Air Terjun Pembawa Petaka

Air Terjun Pembawa Petaka
Bab 88 ( Donor Jantung )


__ADS_3

Setelah mendengar pernyataan Arga, Arya pun kini angkat bicara.


"Apa maksud Aa mengatakan semua itu? Istighfar A, tidak sepantasnya Aa berbicara seperti itu karena Bunda itu adalah Ibu kandung Aa sendiri," ujar Arya yang masih terlihat syok mendengar semuanya.


"De sebenarnya Aa adalah titisan dari Arga makhluk halus yang sangat mencintai Arini, bahkan ketika Arini masih berada dalam kandungan Bunda Ria, dan Aa baru mengingat semuanya ketika Arini hampir tertabrak mobil, setelah kami berdua pulang dari acara Pernikahan Dede dan Putri," jelas Arga.


"Jadi Aa titisan Babang tampan Lee Min Hoo? dan pasti Aa mengingat semuanya karena dulu Arini juga sempat hampir tertabrak mobil dan Arga juga yang telah menyelamatkannya," ujar Ida.


"Iya Da, kamu masih ingat ketika aku pergi dari rumah Kek Soleh meninggalkan kalian tanpa berpamitan terlebih dahulu? waktu itu aku memutuskan untuk melakukan semedi selama bertahun-tahun supaya bisa menjadi manusia lalu Menikahi Arini, tapi kenyataannya aku malah tertarik masuk ke dalam rahim Arini sehingga aku terlahir menjadi Anak kandungnya," cerita Arga dengan berlinang airmata, sehingga mereka yang berada di sana pun ikut meneteskan airmata.


"Aku tau betul pengorbanan yang telah kamu lakukan untuk Arini, tapi saat ini dia adalah Ibu kandungmu, jadi cinta kalian terlarang," ujar Ida.


"Aku tau Da, tapi aku tidak bisa memendam semuanya, aku sangat mencintainya dan aku tidak rela jika harus kembali berpisah dengan Arini," ujar Arga.


"Ikhlaskan semuanya A, ini semua sudah takdir dari Allah SWT dan kita tidak akan mungkin bisa melawannya," ujar Arya dengan memeluk tubuh Arga.


"Arini kamu harus bangun sayang, kamu harus tetap hidup, aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu," ucap Arga dengan memeluk tubuh Arini.


Tiba-tiba Arini membuka matanya secara perlahan.


"Arga aku mencintaimu," ucap Arini dengan lirih, kemudian matanya kembali terpejam dan alat pendeteksi jantungnya pun kini berhenti sehingga membuat mereka yang berada di sana panik.


"Arini bangun sayang, jangan tinggalkan aku, aku juga sangat mencintaimu sayang !" teriak Arga dengan mengguncang tubuh Arini dan Dede langsung memanggil Dokter, saking paniknya mereka semua tidak menyadari bahwa ada tombol darurat di atas ranjang Arini.


"Tolong semuanya keluar dulu, biarkan Dokter menangani pasien," ujar Suster, sehingga dengan berat hati Arga kini melepas pelukannya.


Kamu harus kuat sayang, aku akan selalu menunggumu, batin Arga.


Setelah satu jam Dokter pun baru keluar dari ruang perawatan Arini.

__ADS_1


"Dok bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Arga sehingga membuat Arya dan yang lain merasa heran.


"Detak jantung Istri Anda barusan sempat berhenti, tapi dia sudah berhasil melewati masa kritisnya, sebaiknya kita harus segera mencari donor jantung yang cocok untuk Istri Anda," ujar Dokter.


Tanpa berpikir panjang Arga pun berkata.


"Ambil saja Jantung saya Dok, lalu berikan kepada Istri saya, dan saya mohon selamatkan nyawa Istri saya," pinta Arga dengan terlihat mengiba.


"Maaf Pak, kami tidak bisa mencangkokkan jantung Bapak, karena sama saja kami membunuh Bapak," ujar Dokter.


"Saya rela meskipun saya harus kehilangan nyawa saya Dok," ujar Arga dengan terus menangis.


"Istighfar A, jangan seperti ini, kita pasti akan menemukan jalan keluar yang lain untuk kesembuhan Bunda," ujar Arya dengan memeluk tubuh Arga.


"Aa titip Bunda ya De, Aa mau ke Mesjid dulu," ujar Arga dengan berlalu melangkahkan kaki ke Mesjid yang berada di sebrang Rumah Sakit.


Ya Allah ampunilah semua dosa hamba karena sudah mencintai Ibu kandung sendiri, tapi hamba mohon tolong sembuhkan perempuan yang hamba cintai, biarlah hamba yang Engkau ambil sebagai gantinya, ucap Arga dalam hati.


Arga pun kembali melangkahkan kakinya menuju Rumah Sakit. Akan tetapi, ketika Arga menyebrang jalan tiba-tiba ada mobil yang melaju begitu kencang, sehingga Arga yang sedang melamun pun terhantam mobil tersebut lalu terpental jauh.


Semua orang yang berada di sana langsung menggotong tubuh Arga yang sudah bersimbah darah ke dalam Rumah Sakit.


Arga langsung mendapatkan pertolongan pertama oleh Dokter yang kebetulan menangani Arini.


Arga sempat sadar, lalu berkata kepada Dokter tersebut.


"Dokter tolong berikan jantung saya kepada Arini," ujar Arga, lalu kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya.


"Innalillahi..Suster tolong catat waktu kematian pasien, dan kita harus segera mencocokan jantung pasien terhadap pasien yang bernama Arini, dan sampaikan juga berita kematiannya kepada keluarga pasien yang kini berada di kamar Rawat Ibu Arini di nomor 123," ujar Dokter.

__ADS_1


Setelah serangkaian tes, jantung Almarhum Arga pun memiliki kecocokan dengan Arini, kemudian Dokter pun langsung bersiap untuk melakukan operasi pencangkokan jantung kepada Arini.


Sebelumnya Suster telah datang ke dalam kamar rawat Arini untuk memberitahukan kabar bahagia dan duka yang akan disampaikan kepada keluarga Arini.


"Maaf saya harus membawa Ibu Arini ke ruang Operasi, karena kami telah menemukan donor jantung yang cocok untuk beliau," ujar Perawat yang kini datang ke kamar rawat Arini.


"Alhamdulillah," ujar Arya, Putri dan Ida.


"Sus kalau boleh tau siapa yang sudah berbaik hati mendonorkan jantungnya untuk Bunda saya?" tanya Arya yang kini terlihat bahagia, karena Ibunya akan segera mendapatkan pendonor.


"Maaf Pak Arya, sebenarnya ada berita duka juga yang harus kami sampaikan, karena yang mendonorkan jantungnya pada Ibu Arini adalah Pak Arga, Suaminya Ibu Arini sendiri," ujar Suster sehingga membuat Arya Syok.


"Gak mungkin Sus, Bagaimana bisa Aa mendonorkan jantungnya, Kakak saya kan masih hidup dan tadi dia pamit mau ke Mesjid," jelas Arya yang masih tidak percaya.


"Maaf Pak, mungkin Bapak belum tau kalau Pak Arga tertabrak mobil ketika menyebrang sepulang dari Mesjid, dan saat ini beliau telah meninggal dunia, dan sebelum meninggal Almarhum Pak Arga sempat berpesan untuk mendonorkan jantungnya kepada Ibu Arini," jelas Suster.


Suster pun kini membawa Arini ke ruang Operasi untuk melakukan pencangkokan jantung.


"Innalillahi...." ucap Arya, Ida dan Putri kemudian saling berpelukan setelah menerima berita duka tentang kematian Arga.


"Mamah sangat terharu Put, di akhir hidupnya Arga masih rela berkorban untuk Arini bahkan dengan mendonorkan jantungnya," ujar Ida yang kini tengah menangis dalam pelukan Putri.


"Iya Mah Putri juga gak nyangka ternyata cinta Aa kepada Bunda Arini begitu besar," ujar Putri.


Putri pun kini beralih memeluk tubuh Arya yang masih terlihat menangis.


"Kang Arya yang sabar ya, semua ini sudah takdir dari Allah SWT, sekarang kita harus berdo'a untuk kelancaran operasi Bunda, supaya semuanya berjalan dengan lancar dan pengorbanan Aa tidak sia-sia," ujar Putri.


"Iya Neng Putri, semoga saja amal ibadah Aa diterima oleh Allah SWT, selama ini Aa juga sudah menjadi Kakak yang baik buat Akang, Akang tidak menyangka jika Aa akan pergi secepat ini," ujar Arya dengan menangis dalam pelukan Istrinya.

__ADS_1


__ADS_2