudah banyak buat berdua sama mas," ucap Aditya heran.
"Itumah buat berdua juga, tapi bukan sama mas melainkan sama bayi kita," jawab Arini yang membuat Aditya geleng-geleng kepala.
"Ya sudah kalau begitu saya pesan sate kambing saja satu porsi, sama minumnya es jeruk satu," ucap Aditya menambah pesanan nya."
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, Bu, mohon ditunggu ya pesanannya," ucap pelayan restauran dengan berlalu dari tempat Arini dan Aditya.
"Mas gak keberatan kan aku pesen makanannya banyak?" tanya Arini.
"Gak kok sayang, apa sih yang enggak buat kamu sama bayi kita," jawab Aditya dengan tersenyum.
Dan benar saja setelah pesanan mereka datang, Arini langsung menghabiskan semuanya, bahkan kalau Aditya tidak mengingatkan untuk berhenti makan sebelum kenyang, Arini sudah berniat untuk pesan lagi.
"Duh perut aku kenyang banget nih mas,, tapi mulut masih pengen makan," ucap Arini dengan terus mengelus perutnya.
"Makanya tadi mas ngingetin kamu supaya berhenti makan sebelum kenyang, jangan terlalu berlebihan sayang," ucap Aditya.
"Iya..iya..maaf aku khilaf, mungkin karena waktu ngidam aku gak bisa makan banyak-banyak, jadi sekarang balas dendamnya setelah gak mual muntah lagi," ucap Arini dengan cengengesan.
"Yang penting kalian berdua sehat, mas sudah bahagia sekali." ucap Aditya dengan terus mengelus perut Arini yang sudah besar.
"Sekarang punya hobi baru ya mas, dulu kayaknya sebelum hamil yang sering di elus tuh kepala aku deh, tapi sekarang pindah jadi ke perut," ucap Arini dengan cemberut.
__ADS_1
"Kok kamu cemberut sih sayang? masa sama anak sendiri saja cemburu, senyum dong, ayo ngomong sama mas sekarang bagian mana yang mau di elus?" goda Aditya.
"Sekarang aku maunya mas cepetan jalanin mobilnya, aku udah gak sabar pengen rebahan di kasur yang empuk," jawab Arini sehingga membuat Aditya secara perlahan menjalankan mobilnya sebelum Arini kembali ngambek.