Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
sabar


__ADS_3

Kutunggu di dalam mobil.✓


Gina masih duduk didalam mobilnya, tangannya masih asyik mengetikkan beberapa deret kata-kata yang ditujukan untuk Jovan.


Waktuku nggak banyak.✓


Ancaman yang sukses membuat Jovan datang menghampirinya yang masih menunggu di dalam mobil dengan wajah ditekuk.


Jovan masuk ke dalam mobil Gina setelah memastikan keadaan aman.


"Ada apa?" tanya Jovan yang tak mengerti jalan pikiran Gina.


"Aku maunya kamu bersikap adil, kenapa cuma nganterin aku ke mobil saja nggak kamu lakuin? Aku kan juga istri kamu, Jo" kata Gina dengan wajah dibuat sesedih mungkin.


"Kamu yang ngerti situasi dong. Vani itu sedang berkabung. Dia sedang sangat bersedih. Aku nggak tega ninggalin dia sendiri" Jovan mencoba menjelaskan.


"Tapi aku juga istri kamu, Jo. Apa perlu aku katakan sama mbak Vani supaya kamu bisa bersikap adil?" tanya Gina yang masih saja tak terima.


"Kamu yang paksa aku, Gina. Apa perlu aku akhiri sekarang juga? Supaya kamu ngerti kalau Vani sedang sedih, aku cuma takut dia kenapa-kenapa. Dia juga sedang hamil sekarang" kata Jovan mengancam istri mudanya.


Gina menatap tajam pada Jovan, berani dia sekarang mengancamnya.


"Kamu nggak bisa gitu dong, aku juga butuh perhatian dari kamu. Aku bakalan nekat kasih tahu mbak Vani kalau kamu nggak mau bersikap adil" keukeh Gina dengan keinginannya.


Jovan memijit pangkal hidungnya, lama-lama seperti ini membuatnya menyesal telah termakan rayuan Gina untuk menikahinya.


"Dulu kamu bilang kalau kamu nggak akan gangguin Vani, sebelum aku mau nikahin kamu. Tapi kenapa sekarang kamu malah sedikit-sedikit ngancam aku. Lama-lama pusing aku" kata Jovan tak sabaran.


"Mau kamu tuh apa sih?" tanya Jovan.


"Aku cuma mau kamu tuh adil, aku kan juga istri kamu. Aku sudah menyerahkan semuanya sama kamu. Jadi, ini balasan kamu?" tanya Gina yang sudah berderai air mata.


"Tuhan, mengapa wanita sangat suka menangis? Dan kenapa selalu pria yang disalahkan atas tumpahnya air mata wanita?" geram Jovan dalam hati.


Melihat wanita menangis sungguh membuat hatinya goyah.


"Maafin aku, tapi memang Vani sedang sangat terpukul sekarang. Coba kalau kamu ada di posisinya? Dia kehilangan orang tuanya, saat aku sedang tidak berada disisinya. Dan sekarang, masih beruntung dia mau maafin aku, Gin. Aku sudah jahat banget sama dia".


"Seharusnya aku yang bantuin dia dari awal saat mengurus jenazah mertuaku, bukannya Yudha. Laki-laki lain yang semudah pasti ada maksud tersembunyi dari segala kebaikannya" akhirnya Jovan bisa mengutarakan kegundahan hatinya.


"Aku cuma ingin jadi ayah yang baik buat anak-anakku, Gina. Untuk calon bayiku yang ada diperut Vani. Aku tidak ingin kesedihan yang mendalam bisa berpengaruh pada kehamilannya" kata Jovan memberi peringatan kepada Gina.


Berharap wanita itu mau mengerti.


"Oke, kamu selesaikan urusan kamu disini sama mbak Vani. Tapi ingat, jangan lupa kalau kamu juga punya aku yang juga butuh perhatian dari kamu" kata Gina yang sudah melunak.

__ADS_1


"Iya, nanti aku pasti juga temuin kamu" kata Jovan dengan mata yang memandang sendu pada manik berwarna hazel milik Gina.


"Kamu hati-hati ya" kata Jovan mengecup singkat kening Gina sebelum keluar dari mobil.


Tanpa menunggu Gina pergi, Jovan segera kembali. Masuk kedalam rumah agar tak ada yang curiga.


★★★★★


"Kakung sama Uti sudah di surga ya bun?" tanya Vee malam ini. Saat semua orang sudah pulang setelah acara tahlilan selesai digelar.


Vani, Jovan, Varo, Vee dan kedua orang tua Jovan sedang duduk lesehan diatas karpet didepan TV.


"Iya, sayang. Doain supaya mereka tenang di surganya Allah ya, nak. Karena doa anak yang soleh dan soleha akan langsung dikabulkan sama Allah" kata Vani sambil membelai rambut Vee yang sedang menyandarkan kepalanya dipangkuan Vani.


"Anak soleh itu apa, bun?" tanya Vee yang belum mengerti.


"Anak soleh itu anak yang baik, selalu berada di jalan Allah dan sayang sama semua makhluk Allah" kata Vani memberi penjelasan ringan.


"Vee anak yang soleh ya bun?" tanya Vee.


"Kalau Vee itu soleha, karena anak cewek. Kalau kak Varo itu soleh, karena anak cowok" kata Vani.


"Sudah ya, kalian berdua tidur dulu. Nggak baik anak kecil begadang. Kamu juga istirahat ya, Vani" kata ibu Jovan.


"Ayo kita tidur, sayang" ajak Vani pada kedua anaknya.


Jovan mengekor pada Vani. Sejak tadi sikap Vani masih belum bersahabat pada Jovan. Vani masih merajuk.


"Maafin aku ya, bun. Kamu jangan mendiamkan aku seperti ini. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" tanya Jovan yang tidak tahan dengan diamnya Vani.


"Aku mau istirahat dulu, kamu juga istirahat ya" kata Vani yang sudah mencari posisi nyaman diatas ranjang.


Jovan menyerah malam ini, biarlah besok dia akan berusaha lagi.


Melihat Vani yang sudah tidur membelakanginya, Jovan hanya bisa membantu menyelimuti Vani dan kedua anaknya.


Vani masih terisak dalam tidurnya, dia terlalu kecewa pada Jovan. Dan mengingat ucapan Gina yang mengetahui berita kematian orang tuanya melalui hape Jovan semaki membuat hati Vani tak karuan.


Rasa tidak percaya pada suaminya mulai muncul dalam hatinya.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku, yah? Kenapa aku merasa ada kebohongan yang sedang kami sembunyikan?" batin Vani masih berkelana.


Entah sampai kapan pikirannya menerawang, hingga dia tak tahu kapan pastinya dia tertidur.


★★★★★

__ADS_1


"Bisa nggak kamu kasih aku saran, bagaimana caranya supaya Vani bisa periksa denganku, Bar?" Yudha meminta saran pada Akbar.


"Sudah terlalu lama aku nunggu, Bar. Aku ingin segera tahu apakah anak dalam kandungan Vani itu benar anakku. Tapi bagaimana caranya, Bar?" tanya Yudha yang akhir-akhir ini tidak fokus pada pekerjaannya.


Sudah satu minggu dari kematian orang tua Vani, tapi masih belum ada cara yang Yudha temukan untuk mengajak Vani agar mau periksa kandungan bersamanya.


"Apalagi si bocah tengil Jovan itu masih saja belum kembali bekerja. Berapa lama sih dia dapat cuti dari pekerjaannya? Bar, karyawan kita dapat cuti berapa hari sih kalau orang tua mereka meninggal?" tanya Yudha lagi.


Dia cukup serewet saat hatinya tak tenang.


"Kalau orang tua kandung atau mertua seperti yang sedang pak Jovan alami ini, karyawan kita dapat cuti satu Minggu, pak" jawab Akbar.


"Ouwh, berarti besok atau lusa bisa dipastikan masa cuti bocah sialan itu sudah berakhir ya, Bar? Aku sudah nggak sabar mau melakukan tes DNA pada kandungan Vani, Bar" kata Yudha yang sudah menerbitkan senyumnya.


"Iya, pak. Semoga pak Jovan tidak meminta masa liburnya ditambah ya pak" kata Akbar.


Kembali Yudha memicingkan matanya saat mendengar Akbar mengatakan hal itu.


"Jangan dong, jangan sampai itu terjadi. Aku bisa mati penasaran kalau bocah tengil itu berencana menambah masa liburnya" kata Yudha.


"Menurut kamu, kira-kira anak itu anakku atau bukan, Bar?" tanya Yudha.


Akbar bingung harus menjawab seperti apa. Pertanyaan itu terlalu sulit untuk Akbar jawab karena dia sendiri masih menjomblo. Dia tidak tahu hal-hal semacam ini.


"Saya tidak tahu, pak" akhirnya Akbar menjawab sebisanya.


"Kamu itu tahunya apa sih? Sudah, pergi saja sana. Nggak ada gunanya aku tanya sama kamu. Aku tuh kangen sama Vani, Bar. Tapi lagi-lagi bocah tengil itu pasti menghalangi keinginanku untuk menemui istrinya" kembali Yudha menggerutu.


"Tentu saja dihalangi, pak. Kamu buka siapa-siapanya bu Vani" kata Akbar tentu dalam hati saja. Mana berani dia mengatakan itu.


"Tuhan, aku kangen banget sama istri orang. Hahahaha" tawa mengenaskan keluar dari bibir Yudha.


Tapi untuk mencari hiburan di club malam, tidak pernah Yudha lakukan lagi belakangan ini.


Akbar hanya bisa mendesah pasrah. Tidak banyak yang bisa dia lakukan untuk membantu bosnya yang sedang galau seperti ini.


Selain mendengarkan unek-unek dan menebalkan telinga, serta membesarkan hati. Karena tidak jarang Yudha akan melampiaskan kekesalannya dengan memarahi Akbar.


Sabar ya mas Akbar.....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2