
"Ayah, tadi aku bagi-bagi lollipop sama teman-teman" Vee mengadu pada ayahnya malam ini.
Daritadi anak itu terus saja merengek minta video call dengan ayahnya. Rupanya hanya ingin bercerita tentang paginya yang berbagi permen dengan teman-teman satu sekolah.
"Oh iya, kamu dapat dari mana lollipopnya?" tanya Jovan gemas melihat ekspresi sang putri.
"Papa Yudha beli banyak banget, terus aku bagiin deh sama teman-teman" kata Vee, sedikit membuat raut wajah gembira Jovan berubah sedih. Tapi dengan segera dia mengubahnya, kembali tersenyum.
"Uwah, senang dong kamu ya?" tanya Jovan.
"Iya, teman-temannya Vee bolang makasih" kata Vee, senyumnya sehangat mentari pagi jika mengingat serunya berbagi permen tadi pagi.
"Sayang, kamu lihat dalaman aku yang warna hitam nggak?" tiba-tiba sebuah suara dan juga terlihat gerakan seorang wanita dari belakang tubuh Jovan.
Seketika wajah Jovan terkejut bukan main. Apalagi Vani juga sedang berbicara dengannya dari tadi, dia sedang menemani Vee.
"Siapa itu, yah?" rasa terkejut Vani membuat suaranya sedikit sengau.
"Bukan siapa-siapa bun, itu cuma tetangga. Iya, cuma tetangga yang kebetulan masuk tadi" jawaban Jovan malah membuat Vani lebih terguncang.
"Kok bisa tetangga kamu masuk terus tanyain dalaman sama kamu?" tanya Vani, matanya sudah berkaca-kaca.
"Iya, soalnya suaminya ada disini. Lagi main catur sama aku" kata Jovan memberi alasan lain.
"Tapi kamu kan nggak bisa main catur, yah. Kamu nggak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku kan, yah?" tanya Vani gelisah.
"Nggak lah, bun. Aku selalu jujur sama kamu. Jangan pernah berfikir yang enggak-enggak ya" harapan Jovan kali ini semoga Vani segera melupakan kejadian itu.
Vani diam saja, dalam pikirannya dia sedang berusaha mengingat tampilan wanita yang tadi ada dibelakang tubuh suaminya.
"Vee besok sekolah ya?" tanya Jovan mengalihkan pembicaraan.
"He em" jawaban singkat Vee dengan anggukan kepalanya.
"Yasudah, kamu bobok dulu ya sayang. Besok biar nggak kesiangan bangunnya. Kakak saja sudah tidur, masak kamu belum tidur juga sih" kata Jovan, berharap keluarganya akan segera menutup panggilan teleponnya.
Dia masih ada sedikit urusan dengan Gina. Berani-beraninya istri mudanya itu menampakkan diri disaat dia sedang bertelepon dengan anaknya.
"Iya ayah, dadah ayah .. Assalamualaikum" kata Vee segera menutup teleponnya tanpa seijin Vani.
"Bunda kenapa?" tanya Vee yang mendapati bundanya melamun setelah menelepon ayahnya.
"Bunda, bun" Vee sampai mengguncang lengan bundanya karena tak mendapat sahutan apapun dari bundanya.
"Eh, iya. Kenapa Vee?" tanya Vani setelah sadar dari lamunannya.
"Bunda kenapa bengong?" tanya Vee.
"Nggak apa-apa, bunda cuma ngantuk. Tidur yuk, nyusul kak Varo" kata Vani menampilkan senyum terbaiknya, meski hatinya sedang gundah saat ini.
"Iya ,bun" kata Vee menurut.
Vani mengelus sayang kepala Vee, setelah menyelimutinya.
Sampai Vee tertidur, mata Vani masih saja awas. Tak merasa kantuk sama sekali, padahal biasanya selepas solat isya, dia akan merasakan kantuk menyerang. Dan tidurnya tidak akan melebihi jam delapan malam.
Tapi malam ini, hingga detak jam yang terdengar sudah menunjuk hampir tengah malam, Vani masih saja terjaga. Dia masih terngiang dengan wanita itu.
"Dari pembawaannya, sepertinya nggak asing" gumam Vani.
Dia mengingat seseorang dengan rambut panjang terurai dan mengenakan hot pant serta tank top saja.
"Mana ada seorang istri tiba-tiba masuk kedalam rumah tetangganya dengan hanya memakai pakaian seperti itu?" batin Vani masih belum bisa tenang.
"Setidaknya, pasti akan memakai jaket untuk menutupi tubuhnya" gumam Vani.
"Dari wajahnya yang hanya terlihat sekilas sih, seperti Gina bukan ya?" batin Vani sudah mulai menerka.
" Iya, sepertinya itu memang Gina. Nggak salah lagi. Tapi ngapain dia di kontrakan Jovan?" tanya Vani pada dirinya sendiri.
Vani sampai tidak bisa tidur karena kepikiran suaminya. Apalagi teleponnya tidak lagi aktif setelah kejadian itu. Membuatnya semakin tidak bisa memejamkan matanya.
★★★★★
Sementara di kota Pesisir, Jovan sedang menegur kelakuan sembrono yang telah Gina perbuat.
"Kamu ngapain sih kayak tadi itu? Kalau sampai Vani curiga sama aku, maka hubungan kita akan semakin sulit, Gina" kata Jovan menyesalkan perbuatan Gina.
"Aku nggak sengaja, sayang. Aku nggak tahu kalau kamu lagi teleponan sama Vee" kata Gina mengelak.
"Aku nggak percaya sama kamu. Sebenarnya apa sih yang ada di dalam pikiran kamu? Nggak hati-hati banget" Jovan masih saja menegur Gina.
Sebenarnya tadi Gina sengaja berbuat seperti itu, dia ingin Vani segera tahu dengan hubungannya yang sudah diperistri juga oleh Jovan.
Niat awalnya yang hanya akan puas sebagai istri sah Jovan meski sebatas nikah siri, sekarang sudah berubah.
__ADS_1
Ginapun juga ingin mempunyai surat nikah yang sah dari negara, meski nanti disana akan tertulis jika dia adalah istri kedua.
"Aku kan sudah bilang kalau aku tuh nggak sengaja, Jo. Kamu memang nggak pernah percaya sama aku. Heran aku sama kamu, selalu mentingin mbak Vani daripada aku" kesal Gina diluapkannya pada sang suami.
"Dia itu sedang hamil, Gina. Aku cuma nggak mau kalau sampai terjadi apa-apa sama kandungannya nanti" kata Jovan sedikit melembut, tak tega juga melihat wajah Gina yang tertekan.
"Aku cuma pingin kamu bersikap adil, Jo. Aku juga istri kamu, istri sah kamu. Setidaknya biarkan mbak Vani tahu tentang kita" ucapan dari bibir Gina sudah bertambah dengan isakan kecil.
Jovan terdiam, pria selalu kalah dengan air mata wanita.
"Oke, aku minta maaf. Aku cuma nggak mau Vani kepikiran, yang dibutuhkan hanya perhatian. Dan aku nggak bisa ngasih itu semua karena jarak kami. Wanita hamil itu butuh lebih banyak kasih sayang, Gina" Jovan menjelaskan dengan hati-hati, berharap Gina akan mengerti.
"Kalau memang hamil akan membuat kamu lebih perhatian sama aku, aku nggak keberatan kok kalau memang nantinya aku hamil anak kamu" kata Gina meminta hal yang sulit.
"Kamu jangan aneh-aneh, Gin. Dari awal hubungan ini tidak memperbolehkan kehadiran anak ditengahnya".
"Jadi, aku nggak akan pernah setuju sama keinginan konyol kamu" kata Jovan sambil berlalu pergi.
Obrolan yang sudah diluar kendali seperti ini memang lebih baik untuk segera diakhiri saja. Daripada nantinya akan merembet kemana-mana.
"Kamu mau kemana Jo? Kita belum selesai bicara. Jangan main ninggalin gitu aja dong" kata Gina berusaha mencegah lelakinya.
Tapi Jovan sudah terlanjur tidak mood kali ini. Diapun segera pergi ke luar rumah dengan mengendarai sepeda motornya.
Pria itu sedang mencari angin, dia sedang menghindar dari pertengkaran dengan istri keduanya yang memang banyak maunya itu.
Jovan memilih duduk sendiri di sebuah cafe, dia memilih secangkir kopi hitam untuk menemani malamnya yang terasa menjengkelkan.
"Kenapa Gina jadi berubah begitu sih" gumamnya.
Diapitnya sebatang rokok, diiringi alunan musik jazz yang dibawakan penyanyi cafe. Sedikit membuat pening dikepalanya mereda.
"Perasaan dulu sebelum menikah, dia itu gadis yang tidak banyak maunya. Kenapa sekarang jadi ribet gitu" Jovan masih saja menggerutu.
"Woi, pak Jovan sendirian saja" seorang anak buahnya datang.
"Iya nih, lagi sumpek" kata Jovan.
"Aku temenin deh pak, kita menghilangkan sumpek bersama" kata orang itu.
Jovan senang karena dia tidak jadi sendirian. Diapun menghabiskan malamnya bersama beberapa rekan kerjanya yang lain, karena Jovan mengundang beberapa rekan kerja yang dekat dengannya untuk bergabung.
"Sekalian saja menghibur diri hingga pagi" kata Jovan dalam hati.
★★★★★
Dia bahkan sengaja izin untuk makan siang bersama wanitanya.
"Kamu kelihatan kurang tidur, Van?" tanya Yudha yang melihat wajah kusam Vani, bahkan wanita itu terlihat beberapa kali menguap.
"Masak sih mas?" tanya Vani malas. Dia tak banyak bersuara siang ini.
"Iya, makanan kamu kenapa nggak disentuh sama sekali? Lihat deh punya Varo dan Vee sudah tinggal sedikit" kata Yudha membujuk, berharap Vani mau memakan makanan yang sengaja dibawanya.
"Aku lagi malas ngapa-ngapain" kata Vani.
Yudha mengleha napas berat, "Kenapa lagi sih?" tanyanya dalam hati.
"Bunda lagi ingat ayah, ya?" tebakan gadis kecil ini sangat tepat.
"Enggak kok, Vee. Bunda cuma lagi ngantuk, semalam nggak bisa bobok" kata Vani.
Heran juga anak sekecil itu mengingat kejadian yang sepertinya remeh.
"Memangnya ayahmu kenapa, Vee?" tanya Yudha penasaran.
"Nggak apa-apa sih, pa. Hehe. Semalam Vee kan telepon ayah. Mungkin bunda masih kangen ya, hehehe" tawa dari gadis itu terdengar lucu, padahal niatnya ingin mengejek sang bunda.
Vani hanya mengkode pada anak bungsunya itu untuk diam. Tapi rupanya dia tidak mengerti.
Bibirnya masih saja bercerita dengan lugasnya.
"Kamu teleponnya cuma sebentar sama ayahmu, Vee?" tanya Yudha.
"He em. Ayah dimasuki cewek, bunda nggak suka" kata Vee berusaha menjelaskan kejadian semalam.
"Dimasuki cewek gimana sih maksudnya, Vee?" tanya Yudha heran dengan bahasa balita.
"Maksudnya gimana sih, Van?" tanya Yudha.
Vani hanya menggelengkan kepalanya, berharap Yudha tidak akan membahas kejadian ini sekarang. Karena masih ada kedua anaknya yang belum mengerti masalah orang dewasa.
Beruntung Yudha mengerti, "Ayo makanannya cepat dihabiskan ya, nanti kalian papa ajak mandi bola" kata Yudha mengalihkan pembicaraan Vee.
Tentu saja Vee langsung setuju, dia sudah melupakan obrolannya yang tadi.
__ADS_1
"Vee sudah selesai loh, pa. Mandi bolanya sekarang, kan?" tanya Vee bersemangat.
"Nanti malam, Vee. Kalau sekarang kan papa Yudha masih harus kembali ke kantor. Papa kan masih kerja" kata Yudha.
"Yaah, Vee kira sekarang loh pa" sesal Vee yang sudah salah paham.
"Pokoknya nanti malam papa janji deh, kita mandi bola. Nanti papa jemput kalian setelah Maghrib, ya" kata Yudha, dia membantu membereskan meja makan di rumah Vani.
"Janji ya, pa" kata Vee mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya, janji" kata Yudha menautkan jari kelingking mereka.
"Asik, Papa Yudha baik deh" kata Vee.
"Kamu jangan terlalu manjain mereka, mas. Aku nggak suka" kata Vani dari dapur, dia sedang mencuci piring bekas makan mereka barusan.
"Nggak apa-apa. Aku senang kok" kata Yudha.
"Papa sekarang pergi dulu ya, Vee. Setelah ini kamu sama kak Varo langsung tidur siang, biar nanti malam kalian bisa main sepuasnya" kata Yudha.
"Aku balik ke kantor ya, Van. Nanti aku jemput kalian. Kamu jangan lupa, siap-siap setelah solat Maghrib ya" kata Yudha.
Dia segera beranjak, kalau berlama-lama nanti dia bisa lupa waktu.
★★★★★
Pukul setengah tujuh malam, Vani dan kedua anaknya sudah siap. Mereka akan segera dijemput oleh Yudha.
"Asik, papa Yudha sudah datang" wajah gembira Vee melihat kedatangan Yudha.
"Kalian sudah siap ya?" tanya Yudha berbasa-basi. Dia tak bisa menemukan senyum Vani seperti biasanya.
"Ayo berangkat, pa" ajak Vee yang sudah minta digendong.
"Iya, ayo" kata Yudha membukakan pintu mobil untuk Vani terlebih dahulu.
Setelahnya, dia menyuruh Varo dan Vee duduk di bangku belakang.
Yudha melajukan mobilnya menuju mall terdekat. Dia akan menggali informasi dari Vani. Tentang apa yang membuatnya sedih begitu.
Sampai di mall, segera Yudha menyewakan arena permainan anak untuk kedua anak Vani. Sementara dia akan mengajak Vani berbincang di meja yang sudah disediakan untuk para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain.
Yudha memesankan segelas milk shake coklat untuk Vani, sementara dia sendiri memilih kopi.
"Kamu kenapa sih, Van?" tanya Yudha membuka obrolannya.
"Nggak apa-apa, mas. Kurang tidur saja sepertinya" kata Vani.
"Kamu bukan tipe orang yang pintar untuk berbohong. Lebih baik kamu cerita sama aku, ada apa?" Yudha masih mendesak agar Vani mau berterus terang padanya.
Didesak seperti itu malah membuat hati Vani semakin mencelos. Bahkan dia sudah sedikit terisak.
"Jangan nangis dong, Van. Malu dilihat orang. Nanti dikiranya aku ngapa-ngapain kamu" kata Yudha berusaha menenangkan Vani.
"Semalam aku lihat Gina ada sama Jovan dalam satu rumah, mas. Gina bahkan memakai baju yang sangat terbuka kalau dibilang hanya seorang tamu" kata Vani menjelaskan, dia berusaha untuk tidak menangis di tempat umum begini.
Yudha sedikit terkejut, "Pasti perasaanmu sedang terguncang, Van" dalam hati Yudha sangat menyayangkan perbuatan Jovan.
"Terus, apa yang ada dalam fikiran kamu sekarang?" tanya Yudha.
"Aku takut mereka berdua ada hubungan yang lebih dari sekedar teman di belakangku, mas" kata Vani. Masih berusaha tenang.
Yudha terdiam, sedikit bingung harus bagaimana. Yang jelas, dia sedang mengutuk perbuatan Jovan karena sudah membuat Vani bersedih.
"Kamu jangan berfikiran buruk dulu, ya. Siapa tahu memang alasan Jovan memang benar" kata Yudha yang tak tega melihat ekspresi wajah Vani malam ini.
"Aku sudah berusaha, mas. Apalagi akhir-akhir ini Jovan sedikit sulit dihubungi".
"Mas Yudha tahu sendiri saat ayah dan ibuku meninggal waktu itu, dia sama sekali tak bisa dihubungi" kata Vani sedikit ragu. Berharap semua itu hanya kebetulan saja.
"Sudahlah Van. Kamu harus lebih mementingkan kehamilan kamu. Ingat kalau kamu harus menjaga kedua malaikat kecilmu yang akan segera lahir beberapa bulan lagi" kata Yudha.
"Aku sudah berusaha, mas. Tapi sulit, kenapa bayangan Jovan dan Gina selalu muncul di otakku" keluh Vani.
"Sudahlah, berusahalah untuk melupakan itu semua. Ingat kehamilan kamu, urusan lainnya biar nanti diselesaikan, ya" kata Yudha.
Sebenarnya dia geram juga, kenapa Jovan bisa sebodoh itu. Awas saja, Yudha akan berbuat sesuatu untuk mereka.
.
.
.
.
__ADS_1