
Sambil mandi, Vani berpikir. "Benar kan nggak terjadi apa-apa semalam? Tapi kenapa rasanya aneh ya?" gumam Vani sambil menyabuni seluruh tubuhnya.
"Nggak mungkinlah mas Yudha tega melakukan hal yang aneh-aneh sama aku. Pasti semua rasa sakit ini cuma gara-gara aku mimpi yang enggak-enggak nih semalam" gerutu Vani dengan tangan yang masih sibuk memakai shamponya.
"Haduh, semoga saja aku nggak mengigau yang bukan-bukan. Aku kan malu kalau sampai ketahuan sedang mimpiin dia" kata Vani dalam hati sambil mengguyur seluruh tubuhnya dengan air hangat dari shower.
Cukup lama Vani memanjakan dirinya di dalam kamar mandi. Seluruh tubuhnya terasa capek. Mungkin karena seharian kemarin jalan-jalan hingga lupa waktu.
"Bunda, ayo makan. Vee lapar" rengek Vee saat mengetahui bundanya baru keluar dari kamar mandi.
Melihat ke arah jam dinding, Vani terkejut juga karena memang sudah terlalu siang untuk menikmati sarapan.
"Uwah, sudah jam sepuluh ya. Sebentar bunda mau ganti baju ya. Kalau Vee sudah lapar, bisa keluar dulu deh buat cari makan. Oh, sebentar biar bunda telepon papa Yudha dulu ya, buat nganterin kalian sarapan" kata Vani yang kebingungan.
"Hallo mas, bisa minta tolong ajak anak-anak makan duluan nggak? Kasian mereka lapar, aku nanti nyusul deh. Mau ganti baju sebentar"
Kata Vani setelah Yudha mengangkat sambungan teleponnya.
"Iya, aku ke kamar kamu sekarang"
kata Yudha.
"Kamu sudah mandi apa belum sih?"
"Sudah dong, kamu tuh mandinya kelamaan"
kata Yudha yang ternyata sudah berada di ambang pintu.
"Aku minta tolong temani anak-anak makan ya mas, kelaparan tuh mereka" kata Vani yang masih mengenakan bathrobe dengan handuk melilit di kepalanya.
"You are so sexy, baby" goda Yudha sambil mengerlingkan matanya.
"Haduh, sudah jangan lihat yang lainnya ya. Aku minta tolong banget nih sama kamu, nanti aku nyusul ke bawah ya" kata Vani yang menggandeng tangan kedua anaknya.
"Tumben kamu nggak langsung minta gendong sama papa Yudha sih Vee?" tanya Yudha yang mendapati Vee nurut sekali.
"Lapar pa" lirih Vee.
Yudha tertawa, lalu mengambil Vee dari tangan Vani untuk segera digendongnya.
"Ayo kita makan, kamu mau makan apa?" tanya Yudha.
"Ayam goreng, pa" jawab Vee.
Sebelum meninggalkan Vani, Yudha masih sempat menggandeng tangan Varo dengan masih menggendong Vee.
__ADS_1
"Aku pergi duluan ya, Van. Kamu jangan kelamaan dandannya. Kita tungguin di restoran bawah ya" kata Yudha.
"Iya" jawab Vani singkat.
Kedua suster mengikuti Yudha dari belakang. Vani sendiri langsung mengganti baju dan memakai sedikit make up untuk menghindari agar wajahnya tidak terlihat pucat.
"Kenapa Jovan nggak kasih kabar sama sekali ya?" gumam Vani saat mengecek ponselnya.
Saat berusaha menghubunginyapun, ternyata nomer Jovan sedang sibuk.
"Mungkin memang dia sedang sibuk dengan pekerjaannya" kata Vani yang memasukkan ponselnya ke dalam tas slempang kecil.
Selanjutnya, dia segera menyusul kedua anaknya yang sedang sarapan.
★★★★★
Hari ini dilalui tanpa drama berlebihan. Yudha mengantarkan Vani dan kedua anaknya dengan selamat sampai dirumahnya tepat selepas Isyak. Vee dan Varo sudah tertidur saat diperjalanan pulang.
"Ini hadiah buat ayah dan ibu" kata Vani memberi begitu banyak kantong belanjaan pada ibunya.
"Banyak banget Van?" tanya ibunya.
"Nggak apa-apa bu, sekali-sekali Vani kasih hadian buat ibu dan ayah, ya" kata Vani.
Ibunya hanya tersenyum, sebenarnya tidak terlalu suka jika Vani berhubungan terlalu dekat dengan pria selain suaminya.
Dalam kamarnya Vani sudah memilah hadiah yang akan Vani berikan pada Tita besok. Sekalian dia akan bercerita banyak hal pada sahabatnya itu.
"Kok Jovan belum mengabari juga, ya?" gumam Vani.
Daripada penasaran, diapun mengirim pesan pada suaminya.
"Lagi ngapain, yah?"
Melihat pesannya sudah terkirim dari beberapa menit yang lalu, tapi belum juga terbaca.
"Maaf, tadi sedang keluar. Nggak bawa hape, kamu belum tidur, bun?"
Akhirnya pesan Vani dibalas oleh Jovan setelah satu jam menunggu.
"Kemana saja kok nggak ngasih kabar dua hari ini, yah? Sibuk banget ya?"
"Iya, bun. Capek banget aku"
"Yasudah, aku juga mau istirahat deh. Kamu hati-hati disana ya".
__ADS_1
Pesan terakhir dari Vani yang sudah tidak lagi dibalas oleh Jovan.
Sementara disana, di kota Pesisir, Jovan sebenarnya sedang sibuk mencari waktu luang untuk sekedar melakukan panggilan video pada kedua anaknya.
Semenjak Jovan sudah menafkahi secara batin pada Gina, istrinya itu sangat sulit untuk dijauhi. Selalu ada saja alasan untuk meminta Jovan agar mau menemaninya.
★★★★★
Pagi ini setelah Vani memastikan kedua anaknya masuk ke sekolahnya, diapun mencari sesosok manusia mini yang juga sedang mengantar anaknya.
"Tita, sini" kata Vani melambaikan tangan saat melihat Tita baru saja melepas sang anak untuk sekolah.
"Eh, hai.." Tita menghampiri Vani.
"Ayo duduk dulu" ajak Vani menuju sebuah kursi tunggu.
"Ada apa? Kemarin nggak masuk sekolah ya? Kok nggak kelihatan sih?" tanya Tita.
"Nih, aku bawain oleh-oleh buat kamu" kata Vani menyerahkan satu kresek besar hadiah untuk Tita.
"Jadi, kemarin aku baru pulang dari jalan-jalan sama anak-anak dan mas Yudha" kata Vani mulai bercerita.
"Hah? Mas Yudha? Kok bisa?" tanya Tita heran.
"Iya, jadi dia ngajak kita liburan ke Jogja. Rencananya mau balik Minggu malam, ternyata aku ketiduran tau nggak" kata Vani.
"Kecapekan ya?" tanya Tita.
"Agak aneh sih, Ta. Aku kan ada di kamar yang berbeda sama dia, tapi waktu aku ketiduran malam itu, kenapa aku nggak ingat ya kalau semalaman ternyata aku tidur di kamarnya" kata Vani.
"Bentar deh, maksudnya kamu tidur sama Yudha gitu?" tanya Tita.
" Aku nggak ingat, Ta. Cuma yang terjadi, pagi harinya aku bangun dikamar dia. Dan semalaman, aku mimpi dia" kata Vani tanpa malu, dia memang sangat terbuka dengan sahabatnya yang satu ini.
"Aneh banget ya? Tapi ya semoga saja nggak terjadi apa-apa ya, Van. Semoga kamu selalu dilindungi sama Tuhan" kata Tita.
"Iya, makasih ya Tita. Kamu memang teman terbaikku" kata Vani sambil memeluk sahabatnya, Tita.
"By the way, makasih banget loh ya oleh-olehnya. Aku suka banget, dan Hildan juga pasti senang sama makanannya" kata Tita.
"Iya, sama-sama" kata Vani.
"Kita mau tetap disini atau pulang nih?" tanya Tita.
"Aku main ke rumah kamu ya, boleh? Suntuk banget aku dirumah, pasti orang tua aku punya kegiatan lainnya. Mereka kan orang sibuk" kata Vani terkekeh.
__ADS_1
"Hehe, iya. Boleh, ayo ke rumahku. Aku masakin yang enak-enak deh buat Vani yang lagi galau" kata Tita menggoda Vani.
Keduanya terkekeh dengan cara mereka sendiri.