
HARI BERGANTI
Beberapa minggu telah terlewati setelah pertemuan Vani dan cinta masa lalunya, Yudha. Meninggalkan secuil kebahagiaan dihati kecil Vani.
Setelah beberapa tahun memendam rindu yang hanya dia yang tahu. Memang rindu itu berat, benar yang dikatakan Dilan pada Milea.
Saat ia bertemu kembali dengan sang mantan calon kekasihnya dulu. Sungguh rumit hubungan mereka waktu itu. Dibilang pacaran tapi tidak ada yang saling mengutarakan perasaan, tapi dibilang bukan kekasih tapi sangat dekat sampai orang-orang akan salah paham dengan keduanya.
Siang ini saat menunggu kepulangan anaknya, di depan sekolah TK Vani termenung sambil duduk di atas motor bututnya.
Hingga seseorang menepuk bahunya, dia sampai terkaget-kaget.
"Hayo ngelamun aja" kata Tita, sahabat Vani sejak duduk dibangku SMP hingga sekarang anak-anak nya juga bersahabat, dan bersekolah disekolah yang sama.
"Haduh ... Ngagetin aja sih Tita..." Kata Vani sambil mengelus dadanya.
"Lagian, siang bolong malah bengong. Lagi mikirin apa sih?" tanya Tita.
Sejenak dia memandang sahabatnya ini. Hanya sekali pacaran langsung cocok dan menikah. Mereka sangat bahagia, meskipun untuk mendapatkan momongan, mereka harus sabar menunggu sangat lama, hampir sepuluh tahun, tapi tak menyurutkan cinta di hati ke duanya untuk mengucap kata pisah.
Sedangkan dirinya, di usia remajanya menemukan cinta pertamanya. Sama-sama saling memahami tanpa adanya ikatan. Saling melengkapi tanpa hubungan. Saling sayang tanpa pengakuan.
Lalu, sang pujaan hati tiba-tiba pergi tanpa kabar. Sejenak melupakan, tiba-tiba terdengar kabar pernikahan yang membuat hatinya hancur. Hingga membutuhkan waktu dua tahun lamanya untuk menyembuhkan luka hati.
Lalu bertemu dengan Indra, laki-laki yang dulu sangat baik dan polos juga pemalu.
Sampai-sampai untuk menyatakan perasaannya saja harus lewat perantara orang ke tiga.
Tapi malah sempat ingin ditikung oleh temannya sendiri. Tapi keberuntungan masih berpihak padanya, hingga Indra bisa merasakan cintanya bersambut oleh Vani.
Setahun berhubungan meski jarang bertemu, Vani masih setia pada si pemalu Indra. Berpacaran tanpa berbuat yang lebih, berpegangan tangan saja saat berboncengan sepeda motor.
Meskipun pemalu, Indra sangat manis. Di hari ulang tahunnya, Indralah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun tidak lupa kadonya.
Vani ingat betul hadiah pertama ulang tahunnya yang ke-22 tahun dulu adalah sekotak coklat dan jam tangan dari Indra.
Tapi beberapa minggu yang lalu malah dia menjebaknya, hampir melecehkannya. Sungguh ironi, di usia matang tapi belum menikah membuatnya ingin bertindak lebih pada perempuan yang sudah tidak perawan untuk menghindari tuduhan jahat.
"Heh, ngelamun lagi. Lagi mikirin apa sih Van?" Tanya Tita kepo.
"Masih lama ya anak-anak keluarnya?" Tanya Vani Random.
"Kayaknya masih 20 menit lagi, kenapa memangnya?" Tanya Tita.
__ADS_1
"Duduk di sana yuk. Mau cerita nih aku" kata Vani menunjuk bangku kosong yang biasanya sudah diisi oleh emak-emak ghibah sambil nungguin anak mereka.
"Ayuk lah" jawab Tita.
Setelah duduk, dengan tidak sabar Tita bertanya, "ada apa sih? Masalah rumah tangga?"
"Bukan... Engmh.. gimana ya jelasinnya. Kamu inget dulu aku pernah cerita tentang seseorang yang aku cinta tapi ninggalin aku begitu aja?"kata Vani.
"Inget lah. Waktu itu kamu jadi pendiem banget, sampai nggak tega aku. Sedih kamu nggak ada habis-habisnya waktu itu ya?" Kata Tita prihatin.
"Tiga minggu yang lalu aku ketemu dia. Tahu nggak proses pertemuan kita gimana?" Kata Vani.
"Nggak tahu lah, udah cepetan cerita, bikin penasaran aja"kata Tita.
Akhirnya Vani mengeritakan awal mula hingga akhir dari pertemuannya dengan Yudha dan Indra sebagai perantaranya.
Tita hanya terbengong saja mendengarkan kisah unik sahabatnya itu.
"Ya ampun... Udah begini aja jadi agresif banget tuh biang kerok, dulu aja nunggu telponan dulu biar bisa ngomong banyak, iya kan?" Kata Tita bersungut.
"Iya, aku juga heran sama dia. Dulu dia kan pendiem banget. Sekarang agresif banget, kalau lagi telpon atau chatting tuh selalu menjurus gitu kata-katanya. Menjurus ke arah pencabulan, hihihihi" kata Vani sambil cekikikan.
" Maklum, tigapuluh tahun batang cuma buat pipis doang, pacarnya pasti udah diicipin tuh"kata Tita.
"Terus dia mau nyoba sama kamu tapi pacarnya sendiri dijaga? Gila emang tuh cowok" kata Tita berapi-api.
"Brengsek emang, kan aku jadi berbuat dosa sama mas Yudha. Yaa meskipun nggak sengaja kan kita tetep dosa ya Ta?" Tanya Vani.
"Dosa atau enggak ya aku nggak tau lah Van. Kamu kira aku malaikat pencatat amal apa. Tapi kan kamu juga nggak sadar kan ya, setengah sadar sih tepatnya. Kamu nikmati nggak tuh momen, secara dulu kan kalian nggak pernah ngapa-ngapain?" Tanya Tita menggoda Vani.
Yang ditanya tersipu, "dikit sih... Haha. Dosa banget aku. "
Beberapa lama ngobrol, akhirnya anak-anak pun sudah keluar kelas. Berlarian mencari penjemput masing-masing.
Alvaro Setiawan dan Veronica Setiawan, kakak beradik, si sulung dan si bungsu anak Vani, bersama Hildan Prasetya anak sang sahabat Tita berlarian mencari orang tua masing-masing.
"bundaaaa...." teriak Varo dan Vero bersamaan.
"mamaaaaa...." teriak Hildan.
"uwah..... anak-anak bunda sudah pulang nih..." ucap Vani antusias.
"gimana sekolahnya, senang?" tanya Vani pada ketiganya.
__ADS_1
"tadi aku ngompol ma" kata Hildan polos.
selanjutnya Varo dan Vero tertawa bersama..
mendengar tawa temannya yang meledek, Hildan jadi nangis.
" udah jangan diledekin, nangis kan tuh Hildannya kasian" kata Vani pada anak-anaknya. "cepetan minta maaf" imbuh Vani.
"iya bun... maaf ya Hildan" ucap Varo dan Vero bergantian.
Mereka bertigapun saling berpelukan.
Sungguh pemandangan yang menyenangkan, melihat anak-anak tumbuh pintar dan sehat seperti itu.
Lalu merekapun berpamitan, saling pergi ke rumah masing-masing.
Ditengah jalan Vani melihat ada pembangunan gedung baru, dari desainnya seperti akan dijadikan tempat pencucian mobil.
Entahlah, bukan urusannya juga.
Tidak butuh waktu lama Vani dan kedua anaknya tiba di rumah sederhana tanpa pagar, tapi sangat rapi terawat dengan bunga-bunga sebagai pembatas halaman dengan jalan umum.
"assalamualaikum... kami pulang...." kata Varo mendahului.
"waalaikumsalam... uwah .. cucunya uti udah pada pulang sekolah ya" ucap ibu Vani.
"sekarang ganti baju lalu makan, terus istirahat ya sayang" imbuhnya
"iya uti, kami masuk kamar dulu ya" kata Varo.
"gimana kelanjutan kamu yang ngelamar kerja di hotel waktu itu Van?" tanya ibu Vani.
"belum ada kabar sih bu, soalnya waktu itu surat lamarannya belum aku sampein. kan ibu tau aku jatuh waktu itu, terus nggak jadi deh buat naruh lamarannya" ucap Vani sedikit berbohong.
"oohh .... yasudah, nanti aja lain waktu kalau ada kesempatan cari kerja lagi" kata ibunya
"tapi beneran nggak apa-apa ya bu aku bantuin mas Jovan kerja, kasihan aku kalau nggak bantuin dia" kata Vani
"ya nggak apa-apa Van, kan sudah pernah dibahas waktu itu. Biar si Yoga yang anter jemput anak-anak sekolah, dia kan nggak ada kerjaan kalau siang. Biar nggak mubadzir waktu luangnya" kata sang ibu.
" iya bu. nanti biar Vani tanya lagi sama teman Vani, soalnya hotel itu dekat sama rumah kita. Sayang kalau harus cari di tempat lain"kata Vani.
"iya.. yang terbaik aja Van"kata ibu.
__ADS_1