Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
langkah awal


__ADS_3

"Mbak Vani sudah berapa lama sih hamilnya, sayang?" tanya Gina yang masih bergelayut manja dilengan Jovan.


"Sudah jalan empat bulan, aku tidak sabar menantikan anak kembarku. Semoga saja nanti dia tidak kewalahan mengurus empat anak tanpa aku disampingnya" kata Jovan berandai-andai.


"Sudah tugas dia kan ngurusin anak kalian, kan kamu sudah cari nafkah buat mereka" kata Gina sedikit tidak terima. Tiap kali mereka bertemu, pasti selalu saja Jovan membanggakan akan hadirnya anak kembar diantara mereka.


"Tugas suami bukan hanya mencari nafkah saja, tapi mengurus anak dan mengurus rumah sebenarnya adalah tugas dari seorang suami. Tapi keikhlasan seorang istri untuk membantu suami mengurus anak dan rumah adalah pahala. Dan Vani tak pernah mengeluh melakukan itu semua untukku" kata Jovan yang selalu membanggakan Vani.


Gina terdiam, ingin rasanya dia memaki Jovan. Tapi dia tidak mau membuat suaminya itu menjauh.


Yang ingin dia lakukan adalah membuat Vani merasa tertekan, sama sepertinya saat Jovan selalu membuatnya merasa tidak nyaman.


Selepas kepergian Jovan, Gina tidak bisa tidur. Rasa dendam tanpa sebab pada Vani membuat pikirannya tak menentu.


Dia menghubungi seseorang, anak buahnya yang setia.


"Besok temui aku ditempat biasa. Ada tugas buat kamu"


kata Gina singkat, ada rencana jahat yang terlintas dalam pikirannya.


★★★★★


"Kamu nggak pingin sesuatu?" tanya Yudha yang berhasil membawa Vani dan kedua anaknya pergi ke sebuah restoran yang menjual mie dengan tingkatan pedas yang ada levelnya.


"Kan ini lagi makan yang aku pingin, mas. Memangnya mau apa lagi?" tanya Vani yang keinginnannya selalu dipenuhi oleh Yudha.


"Aku heran sama kamu, kenapa kamu perhatian banget sama aku" kata Vani, dia juga heran, kenapa dia sangat bahagia kalau ada Yudha didekatnya.


"Memangnya salah kalau aku mau kamu happy? Kamu kan lagi hamil, Van. Rasa bahagia seorang ibu hamil itu akan tersalurkan pada anak yang ada dalam kandungannya. Jadi kalau kamu senang, anak kamu juga senang" kata Yudha mencari alasan.


Perut Vani terlihat lebih besar dari ukuran ibu hamil yang usia kandungannya sama sepertinya, mungkin karena ada dua janin yang tumbuh bersamaan dalam rahimnya yang membuat ukuran perutnya lebih besar.


"Kamu nggak kelihatan tambah gemuk, apa kamu membatasi asupan makanan?" tanya Yudha.


"Enggak kok, aku makan semua yang aku inginkan. Tapi memang setiap aku hamil, berat badanku tidak terlalu banyak berubah. Cuma perutku saja yang semakin besar" kata Vani yang masih sibuk dengan makanannya.


"Mas Yudha malah kelihatan makin kurus, kamu diet?" tanya Vani.


"Nggak kok, lagi nggak nafsu makan saja sepertinya" jawab Yudha tidak berterus terang.


Sudah tiga bulan terakhir ini dia selalu mual dan muntah dipagi hari. Tapi saat menjelang siang, rasa mualnya sudah hilang. Dan dia bisa mengkonsumsi banyak makanan dari siang sampai malam hari.


Dan kembali pagi harinya dia akan merasa mual lagi.


"Kamu khawatir ya sama aku?" tanya Yudha gembira, dikhawatirkan oleh seorang Vani adalah kebahagiaan tersendiri baginya.


"Biasa saja sih sebenarnya, hehehe" kata Vani yang membuat senyum Yudha sirna.


"Kenapa jadi cemberut gitu? hehe. Bercanda mas.. Ya khawatir lah aku, kalau terjadi apa-apa sama kamu kan nggak ada yang ngurusin. Kamu kan LDR an sama istri kamu" kata Vani.

__ADS_1


Yudha sedikit tidak suka jika Vani membahas tentang Bella.


"Kamu periksa kandungannya rutin kan?" tanya Yudha mengalihkan topik pembicaraan.


"Rutin dong, satu bulan sekali sih. Mereka pintar kok di dalam perut aku, jarang banget rewel" kata Vani.


"Tentu saja kamu nggak apa-apa, Van. Tiap pagi kan aku yang merasakan morning sickness. Tapi nggak masalah, mungkin itu juga sedikit hukuman dari tuhan karena perbuatanku, sampai membuat kamu hamil" kata Yudha dalam hatinya.


Bibirnya masih melukiskan senyuman melihat Vani yang lahap memakan makanannya.


"Kamu ngapain sih? Daritadi perhatiin terus, tuh makanan kamu jangan dianggurin. Keburu dingin mas, nggak enak nanti" kata Vani membuyarkan lamunan Yudha.


"Iya, aku makan kok" kata Yudha berusaha menghabiskan makanannya.


Vani memperhatikan kedua anaknya yang juga terlihat cukup lahap saat menyantap mie dan es yang menjadi menu favorit di tempat ini.


Beruntung Varo dan Vee sangat senang saat mengetahui jika bundanya sedang mengandung dua anak kembar. Mereka berdua jarang sekali rewel ataupun bertengkar.


Vani beruntung memiliki anak yang sangat pengertian dan penurut seperti Varo dan Vee. Meskipun mereka masih kecil, tapi mereka cukup mandiri dan kompak.


"Kalian jangan ngusahin bunda, ya. Kasihan bunda kalian itu lagi bawa dua adik kecil di dalam perutnya" kata Yudha pada Varo dan Vee yang sedang asyik makan.


Varo hanya mengacungkan jari jempolnya, menandakan jika dia menyimak perkataan Yudha meski sibuk makan.


"Iya dong, pa. Kasihan bunda capek gendong adik bayi dalam perutnya" jawab Vee.


"Pintar kalian" kata Yudha sambil mengusap rambut Vee, dia juga sayang padanya.


"Senang tentunya, mereka suport aku banget. Apalagi saat tahu kalau anak aku nanti kembar, mereka antusias sekali. Mereka tambah mandiri" jawab Vani tersenyum.


"Aku bersyukur banget karena mereka sangat pengertian, mas" imbuhnya.


"Ya, mereka anak yang sangat baik" kata Yudha.


Yudha sedikit berfikir, dia ingin sekali melakukan tes DNA pada kandungan Vani. Tapi dia bingung bagaimana cara mengutarakan maksudnya.


Dia tidak akan bertindak gegabah dengan memaksa Vani untuk mengikuti kemauannya. Yudha akan berkonsultasi dulu dengan Mela, salah satu temannya yang berprofesi sebagai dokter.


"Buatkan appoinment dengan Mela besok, aku ingin berkonsultasi dengannya".


Pesan Yudha melalui chatting pada Akbar.


"Apa bapak masih sakit?"


tanya Akbar sedikit khawatir.


"Tidak, ini masalah Vani dan kandungannya".


Balas Yudha.

__ADS_1


"Baik, pak".


Akbar mengerti, dengan cepat dia menghubungi dokter Mela.


Keesokan harinya, tepat tengah hari saat makan siang, Yudha sudah duduk berhadapan dengan Mela untuk membahas keinginan Yudha melakukan tes DNA pada kandungan Vani.


"Kamu mau ketemuan sama aku mau bahas masalah apa?" tanya Mela sambil menunggu pesanannya datang.


"Aku mau melakukan tes DNA" kata Yudha.


Mela tersedak minumannya saat mendengar penuturan Yudha.


"Cg, biasa saja bisa nggak sih respon kamu" kata Yudha.


"Maksudnya, kamu kira kamu punya anak dari seorang wanita gitu? Wanita yang mana? Perempuan malam mana yang mau mengandung anak kamu?" tanya Mela sedikit marah, tak menyangka jika Yudha bisa sebodoh itu.


"Jaga mulut kamu ya. Wanita itu adalah Vani" kata Yudha yang semakin membuat Mela tersedak lebih parah daripada sebelumnya.


"Kamu gila ya? Kamu menghamili istri orang. Kamu benar-benar laki-laki brengsek" kata Mela mengumpati Yudha.


Mereka berdua memang cukup dekat sejak dahulu, Yudha dan Mela adalah teman sejak SMA.


"Terserah kamu bilang apa. Waktu itu aku cuma ingin merasakan bahagia karena bisa bersenggama dengan wanita yang aku cintai, Mel. Dan aku melakukannya tanpa sepengetahuannya, sampai saat ini dia hamil empat bulan, dia bahkan tidak tahu kalau sebenarnya dia sedang hamil anakku, Mel" kata Yudha.


Percakapan mereka berdua terhenti saat seorang waitress datang menghidangkan pesanan mereka berdua.


"Terimakasih, mbak" kata Mela setelah waitress itu selesai menghidangkan makanan diatas meja.


"Terus, sekarang kamu maunya apa? Kalau kamu sudah yakin jika anak dalam kandungan Vani itu anak kamu, ngapain masih mai tes DNA?" tanya Mela sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Aku yakin Mel, hanya saja jika dilakukan tes DNA, aku bisa mengambil salah satu diantara anak yang Vani kandung nantinya. Aku juga sangat ingin mempunyai anak kandung, Mel".


"Kamu tahu sendiri kalau Bella sama sekali tidak mau memberikan anak padaku. Dia sibuk dengan karirnya yang sedikit lagi pasti meredup. Bahkan aku pernah memergokinya sedang berselingkuh di apartemennya di Thailand beberapa bulan yang lalu" kata Yudha menceritakan sedikit kisah hidupnya, Yudha sudah cukup percaya jika Mela bisa menjaga rahasianya.


"Oh iya? Kisah cinta kalian berempat sangat unik, ya. I'm speechless. Pusing aku mendengar cerita kamu" kata Mela.


"Aku nggak butuh sih kata-kata apapun dari kamu, yang sekarang aku inginkan, kamu harus mau membantuku untuk melakukan tes DNA pada bayi yang Vani kandung" kata Yudha.


Mela melirik sebal pada Yudha, perkataannya sungguh membuatnya merasa tak berarti sebagai seorang teman. Yudha hanya memerlukan karirnya, bukan pribadinya.


"Kenapa? Kamu keberatan? Aku bisa saja meminta tolong pada dokter lainnya, dan kamu akan kehilangan teman sekaligus pasien utama kamu kalau aku tidak lagi menggunakan jasa kamu" kata Yudha sedikit mengancam.


"Kamu selalu saja egois, tapi entah, aku kasihan sama kamu. Aku akan bantuin kamu" kata Mela sambil memakan makanannya dengan anggun.


"Jadi, bagaimana prosedur untuk melakukan tes DNA itu?" tanya Yudha tidak sabaran.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2