
"Dah... ayah... hati-hati ya" teriak Vee melepas kepergian sang ayah.
Sudah seminggu lamanya Jovan menemani Vani setelah kepergian kedua orangtuanya.
Dan kini, sudah waktunya kembali ke rutinitas hariannya. Pergi bekerja di kota Pesisir.
"Hati-hati yah, nanti kalau sudah sampai kabari ya" kata Vani sembari mencium punggung tangan suaminya.
"Iya, maafin aku ya bun. Nanti pasti aku kabari kalau sudah sampai" Jovan masih sempat mengecup singkat kening istrinya.
Lalu bergantian berpamitan dengan kedua anaknya.
"Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya bun. Aku usahakan segera pulang" kata Jovan, masih ada sedikit penyesalan dalam kata-katanya.
"Iya, semoga semuanya baik-baik saja biar kamu juga tenang kerjanya ya, yah" kata Vani yang sudah bisa sedikit tersenyum.
Senin pagi ini, seperti biasanya Vani juga harus memulai aktivitas sehari-harinya dengan mengantarkan kedua anaknya ke sekolah.
Menjelang siang, Vani sudah berkutat dengan kegiatannya. Memasak, mencuci, membereskan rumah saat Varo dan Vee sedang bersekolah.
Biasanya, Vani akan membagi tugas dengan ibunya untuk melakukan pekerjaan rumah.
Kalau Vani memasak, maka ibunya yang menyapu. Tapi sekarang, semuanya harus Vani kerjakan sendiri. Apalagi dia juga sedang hamil besar.
"Duh, panas banget. Masih pagi tapi kok sudah keringetan gini" keluh Vani setelah mematikan mesin motornya.
Dia berjalan perlahan memasuki rumahnya sambil mengelap keningnya yang terus saja meneteskan keringat.
"Masak dulu deh, sambil nyuci" gumam Vani sambil mengisi air ke dalam mesin cuci.
Dia mulai menyiapkan bahan makanan, menelisik ke dalam kulkas untuk mengambil ayam dan sayuran untuk membuat sop.
"Masak yang gampang dulu, biar selesainya barengan sama cucian" masih saja Vani mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan gumaman kecil.
Merasa sepi, dia memutar mesin melalui ponselnya.
Cukup lama berkutat di dapur, ternyata sudah semakin siang saja. Bekerja sendiri ternyata butuh waktu lebih lama.
Saat ingin istirahat sebentar setelah selesai dengan masakan dan cucian, tapi jarum jam sudah menunjukkan waktu untuk menjemput sang buah hati.
Kembali Vani harus berkendara untuk menjemput anak-anaknya.
Tiga hari dengan keseharian yang cukup menguras energi. Vani merasa cukup lelah dengan keadaannya.
Sore ini, dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Vani masih harus mengurus kedua anaknya.
Tiba-tiba, perutnya merasa melilit. Pandangannya terasa seperti berputar-putar.
"Bunda kenapa?" tanya Varo yang kebetulan lewat.
"Bunda pusing kak" kata Vani yang dibantu Varo menuju kursi di ruang tengah.
Meski agak tertatih, masih beruntung dia bisa menjangkaunya. Bisa duduk dengan aman di kursi.
"Bunda kenapa, kak?" tanya Vee yang mendengar kegaduhan Varo dan bundanya.
"Bunda nggak apa-apa kok, Vee" kata Vani.
Tapi, dia malah pingsan setelah berkata seperti itu.
"Bunda.... Bunda kenapa?" panik Varo mengguncang tubuh bundanya.
Vee sudah ketakutan, tapi melihat ada ponsel didekat bundanya, segera dia akan menelpon sang ayah.
"Mau apa, Vee?" tanya Varo.
"Kita telpon ayah ya, kak" kata Vee.
"Jangan, ayah jauh, Vee" kata Varo dengan paniknya.
"Atau telpon papa Yudha saja ya kak?" tanya Vee meminta persetujuan kakaknya.
Kedua anak kecil itu sudah bisa berdiskusi untuk memikirkan keselamatan sang ibu.
Vee segera menghubungi Yudha. Pilihan terbaik menurut mereka.
Panggilan tersambung, Vee melakukan video call pada Yudha.
"Kenapa sayang?" tanya Yudha yang melihat raut wajah kecemasan pada balita itu.
"Pa, Bunda pingsan" kata Vee sambil memperlihatkan wajah bundanya yang terpejam.
Seketika Yudha panik, takut terjadi sesuatu pada kehamilan Vani.
"Papa kesana sekarang juga" kata Yudha seketika mengakhiri oanggilan videonya.
"Handle urusan kantor, Bar. Vani pingsan" Yudha terburu-buru meninggalkan Akbar yang kebetulan akan memasuki ruangan Yudha.
Akbar hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau sudah berurusan dengan bu Vani, semuanya jadi nomer dua" gumam Akbar yang tak jadi meminta tandatangan dari atasannya.
__ADS_1
Dengan kecepatan diatas rata-rata, Yudha segera melakukan mobilnya ke rumah Vani. Berharap tak terjadi sesuatu padanya.
Pikirannya tak bisa tenang karena Vani hanya dijaga oleh dua anak kecil yang belum bisa menangani urusan semacam ini.
Beruntung tadi Vee segera menghubunginya.
Berkali-kali Yudha mengumpati pengendara lain, dan tak jarang dia sendiri yang diumpati oleh pengendara lainnya.
Dengan lamgkah tergesa, Yudha segera memasuki tumah Vani setelah berhasil sampai di halaman rumah Vani.
Vee sudah menangis kali ini, tidak seperti saat tadi menelponnya, Vee masih bisa menahan air matanya.
"Bunda kenapa, Vee?" tanya Yudha panik.
"Tadi bunda bilang pusing, om. Terus pingsan disini" kata Varo yang belum juga bisa memanggil Yudha dengan sebutan papa.
Yudha segera menggendong Vani dalam dekapannya.
"Bukain pintu mobil papa ya, Varo" kata Yudha setelah berada di teras rumah.
"Kalian tunggu dirumah saja ya, nanti ada om Akbar yang akan datang kesini. Biar bunda sama papa Yudha saja" kata Yudha.
"Tapi Vee takut, pa" rengek Vee yang ingin ikut.
"Sebentar papa telpon om Akbar dulu ya".
Panggilan Yudha sudah diangkat oleh Akbar, "Bar, kamu cepat ke rumah Vani, ya. Varo dan Vee dirumahnya. Kasihan kalau nggak ada yang menemani mereka".
Yudha memerintahkan Akbar agar menemani Varo dan Vee sore ini.
"Iya, pak. Saya segera kesana" kata Akbar.
"Cepat, Bar. Kasihan mereka".
Yudha segera menutup panggilan telponnya. Lalu mendekat pada kedua anak Vani.
"Varo, papa minta kamu sebagai kakak bisa menjada Vee, adik kamu, sementara papa mengantarkan bunda ke rumah sakit, ya" kata Yudha memegang pundak Varo.
"Ingat, jangan bukakan pintu selama yang datang bukanlah om Akbar. Keselamatn Vee ada ditanganmu, Varo" kata Yudha memberi amanat pada Varo.
Terbukti Varo yang merasa sebagai kakak, mengangguk mantap dan berusaha menjaga adiknya.
"Sekarang kalian masuk dan kunci pintunya. Sebentar lagi om Akbar datang. Biar om Akbar yang akan menemani kalian nanti, ya" kata Yudha lagi.
Kedua anak itu menurut, memasuki rumah dan segera menguncinya.
Yudha segera membawa Vani ke rumah sakit, tempat dimana Mela praktek.
Dia ingin kesempatan kali ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin untuk melakukan tes DNA pada kehamilan Vani.
★★★★★
Dengan langkah tergesa, Yudha menuruni mobil dan berlari mencari suster agar bisa membawa Vani masuk ke ugd.
"Suster, tolong saya" kata Yudha sekalian menyuruh suster itu membawa brankar.
Suster itu mengerti, segera berlari dan menuju mobil Yudha.
Setelah berhasil mengeluarkan Vani, mereka mendorongnya ke dalam ugd.
Yudha menunggu dengan cemas diluar. Kesempatan itu juga tidak disia-siakannya. Segera Yudha menghubungi Mela.
"Mel, kamu dimana?".
Tanya Yudha setelah Mela mengangkat telponnya.
"Dinas, dirumah sakit".
"Bagus, aku di ugd. Bisa kamu kesini sebentar? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu".
Yudha segera menutup panggilan setelah mengatakan itu, tanpa menunggu Vani berkata bisa atau tidak.
Meski menggerutu, Mela mengikuti saja kemauan Yudha. Dia berjalan menuju Ugd.
Kembali Yudha harus menghubungi Akbar, dia harus memastikan keselamatan Varo dan Vee juga.
"Hallo, Bar. Kamu sudah sampai di rumah Vani?" tanya Yudha melalui sambungan telepon.
"Sudah pak, baru saja saya sampai. Tapi mereka tidak percaya kalau saya orang suruhan bapak. Mereka masih tidak mau membukakan pintunya, pak".
Keluh Akbar yang tak jhga dibukakan pintu oleh kedua anak yang ada didalam rumah.
"Coba kamu loud speaker, ya. Biar saya yang bicara sama mereka".
kata Yudha.
"Sudah, pak"
kata Akbar yang mendekatkan ponsel ke pintu.
__ADS_1
"Hallo Varo, Vee. Ini papa Yudha, kalian bisa dengar suara papa?".
tanya Yudha sedikit berteriak.
"Dengar, pa" teriak Vee dari dalam rumah, dia sedang berada dibalik pintu.
"Itu yang datang namanya om Akbar, kamu bisa buka pintunya. Dia teman papa, dia yang akan menjaga kalian".
kata Yudha.
Cukup lama berfikir, akhirnya Varo mau membukakan pintu setelah dibujuk oleh Yudha.
"Benar ini papa Yudha?"
Tanya Vee dari panggilan telepon.
Akbar mengalihkan panggilan ke video, agar bisa melihat dengan jelas wajah Yudha disana.
"Oh, benar itu papa Yudha" kata Vee senang.
"Bunda bagaimana, om?" tanya Varo.
"Bunda kalian masih ditangani oleh dokter. Mungkin malam ini bunda harus tidur dirumah sakit. Jadi kalian harus nurut sama om Akbar ya" kata Yudha.
"Om Akbar mau tidur dirumah kita, om?" tanya Varo.
"Yerserah om Akbar saja. Kalian harus nurut sama dia, ya" bujuk Yudha.
"Iya, pa" kata Vee.
Yudha segera memutuskan panggilannya saat sudah mendapat kesepakatan dengan kedua anak itu.
Giliran Akbar yang akan pusing karena belum pernah sebelumnya dia mengurus anak kecil seperti mereka.
"Ada apa, Yud?" tanya Mela setelah melihat Yudha selesai dengan teleponnya.
"Oh, hai. Sudah lama?" tanya Yudha yang meletakkan hapenya ke dalam saku celana.
"Lumayan. Siapa yang sakit?" tanya Mela.
"Vani, dia pingsan. Ada yang mau aku omongin sama kamu, Mel" kata Yudha.
Mela sudah tahu kemana arah tujuan pembicaraan mereka, lasti tidak jauh dari keinginan Yudha untuk melakukan tes DNA pada janin Vani.
"Mau bicara apa?" tanya Mela.
Yudha celingukan mencari tempat yang aman untuk membicarakan keinginnannya.
"Ke ruanganku?" ajak Mela.
"Vani sendirian, nanti kalau dokternya mencari keluarga pasien bagaimana?" tanya Yudha.
"Ayo ikut aku" Mela mengajak Yudha memasuki kawasan ugd untuk menemui dokter sekalian melihat keadaan Vani.
"Oh, dokter Mela. Ada apa, dok?" tanya suster yang melihat Mela datang dengan Yudha.
Mela tersenyum, langkahnya menuju lebih dalam. Ingin menjumpai dokter yang menangani Vani.
"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Vani pada dokter obgyn yang menangani Vani.
"Dokter Mela? Dia kelurga dokter?" tanya dokter itu.
"Iya" jawab Mela.
"Tidak apa-apa sebenarnya. Ibu ini hanya kelelahan saja dok, apalagi sepertinya dia sedang hamil anak kembar. Jadi, dia lebih membutuhkan banyak waktu untuk istirahat. Dan harus lebih banyak mengkonsumsi makanan sehat" kata dokter itu.
"Lebih baik ibu ini di biarkan istirahat dirumah sakit meski hanya semalam. Agar bisa istirahat dengan baik" saran dokter itu.
"Iya dok, biarkan dia dirawat dulu saja. Ini Yudha, suami dari pasien ini" kata Mela, membuat Yudha seketika menoleh padanya.
"Saya sedang ada sedikit keperluan dengan suami pasien, jadi, kalau ada apa-apa. Dokter visa menghubungi saya saja" kata Mela.
"Baik, dokter Mela" kata Dokter yang menangani Vani.
Terlihat Vani masih memejamkan matanya, Yudha jadi tudak tega untuk meninggalkannya sendirian.
"Pasri berat untukmu mengurus dua anak dalam keadaan hamil seperti ini, Van" Yudha hanya bisa menggumam dalam hatinya.
"Ayo, Yud. Mau sampai kapan kamu oandangi dia terus?" kata Mela menarik lengan Yudha yang tak kunjung mau pergi.
Yudha tersadar, segera dia mengikuti Mela menuju ruangannya untuk membahas keinginan Yudha.
.
.
.
.
__ADS_1