
Aku pergi karena hati ini sudah letih kau sakiti..
Tapi bukan berarti cintaku padamu telah mati..
Aku pergi bukannya ingin lari,
hanya saja aku tak sanggup melihat cahaya cinta dari mata lelaki yang aku sayangi justru untuk wanita lain dari masa lalunya..
Jangan salahkan aku yang mencari kebahagiaanku sendiri, saat kau masih sibuk dengan wanita masa lalumu..
Isabella Quincy Fransiska
******
Bella sudah berada di dalam pesawatnya, dia terbang menuju Thailand, tempatnya mencari kesibukan. Dan kali ini sedikit berbeda, karena dia ditemani kekasih gelapnya yang baru.
Ya, Bella meminta Dave menemaninya kembali ke rutinitasnya sebagai model di sana. Tentu kesempatan emas ini tidak ditolak oleh Dave yang memang kesehariannya hanya untuk berfoya-foya.
Tidak ada pekerjaan pasti yang dia lakukan, hanya sekedarnya saat ada yang meminta jasanya sebagai fotografer. Untuk saat ini memang karirnya sedang cukup sulit. Jadi, tidak masalah untuk menemani Bella dulu. Siapa tahu disana dia mendapat imbas baiknya.
"Oh stop it baby, Aku mau ke toilet" kata Bella menyudahi aksi nakalnya bersama dengan Dave.
"Aku bantu ya, kaki kamu kan masih sakit" kata Dave yang sedikit tidak suka saat kegiatannya terganggu.
"No, aku bisa sendiri. Sudah agak mendingan kok kakinya" kata Bella manja.
Dave selalu menyukai sikap manja dari para wanitanya. Dia memang Casanova sejati, yang selalu minim budget. Beruntung dia dikaruniai wajah yang rupawan, tubuh yang proporsional, dan tinggi menjulang. Hampir tak ada wanita yang tidak terpikat dengan kesempurnaannya.
Bella berjalan sedikit tertatih, sebenarnya luka di kakinya tidak terlalu parah. Tapi memang sedikit menyiksa untuk ukuran wanita manja sepertinya.
Saat kembali ke kursinya, Bella mendapati sang kekasih sedang memejamkan matanya. Tidak ingin mengganggu, Bella duduk dengan hati-hati agar tak membuat Dave terbangun.
Dalam duduknya, dia memperhatikan sosok sempurna itu. Sebenarnya Yudha juga pria yang tampan, hanya saja aksen wajah mereka berdua berbeda.
"Seandainya kamu bersikap semanis Dave, pasti aku sangat bahagia bersamamu Yudha" gumam Bella dalam hati.
__ADS_1
Tangannya terulur untuk menyentuh wajah lelaki yang akhir-akhir ini menemaninya menghabiskan waktu dan uangnya. Mengamati pahatan sempurna karya tuhan yang tersaji dihadapannya.
Merasa geli, Dave membuka matanya. Dia tersenyum mendapati Bella yang serius menatap wajahnya.
Tersadar dengan perbuatannya, Bella menarik tangannya dari wajah Dave yang malah digenggam oleh pria itu.
Pandangan mata keduanya bertemu, pelan tapi pasti Dave mengikis jarak dari Bella. Hingga mempertemukan bibir keduanya untuk kembali mengecap rasa yang bergejolak dalam dadanya.
Mereka kembali berciuman, kegiatan yang sering mereka lakukan di setiap kesempatan yang dianggap aman. Bella masih sadar untuk selalu menjaga reputasi sebagai seorang model internasional.
Dia selama ini selalu bisa bermain rapi, begitupun saat ini. Tapi dia tidak bisa menutupinya dari Yudha. Suaminya itu kadang bisa menjadi sangat mengerikan. Tapi biarkan saja, toh dia juga sedang mengutamakan perempuan dari masa lalunya untuk saat ini.
*****
Benar saja, Yudha tersenyum mengejek setelah mendapat kabar dari Akbar jika Bella kembali ke Thailand bersama dengan Dave. Lelaki yang dia temui di sebuah bar tempo hari, saat bertengkar dengannya.
Dia merutuki kebodohannya yang mau saja menikahi wanita seperti Bella. Dulu yang dia tahu, Bella sangat mencintainya. Bella sebenarnya wanita yang sempurna, minusnya hanya tidak mau direpotkan dengan anak.
"Baiklah istriku, mari kita saling mencari kebahagiaan kita sendiri" kata Yudha pada foto Bella yang terpajang di sebuah pigura kecil diatas meja kerjanya.
"Urus pekerjaan hari ini, saya mau pergi dulu. Nanti malam saja kalau mau membahas masalah kantor" kata Yudha melalui telepon kantornya. Akbar mengerti, sering kali setiap malam dia menginap di kediaman bosnya untuk membahas pekerjaan.
Entah berapa gaji dan bonus yang Yudha keluarkan untuk membayar asisten seperti Akbar, selalu bisa diandalkan dalam hal apapun. Kadang Yudha berpikir, entah akan seperti apa dia tanpa Akbar. Beruntung jiwa setia Akbar tak bisa dibayar dengan apapun.
Dia segera beranjak setelah menutup panggilan teleponnya. Dengan senyum ceria, dia berencana untuk ke sebuah toko perlengkapan untuk anak-anak.
Yudha memasuki sebuah toko mainan dan perlengkapan khusus anak-anak setelah beberapa lama mengemudikan kendaraannya.
"Tolong bantu saya mencari segala sesuatu yang berhubungan dengan spider man" kata Yudha pada penjaga toko itu setelah mendapat sambutan selamat datang.
"Baik pak, mari ikut saya" kata penjaga toko itu sopan.
Cukup lama Yudha berkeliling di toko itu dengan keranjang belanjaan yang dibawakan si penjaga toko. Sampai di kasir, Yudha cukup puas melihat mainan, tas, buku dan beberapa lainnya dengan karakter Spiderman. Dia berharap akan bisa meluluhkan hati Varo dengan semua itu.
"Tunggu, mbak tolong carikan juga mainan dan baju dengan karakter unicorn. Untuk usia empat tahun" kata Yudha, beruntung hanya dia seorang yang berada di depan kasir saat ini.
__ADS_1
Dia tidak mau Vee ngambek karena hanya membelikan hadiah untuk Varo saja. Yudha tersenyum melihat foto-foto yang dia ambil saat bermain dengan Varo dan Vee kemarin. Banyak sekali fotonya dengan Vee kecil, dia sangat menyayangi gadis kecil itu.
"Maaf pak, apa ini semua cocok?" tanya mbak itu membuyarkan kegiatan Yudha.
"Oh, iya. Saya ambil semuanya" kata Yudha yang tanpa pikir panjang mengambil sekeranjang belanjaan bertema unicorn.
Keluar dari toko itu, Yudha menenteng dua kantong besar hadiah untuk Varo dan Vee. Dia sudah tidak sabar untuk memberikan pada mereka.
Melihat jam tangannya, sudah sangat terlambat untuk menjemput kedua bocah itu dari sekolah, pasti mereka sudah pulang.
Yudha mengecek keberadaan Vani melalui ponselnya, bahkan Yudha menyadap ponsel Vani agar bisa tahu dimana keberadaan wanita itu saat dia rindu.
Mendapati titik GPS dari ponsel Vani yang menunjukkan bahwa wanita itu ada disebuah taman membuat Yudha merasa sedikit curiga. "Apa yang dia lakukan di taman itu? Sedang bersama siapa dia disana?".
Berbagai pertanyaan timbul dari hatinya, membuatnya sedikit merasa tidak senang. Padahal Vani bukan seperti wanita yang dia pikirkan.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Yudha mempercepat laju kendaraannya. Berharap bisa segera sampai di lokasi tujuannya, yaitu menemui Vani.
Jalanan sedikit macet karena memang saat ini sedang jam makan siang. Banyak pengguna jalan yang sebagian besar adalah pegawai, akan mencari makan untuk mengisi tenaga yang telah dikeluarkan agar kembali terisi. Berharap bisa terus semangat menjalani separuh harinya setelah menyantap makan siangnya.
Berbeda dengan Yudha yang akhir-akhir ini disibukkan dengan keinginan hatinya sendiri. Sedikit tidak perduli dengan urusan pekerjaan, beruntung sang asisten bisa diandalkan.
Sebenarnya Yudha berhutang budi sangat banyak pada lelaki yang lebih cocok sebagai adiknya, tapi justru lebih profesional daripada dia sendiri. Siapa lagi kalau bukan Akbar.
"Sial, kenapa jadi macet seperti ini sih" keluh Yudha yang sebentar lagi sudah akan sampai, tapi malah kena macet.
Cukup lama terjebak macet, akhirnya Yudha bisa menepikan kendaraannya. Dia memeriksa ponselnya, memastikan jika Vani masih berada di posisinya.
Beruntung wanita itu masih disana. Dengan langkah sedikit terburu-buru, dia melangkahkan kakinya menuju sumber magnetnya.
Bibirnya tersenyum melihat kenyataan tidak seperti dugaannya.
.
.
__ADS_1
.