
"Loh, ngapain?" tanya Vani gelagapan karena daritadi dia sedang menggibah orang yang sedang menuju ke arahnya.
"Lagi sama siapa?" tanya Yudha yang mendapati Vani duduk berdua dengan seorang wanita bertubuh mungil dengan rambut panjang terurai.
"Oh, ini teman aku. Kenalin, Tita ini mas Yudha" kata Vani mendadak gugup.
"Oh, hai saya Tita" kata Tita mengulurkan tangannya, Yudha tersenyum sambil menerima uluran tangan wanita itu.
"Kok tahu aku disini?" tanya Vani heran, seingatnya tidak pernah mengabari Yudha sebelumnya.
"Sembunyi di lubang semut pun aku akan menemukanmu, Van" kata Yudha bercanda, tapi Vani menangkap gelagat serius dari ucapannya. Sejenak Vani bergidik mendengarnya.
"Hahaha, kamu ada-ada saja mas" kata Vani berusaha tenang.
"Papa Yudhaaa...." teriak Vee yang mengetahui kedatangan Yudha. Dia sampai melompat karena ingin digendong olehnya.
"Papa kangen sama kamu" kata Yudha yang menghujani ciuman di seluruh wajah Vee. Membuat Vee tertawa geli karena ulahnya.
Tita memandang Yudha tak berkedip, selama ini dia hanya mendengar cerita tentangnya dari mulut sahabatnya. Tapi melihat orangnya secara langsung, membuat Tita tak bisa berkata-kata. Sungguh penampakan yang sempurna. Bibirnya sampai sedikit menganga melihat makhluk ciptaan tuhan yang satu ini.
"Kalau kamu nggak mau, buat aku boleh kok Van" suara hari Tita yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
"Tutup mulut kamu, Ta" kata Vani pelan, dia sampai menyenggol perut Tita dengan sikunya karena Tita tak merespon ucapannya.
"Eh, apa sih?" tanya Tita kaget karena ketahuan mengagumi lelaki tampan semacam Yudha.
"Kamu lagi ngapain?" tanya Yudha pada Vee, percakapan mereka bisa terdengar jelas di telinga Vani.
"Main sama kakak sama Hildan" kata Vee.
"Terus?" tanya Yudha lagi.
"Bunda ngobrolin papa sama tante" bisik Vee lumayan keras, membuat Yudha tak bisa menahan tawanya.
"Pantas saja daritadi papa bersin-bersin terus" kata Yudha yang masih tak bisa menghentikan tawanya.
"Vee, jangan ngadu yang aneh-aneh ya" teriak Vani yang membuat Yudha semakin tertawa.
Tita mengamati pemandangan di depannya, sungguh tak akan ada hati wanita yang tak tergoda oleh pesona Yudha. Semoga Vani tetap pada pendiriannya untuk setia pada pasangannya.
__ADS_1
"Aku balik duluan deh Van, sudah siang banget ini. Takut Hildan ngantuk" kata Tita berpamitan.
"Aku juga mau pulang kok, Ta. Kan tadi kesini bareng kamu" kata Vani berharap Tita masih mau memberinya tumpangan.
"Bareng aku saja, Van" kata Yudha yang mendengar Vani akan pulang.
Sialnya Vani tadi tidak mau membawa motor sendiri. Tadinya dia ingin mengerjai Tita agar mau jadi supir dadakan untuknya. Tapi malah berakhir seperti ini.
Niatnya ingin menjauh dari Yudha, sekarang malah bertemu lagi. Pulang bareng lagi, pasti masih ngajak anaknya main lagi.
Haduuhh...
"Hildan, sayang. Ayo pulang" kata Tita, dengan patuh Hildan mendatangi mamanya.
"Salim sama tante dulu, sama omnya juga" kata Tita yang terus dilakukan oleh Hildan. Hildan memang anak yang baik dan penurut.
"Aku pulang duluan ya Van, kamu hati-hati ya. Sampai ketemu besok" kata Tita yang kemudian berlalu dari pandangan Vani.
"Masih mau disini apa mau pulang? Papa Yudha punya banyak hadiah buat kalian" kata Yudha.
"Asyiikk... papa kasih hadiah" tentu saja Vee berseru senang dengan kata hadiah yang dilontarkan Yudha. Anak kecil memang begitu, kan?
"Yasudah, ayo pulang" kata Vani melambaikan tangannya pada Varo, mengajak anak itu segera pergi dari taman ini.
"Itu hadiah buat kalian" kata Yudha yang menurunkan Vee di jok belakang setelah membuka pintu mobilnya.
Yudha meletakkan kantong belanjaannya di jok belakang. Membiarkan Vee dan Varo melihat banyak hadiah darinya. Biarlah sedikit ada waktu baginya untuk mengobrol dengan sang bunda.
Varo terlihat sangat antusias melihat begitu banyak benda bermotif spiderman pemberian Yudha. Senyumnya terus berkembang, usaha Yudha berhasil untuk membuatnya sedikit menyukainya.
"Uwah, spiderman semua" kata Varo pelan, tapi masih terdengar di telinga Yudha dan Vani.
"Mas, aku kan sudah bilang jangan terlalu manjain mereka" keluh Vani.
"Nggak setiap hari juga, Van" kata Yudha enteng.
"Ya, tapi kan kemarin sudah" protes Vani.
"Nggak apa-apa dong, bun" celetuk Vee dari belakang.
__ADS_1
Vani hanya menghela napas pelan, tidak suka dengan perlakuan berlebihan Yudha pada anak-anaknya.
★★★★★
"Kamu pokoknya setiap hari harus tidurnya disini dong, sayang" Gina keukeh menyuruh Jovan untuk tinggal di rumah dinasnya.
"Nggak bisa gitu dong, Gin. Nanti bisa-bisa digrebek sama warga sini" kata Jovan mendengus kasar. Belum lama Gina sudah meminta yang tidak-tidak. Ya meskipun itu sah-sah saja sih karena memang Gina sekarang juga istrinya Jovan.
"Nggak apa-apa sih, kan kemarin ada saksi dari pak RT disini. Nggak bakalan lah digrebek. Kamu ini aneh-aneh saja" kata Gina terkekeh kecil.
Sejak menikah dengan Gina sampai sekarang, belum sempat Jovan melakukan hubungan suami istri sungguhan dengannya. Bayangan Vani selalu melintas di pikirannya selama bersama Gina.
Sebenarnya Gina juga gregetan dengan sikap Jovan yang seperti itu. Tapi dia masih berusaha sabar agar Jovan tidak semakin menjauh darinya.
"Cg, itu cuma alasan kamu saja kan. Nggak apa-apa kok, aku bakalan sabar nungguin kamu siap buat jadi suami aku seutuhnya" kata Gina dengan senyum manisnya.
Keadaan yang seperti ini yang membuat Jovan kehabisan kata-kata. Gina wanita yang sabar meskipun agak sedikit pemaksa dalam keadaan tertentu. Selain itu, sebenarnya dia juga cantik.
"Sudah makannya?" tanya Jovan lagi. Berharap sesi makan malamnya segera disudahi agar tidak terlalu lama ngobrol dengan Gina yang akan membuatnya semakin tidak tahu harus berbuat apa.
"Sudah" kata Gina.
"Aku antar kamu pulang ya. Besok pagi kan harus mengajar, jangan sampai telat. Bahaya kalau gurunya telat" kata Jovan tersenyum. Ada perasaan dalit di hatinya dengan kesabaran Gina.
"Iya. Ayo pulang" kata Gina berdiri, lalu berjalan disini Jovan dan menggenggam jemari suaminya. Jovan hanya menoleh sedikit dan menarik ujung bibirnya untuk menyunggingkan senyum simpul.
"Besok kamu nginap ya, aku mau masakin makanan yang enak buat kamu. Biar nggak beli diluar terus, kan nggak sehat. Biar ada gunanya aku sebagai istri kamu" kata Gina yang sukses menyentil hati kecil Jovan.
Ya, bagiamanapun dia juga istrinya. Gina juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama seperti saat dia memperlakukan Vani.
Jovan harus bisa untuk mencoba bersikap adil, terlepas dari apapun alasannya dia menikahi Gina. Yang jelas dia juga istri sahnya yang punya hak yang sama. Jovan harus bisa belajar bersiap adil, dan tetap menjaga kerahasian semuanya demi biduk rumah tangganya bersama Vani. Karena ada Yudha yang menjadi momok terbesar dalam hidupnya.
Yudha yang lebih segalanya dibandingkan dia yang hanya karyawan biasa, sekarang malah terjebak dalam pernikahannya dengan sahabat masa sekolahnya.
Jovan jadi bingung sendiri dengan jalan takdirnya. Padahal banyak lelaki yang ingin sepertinya, punya dua istri yang cantik dengan karakter dan pembawaan yang berbeda. Dan dua-duanya sangat mencintainya.
Kurang apa lagi sebenarnya hidup Jovan?
.
__ADS_1
.
.