
"Bagaimana saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah"
"Sah"
Jawab dua orang saksi yang menyaksikan pernikahan Jovan dan Gina.
Dalam hati Jovan menangis, dia telah mengkhianati cintanya, dia telah mengkhianati keluarganya. Tapi tidak ada jalan lain, Jovan melakukan semua ini demi keutuhan rumah tangganya.
Dia tidak ingin ada dua kepala keluarga dalam saru rumah tangga. Egois memang, nyatanya dia menikahi Gina tanpa sepengetahuan Vani.
Gina mencium punggung tangan Jovan dengan takzim, dan Jovan mencium kepala Gina yang sekarang sudah sah sebagai istri keduanya. Sah secara agama.
"Aku sangat bahagia sayang" kata Gina, senyumnya terukir indah malam ini. Jovan hanya terjadi kecut.
Seorang mata-mata suruhan Akbar memberi informasi mengenai semua hal yang terjadi malam ini kepada bosnya. Dengan cepat, informasi itu sampai di telinga Yudha.
"Menarik" kata Yudha dengan senyum smirk setelah mendengar kelakuan Jovan yang kurang ajar.
★★★★★
Sabtu pagi ini Vani nampak panik karena tiba-tiba Vee sakit, badannya panas. Dia juga muntah-muntah sejak semalam. Pagi ini gadis kecil itu terlihat sangat lemas.
Vani juga bingung karena Jovan yang masih belum pulang juga. Biasanya Jum'at malam ayah dari Vee itu sudah dirumahnya.
Berkali-kali Vani mencoba menghubungi, tapi nihil. Bahkan sekarang ponselnya tidak aktif. Awalnya Vani ingin Jovan mengantarkannya pergi ke dokter. Tapi sepertinya dia harus berangkat sendiri karena sang ayah belum juga datang.
Dia harus menghubungi seseorang terlebih dahulu untuk meminta izin tidak masuk kerja.
..."*Assalamualaikum, mas yudha"...
......"Waalaikumsalam, ada apa Van?"......
......"Maaf ya mas, aku nggak masuk kerja hari ini. Aku izin ya sama kamu"......
..."Kenapa?"...
..."Vee sakit mas, sekarang aku mau antar dia ke dokter buat diperiksa"...
..."Kamu ke dokter sama siapa?"...
..."Sendiri mas, ayahnya masih belum pulang"...
..."Naik motor?"...
__ADS_1
..."Iya, kalau naik angkot kelamaan"...
..."Kamu tunggu sebentar, biar saya yang antar kamu dan Vee. Kasihan kalau dia harus naik motor"...
..."Nggak usah mas, biar nanti aku gendong saja sambil naik motor"...
..."Pokoknya kamu tunggu dulu sebentar ya, saya yang akan antarkan kamu dan Vee"...
..."Yasudah, terserah kamu mas"...
..."Assalamualaikum"...
..."Waalaikumsalam*"...
Yudha segera menuju ke rumah Vani, dia sedikit khawatir saat mendengar kabar Vee yang sedang sakit. Dia mengendarai mobilnya cukup kencang untuk segera sampai ke tempat tujuannya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Yudha, dia langsung masuk saat datang dan melihat pintu depan terbuka.
"Dia ketiduran mas, dari semalam muntah terus dan sekarang badannya panas" Vani menjelaskan keadaan Vee.
Yudha langsung menggendong Vee, dia akan membawanya ke rumah sakit.
"Eh, mau dibawa kemana mas?" tanya Vani.
"Ke rumah sakit, takut dia dehidrasi. Cepat bawa perlengkapan yang dibutuhkan" kata Yudha.
"Iya, kalian hati-hati ya" kata ibu Vani.
"Kenapa tidak langsung dibawa ke rumah sakit?" tanya Yudha setelah mereka berada di dalam mobil.
"Tadi aku nungguin Jovan, biasanya dia kan pulang kalau week end. Tumben sekali dia nggak pulang, bahkan nggak bisa dihubungi" jawab Vani, dia sedang menghubungi pihak sekolah untuk meminta izin bahwa kedua anaknya tidak sekolah.
"Paling tidak bawa Vee ke dokter terdekat Vani. Bagaimana kalau dia dehidrasi. Dia lemas banget loh ini" kata Yudha.
"Iya, maaf" kata Vani lirih. Dalam benaknya dia merasa aneh juga, kenapa Yudha bisa sekhawatir itu pada keadaan Vera.
"Atau kamu bisa hubungi aku dari semalam, aku pasti bawa dokter ke rumah kamu" kata Yudha masih menggerutu.
"Iya mas. Lagian mas Yudha kenapa sih, sekhawatir itu?" akhirnya Vani menanyakan pada Yudha.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, aku sayang sama Varo dan Vee. Seperti aku menyayangi anakku sendiri. Jadi, sudah sewajarnya jika aku khawatir" kata Yudha, bahkan dia sampai menoleh ke arah Vani saat mengatakannya.
"Iya, maaf" lagi-lagi Vani hanya bisa meminta maaf.
Beberapa saat berlalu, mereka telah sampai di rumah sakit. Yudha membawa Vee ke UGD. Berharap segera mendapatkan pertolongan.
__ADS_1
"Kenapa ini pak?" tanya seorang suster yang membantu Yudha.
"Dari semalam muntah-muntah, sekarang dia sedang tidur atau pingsan sus? Daritadi dia tidak membuka mata sama sekali" kata Yudha pada suster itu. Kini Vani baru menyadari, anaknya tidak ada respon sejak Yudha tiba dirumahnya tadi.
Suster segera melakukan tindakan awal, dokter datang dengan pemeriksaan lebih lanjut. Vani dan Yudha harap-harap cemas menunggu dokter yang memeriksa.
"Pasien tak sadarkan diri. Dia kekurangan cairan. Biar saya bantu dengan ingus dulu ya bu, dan kalau bisa biarkan dia dirawat inap terlebih dahulu. Agar kami bisa memantau perkembangannya lebih lanjut" kata dokter membuat Vani bertambah cemas.
"Lakukan yang terbaik dok" Yudha menjawab, karena Vani masih terlihat syok.
"Baiklah pak, silahkan tunggu diluar dulu dan tolong diselesaikan administrasinya. Agar kami bisa menangani pasien" kata dokter.
"Iya dok" kata Yudha. Dia membawa Vani keluar agar dokter segera menangani Vee.
"Kamu tunggu disini, aku mau ke bagian administrasi dulu" kata Yudha menyuruh Vani duduk di kursi tunggu. Kali ini Vani menurut, dia tidak menyangka jika Vee harus sampai dirawat seperti ini.
Dia kembali menghubungi Jovan, bagaimanapun Jovan harus tahu keadaan putrinya. Tapi ponselnya masih saja mati, entah kemana dia disaat genting seperti ini.
Beberapa lama menunggu, Yudha kembali datang membawa minuman kemasan untuk Vani. Setelah membukanya, Yudha menyodorkan pada Vani.
"Minum dulu, biar sedikit lebih tenang" kata Yudha.
"Makasih mas" jawab Vani. Dia meneguk sedikit, lalu menutupnya lagi.
"Kira-kira Jovan kemana ya mas? Daritadi ponselnya mati" kata Vani cemas.
"Kamu tidak perlu khawatir, tenang saja. Dia pasti baik-baik saja" kata Yudha yang mengetahui jika semalam Jovan sudah menikah lagi.
Vani berusaha tenang, dia harus mengutamakan Vera untuk saat ini.
★★★★★
Sejak semalam, Jovan masih bersikap dingin pada Gina. Bahkan setelah mereka selesai dengan acara ijab kabulnya. Jovan semalaman menemani saudara Gina yang berniat menginap. Gina sangat tersinggung dengan tingkah laku Jovan yang kini sudah resmi sebagai suaminya, meski hanya secara agama.
Jovan lupa telah menaruh ponselnya di atas nakas di dalam kamar Gina. Dia masih belum berniat untuk bersama Gina malam itu.
Melihat ponsel Jovan yang bergetar, Gina melihat siapa yang menghubungi, tapi saat tahu bahwa tampilan layar menunjukkan nama 'istri' saat berkedip, Gina tidak berniat memberitahu Jovan. Tapi untuk mengangkatnyapun Gina tidak berani. Takut suaminya marah.
Karena ponsel yang bergetar terus-menerus, Gina memutuskan untuk mematikan ponsel Jovan.
Jovan tertidur di ruang tengah, didepan tv yang masih menyala. Semalaman dia menemani saudara Gina. Baru setelah subuh tadi dia bisa tidur. Dia bahkan lupa kalau hari ini waktunya dia menemui istri dan anaknya dirumah.
Melihat Jovan yang masih terlelap, Gina tidak berniat membangunkan suaminya. Bahkan dia memberi selimut agar tidurnya semakin nyenyak. Gina tidak mau Jovan pulang, setidaknya untuk hari ini saja. Biarkan dia menghabiskan waktu bersama suaminya. Dia juga ingin merasakan menjadi seorang istri yang utuh. Seegois itu memang jika seorang wanita sudah dibutakan cinta.
.
__ADS_1
.
.