Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
not bad


__ADS_3

Bisa dipastikan pagi ini Yudha akan terlambat. Sudah jam delapan dia masih saja setia dengan peralatan tidurnya.


Bajunya tidak sempat diganti karena semalam saja dia tidak tahu bisa pulang dengan cara apa.


Sedangkan Vani, seperti biasa setiap harinya dia selalu rajin dengan kegiatan barunya di minimarket.


Bersama Dewi dan Agung di bagian gudang, mereka terlihat semakin kompak saja.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang dan pengunjung minimarket terlihat agak sepi.


Vani gelisah memandangi ponselnya karena menunggu kabar bos kesayangannya yangbtak kunjung ada.


Maka diapun menelpon Yudha untuk menanyakan kabarnya hari ini. Karena kemarin sore saat dia meninggalkan Yudha, terlihat pria itu tidak baik-baik saja.


Panggilan pertama tidak diangkat.


"mungkin dia sibuk"


Beberapa menit kemudian dia menghubungi lagi, tidak diangkat juga.


"apa masih sibuk ya?"


Beberapa saat berlalu, dia melakukan panggilan ke tiga. Tetap tidak diangkat


"apa dia marah?"


Akhirnya dia pasrah saja setelah melakukan sepuluh kali panggilan dengan hasil yang nihil.


Sedangkan di kamarnya, Yudha baru saja menggeliat saat perutnya terasa sangat lapar. Dia ingat semalam tidak sempat makan malam karena terlalu sedih.


"dimana aku?" lirih suaranya pelan dengan mata memicing menyesuaikan cahaya kamarnya.


"aduh... pusing banget" keluhnya sambil berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang.


Tiba-tiba perutnya terasa seperti diaduk-aduk. Segera dia pergi ke toilet dan memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. Hingga hanya tersisa cairan saja yang keluar dari muntahannya.


Setelah menyiram dan membasuh mukanya, perlahan dia berjalan kembali ke ranjangnya untuk rebahan.


Dalam keadaan telentang, dia mencari ponselnya. Ternyata ada di atas nakas di samping ranjangnya.


Dia ingin menghubungi asistennya untuk dibawakan makanan.


Saat mengecek ponselnya, ternyata ada banyak panggilan masuk dari Vani sejak jam sebelas tadi?


Dan sekarang sudah jam setengah satu siang. "Apa dia mengkhawatirkan aku ya?" Yudha membatin galau.

__ADS_1


Diapun menghubungi balik.


Beberapa kali nada dering, akhirnya panggilannya terhubung.


"assalamualaikum mas Yudha. kamu baik-baik saja kan?" tanya Vani dari seberang sana.


"ternyata benar dia mengkhawatirkan aku" Yudha senang.


"waalaikumsalam. Ya, aku baik. Ada apa menghubungiku?"


"nggak ada sih mas, cuma aku pengen tahu kabar kamu aja. Kamu sibuk banget ya sampai aku telpon berkali-kali nggak diangkat?"


"engmh... ya, aku sedikit sibuk tadi. Bisa kamu bawain aku makan siang hari ini?"


"memangnya mas Yudha dimana?"


"di hotel"


"aduh mas... tinggal pesan sama ob kamu bisa kan ya? tokonya lagi agak ramai ini. Maaf ya"


"cg.. kamu nggak lagi menghindariku kan?"


"mas Yudha nggak percayaan banget sih? cek aja cctv nya kalau nggak percaya. Kayak kemarin kan gitu"


"yasudahlah. aku nyuruh orang lain aja. Bye"


panggilan terputus. Yudha mengkerutkan keningnya, benarkah dia sibuk?


Penasaran, maka dia memutar cctv minimarket di ponselnya. Ternyata memang kondisi minimarketnya sedang agak ramai.


Yudha mendesah, akhirnya dia menghubungi pelayan hotel untuk diantarkan makanan ke kamarnya.


Tidak apa-apa Vani menganggapnya hanya sebatas teman untuk kali ini, yang penting masih bisa bertemu dengan bebas.


Yudha sudah sangat menyayangi wanita sederhana itu, juga segala yang telah ada di diri wanita itu, termasuk kedua anaknya, Yudha sudah menyayangi mereka. Tapi tentu tidak untuk Jovan, bocah yang sudah berani-beraninya merebut Vani darinya.


****


Di sisi lain di kota Pesisir, Gina baru saja menjejakkan kakinya di sini pagi ini.


Tugas dari sekolahnya mewajibkan Gina ikut dalam pelantikan dan bimbingan untuk para guru yang diadakan di kota ini.


Gina sangat senang dengan tugas itu karena pastinya akan ada alasan untuknya bisa bertemu dengan Jovan, tanpa gangguan dari Vani tentunya.


"Pucuk dicinta, ulam tiba"

__ADS_1


Dengan semangat, dia langsung saja menghubungi Jovan untuk memberitahukan keberadaannya di kota tersebut.


Beberapa panggilan dilakukan tidak juga diterima oleh pria itu.


Jangankan untuk orang lain, Vani sendiri agak kesulitan untuk menghibungi suaminya, apalagi orang lain.


Akhirnya Gina menyerah, biarlah nanti Jovan menghibungi balik. Mungkin sekarang dia sedang sibuk. Begitu pikirannya saat ini.


Sore ini Gina sudah sampai di tempat dinas sementara, sebuah rumah petak kecil yang berada di dalam kawasan sekolah dasar.


Hanya ada satu kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur kecil yang berada di dalam rumah berukuran 5x6 meter.


Ada lima rumah petak semacam itu di dalam kawasan ini. Tiga diantaranya dihuni oleh guru honorer sepertinya dari kota yang sama dengannya. Dan dua yang lainnya dihuni oleh guru dari kota ini yang memang mengajar disana.


Selama tiga bulan ke depan, sudah dijadwalkan untuknya mengikuti pelantikan dan bimbingan kerja, khususnya untuk para guru honorer yang akan di seleksi menjadi pegawai tetap.


Salah satunya adalah Gina yang ikut serta dalam program tersebut.


Sudah sejak lama Gina berteman dengan Jovan, pertama bertemu saat sama-sama duduk dibangku putih biru.


Tapi entah sejak kapan ada perasaan ingin menjadi lebih dari teman itu ada.


Jovan yang sebenarnya memang good looking dan ramah, membuat banyak hati wanita luluh. Tak terkecuali Gina yang bertemu dengannya setiap hari waktu itu.


Satu kekurangan Jovan dari dulu adalah sulit dihubungi. Sebelum maraknya game online, Jovan sangat jarang memegang ponselnya.


Saat masuk dunia kerja, mungkin ponsel itu hanya digunakan untuk keperluan kerja. Selebihnya akan dibiarkan teronggok disaku celana atau di dalam tasnya.


Tapi semenjak adanya game online, dia jadi sering menggunakan ponselnya tentu saja untuk main game. Dan pastinya akan sangat marah bila ada yang mengganggunya.


Entah hubungan seperti apa yang dijalaninya dengan Vani. Kadang Gina juga bertanya-tanya bagaimana Vani bisa tahan dengan sikap cueknya Jovan.


Sejauh ini, hanya pada Vani, saat Jovan sedang mabar dengan teman-temannya dan ada gangguan dari Vani, maka Jovan tidak berani marah padanya.


Kadang Gina sempat berfikir mungkinkah gadis seperti Vani melakukan semacam pelet pada Jovan?


Padahal jika dibandingkan dengan dirinya, tentu Gina lebih seksi dan lebih muda usianya.


Selera Jovan memang yang lebih dewasa. Tapi itu tak menyurutkan perasaan di hati Gina pada sahabatnya itu.


Bahkan dia rela seandainya Jovan memintanya untuk menjadi istri ke duanya. Dia pasti mau. Karena untuk masalah anak, sudah dipastikan dia sedikit ada trauma dengan proses kelahiran.


Yang menyebabkan dia tidak suka bayi, meskipun dia sangat menyukai anak kecil.


Dan tugas pekerjaannya kali ini sangat menguntungkan Gina untuk bisa lebih dekat dengan Jovan.

__ADS_1


Besok mungkin dia akan berkunjung ke tempat mess karyawan dimana Jovan tinggal selama ini.


Dia sangat berharap bisa bertemu dengan pria jangkung itu. Pria yang telah merebut hatinya sejak lama, tapi tidak peka dan malah memilih wanita lain.


__ADS_2