Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
sama-sama berencana jahat


__ADS_3

"Mukanya papa Yudha kenapa?" tanya Vee malam itu. Saat Yudha sedang melakukan penggalian video padanya.


Entah kenapa dia jadi rindu pada gadis kecil itu, pada bundanya juga sih. Tapi tidak mungkin kan mengungkapkan itu pada Vani. Bisa ngambek tujuh purnama kalau sampai Yudha bilang begitu.


"Nggak apa-apa sayang, cuma tadi kepentok pintu" kata Yudha beralasan. Dia lupa jika Vee selalu bertanya tentang apapun.


"Makanya kalau ngapa-ngapain itu hati-hati papa Yudha... " kata Vee menirukan Vani kalau sedang menasehatinya.


Yudha tergelak dengan tingkah laku gadis balita itu. Serasa punya anak sungguhan.


"Kamu belum tidur memangnya lagi ngapain?" tanya Yudha.


"Kan lagi ditelpon sama papa. Terus papa sendiri lagi dimana?" tanya Vee.


"Papa lagi liburan dong.. Ke luar negri, kamu mau oleh-oleh nggak nih?" tanya Yudha.


"Mau... Mau.. pa.. Vee juga mau liburan dong pa" kata Vee tidak tahu malu, kan memang anak kecil. Vani yang sekarang matanya melotot setelah mendengar ocehan dari mulut kecil Vee.


"Boleh dong... Kamu mau liburan kemana?" tanya Yudha yang malah menanggapi dengan serius.


"Tapi sama bunda" kata Vee.


"Tentu" jawab Yudha senang, dia sudah membayangkan yang tidak-tidak saja.


"Sama kak Varo" kata Vee lagi.


"Pastinya dong" kata Yudha menyanggupi.


"Sama ayah" kata Vee tersenyum.


Malah Yudha yang kehilangan senyum di wajahnya. Dia lupa kalau Vee adalah anak bohongan saja.


Sejenak dia terhenyak, tapi dengan cepat memunculkan kembali senyumnya agar wajah ceria Vee tidak sampai hilang.


"Boleh.... Kamu mau liburan kemana?" tanya Yudha.


"Yang pakai tenda pa, yang kayak Jeje" kata Vee.


"Siapa itu Jeje?" tanya Yudha heran.


"Dia lagi suka lihat lagu anak-anak di chanel ABC kids" jawab Vani yang memang daritadi mengamati percakapan Vee dan Yudha.


"Oh, maksudnya camping gitu?" tanya Yudha.


"Iya pah" jawab Vee antusias.

__ADS_1


"Mendingan liburannya main ke zoo atau apa gitu. Kalau camping nanti tendanya dimasuki ular, terus Vee digigit loh" kata Yudha.


"Serem pa, Vee takut ular" kata bocah kecil itu menggemaskan.


"Minggu depan deh, papa ajak kamu main ya. Kita nginap sekalian" kata Yudha.


"Asyik.... Yee... makasih papa Yudha" kata Vee senang.


Yudha juga ikut merasakan kebahagiaan gadis kecil itu. Sementara Vani yang merasa sedikit keberatan.


"Jangan menjanjikan yang tidak-tidak deh, mas. Kan aku juga harus ijin ke Jovan dulu" kata Vani.


"Tentu saja, Vani sayang. Kamu memang harus izin pada suamimu. Pasti diijinkan, percaya deh sama aku" kata Yudha sambil mengerlingkan matanya.


"Ish, ganjen. Hihihi" kata Vani sambil tergelak karena merasa lucu dengan tingkah Yudha.


"Yasudah, papa mau istirahat dulu ya Vee. Besok sudah harus pulang nih. Kalau sudah sampai disana, pasti langsung temui kamu buat kasih hadiah special dari papa Yudha" kata Yudha yang memang sudah sangat lelah hari ini.


"He em, selamat istirahat papa Yudha" kata Vee yang kemudian mematikan sambungan videonya.


Otak nakal Yudha sudah traveling kemana-mana mengingat akan liburan dengan Vani dan anak-anaknya.


Rencana jahat muncul di pikirannya, setan sudah merasuki niat tulus Yudha yang awalnya hanya ingin melihat kebahagiaan di wajah Vee.


Jika Vani tahu bagaimana tingkah laku suaminya di luar sana, sudah pasti dia juga akan kecewa.


Jadi, apa salahnya dia juga berencana jahat. Bukankah semua orang di sekelilingnya juga jahat karena mengutamakan kepentingan sendiri, dan mengesampingkan kebahagiaannya?


Biarlah kali ini diapun ingin sedikit jahat untuk kebahagiaannya sendiri.


★★★★★


Disisi lain, Jovan sendiri sedang bingung menghadapi tingkah Gina yang selalu meminta menjadi istri seutuhnya untuk Jovan.


Seperti sore ini, Gina ngotot minta ditemani.


"Pokoknya aku mau kamu menginap saja di rumah aku, sayang" rengek Gina sambil menggamit manja lengan Jovan yang duduk di sebelahnya.


Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, Gina juga pasti ingin selalu menghabiskan waktu bersama. Bulan madu, misalnya.


"Tapi kan kamu tahu itu nggak mungkin" Jovan juga kekeuh dengan pendiriannya.


"Kita nyewa hotel saja deh. Malam Sabtu nanti ya, atau malam Minggu saja sekalian. Henngmh.... Pasti seru deh, sayang" kata Gina yang berbinar membayangkan malam minggunya bersama Jovan nanti.


Jovan hanya menatap malas pada wanita disampingnya yang selalu merengek jika meminta apa-apa. Memang dari dulupun Jovan tahu jika Gina memang anak manja. Dia tidak menyangka jika di masa depannya, gadis manja yang dulu sering digodanya sampai menangis itu akan dipersuntingnya juga.

__ADS_1


"Pokoknya kamu harus mau, titik. Nggak pakai koma apalagi spasi" kata Gina yang sudah cemberut saat ini.


"Kita lihat saja nanti, ya. Aku bilang Vani dulu" kata Jovan.


"Maksud kamu mau bilang ke mbak Vani kalau kamu mau malam mingguan sama aku? Kamu mau ngomong jujur gitu sama dia kalau kamu sudah nikah sama aku?" tanya Gina senang.


"Mana mungkin, bisa dikirim ke luar angkasa kalau aku jujur sama dia" kata Jovan bergidik membayangkan jika sampai Vani mengetahui semua ini.


"Aku alasannya ya ada kerjaan kantor dong, Gina. Biar dia nggak nyariin aku, kasihan dia kan ditinggalin terus" kata Jovan.


Gona mencebik mendengar penuturan Jovan. Dia sudah senang saja membayangkan bisa menjadi keluarga cemara dengan bergandengan tangan bersama Jovan, Vani dan anak-anaknya.


"Seru kayaknya kalau mbak Vani tahu ya. Terus dia setuju-setuju saja sama pernikahan kita. Terus kita jalan sama-sama, gandengan tangan. Sama Varo, terus juga sama Vee, terus kita berdua, sama mbak Vani juga tentunya" kata Gina mengutarakan khayalannya.


"Cg, kamu belum tahu saja kalau Vani marah-marah" kata Jovan.


"Nggak mungkin, dia kan penyabar" kata Gina.


"Sekarang saja deh kamu ijin sama mbak Vani. Aku nggak percaya kalau kamu bilangnya nanti-nanti terus. Pasti alasan lupa, terus nggak jadi deh rencana malam mingguannya" kata Gina ngotot.


"Nanti saja, beneran aku ijin sama Vani. Nggak enak lah kalau ngobrolnya didengerin sama kamu. Nanti kamu cemburu, terus ngelakuin yang enggak-enggak pas aku lagi telponan sama dia" kata Jovan.


"Nggak akan, percaya deh sama aku" kata Gina.


"Nggak, Gina. Kalau aku bilang nanti, ya nanti. Jangan kayak anak kecil deh. Suka ngotot nggak jelas" kata Jovan sedikit membentak


Kalau sudah begini, Gina juga sedikit takut karena Jovanpun sebenarnya sedikit keras kepala.


Sifatnya tidak jauh berbeda, hanya saja Jovan tidak cengeng sepertinya.


Mendapat bentakan seperti itu sudah pasti membuat hatinya sedikit tersinggung. Niatnya kan hanya ingin memastikan. Tapi malah mendapat bentakan dari Jovan.


Gina ngambek, berharap akan mendapat perlakuan istimewa dari suaminya dengan cara seperti itu.


"Sudah, nggak usah kayak anak kecil. Vani itu cuma dua hari dalam satu Minggu ketemu sama aku. Sedangkan kita bisa bersama setiap saat disini" kata Jovan.


"Iya, memang kita selalu bersama. Tapi kamu nggak pernah mau nginap di tempat aku. Bahkan sampai sekarang aku masih virgin loh, suamiku" kata Gina menekankan kata Suami di akhir kalimatnya.


Membuat Jovan bungkam, sebenarnya yang salah siapa sih?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2