
Hampir tiga hari Gina telah melakukan tugas mengajarnya di kota Pesisir ini. Dan selama itu juga, setiap malam dia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Jovan.
Lelaki jangkung yang super cuek itu sangat menyita perhatiannya sejak dulu. Tapi dia sangat sulit didapatkan.
Padahal Gina adalah gadis yang cantik dengan tubuh proporsional dan juga pintar. Hanya satu kekurangannya, dia tidak ingin punya anak.
Sebenarnya banyak pria yang menaruh hati padanya, tapi ternyata hati tidak bisa berbohong. Gina telah mencintai sahabatnya secara diam-diam sejak lama.
Tidak ada yang tahu tentang perasaannya. Dia sangat pintar menyembunyikan itu. Bahkan kecemburuannya pada Vani saat tahu bahwa wanita itu telah berhasil merebut seluruh perhatian Jovanpun dapat dia kendalikan dengan sangat baik.
Malam ini di kamarnya yang sempit, dengan hanya ada satu ranjang ukuran single dengan kasur gabus yang lumayan empuk, Gina sedang gelisah memikirkan pujaan hatinya.
Gadis itu memposisikan diri dengan cara tiduran tengkurap sambil meneliti layar ponselnya.
Beberapa saat yang lalu, sambungan telponnya dengan Jovan harus segera dihentikan karena Jovan bilang kalau istrinya sedang menghubunginya, dan mau tidak mau dengan suka rela, sebenarnya dengan berat hati menghentikan kegiatan bertelepon dengannya.
Dan sekarang, hatinya sedang dilanda cemburu. Dengan logikanya, dia tahu bahwa semua perasaannya ini adalah sebuah kesalahan.
Mencintai sahabatnya yang sudah menjadi suami orang, bahkan sudah memiliki dua anak yang sebenarnya diapun menyayangi mereka juga.
Tidurnya yang tengkurap, berganti posisi telentang. Beberapa saat kemudian diapun duduk, berbaring lagi, dan seperti itu terus hingga dirasa lelah dan tidak bisa tenang.
Pikirannya mengingat percakapannya denga Jovan beberapa saat yang lalu.
"Sebenarnya keinginan kamu apasih sampai rela ninggalin keluarga kamu kerja jauh Jo?" tanya Gina lewat telpon.
"Aku pingin fokus kerja Gin. Pingin ngembangin diri aku, setidaknya ada usaha lain biar aku nggak terlalu menggantungkan diri aku sama perusahaan ini" kata Jovan.
"Maksudnya gimana tuh, jelasin dikit dong" jawab Gina.
" Kan kalau aku kerjanya jauh dari anak dan istri aku, jadinya aku bisa lebih fokus buat kerjaan. Terus sebenarnya aku pingin punya usaha lain, setidaknya belajar investasi biar ada sambilan yang menguntungkan gitu" jawab Jovan.
Dan saat ini, kata-kata Jovan tentang investasi itu selalu terngiang di kepala Gina.
Dari percakapan itu, Gina jadi punya rencana licik agar nantinya bisa dekat dengan Jovan, minimal Jovan mau untuk selalu bersamanya, atau bahkan menikah dengannya walaupun hanya menjadi istri keduanya. Giba rela, asalkan Jovan mau menerimanya.
Yang penting tidak harus melahirkan anak. Maka semua bisa dia lakukan untuk mendapatkan Jovan.
Dan dari kegelisahannya malam ini, terbesit ide nakal di pikirannya.
"iya, aku harus bisa meyakinkan Jovan bahwa aku bisa membantunya untuk berinvestasi dengan nominal yang besar. Setelahnya, akan kubuat seolah investasinya mengalami kerugian yang sangat besar, sehingga dia harus menanggung kerugian dan juga membayar denda.
__ADS_1
Dan disaat seperti itu, aku bisa menawarkan diri untuk membantunya dengan syarat agar menjadikan aku istrinya juga.
Ya, itu adalah ide yang sangat brilian. Pasti dengan jalan itu aku bisa mendapatkan Jovan" Kata Gina bermonolog dengan hati yang mantap untuk menjalankan ide gilanya.
Ya, cinta memang segila itu. Kadang logika tidak bisa bersatu dengan hati.
Apalagi hati wanita yang ambisius, tidak memperdulikan sekitarnya untuk bisa menggapai keinginannya.
Entah hal semacam ini bisa dikatakan cinta ataukah hanya sebuah ambisi?
Maka, dengan senyum pasti, besok pagi dia akan menghubungi rekannya agar bisa diajak menjadi partner Investasi bodong untuk Jovan.
Sekarang yang harus dia lakukan adalah secepatnya pergi tidur dan bersiap menghadapi esok hari.
Berharap mentari esok pagi bisa secerah angannya kali ini.
*******
Keesokan harinya, di tempat lain, Jovan secara diam-diam sebenarnya telah mengumpulkan sedikit demi sedikit pundi-pundi rupiah yang akan digunakan untuk rencana investasinya.
Sementara ini memang investasi adalah jalan terbaik untuk belajar memulai bisnisnya.
Menjadi seorang supervisor sangat menyita banyak waktunya. Banyak waktunya dihabiskan di perusahaan itu, kadang lembur selalu dilakukannya agar bisa segera menyelesaikan tanggungan pekerjaan.
Seperti malam ini, di jam tujuh malam dia masih harus stay di kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini.
Urusan menjelang akhir bulan harus segera diselesaikan agar gaji bawahannya bisa keluar tepat waktu
Dan akhirnya, tepat pukul delapan malam urusan absensi bawahannya telah selesai dikerjakan.
Bahkan dia belum sempat makan malam ataupun solat isyak.
Setelah membereskan data di laptopnya, dia beranjak ke mushola kantor untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Ternyata masih tersisa beberapa karyawan yang juga lembur malam ini. Sebagian dia tahu adalah karyawan bagian keuangan dan personalia.
Tentunya lemburnya orang-orang itu pasti berhubungan juga dengan lemburnya saat ini.
Setelah beberapa saat berlalu, dia telah selesai dengan kegiatannya. Dan sekarang dia sedang duduk di teras mushola untuk memakai sepatunya kembali.
Terasa ponselnya bergetar di saki celananya. Segera dia melihat siapa penelpon itu. Ternyata, Gina.
__ADS_1
Jovan merasa akhir-akhir ini Gina jadi sering menghubunginya. Tapi dia angkat saja telpon yang berdering itu.
"iya halo, ada apa Gin?" tanya Jovan to the poin, dia memang tidak pandai berbasa-basi.
"iya Jo, kamu audah balik ke mess apa belum?"
"belum sih, ini abis solat. Lagi mau jalan ke mess. Kenapa?"
"Kamu lembur ya? Sudah makan apa belum?"
"iya aku lembur. Belum makan juga, ini mau cari makan sekalian mau balik ke mess"
"uwaahh.... kesempatan bagus ini" Gina membatin.
"Aku juga belum makan nih. Makan bareng yuk, kan deket tuh. Sekalian kita ngobrol-ngobrol. Gimana?" tanya Gina.
"hengmh.. Boleh deh, aku jemput kamu kalau gitu"
"oke aku tunggu ya"
"iya aku segera otw" kata Jovan.
Setelah menutup panggilan telponnya, Jovan segera beranjak untuk menjemput Gina sesuai janjinya.
Sedangkan Gina, sangking senangnya dia sampai jingkrak-jingkrak tidak karuan.
Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuknya menawari Jovan perihal investasi yang diinginkannya.
Tadi siang dia sudah bergerak cepat dengan menghubungi temannya untuk berpura-pura menjadi seorang bos dari suatu perusahaan yang akan menjadi tempat bagi Jovan untuk menyuntikkan dana segar.
Gina sangat berharap rencananya kali ini akan berjalan lancar. Dia harus melangkah dengan cepat karena memang hanya tiga bulan waktu baginya berada di kota Pesisir ini.
Dan dia tidak mau membuang kesempatan untuk mewujudkan keinginannya memiliki Jovan.
Walaupun untuk meraih impiannya, dia harus menyakiti hati sesama wanita. Gadis dewasa itu tidak perduli, karena diapun merasa tersakiti saat tahu Jovan memilih Vani untuk menjadi pendamping hidupnya.
Memang sebenarnya dia juga salah karena tidak mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu pada sahabatnya itu.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, biarlah masa lalu yang buruk baginya itu akan berusaha dirubahnya saat ini. Selagi masih ada kesempatan.
Seringai licik muncul di bibir tipis gadis dua puluh tujuh tahun itu.
__ADS_1