
Yudha membuka ponselnya, dia akan menghubungi Vani agar wanita itu tidak terus saja panik.
"Kamu kenapa bisa sampai disini Vee?" tanya Yudha sambil terus berusaha menghubungi Vani.
"Kakek panggil Vee, kakek baik. Kakek cerita bagus" kata Vee menjelaskan, gadis empat tahun itu sudah sangat fasih melafalkan huruf 'R'.
"Lain kali ijin dulu kalau mau pergi ya, coba kalau kakek itu jahat, kamu nggak bakal dibolehin ketemu lagi sama bunda. Bunda kamu jadi sedih dan nangis" kata Yudha.
"Iya pa, maaf" kata Vee sambil menunduk.
..."*Hallo Van"...
......"(....)"......
......"Iya, waalaikumsalam. Vee sudah ketemu, lagi sama aku sekarang"......
..."(....)"...
..."iya, kamu jangan nangis lagi ya. Sekarang kamu balik lagi ke toko. Sebentar lagi aku bawa Vee kesana"...
..."(...)"...
..."Waalaikumsalam*"...
Yudha mematikan ponselnya, kembali dia mengamati gadis kecil berkuncir kuda dihadapannya ini.
"Papa sayang sama kamu Vee, jangan bikin orang khawatir karena kamu yang pergi nggak bilang-bilang ya" kata Yudha memberi pengertian pada Vee dengan lembut.
"Iya pa, Vee minta maaf. Tadi Vee cuma kasihan sama kakek, terus Vee ikut kakek. Kakek cerita bagus, Vee suka" katanya lagi.
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi ya sayang" kata Yudha mencium lembut kening Vee.
"Iya pa, janji" kata gadis kecil itu sembari menautkan kelingkingnya pada kelingking Yudha.
"Ayo ke bunda" kata Yudha.
"Vee mau gendong" kata Vee manja.
Yudha tersenyum, pria itu merentangkan kedua tangannya agar Vee bisa dengan mudah naik ke dalam gendongannya.
Mereka berdua sungguh seperti ayah dan anak yang terlihat sangat kompak.
"Pa, kakek bilang Vee nanti jadi orang besar. Vee jadi gendut ya pa?" tanya Vee yang sedang digendong Yudha.
"Iya, sekarang saja kamu sudah berat. Apalagi kalau sudah besar" kata Yudha.
__ADS_1
"Pa, kenapa rambut Vee keriwil ya? punya kakak enggak, kakek bilang rambut Vee bagus pa" kata Vee lagi.
"Rambut keriwil begini dibilang bagus" kata Yudha menggoda Vee.
"Kakek bilang apa lagi?" tanya Yudha, penasaran juga dia.
"Kata kakek, dia mau bantuin Vee kalau lagi kesusahan nanti. Kesusahan itu apa sih pa?" tanya bocah itu polos.
"Kesusahan itu apa ya...." kata Yudha berpikir, dia merangkai kata yang tepat supaya bosah itu bisa memahaminya.
"Kesusahan itu kalau kamu merasa tidak nyaman sama keadaan sekitar kamu. Nanti deh kalau sudah besar kamu pasti ngerti dengan sendirinya" kata Yudha.
"Pa, kata kakek ada penyihir. Penyihir itu apa pa?" tanya Vee lagi.
"Haduh, papa pusing dengerin kamu tanya melulu. Kamu mau jajan nggak?" Yudha tidak tahan karena Vee yang cerewet.
"Mau pa, tapi bunda bilang nggak boleh banyak-banyak jajan. Takut batuk" ucap Vee menirukan, bundanya.
"Yasudah, kita ke toko saja ya. Kamu jajan disana saja. Biar bunda kamu nggak marah" kata Yudha.
"Iya pa" kata Vee. Akhirnya bocah itu berhenti bicara, dia terdiam seolah sedang berfikir. Ada-ada saja tingkah bocah satu ini.
*********
Vani lega setelah mendapat kabar bahwa Vee sudah ditemukan. Kini dia sudah sampai di toko, menunggu Yudha yang akan membawa putrinya.
"Sudah nak, papa Yudha sedang membawanya ke sini" kata Vani lega.
"Alhamdulillah kalau gitu mbak Vani, aku tadi takut banget kalau sampai terjadi apa-apa sama Vee. Secara bocil satu itu terlalu aktif" kata Dewi.
"Iya Dew, aku juga khawatir banget. Entah tadi dia pergi kemana. Biar nanti tak jewer telinganya kalau sudah disini" kata Vani.
"Eh, jangan mbak. Kata ibuku dulu, kalau sering jewer telinganya anak kita tuh bikin mereka kalau sudah gede suka minggat kalau ada masalah. Beneran jangan ya mbak, cubit saja daripada dijewer telinganya" kata Dewi.
"Kamu ini ada-ada daja Dew, teori dari mana coba" kata Vani sambil melayani pelanggan yang sedang membayar.
"Assalamualaikum bunda, tante" kata Vee saat baru masuk toko.
"Waalaikumsalam, ya Allah nak... Kamu darimana saja?" tanya Vani mengambil Vee dari gendongan Yudha.
"Vee ikut kakek bun, maafin Vee ya" kata Vee sambil takut-takut.
"Lain kali kalau mau keluar bilang dulu ya nak, biar bunda nggak khawatir. Bunda samapi nangis loh tadi" kata bunda.
"Iya, maaf ya bun" kata Vee.
__ADS_1
"Hei jagoan, jangan terlalu sering lihat hp seperti ini. Itu tidak baik buat kesehatan mata kamu" kata Yudha mendekati Varo yang sedang serius dengan hp mamanya.
Varo hanya mendecak, dia selalu sebal saat ada yang melarangnya bermain dengan benda pipih itu.
***********
Malam hari di kota Pesisir, Jovan sudah berada di ruang tamu Gina. Sesuai dengan janjinya siang tadi, malam ini dia mendatangi kediaman Ginda untuk membahas keinginannya menerima tawaran Gina.
"Bagaimana Jo, sudah kamu pikirkan dengan baik tawaranku? Aku sangat berharap kamu bisa mempertimbangkan dengan baik. Karena kamu akan mendapatkan banyak sekali keuntungan dengan menerima tawaranku" kata Gina sambil menaruh dua cangkir kopi dan beberapa toples camilan ke atas meja di ruang tamu.
"Itulah yang ingin aku bahas sama kamu malam ini" jawa Jovan.
"Baiklah, aku selalu mendengarkanmu" kata Gina duduk di hadapan Jovan.
"Sepertinya aku akan menerima tawaranmu" kata Jovan singkat.
Senyum cerah langsung terukir di wajah cantik Gina. Jawaban Jovan membuat kebahagiaan membuncah di hatinya.
"Akan segera aku transferkan uangnya Jo. Kapan kita bisa melangsungkan pernikahan kita?" tanya Gina sudah tidak sabaran.
"Segera setelah aku menyelesaikan masalah dengan Aryudha" jawab Jovan.
"Baiklah, paling lambat besok sore aku pastikan kamu sudah mendapatkan uangnya" kata Gina.
"Tapi kamu janji ya kalau secepatnya juga kamu akan nikahi aku?" tanya Gina memastikan.
"Ya, aku tidak pernah ingkar janji kan selama ini?" tanya Jovan.
Gina tersenyum riang, karena bahagia, dia ingin memeluk Jovan sang calon suami. Tapi pria itu menolak, separuh hatinya masih mempermasalahkan keputusannya.
Mengkhianati sang istri adalah keputusan yang akan dia ambil. Sangat berat sebenarnya, tapi demi keutuhan rumah tangganya, pria itu berusaha sebisa mungkin untuk adil setelah nantinya menikahi Gina.
"Kenapa sih Jo, aku cuma mau peluk calon suami aku" rengek Gina.
"Jangan, belum boleh Gina" jawab Jovan lembut, berharap Gina mau mengerti dan tidak berbuat lebih.
Wajah Gina sudah cemberut, keinginannya hanya ingin memeluk calon suaminya harus dia tahan. Dia berusaha mengerti, karena untuk sampai pada tahap ini, sudah banyak yang telah dia korbankan. Dia tidak ingin semuanya menjadi sia-sia saja.
"Baiklah kalau begitu, aku makasih banget karena kamu mau membantu aku. Untuk selanjutnya, kita bahas setelah masalahku sama Aryudha selesai ya. Aku harap kamu mau mengerti dan menerimanya" kata Jovan.
"Aku pergi dulu ya Gina. Terimakasih karena kamu masih mau membantuku. Assalamualaikum" kata Jovan berpamitan pada Gina.
"Iya, aku akan selalu nungguin kamu Jo. Waalaikumsalam" jawab Gina senang bukan main. Pasti malam ini dia tidak bisa tidur.
.
__ADS_1
.