
balasan Vani dari chatting sebelumnya membuat Yudha malu.
Vani :
"ciee .. abang pakai segala ngirim foto.." (sent)
Yudha membalas pesan Vani untuk menutupi rasa malunya.
Yudha :
"sudah... Save saja nomerku." (sent)
Vani :
"ogah, siapa tahu kamu orang iseng yang cuma ngaku-ngaku aja"(sent)
dengan semangat Vani malah menjahili Yudha balik. Tapi dia jadi kelimpungan sendiri karena Yudha malah melakukan panggilan video ke hapenya.
Agak lama akhirnya dia angkat juga panggilan itu, tapi kamera tidak mengarah pada wajahnya.
"hai kakak yang tega sama adiknya... assalamualaikum... sudah percaya kalau ini aku?hahahaa" tanya Yudha memulai obrolan.
"waalaikumsalam... iya percaya, ngapain sih mas pakai vicall segala?" tanya Vani.
"ini kenapa malah kamu yang jadi bunga kamboja? ngeri amat, nggak sekalian bunga tujuh rupa?" tanya Yudha, karena memang Vani mengarahkan kameranya pada bunga yang ada di depannya, malah tidak sengaja pilihannya jatuh pada bonsai bunga kamboja ibunya.
"lagian orang belum mandi malah diajak vicall. Malu akutuh." jawab Vani.
"yaudah aku matiin aja deh teleponnya. kamu mandi aja, jangan lupa di save nomerku. assalamualaikum" kata Yudha.
"waalaikumsalam" jawab Vani.
"udah? gitu doang? nggak ada basa-basi lagi?" batin Vani sambil menekan tombol save setelah memberi nama pada nomer baru itu.
Padahal kan masih pengen ngobrol kakang mas... Kenapa jadi diputusin semudah itu sih panggilan telponnya. Sebel banget!!
Masih menggerutu dengan keadaan, tiba-tiba Varo datang menghampiri.
"Bunda ngapain sih? Sore-sore sendirian aja disini? Tadi ayah yang telpon ya bund? kok tumben nggak manggilin kita, kan kita juga kangen sama ayah, bund..." kata Varo merengek.
"bukan sayang.... Itu tadi temannya bunda, bukan ayah yang telpon, jadi kakak sama adek nggak dipanggil deh sama bunda" kata Vani.
"Bunda belum mandi ya? hii . bau tau! kalau kita yang nggak mandi aja bunda ngomelnya panjang banget, giliran diri sendiri malah belum mandi udah sore gini" kata Varo mengingatkan.
"eh, iya .. Bunda belum mandi, hehe.. yaudah deh.. Bunda masuk dulu ya. Mau mandi, takut diomelin sama kak Varo" jawab Vani sambil meninggalka Varo yang jadi cemberut.
__ADS_1
"tapi pinjam hape dong bund. Mau nonton kartu di wetub aja, soalnya kalau di tv iklannya banyak, lama lagi iklannya. Boleh ya bun?" kata Varo memohon.
"iya.. nggak apa-apa. Nonton di dalam aja ya, mau maghrib ini. Adek juga diajakin nonton ya, jangan diajak berantem mulu" jawab Vani.
"siap bos. Makasi bunda cantik" kata Varo senang.
Setelah bundanya pergi mandi, Varo mengecek histori panggilan di hape bundanya. Anak itu sangat perasa sekali, kenapa bundanya jadi aneh setelah mendapat panggilan telpon tadi. Jadi ngomel-ngomel sendiri.
M A S Y U D H A
dengan pelan Varo mengeja nama itu, Mas Yudha?
siapa itu? pikir Varo.
Varo sudah bisa membaca meskipun belum begitu lancar. Merasa asing karena tidak pernah dia ingat ada nama itu pernah menghubungi bundanya.
Seingatnya, laki-laki selain ayahnya yang sering menghubungi bundanya adalah om Amar, om Andre dan om Faris, yang semuanya masih berhubungan saudara dengan mereka.
Sedangkan om Yudha? nanti dua akan mencari tau atau bertanya langsung saja pada bundanya.
Varo lebih peka dengan keadaan sekitarnya, lebih pendiam dan tidak mudah mengungkapkan perasaannya, berbeda dengan adiknya Vero, yang sangat aktif dan cenderung cuek, tapi sangat mudah mengungkapkan rasa hatinya.
Jadilah Vero lebih punya banyak teman daripada Varo. Semua teman Varo, Vero mengenal dengan baik, tapi dengan teman Vero, Varo hanya mengenal satu sahabat baiknya, yaitu Hildan.
***
Di lain tempat, Yudha masih senyum-senyum sendiri setelah menutup panggilan telponnya. Dia sudah menduga kalau Vani pasti sedang mode mengomel.
Dan telponnya kembali berdering, kali ini tertera nama Isabella, ternyata istrinya kali ini yang menelpon.
Setelah menggeser ikon hijau, Yudha mengarahkan telponnya ke telinga. Terdengar suara manja di seberang sana.
"Halo sayang.. Aku kangen banget sama kamu. Lagi dimana sekarang?"kata Bella.
"iya halo. Aku juga kangen sama kamu. Sudah beberapa minggu ini aku di kota Dingin, mengurus hotel disini." kata Yudha.
" ok honey. Aku sekalian mau bilang sama kamu kalau bulan ini aku nggak bisa pulang sayang. Kerjaan aku padet banget. Paling bulan depan baru bisa pulang ke Jakarta lagi. Kamu baik-baik ya disana. Jangan nakal" kata Bella.
Yudha hanya mendesah, selau seperti itu, Batinnya terluka.
"ok, It's fine. Lanjutin aja kerjaan kamu sampai beres, nggak usah inget aku juga nggak apa-apa" kata Yudha jengkel.
"nggak gitu sayang, emang kerjaannya lagi nggak bisa ditinggal. Sabar ya, kurang satu tahun lagi aku pastikan janji aku buat berhenti dari modeling, dan fokus sama rumah tangga kita". kata Bella.
"iya. terserah kamu, yaudah aku mau lanjutin kerjaan aku juga. Jaga kesehatan kamu ya" kata Yudha pasrah.
__ADS_1
"iya sayang. Love you" kata Bella sambil menutup sambungan telponnya.
Setelah menutup sambungan telponnya Bella mengernyit, membayangkan akan mau hamil? oh no!!
Bisa gendut tubuh langsingnya setelah melahirkan, apalagi kalau sampai harus repot-repot menyusui bayi.
Sungguh dia tidak bisa, bahkan tidak ingin melakukan itu semua. Tapi bagaimana dengan Yudha?
Wanita itu sangat mencintai suaminya, disamping karena memang wajahnya yang tampan, harta yang melimpah, tapi dia enggan dibebani oleh anak. Adopsi kan bisa! Itu yang ada di benaknya selama ini.
Sedangkan Yudha, hatinya kini bimbang lagi. Setelah perjodohannya dengan Bella dulu, dia sudah berusaha mencintai instrinya itu, sebagaimana istrinya juga mencintainya.
Tapi dengan bertemunya lagi dengan Vani, sungguh kenangan masa lalunya itu sangat berkesan tersendiri bagi laki-laki itu.
Bella yang sangat cantik dengan sejuta pesona, dia yakin pasti banyak sekali pria yang menyukainya, bahkan menjadikannya bayangan saat menuntaskan hasrat seorang pria saat sendirian.
Satu hal yang tidak disukainya adalah gaya berpakaian Bella yang terlalu terbuka, setiap dia menegur, malah dikatakan posesif, ketinggalan jaman atau apalah alasan agar dia bisa bebas dengan busana kurang bahan yang sering dia pakai.
Sedangkan di sisi lain, dia bertemu kembali dengan Vani. Wanita polos dan lugu, semangatnya dalam menjalani hidup yang sederhana. Bahagia dan bersyukur dengan pencapaiannya. Cerdas pemikirannya, selalu positif thinking.
Dan yang terpenting, pakaiannya yang tertutup dan berhijab. Pasti kecantikannya hanya ditujukan pada lelaki halal yang kini menjadi imamnya. Dan sayangnya, pria beruntung itu bukanlah Yudha.
Memikirkan itu menjadikan kepalanya sedikit pening. Sangat menyesal karena dulu tidak membangkang saja pada papanya.
Jika dulu dia bisa bersikap tegas dengan masa depan yang berhubungan dengan hatinya, pasti sekarang dia sudah bahagia dengan Vani dan amak-anak mereka, meskipun hidup dalam kesederhanaan, yang Yudha lihat Vani tidak pernah mengeluh akan semua itu.
Andai saja dia bisa kembali ke masa lalu. Sayangnya semua itu tidak mungkin terjadi.
Yang bisa dia lakukan saat ini adalah menerima semua takdir tuhan yang telah ada dan menjalaninya dengan baik.
Perihal bertemu dengan Vani, itu adalah bonus dari takdir agar bisa sedikit menyemangati hidupnya yang terasa hampa.
Kebanyakan berfikir menjadikan waktu bergulir dengan cepat. Setelah rutinitasnya selesai, Yudha memutuskan pulang ke rumah neneknya dulu.
Meskipun neneknya sudah tiada, tapi rumah kenangan itu masih terawat dengan baik. Karena ada asisten rumah tangga yang mengurus semuanya.
Bahkan kamar tempatnya dulu tidur masih ada dan terawat dengan baik. Dan disanalah Yudha selama ini tinggal selama berada di kota Dingin ini.
Waktu menunjukkan pukul 7 saat Yudha sampai di rumahnya. Seperti biasa, hanya ada dia dan sepasang suami istri sebagai art di rumah itu tiap harinya.
Mbok Sum dan pak Har adalah sepasang suami istri yang telah mengabdi pada neneknya sejak masih sama-sama single, hingga kini mereka menikah, tapi tidak dikaruniai anak.
"Sudah sampai den? itu sudah mbok bikinin makanan buat aden makan malam" kata mbok Sum.
"iya mbok. Nanti saya makan. Masih mau mandi dulu sekarang" kata Yudha sambil berlalu ke kamarnya.
__ADS_1