Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
penyekapan


__ADS_3

Benar saja, tak sampai setengah jam dari kejadian tadi, perut Vani terasa sakit. Dan Yudha sudah pergi.


"Perutku sakit, yah" kata Vani yang membuat keluarganya menjadi panik.


"Sakit kenapa, Bun?" tanya Jovan.


"Nggak tahu, tapi ini sakit banget" kata Vani yang sudah tak bisa menahannya, rasa sakitnya seperti akan melahirkan.


"Aaahhhh, sakit banget" kata Vani yang terbaring di atas karpet, dengan tangan yang memegangi perutnya.


Bersamaan dengan itu, terdengar sirine ambulan mendekat ke rumahnya. Seorang perawat datang memasuki ruang tamu, tak ada satupun keluarga Vani maupun Jovan yang melarang petugas melakukan kewajibannya.


Keluarga mereka pikir, salah satu dari mereka sudah sigap menelpon Ambulan.


"Bunda mau dibawa kemana?" tanya Vee yang sudah menangis, lagi-lagi bundanya harus berurusan dengan rumah sakit.


"Vee, sayang.. Kamu tunggu dirumah sama eyang uti ya nak, sama kak Varo juga. Ayah mau nganterin bunda ke rumah sakit, kasihan dedek bayinya ya, nak" kata Jovan menenangkan Vee, dan membiarkan anak itu berada dalam gendongan utinya meski masih tak terima kalau harus ditinggal lagi.


"Aku ikut ya, Jo" kata Gina mencoba merayu Jovan agar memperbolehkan dia pergi bersama Ambulan yang Vani tumpangi.


"Tolong kamu jagain Vee dan Varo buat aku ya, Gin. Biar aku urus Vani dulu" kata Jovan di depan keluarganya, membuat Gina harus mau mematuhi perkataan suaminya itu.


"Baiklah" kata Gina pasrah.


Ambulan melaju dengan kecepatan diatas rata-rata, tiga nyawa sedang diujung tanduk. Dokter di dalamnya pun sedang berusaha menyelamatkan Vani dengan peralatan yang tersedia.


Vani sudah tak sadarkan diri karena rasa sakit yang teramat, tak seperti kehamilan sebelum-sebelumnya, kehamilannya kali ini sangat berbeda, penuh rintangan dan sering keluar masuk rumah sakit.


"Keadaan pasien kritis, dok" kata suster yang membuat hati Jovan semakin takut.


Sementara di rumahnya, tentu Gina merasa tidak aman karena kalau sampai Vani selamat pasti akan ada pemeriksaan dari kepolisian jika hasil rekam medis menunjukkan adanya racun dalam tubuh Vani.


Dan Gina akan berada dalam keadaan bahaya.


Sadar jika nanti akan berurusan dengan polisi, Gina lebih memilih untuk berpamitan saja. Dan dia akan pergi selama beberapa bulan ke depan dengan alasan pindah tugas.


Wanita itu sudah merencanakan pelariannya di waktu genting seperti ini.


"Saya permisi pulang dulu ya, bu. Sepertinya keluarga disini sedang butuh waktu" kata Gina.


"Iya, hati-hati di jalan ya Gina" kata ibu Jovan yang hanya tahu jika Gina hanya sebatas teman Jovan, tidak lebih.


Gina keluar dari rumah Vani dengan aman, dia menuju mobilnya dan secepatnya menuju rumahnya di kota Dingin ini dan mencari perlindungan melalui ayahnya.


"Ayah pasti mau melindungiku" gumam Gina yang sekarang sedang menjadi anak manja yang butuh perlindungan seorang ayah.


Gina masih bisa tersenyum kali ini.


Saat melewati jalan sepi dengan banyaknya makam di kanan kiri jalannya, Gina merasa ada yang aneh.


Ada beberapa mobil model sedan berwarna hitam yang mengapit kendaraannya.


Satu di depan, satu di belakang, dan satu lagi sedang berusaha menepikan mobil Gina dengan cara terus memepet laju mobil Gina yang sedang berjalan.


"Ada apa ini?" tanya Gina yang mulai takut.


Bahkan dia tidak membawa seorangpun untuk mengawalnya saat tadi pergi ke rumah Vani. Tadi Gina terlalu bersemangat untuk turun tangan agar Vani kehilangan janin dalam perutnya.


Pandangan mata Gina terbatas untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Suasana malam yang sebenarnya masih sore tetap tak membuat jalan yang dilaluinya menjadi ramai.


Posisi Gina terpojok, dengan terpaksa dia harus menepikan mobilnya meski merasa takut.


Terlihat Yudha turun dari mobil yang ada dibelakangnya tadi, Gina yang merasa mengenal Yudha jadi lega.


Dia pikir ada orang jahat yang membuntutinya dan akan membegalnya di jalan sepi ini. Tapi rupanya Yudha yang turun dari mobil hitam di belakangnya.


Saat berdiri di samping pintu kemudi, Yudha mengetuk kaca pintu mobil Gina.


"Bisa keluar sebentar?" tanya Yudha setelah Gina membuka kaca mobilnya.


"Mau apa?" tanya Gina yang sebenarnya tidak ada rasa curiga sama sekali pada Yudha. Dia hanya mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama pria tampan di depannya ini.


"Sebentar saja, saya mau bicara sama kamu" kata Yudha yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Dengan bahasa tubuh yang dibuat-buat, Gina berusaha menarik perhatian Yudha yang sebenarnya sangat ingin menghabisi Gina sekarang Juga.


"Ada apa?" tanya Gina setelah berhadapan dengan Yudha.


Yudha mengisyaratkan dengan kode pada beberapa anak buahnya untuk menangkap Gina.


"Ada apa ini?" tanya Gina panik karena tangannya di pegangi oleh dua orang berbaju hitam dan menyeretnya dengan paksa agar memasuki mobil Yudha.


Setelah Gina masuk dan dirasa sudah duduk dengan baik, anak buah Yudha menutup kembali pintu mobil Yudha.


Sebenarnya ada beberapa orang yang datang dan berusaha menolong Gina tadi saat wanita itu berteriak.

__ADS_1


Tapi anak buah Yudha tentunya sudah bisa mengatasi hal itu.


Mereka berkata jika Gina adalah orang yang masuk daftar DPO kepolisian di tempat lain. Jadi, orang-orang itu tak lagi mengurusi Gina.


Gina tak jadi panik saat Yudha juga masuk ke dalam mobil yang ditumpanginya.


"Jalan" perintah Yudha pada supirnya.


Yudha jarang memakai jasa supirnya jika tidak dalam keadaan genting.


"Tunggu, kamu mau bawa aku kemana mas?" tanya Gina.


Telinga Yudha terasa gatal mendengar suara Gina yang duduk di sebelahnya ini. Wajahnya tak menampilkan rasa bersalah sama sekali.


"Ikut saya, akan saya bawa kamu ke tempat terindah" kata Yudha tanpa melihat lawan bicaranya.


"Tapi mobilku?" tanya Gina panik.


"Lihat saja ke belakang" jawab Yudha yang masih melihat lurus ke depan.


Gina menoleh, dia melihat mobilnya juga sedang melaju mengikuti mobil ini.


Wanita itu menyenderkan dirinya dengan nyaman, lalu menoleh pada Yudha. Kembali Gina merutuki nasib baik Vani yang dicintai oleh dua orang tampan seperti Jovan dan Yudha.


Apalagi Gina tahu jika Yudha adalah orang terpandang di kota ini.


"Jangan tatap saya seperti itu" kata Yudha.


Gina tersipu, dia sadar jika terlalu mengagumi sosok Yudha.


Keduanya terdiam, Yudha membawa Gina menuju salah satu rumahnya yang tidak pernah orang lain ketahui. Hanya Yudha, Akbar dan beberapa anak buah kepercayaan Yudha saja yang tahu alamatnya.


"Uwah rumah yang bagus" kata Gina yang baru saja memasuki area perumahan milik Yudha.


"Turun" kata Yudha, dan mendahului Gina menuruni mobilnya.


"Ini rumah kamu?" tanya Gina mengamati keadaan rumah Yudha setelah menuruni mobil Yudha.


Rumah minimalis dua lantai yang terlihat nyaman. Halaman rumah ini terbilang cukup luas karena bisa menampung setidaknya enam mobil.


Mobil Gina terlihat baru saja memasuki halaman rumah itu. Entah siapa yang mengendarainya, Gina tak dapat melihat dengan jelas.


"Masuk" kata Yudha yang sudah melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu setelah salah seorang anak buahnya membukakan pintu untuknya.


Gina masih mengekor di belakang Yudha tanpa pikiran buruk apapun. Dia pikir Yudha perhatian padanya.


"Terimakasih" kata Gina setelah berada di ruang tamu.


"Ada perlu apa?" tanya Gina.


"Obat apa yang kamu masukkan ke dalam air minum Vani?" tanya Yudha tanpa berbasa-basi.


Gina terkejut, bukannya saat tadi dia memasukkan serbuk itu ke dalam botol air minum Vani tidak ada seorangpun yang melihatnya?


"Aku nggak ngerti maksud kamu" kata Gina berusaha mengelak.


Tanpa mengeluarkan kata-kata, Yudha memperlihatkan video singkat yang menunjukkan saat Gina melakukan aksinya tadi.


Gina kaget, tangannya menutup mulut yang terbuka karena terkejut.


"Jadi, kenapa kamu melakukan itu?" tanya Yudha.


"Itu bukan urusan kamu" kata Gina beranjak dari tempat duduknya, dia akan pergi dari rumah ini.


"Tidak semudah itu kami pergi dari sini sebelum kamu menyesali perbuatanmu pada Vani" kata Yudha penuh penegasan.


"Dengar ya, pak Yudha. Keinginanku cuma satu, biarkan Vani merasa kehilangan dan menyedihkan. Terutama janin dalam kandungannya itu, membuat Jovan berpaling dariku" kata Gina jujur, emosi membuatnya bertindak bodoh.


"Dan asal kamu tahu, Gina. Anak dalam kandungan Vani itu adalah anakku, jadi kalau ada yang berniat buruk pada calon anak-anakku, maka harus berurusan denganku" kata Yudha juga penuh emosi.


Gina sedikit terkejut, tapi wanita itu malah tertawa dengan kerasnya setelah beberapa saat yang lalu dia terdiam.


"Kamu itu ngaco sekali, pak Yudha. Kamu pikir aku percaya dengan bualanmu itu?" ejek Gina.


"Aku tahu Vani itu tipe orang yang setia, kamu jangan terlalu berkhayal dong" kembali Gina melontarkan perkataan penuh ejek.


"Oke, aku ceritakan saja kejadian saat itu" kata Yudha yang masih duduk dengan gagah di kursinya.


Gina menoleh ke belakang, terlihat raut wajah keangkuhan dari wajah Yudha yang menatapnya tajam.


"Aku sudah memperkosa Vani, dan sekarang dia sedang mengandung anakku. Puas kamu sudah tahu?" Yudha masih menampilkan wajah angkuhnya.


"hahahaha, kamu itu lucu sekali. Mana ada korban perkosaan yang tidak marah pada pelakunya?" Gina menertawakan Yudha yang dianggapnya sedang berbohong.


"Atau jangan-jangan, Vani itu memang wanita murahan yang hanya menggunakan penutup kepalanya sebagai kedok saja agar terlihat seperti orang yang baik" kata Gina yang melangkah mendekat pada Yudha.

__ADS_1


Dengan langkah yang dibuat semenarik mungkin, Gina sedang berusaha merayu Yudha.


"Atau kita bisa melakukan itu juga, agar aku bisa sekalian hamil anak kamu. Hahahaha" kata Gina yang masih menertawakan Yudha.


Sudah cukup, Yudha merasa sangat muak pada wanita ini.


Yudha menyiratkan anak buahnya untuk membawa Gina dan menyekapnya di dalam kamar kosong di rumah itu.


"Hei, apa-apaan ini? Jangan kurang ajar ya kamu, pak Yudha. Aku bisa melaporkanmu pada polisi kalau kamu macam-macam padaku" kata Gina penuh emosi.


"Ambil semua alat telekomunikasi darinya, pastikan semua aman" perintah Yudha pada anak buahnya.


"Baik, pak" kata salah satu dari mereka dan mulai melakukan tugasnya.


Mengambil tas dan ponsel milik Gina untuk diamankan.


"Ikat dan masukkan ke kamar" perintah Yudha.


"Kurang ajar, awas kamu Yudha sialan. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan pada kalian" kata Gina mengancam Yudha saat dia diseret oleh anak buahnya.


"Brengsek kalian, lepaskan aku" Gina masih meronta di bawah perlakuan anak buah Yudha.


Kedua tangan dan kakinya diikat dan dia didudukkan pada sebuah kursi yang ada di dalam sebuah kamar kosong.


Mereka juga memberi lakban pada mulut Gina agar wanita itu tak berteriak ataupun bersuara.


Gina dibiarkan di dalam kamar yang lampunya dimatikan, tak lupa mengunci pintunya sebelum pergi.


"Sudah aman, pak" lapor anak buahnya.


Yudha hanya mengangguk, dia sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Yudha pada seseorang yah dipercayainya untuk membuntuti Vani.


(....)


"Terus pantau perkembangannya, laporkan padaku kalau ada informasi sekecil apapun itu" perintah Yudha padanya.


(....)


Yudha mulai khawatir, takut terjadi sesuatu pada buah hatinya. Raut wajahnya tak bisa membohongi perasaannya, dia terlihat sangat kebingungan.


"Kalau aku kesana, mereka pasti akan mencurigaiku.Lebih baik aku meminta bantuan Mela saja" kembali Yudha mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi teman dokternya itu.


(....)


"Ini gawat, Vani keracunan. Aku minta kamu ikut memantau perkembangannya ya, Mel. Please" pinta Yudha yang kembali merepotkan Mela.


(.....)


"Iya, aku tahu. Jangan menggerutu lagi, aku janji setelah anakku lahir aku akan menjauh darinya. Tapi aku mohon kamu mau membantuku untuk memantaunya" janji Yudha.


(.....)


"Terimakasih, Mel. Iya, aku pasti memegang janjiku" kata Yudha sembari menutup panggilan teleponnya.


Masih di ruang tamu, Yudha merasa sangat terpuruk lagi. Dia menyadari karena perbuatannya, Vani jadi sering terkena masalah.


"Seandainya aku tak bertemu denganmu lagi, Van. Seandainya aku tak memaksa masuk ke dalam kehidupanmu lagi, Van. Seandainya aku membiarkan kamu menjalani hidupmu dengan tenang, Van" kata Yudha lirih, dia kembali merasa sendirian.


Rasa terpuruknya melebihi rasa yang dulu pernah dialaminya saat kehilangan Vani untuk pertama kalinya.


Dulu, Vani tak membawa serta janin dalam kandungannya yang adalah buah dari kesalahan yang Yudha perbuat.


Kini, bukan hanya nyawa Vani yang Yudha pikirkan. Tapi juga nyawa kedua calon bayinya.


Dan semua ini karena kelakuan wanita yang sedang dalam sekapannya.


Yudha meradang mengingat adanya Gina di dalam hubungan ini. Emosinya seketika meluap mengingat kelakuan jahat dari seorang wanita yang terlihat lembut seperti Gina.


Yudha bukanlah pria yang berperasaan lembut pada semua orang. Dia adalah raja tega. Melakukan kekerasan pada pria ataupun wanita sangat sering dia lakukan.


Apalagi sepeninggal Vani dulu, dan atas paksaan orang tuanya. Yudha telah berubah dari pria lembut yang penyayang menjadi pria penuh rasa dendam dan tak berperasaan.


Perasaannya telah dibawa oleh gadisnya yang tak mungkin bisa bersatu. Menyisakan hati penuh kebencian, dendam dan sumpahnya untuk tak mengikut sertakan hatinya untuk merasakan kasih sayang di sekitarnya.


"Maafkan aku, Van. Kalau sampai terjadi sesuatu padamu ataupun salah satu dari anak kita, tak akan ada kata maaf untuk wanita licik itu. Nyawa harus dibayar dengan nyawa" geram Yudha, matanya memerah menahan amarah.


Dia masih akan menunggu hari esok untuk melihat perkembangan Vani dan kedua anaknya.


Besok pagi-pagi sekali, Yudha akan menyempatkan diri untuk mengunjungi Vani. Dan akan berbicara empat mata dengan Jovan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2