Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Rencana hidup baru


__ADS_3

Masih bersama bapak mertuanya, Jovan belum bisa keluar dari sana. Sepertinya masih ada yang ingin bapaknya sampaikan.


"Tapi jumlah itu terlalu banyak untuk saya, pak. Tidak pantas sepertinya kalau saya harus mengambilnya" Jovan masih ingin menolaknya.


"Tolonglah nak, selama ini bapak tahu kalau hubungan kalian memang tak semulus yang Gina katakan. Tapi bapak yakin kamu bukan orang yang materialistis, hanya keadaan yang memaksa kamu menerima semua permintaan Gina" kata ayah Gina.


"Darimana beliau tahu?" batin Jovan, tapi dia hanya bisa terdiam.


"Terserah mau kamu apakan uang itu, bapak hanya tak mau setelah kepergian Gina dan bapak nanti, keluarga bapak akan berebut


harta warisan" kata ayah Gina.


"Sebenarnya, istri bapak ini adalah ibu sambung Gina. Semuanya berjalan dengan sangat baik sampai hari ini. Tapi sebenarnya bapak tahu kalau keluarga istri bapak sebenarnya hanya mengincar harta bapak" akhirnya Jovan diberitahu cerita dari keluarga Gina.


"Ibu Gina meninggal saat melahirkannya, dan dia merasa jika dialah yang menyebabkan ibunya meninggal. Dan karena itu juga Gina trauma dengan kelahiran. Dia takut meninggal seperti ibunya jika dia harus punya anak" kata ayah Gina.


"Oh, jadi karena itu Gina tidak mau punya anak ya, pak?" tanya Jovan.


"Ya, bapak sangat menyesal karena baru tahu rasa trauma Gina saat dia sudah terobsesi untuk bisa mendapatkan hatimu. Dan terobsesi untuk bisa menjadi istrimu, Jovan" kata ayah Gina.


"Lantas, apa hubungannya dengan saya yang harus mendapatkan semua milik Gina, pak? Biarlah keluarga bapak sendiri yang mendapatkannya" kata Jovan.


"Tidak nak. Bapak tahu semua perbuatan Gina. Dia yang menyuruh orang untuk menghabisi kedua orang tua istrimu, dia juga yang sudah berniat mencelakai calon anakmu" kata ayah Gina.


"Darimana bapak tahu?" tanya Jovan.


"Bapak tahu siapa orang suruhan Gina. Bapak sendiri yang menanyakan hal itu padanya" kata ayah Gina.


Jovan sedikit terkejut, "Jadi semua apa yang Yudha bilang bukanlah gurauan saja?" gumamnya.


Dia jadi menyesal karena telah berprasangka buruk pada rivalnya itu.


"Maafkanlah semua kelakuan buruk anak bapak ya, nak. Bagaimanapun juga, dia melakukan semua itu karena rasa cintanya yang terlalu besar padamu" kata ayah Gina.


"Saya akan usahakan untuk memaafkannya, pak" kata Jovan.


"Anggaplah semua yang kamu terima itu adalah bentuk tanggung jawab dari kami selaku keluarga Gina untuk Vani, istrimu yang telah menerima semua perlakuan buruk dari anak saya" kata ayah Gina.


Ayah Gina menyuruh seseorang untuk memasuki ruangan itu, yang ternyata adalah kuasa hukum dari keluarganya.


"Pak , seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Bahwa semua harta warisan yang sudah saya alokasikan untuk Gina, akan saya berikan untuk Jovan sepeninggal anak saya" kata ayah Gina pada kuasa hukumnya.


"Apa bapak sudah menyiapkan semua berkas yang harus saya tandatangani?" tanya Ayah Gina.


"Sudah pak. Semua sudah saya siapkan" kata kuasa hukumnya.


Ayah Gina membaca surat itu untuk sesaat, dan langsung saja menandatanganinya.


"Kamu tandatangan disini ya, pak Jovan" kata kuasa hukum itu.


Jovan hanya bisa pasrah, mendapat harta yang begitu banyak dari mendiang istrinya. Dia tak tahu harus berbuat apa.


"Secepatnya akan kami konfirmasikan ke pihak bank agar mentransfer uang itu" kata kuasa hukum ayah Gina.


"Karena urusan saya sudah selesai, saya mohon pamit ya pak. Dan saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya ibu Gina" kata kuasa hukum itu.

__ADS_1


"Terimakasih pak" kata Jovan dan ayah Gina, saling berjabat tangan sebelum sama-sama keluar dari ruangan itu.


Sudah terlalu lama Jovan berada di dalam sana. Tidak mau ada yang curiga dengan semua yang telah dia lakukan.


Sepanjang proses pemakaman Gina, pikiran Jovan terpecah dengan rencana masa depannya.


Dan dia sudah tidak sabar untuk berunding dengan istrinya dengan rencanannya itu.


★★★★★


Vani sudah cukup sehat untuk meninggalkan rumah sakit. Dia sudah diperbolehkan pulang meski harus meninggalkan sang anak di ruang NICU sendirian.


Tapi tentu tak dibiarkannya sang anak sendirian. Selalu ada yang bertugas menjaganya.


Terutama keluarga Jovan yang selalu antusias dengan kehadiran sang anak.


"Kamu lama sekali ijin kerjanya, yah? Apa tidak apa-apa?" tanya Vani sambil memerah ASI nya.


Rencananya hari ini Jovan akan mengantarkan produksi ASI untuk sang buah hati.


"Aku resign dari kerjaanku di kota Pesisir, bun" perkataan Jovan tentu membuat Vani terkejut.


"Kenapa?" tanya Vani heran.


"Aku nggak mau ninggalin keluargaku untuk kerja di luar kota" kata Jovan dengan santainya.


"Aku ingin setelah anak kita sehat dan boleh keluar dari rumah sakit, kita sekeluarga pindah saja dari kota ini" kata Jovan.


"Terlalu banyak kenangan buruk di kota ini, Bun. Aku ingin membuka lembaran baru di kota lain yang lebih baik untuk masa depan anak-anak kita" rencana Jovan sudah bulat.


"Kamu setuju kan bun?" tanya Jovan.


"Lalu, bagaimana dengan rumah ini yah?" tanya Vani.


"Bisa dikontrakkan, atau kalau kamu mau jual saja" saran Jovan.


"Jangan dijual, yah. Rumah ini peninggalan orang tuaku. Sayang kalau harus dijual" kata Vani.


"Biarlah adik kamu yang menempati bersama istrinya" kata Vani.


"Baiklah, terserah kamu bun" kata Jovan.


"Tapi, aku harus mengabari mas Yudha kalau kita pindah, yah. Aku takut dia kehilangan jejak, dan jika anakku yang dibawanya sudah sehat, dia tahu harus kemana untuk mengantarkannya kembali" kata Vani yang masih berharap Yudha mau mengembalikan anaknya pulang.


Jovan terdiam, tak akan dia mengatakan kalau anaknya tidak akan pernah kembali padanya.


Biarlah takdir yang mempertemukan mereka kembali suatu saat nanti.


"Iya, kami hubungi saja Yudha. Nanti, kita beritahu alamat rumah kita di kota yang baru" kata Jovan.


"Kamu sudah memilih dimana kota yang akan kita tuju nanti, yah?" tanya Vani.


"Sudah. Aku ingin kita sekeluarga pindah ke Malang saja, bun. Tidak jauh dari kota Dingin ini. Tapi disana, aku harap bisa menjadi tujuan hidup baru untuk keluarga kita" kata Jovan.


Vani hanya bisa menyetujui keinginan suaminya. Diapun juga ingin membuka lembaran baru setelah semua kejadian buruk yang menimpa keluarganya.

__ADS_1


"Semoga keputusan ini adalah yang terbaik untuk keluarga kita ya, yah" kata Vani yang telah selesai dengan aktivitasnya.


"Iya, Bun" kata Jovan sambil memeluk sayang istrinya.


★★★★★


Alina Jovanca Putri


Anak ketiga dari pasangan Jovan dan Vani itu sudah bisa keluar dari rumah sakit setelah lebih dari satu bulan berada dibawah pengawasan dokter anak.


Tasyakuran kecil-kecilan diadakan di kediaman Vani untuk menyambut datangnya sang putri, sekalian mengadakan acara Aqiqah untuknya.


"Alina, semoga secepatnya kamu bisa berkumpul dengan saudara kembarmu ya nak" gumam Vani yang masih terus mengharapkan jika kedua anak kembarnya bisa berkumpul.


Malam itu, selepas acara selesai. Pasangan Jovan dan Vani langsung saja memberitahukan kepada keluarganya untuk mewujudkan rencana mereka untuk melanjutkan hidup baru di Kota Malang.


"Kenapa harus pindah keluar kota sih, Jo? Tetaplah di kota ini meski harus di rumah yang baru" kata ibu Jovan yang tak ingin anaknya pergi.


"Jovan ingin membuka lembaran baru bu, biarlah rumah ini ditempati Hamza dan Hamzi saja. Agar mereka bisa belajar hidup mandiri" kata Jovan dengan alasan sebisanya.


Orang tuanyapun tak bisa mencegah keinginan mereka untuk pindah. Hanya bisa memberi saran saja.


"Apa kamu sudah punya rumah disana?" tanya ibu Jovan.


"Sudah bu. Jovan sudah membeli sebuah rumah di Kota Malang. Tak besar memang, tapi cukup nyaman untuk tempat tinggal kami" kata Jovan.


Rupanya dia sudah mempersiapkan semuanya, bahkan sebuah rumah yang lengkap dengan isinya sudah dia siapkan.


"Bagaimana dengan Vee dan Varo?" tanya ibunya lagi.


"Varo sudah masuk SD tahun ini, rumah kami dekat dengan gedung sekolah bu. Ada satu yayasan yang menaungi SD hingga SMA disana. Jovan bisa menyekolahkan Varo dan Vee di tempat itu" kata Jovan.


"Baiklah kalau memang tekad kalian sudah bulat. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian" akhirnya ibu Jovan harus mengikhlaskan rencana masa depan Jovan dan keluarganya.


Yang irang tua Jovan tahu adalah Vani sangat terpukul dengan kepergian orang tuanya. Dan pasti karena itu Jovan dan keluarganya ingin pindah.


Tapi yang Jovan rasakan sebenarnya adalah, dia ingin membuka lembaran baru dan keluar dari kota dimana Vani bertemu lagi dengan Yudha. Dan dia juga sudah mengkhianati Vani dengan menikahi Gina.


"Kapan kalian akan pindah?" tanya ibu Jovan.


"Lusa bu. Kami masih harus packing dulu, dan mengurus surat pindah sekolah untuk Vee. Semoga semuanya visa berjalan lancar" kata Jovan.


"Biar Hamza dan Hamzi mambantu kalian disini" kata ibu Jovan.


Hamza dan Hamzi hanya mengangguk menyetujui. Mereka akan membantu kakaknya mempersiapkan kepindahannya.


"Iya, Bu" kata Jovan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2