
Jovan masih mengamati istrinya yang sedang tertidur. Ada perasaan kecewa yang mendalam di hatinya saat tahu Vani mengandung benih dari lelaki lain.
"Haruskah aku kecewa sama kamu, bun? Sedangkan aku sendiri sudah berkhianat darimu" Jovan berdebat dengan hatinya.
Teringat saat dia berkali-kali melalui malam panjang bersama Gina, dan yang dia ketahui jika Vani hanya melakukannya satu kali. Itupun di luar kesadarannya, Yudha telah melecehkannya.
Air matanya menetes, sebagai seorang lelaki Jovan telah gagal melindungi wanitanya dari lelaki lain.
"Aku sayang banget sama kamu, bun. Bagaimana caranya aku bersikap pada anak kembar ini nantinya? Apa aku harus menyamakan kasih sayang pada mereka seperti sayangku pada kedua anak kita?" kata Jovan lirih dengan air mata penyesalan.
Jovan menangis di pinggir ranjang Vani, menangkup jemari tangan istrinya dengan posesif.
Sementara Yudha, setelah berbicara dengan Jovan tadi, langkahnya menuju pada Gina yang berada dalam sekapannya.
Di dalam ruangan gelap itu, Gina tak bisa berbuat banyak hal. Hanya duduk diam dan menajamkan pendengaran.
Bahkan dia tak menangis, dia terlalu takut untuk dianggap pengecut.Dia akan membuktikan jika Dia adalah wanita yang kuat.
Pintu ruangan terbuka, Cahaya yang tiba-tiba masuk tak bisa langsung diterima oleh netra Gina yang terbiasa dengan kegelapan sejak kemarin.
Gina hanya bisa memicing untuk membiasakan diri.
"Selamat pagi, nyonya Jovan" kata Yudha dengan wajah kejamnya, senyum smirknya membuat wajahnya terlihat semakin menjengkelkan.
"Enghm .. Sialan kamu pak Yudha" kata Gina setelah anak buah Yudha melepaskan penutup mata dan sumbalan pada mulutnya.
Yudha semakin tersenyum, hatinya merasa terhibur melihat Gina menderita.
"Sudah menderita saja masih bermulut besar kamu ya, nyonya Jovan" kata Yudha yang duduk di ranjang, di hadapan Gina yang duduk terikat.
Gina mendengus kesal, "Kau sangat pengecut, beraninya hanya pada wanita yang diikat. Kenapa? Kau takut aku juga membunuhmu?" tanya Gina yang masih bisa tergelak di situasi sulitnya.
"Aku hanya tidak mau kalau kau sampai menyakiti Vani lagi. Aku takut tidak bisa mengontrol diri dan malah langsung membunuhmu" kata Yudha.
Tapi Gina tak merasa takut sedikitpun, yang dia tahu bahwa tak akan pernah ada lelaki yang akan menyakiti seorang wanita.
Tapi dia tidak tahu siapa yang sedang berada di hadapannya ini. Bahkan mungkin Yudha bisa dikatakan seorang psikopat karena dia terlalu tega, pada siapapun.
"Kau terlalu bucin, pak Yudha. Kau seperti lelaki yang tak punya harga diri, hahahaha" tawa Gina terdengar lantang di ruangan sunyi ini.
Plak!!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di wajah cantik Gina.
Tamparan yang berasal dari tangan Yudha yang sudah terasa gatal dari tadi.
"Aaugh!!" Gina hanya bisa menunduk untuk mengurangi rasa sakit di pipinya.
Tangannya tak bisa mengelus pipi mulusnya karena terikat pada tempat duduknya.
"Saya lebih tidak suka mendengar sebuah umpatan yang jelas-jelas ditujukan untukku" kata Yudha tanpa rasa bersalah.
"Hahahahhaa" Gina kembali tertawa setelah merasa pipinya mulai membaik.
Yudha hanya menatap wajah Gina, menunggu apa yang akan Gina katakan.
"Selain bucin, kau itu gila" kata Gina.
Kembali tangan Yudha terangkat dan mendarat di pipi Gina yang lainnya.
"Kau tahu nyonya Jovan, saya bisa melakukan apapun padamu kali ini.Dan aku itu orangnya tidak punya rasa kasihan sama sekali, selain pada Vani saja tentunya" kata Yudha tepat di telinga Gina yang sedang kesakitan.
Sementara di rumah sakit, Vani mulai terbangun dari tidurnya. Perasaannya sedang tidak enak, entah karena apa.
"Yah, kamu kenapa?" tanya Vani lirih, dia heran melihat Jovan yang sesenggukan dengan tangan yang menggenggam erat jemarinya.
"Maafin aku ya, bun. Aku bukan suami yang baik selama ini. Aku nggak bisa menjaga kamu, kehormatan kamu" dan Jovan hanya bisa mengeluhkan kesetiannya dalam hati.
Vani masih tak boleh tahu semuanya, biarlah Jovan simpan dalam hatinya.
"Kamu ngomong apa sih, yah. Aku nggak ngerti" kata Vani berusaha duduk, Jovan sigap membantunya.
Vani memegangi dadanya, serasa ada yang bergemuruh di sana. Dan dia malah, kepikiran Yudha?
__ADS_1
"Kenapa, bun?" tanya Jovan melihat ekspresi Vani.
Takut terjadi sesuatu padanya, atau dia merasa kesakitan.
"Kamu kenapa, bun. Apa ada yang sakit?" tanya Jovan.
"Nggak apa-apa, yah. Hanya perasaanku saja yang tidak enak " kata Vani jujur.
"Nggak enak gimana?" tanya Jovan.
"Aku juga tidak tahu, hanya rasanya aneh dan sangat tidak nyaman" kata Vani.
Rasanya pagi ini terasa tidak bersemangat, seperti saat kedua orang tuanya akan berpulang. Perasaan Vani juga tidak nyaman waktu itu.
Tapi untuk saat ini, kenapa dia jadi kepikiran Yudha?
"Hapeku mana, yah?" tanya Vani.
Lebih baik langsung saja menanyakan pada orangnya.
Jovan memberikan ponsel Vani yang sejak semalam dibawanya.
Vani segera menghubungi Yudha.
Tuut .. Tuut .. Tuut ..
Nada panggilan terdengar, ponsel Yudha bergetar dari dalam sakunya.
Saat Yudha melihat ponselnya dan melihat ada nama Vani tertera di layarnya, Yudha memerintahkan anak buahnya untuk menutup mulut Gina sebelum mengangkat panggilan dari Vani.
"Assalamualaikum, mas Yudha?"
Vani menyapa Yudha setelah mengucap salam.
Jovan melihat itu dengan tatapan aneh, tapi dia tak bisa berbuat apapun. Yudha sudah mengancamnya, dan lagi, Vani tak boleh mencurigainya.
"Waalaikumsalam, Van. Bagaimana keadaamu?" tanya Yudha melalui sambungan teleponnya, dengan tatapan penuh pada Gina yang hanya menatapnya getir.
"Aku sudah baikan kok, mas. Semuanya sudah baik-baik saja. Kamu lagi dimana? Ngapain?" tanya Vani seolah kabar Yudha terlalu penting untuknya.
"Aku masih dirumah, sedang main-main saja. Aku punya mainan baru dirumahku, sangat menyenangkan" kata Yudha dengan senyuman mengerikan, menyeringai seperti penjahat saat menatap Gina.
Sedangkan Gina masih berusaha bersikap santai dan tak takut.
"Oh, yasudah. Kamu lanjutin saja" kata Vani yang kini merasa bersalah pada suaminya.
Entah kenapa hatinya ingin tahu keadaan Yudha, tidak mungkin kalau bawaan bayinya kan? Mereka tak ada hubungannya, dalam benak Vani janin dalam perutnya adalah anak Jovan.
"Oh, tentu Van. Aku akan senang dengan mainan baruku. Kamu jaga diri baik-baik ya, nanti aku akan temui kamu kalau ada kesempatan" kata Yudha.
"Iya, mas. Assalamualaikum" kata Vani sebelum menutup panggilan teleponnya.
"Waalaikumsalam" jawab Yudha.
Setelah menutup teleponnya, Yudha kembali mengantongi ponselnya. Dan bersiap pada Gina yang harus segera diselesaikan.
Anak buah Yudha membuka sumbalan dimulut Gina atas perintah bosnya.
Gina hanya mendengus tak suka, membuang muka saat Yudha menyeringai menatapnya.
"Jadi, kenapa kamu membunuh orang tua Vani?" tanya Yudha.
Gina terkejut mendengar pertanyaan Yudha, setahunya tak ada satupun yang tahu kejadian itu.
"Aku tidak melakukannya" kata Gina.
"Oh iya?" geretak Yudha dengan mimik muka yang seolah juga terkejut.
"Aku sudah menangkap anak buahmu, dan dari mereka aku tahu kalau kamu adalah orang yang menyuruh untuk membunuh orang tua Vani" kata Yudha dengan sikap angkuhnya.
"Atau perlu aku bawakan dia ke hadapanmu? Anak buahmu sangat tidak berguna" ejek Yudha.
"Dan juga, kenapa kamu mau mencelakai kandungan Vani?" tanya Yudha lagi.
__ADS_1
"Sudah, cukup! Aku muak mendengar nama Vani lagi. Dia itu penghancur, pembawa masalah. Wanita sialan" akhirnya Gina mengumpati Vani dengan lega.
Yudha terdiam di tempatnya, biarkan dulu Gina mengatakan seluruh isi hatinya.
Kalau biasanya dia akan marah saat ada yang mengolok Vani, biarlah kali ini Yudha sabar dulu mendengarkan isi hati Gina.
Karena sebentar lagi Yudha akan memberi tahukan arti dari sebuah kehidupan untuk wanita licik ini.
"Wanita itu sudah merusak semuanya, dia sudah merebut Jovan dariku. Kenapa semua orang selalu mengistimewakannya?" kata Gina.
"Jadi, kamu mau mengakui kalau kamu yang menjadi otak dari kematian orang tua Vani?" tanya Yudha lagi.
Gina tergelak, dia tertawa terbahak-bahak, dan Yudha hanya diam sampai tawa Gina mereda.
"Aku sangat senang melihatnya menangis hari itu. Aku sangat gembira, aku sangat puas karena akhirnya dia menangis" kata Gina.
"Kau itu selain licik, juga tak berhati ya, Gina. Kita itu beda tipis, tapi aku tak suka pada wanita sepertimu. Kau lihat Vani, dia itu selain manis, penurut, lembut, dan juga ah, entahlah... Kenapa aku sangat menyukainya" mata Yudha menerawang saat menggambarkan sosok Vani.
Wanita pujaannya yang hanya bisa dilihat tanpa bisa dimilikinya.
"Tapi sayangnya aku sangat membencinya, atau kita kerja sama saja pak Yudha. Nanti kamu bisa memiliki Vani, aku bersama Jovan" kata Gina memberi usul.
"Aku tidak sudi bekerja sama denganmu. Kau itu selain jahat, juga pintar membual. Aku muak padamu" kata Yudha.
"Dan kau bajingan" kata Gina membalas perkataan Yudha.
Yudha tergelak, telinganya memanas mendengar umpatan Gina.
"Berani sekali kau, wanita kurang ajar" kata Yudha yang masih membiarkan Gina menertawakan keadaan.
"Ya, kau benar Yudha sialan. Vani itu memang wanita yang baik, karenanya aku sangat ingin melihatnya kesusahan. Dia itu harus tahu rasanya sakit hati" kata Gina penuh amarah kali ini.
"Dan saat aku berhasil keluar dari sini nanti, hal pertama yang ingin aku lakukan adalah membunuhnya dengan tanganku sendiri" kata Gina lagi, tekadnya sudah bulat.
Vani harus mati.
"Jadi kau pikir, kau akan bisa membunuh Vani?" tanya Yudha lagi.
"Tentu, kenapa tidak? Aku tak takut pada siapapun, meskipun itu kau, Yudha sialan" umpat Gina.
Cukup sudah, Yudha sudah punya alasan penuh untuk bertindak sesuai keinginannya.
Kedua tangan Yudha meraih leher jenjang Gina. Leher yang selama ini selalu dipamerkannya. Mencekik kuat hingga napas Gina tersengal, sedangkan Gina tak bisa mempertahankan diri karena tangannya yang diikat.
Mata Yudha memerah, rahangnya mengeras, urat-urat tangannya sampai terlihat karena amarah yang tersalurkan.
Dan apa yang telah Yudha lakukan, semuanya seolah tersalur pada Vani yang sedang berada di rumah sakit.
Anak dalam kandungannya bergerak keras, seolah sedang beradu renang di dalam perutnya.
Gerakan keduanya terlampau lincah, membuat Vani merasa sedikit kesakitan.
"Aduh, mereka bergerak terlalu keras, yah" keluh Vani memperlihatkan perut buncitnya yang bergerak-gerak.
"Apa itu sakit?" tanya Jovan khawatir, entah apa yang sedang terjadi pada Yudha.
"Sedikit, nggak biasanya seperti ini. Kenapa ya, yah?" keluh Vani dengan ringisan kesakitan.
Jovan tahu jika itu terjadi karena kemistri antara anak dan ayahnya. Dan bisa dipastikan jika sedang terjadi sesuatu pada Yudha.
Lelaki itu hanya bisa mengelus perut buncit Vani untuk sedikit menenangkannya.
Tapi tunggu, Yudha melepas lagi cekikan di leher Gina. Membuat wanita itu terbatuk dan segera meraih napas sebanyak mungkin.
Yudha menyeringai kejam, terasa ada sedikit perasaan lega dalam hatinya setelah melakukan itu.
"Kau gila, kau kejam, kau memang psikopat" teriak Gina setelah napasnya sedikit membaik.
.
.
.
__ADS_1
.