
Akhir pekan ini sangat menyenangkan bagi Varo dan Vera. Ayahnya yang telah datang sejak sore, berinisiatif mengajak kedua anaknya jalan-jalan ke pasar malam yang ada setiap malam Minggu.
Dengan mengendarai sepeda motor, mereka berempat pergi ke pasar malam tanpa mengenakan helm. Karena memang letaknya yang dekat dengan rumah mereka. Tapi sungguh, jangan meniru mereka ya, bahaya, pakailah helm kemanapun pergi saat mengendarai sepeda motor.
Selepas isyak, mereka bergegas menuju kesana. Satu hal yang sangat disukai anak-anak di pasar malam adalah odong-odong.
Begitupun Varo dan Vera, kakak beradik selisih setahun itu sangat senang bisa menunggangi odong-odong berbentuk mobil dengan musik dangdut yang ceria.
Jovan dan Vani menunggui mereka sambil mengobrol. Sesekali Vani mengabadikan moment itu dengan foto dan video. Tak lupa Vani ber-selfie, juga berfoto bersama Jovan, berdua.
Selayaknya keluarga yang harmonis, mereka sangat bahagia dengan keserhanaan itu.
Jovan adalah lelaki yang baik, di usia yang lebih muda daripada Vani, malah Jovan yang lebih banyak mengalah.
Kebiasaan Vani saat marah adalah diam seribu bahasa. Bisa berhari-hari Vani dalam kode diam saat marah, hanya berbicara seperlunya.
Tapi saat mulai mode menjelaskan, bisa sakit telinga Jovan mendengar penjelasan Vani yang sangat panjang melebihi tagihan panci tukang kridit mingguan.
Lelaki itu tingginya tak lebih dari 175, dengan berat badan yang ideal dan kulit sawo matang.
alisnya tebal dan matanya sedikit sipit, hidungnya mancung, bibir tebal sedikit hitam karena pengaruh nikotin dan rambutnya bergelombang.
Ayah dua anak itu bukanlah orang yang romantis, selalu positif thinking tentang apapun. Tidak pernah curiga maupun membatasi keinginan Vani selama itu bukan hal yang buruk.
Bagi lelaki itu, semua teman Vani adalah temannya juga, baik itu laki-laki maupun perempuan.
Bahkan Vani sangsi, pernahkah suaminya itu merasa cemburu?
Meskipun melakukan hubungan LDR, keduanya bersikap saling percaya satu sama lain. Bahkan kadang bisa satu minggu full mereka tidak saling bertukar kabar.
Bagi Vani yang biasa saja, tentu mendapatkan cinta dari lelaki semacam Jovan adalah anugerah.
Paket komplit untuk menghasilkan bibit unggul. Terbukti anak-anaknya terbilang sempurna baik fisik maupun mentalnya.
Dan saat ini, sambil menunggu sang suami membeli jajanan. Vani memposting foto dan video singkatnya di status wa, dan memberi judul "happy weekend bebz".
Sambil duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu, Vani membuka aplikasi hijau nya untuk melihat chatting yang baru saja masuk.
Ternyata adalah Yudha.
Yudha :
" your happy moments are not with me, maybe"
Vani bingung dengan maksud pesan dari Yudha ini. Kenapa malah seperti orang baru putus pas lagi sayang-sayangnya gitu sih?
Vanipun membalas chatting itu :
"maksudnya apa mas? salah kirim apa bagaimana ini?"
Ditempat lain, Yudha merutuki jempolnya yang malah mengomentari status dari mantan calon pacarnya itu. Bagaimana bisa sih jempol dan otak nggak singkron?
Selepas mendapat telpon dari istrinya, Yudha merasa hatinya makin hampa. Bagaimana bisa dia terjebak dalam pernikahan seperti ini?
Melihat postingan status dari Vani, hatinya sedikit tercubit. Seharusnya dia juga bisa bahagia dengan anak dan istrinya di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Mungkin dia akan mendapatkan kebahagiaan itu jika dirinya sedikit berani menghadapi tekanan dari keluarganya, dan berjuang bersama dengan Vani di masa lalu. Tidak masalah hidup sederhana jika kemewahan hanya memberikan kehampaan.
Tapi disisi lain dia juga sangsi, apakah pujaan hatinya itu juga mau berjuang bersamanya?
__ADS_1
Terbawa suasana, menyebabkan Yudha mengetikkan balasan pada postingan Vani dan keluarga kecilnya. Kata-kata yang seharusnya hanya ada di dalam hati kecilnya, malah tertulis dan terkirim pada wanita khayalannya.
Jadilah dia kelabakan dengan situasi sepele macam ini. Apa yang harus dia tulis untuk membalas pesan Vani?
"bodoh banget sih? Apa coba balasan yang tepat?" Yudha mengomel dengan kebodohannya.
"melihat status kamu, kelihatannya bahagia banget. Sedangkan aku lagi sendirian aja nih"
Yudha membalas pesan Vani.
Vani yang memang sedang menunggu balasan pesan dari Yudha, sudah siap membaca pesannya setelah terdengar hapenya menerima notif.
dan jadilah dia membalas :
"apaan sih gaje. Mau ikutan sekalian nih malmingan sama kita biar nggak kesepian?" (sent)
Dikamarnya, Yudha mesem-mesem sendiri membaca balasan itu.
"dasar cewek polos, dari dulu tetap saja nggak berubah" pikir Yudha.
***
Beberapa saat berkirim pesan, Jovan datang dengan kresek di tangan kanannya. Dan minuman di tangan kirinya.
Menuju ke arah Vani yang sedang asyik dengan hapenya, sampai tidak tau kalau suaminya sudah mendekat.
"Aku beliin sempol nih, sama jus jeruk" ucap Jovan setelah berdiri di sisi Vani.
"eh ... kaget aku yah.. Iya nggap apa-apa sempol aja. Buat anak-anak dibeliin juga kan?" tanya Vani
"beli juga kok. Kenapa jadi kaget gitu sih, emangnya lagi chattingan sama siapa?" tanya Jovan.
"oh . yaudah. Nih kamu makan, yang plastik satunya itu nggak pedes, mau aku kasih ke anak-anak" kata Jovan sambil mengambil bungkusan di tangan Vani untuk diberikan pada anaknya yang sedang asyik naik odong-odong.
Beberapa jam berlalu, keluarga kecil itu sudah sampai kembali ke rumahnya. Ternyata orang tua mereka juga sudah ada di rumah.
Seperti yang sudah-sudah, Varo dan Vera pasti akan ketiduran di atas motor kalau kekenyangan dan kecapaian.
Alhasih, ke dua tangan Vani sibuk memegangi kedua anaknya. Tangan kanannya menyangga kepala Varo, dan tangan kirinya menggendong Vera.
Sampai mesin sepeda motor itu dimatikan, Vani masih tidak bisa turun dari atas motornya. Jadi dia harus menunggu Jovan turun dan mengambil Varo untuk digendong dan ditidurkan di kamarnya, karena memang Varo audah tidur sendiri.
Lalu, baru Vani bisa turun dan membawa Vera ke kamarnya. Karena Vera masih tidur dengan mereka.
Setelah membaringkan Vera di ranjang, Vani berganti pakaian tidur dan berencana menyusul Vera ke alam mimpi.
Sudah siap di posisi tidur menghadap Vera dan sudah menyelimuti seluruh tubuhnya hingga leher, keinginan Vani untuk tidur harus terganggu dengan datangnya Jovan yang langsung menutup dan mengunci pintu, lalu membaringkan diri di sisinya dan ikutan masuk ke selimut sang istri
Bukan hanya tidur biasa, tangan laki-laki itu mulai menelusuri lekuk tubuh sang istri.
Vani yang merasa geli menepis tangan suaminya.
"apaan sih bun, dosa tau kasar sama suami gitu" kata Jova pura-pura ngambek.
"lagian ayah ngapain sih, dateng-dateng malah bikin geli" jawab Vani.
"aku pengen bun..." ucap Jovan langsung mencumbui istriya.
"ayah mesum banget sih" kata Vani, tapi mebiarkan saja aksi suaminya.
__ADS_1
"biarin lah bun, mesum sama istri sendiri juga kan halal, kamu dapat pahala lagi" jawab Jovan masih melancarkan aksinya.
Akhirnya Vani hanya bisa pasrah dengan kelakuan suaminya itu. Karena memang sudah kewajibannya.
Namun, ditengah aksi kedua pasangan itu, tiba-tiba si kecil terbangun.
"Bunda, aku kebelet pipis" kata Vera membuyarkan gairah sang bunda.
Gelagapan karena sudah hampir usai pertarungan sengitnya, Jovan harus memisahkan diri dari pergumulan tanpa dosa itu dengan nafas yang masih memburu.
Saat sang ayah pura-pura tidur, Bundanya memakai pakaian yang tercecer di daerah ranjang dengan hati-hati agar aman dari penglihatan si kecil.
Lalu setelahnya dia duduk, dan beranjak ke kamar mandi yang letaknya memang di luar kamar tidur dengan menggendong putri bungsunya.
"ayo sayang, bunda anterin ke kamar mandi ya" kata Vani.
Mengetahui istri dan anaknya sudah keluar, Jovan duduk di sisi ranjangnya dan meremas rambut di kepalanya dengan frustasi. Hasrat kelelakian yang sudah sampai puncaknya, tinggal sedikit lagi tercurahkan, harus terpaksa buyar karena ulah anaknya.
Ingin marah tapi tak mungkin, diam saja kok malah jadi pusing.
Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu sang istri sambil mengutak-atik hapenya.
Beberapa saat berlalu, Vani dan Vera sudah kembali ke kamarnya.
"aku kirain tadi abis nidurin Varo di kamarnya, kamu bakalan tidur sama dia yah. Soalnya lama banget sih kamu mau masuk kamar" kata Vani sambil menurunkan Vera di ranjang.
"nggak, lagi pengen baget sih akunya bun" jawab Jovan ngarep lagi.
"ayah kepengen apa bun?" tanya Vera heran.
"pengen makan sepertinya dek. Udah adek tidur lagi ya, ini masih malam" kata Vani sambil mengelus punggung anaknya.
"hape, mau nonton wetub" bukannya tidur, Vera malah mau nonton hape
Jovan dan Vani jadi saling pandang. Vani jadi merasa kasihan pada suaminya itu, pasti jadi pusing kan kalau sampai gagal?
"adek tidur dulu ya, besok bangun pagi. Kalau sampai besok adek telat bangun, nggak bakalan ayah ajak jalan-jalan lagi deh" kata Jovan membujuk putrinya.
Yang dibujuk masih bersikeras "ayah nggak usah takut, adek selalu bangun pagi. Sekarang mau lihat hape" kata Vera merajuk.
Akhirnya orangtua harus mengalah, Jovan merelakan Vani yang harus meminjamkan hapenya pada sang putri agar tidak merajuk lagi.
Sementara dirinya harus rela bersolo karir di kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang sudah diujung tanduk.
"mau kemana yah?" tanya Vani pada Jovan saat melihat suaminya akan keluar kamar dengan hanya memakai celana kolor tanpa baju atasan.
"nuntasin yang tadi ke kamar mandi, kalau kamu mau bantuin ayo aku tungguin" kata Jovan.
"adek takut sendirian, jangan tinggalin" kata Vera menyela karena merasa akan ditinggal sendiri.
"cg" pria itu hanya mendecaj dan meneruskan langkahnya ke kamar mandi.
Vani hanya membiarkan saja kelakuan suaminya itu, dan bisa dipastikan nanti suaminya itu akan ke kamar Varo selepas dari urusannya dengan kamar mandi untuk tidur bersama.
****
jangan lupa like ya readers, komen juga bila ada masukan, karena ini novel pertama aku.
biar otornya semakin semangat dalam menulis
__ADS_1
terimakasih banyak