
Rabu pagi setelah mengantar anak-anaknya sekolah, Vani memutuskan untuk bertanya tentang lowongan pekerjaan di hotel Empire.
Pukul 9 pagi dia sudah berada di lobi hotel. Bertanya pada security hotel itu tentang lowongan yang mungkin masih ada.
"Permisi pak, boleh saya bertanya?" ucap Vani sopan.
"iya mbak, ada apa?" kata security yang ternyata bernama Edo dari name tagnya.
"maaf pak, apa lowongan kerja di hotel ini masih ada?" kata Vani.
"Sepertinya ada di bagian resepsionis mbak, tapi cari yang fresh graduate gitu. Memang mbaknya usia berapa?"tanya Security itu menyelidik.
"uwah... sepertinya saya sudah nggak bisa ya pak?" kata Vani sadar diri.
"yasudah, saya permisi kalau gitu. Makasi informasinya pak" ucap Vani sopan.
"iya mbak, sama-sama" jawab security itu.
Dengan langkah gontai, Vani berjalan kembali menuju parkiran untuk mengambil motornya dan berniat pulang.
Tapi siapa sangka, ternyata dia berpapasan dengan calon mantan kekasihnya dulu. Siapa lagi kalau bukan Yudha.
Sepertinya Yudha juga baru tiba di hotel ini. Dan dia belum menyadari keberadaan Vani.
Dengan riang Vani berjalan mendekati Yudha yang sibuk dengan handphonenya sambil berjalan.
"Mas Yudha" sapa Vani singkat.
yang disapa agak kaget, tapi bahagia, tapi berusaha cuek.
"eh.. hai. Van, ngapain?" tanyanya tanpa basa-basi.
"huft .. lagi cari kerjaan. Tapi udah laku sama umur" jawabnya mendramatisir.
"haha.. kamu udah tua, makanya udah nggak laku" kata Yudha meledek.
"enak aja.. Tuaan situ juga kali..." jawab Vani sewot, wanita memang selalu sensi kalau tentang usia dan berat badan yaa..
"iya.. iya.. meskipun tua aku kan masih ganteng" jawab Yudha menggoda.
"kamu jadi apa sih kerja disini mas? aku tuh pengen nitip lamaran deh ke kamu.. haha, siapa tau kalau kamu bawain jadi ada lowongan dadakan nih buat aku" kata Vani memberi ide.
"eh .. nggak ada ya. Mana ada nepotisme semacam itu. Emang kamu bisanya kerja apa?" tanya Yudha mulai serius.
"ya apa aja, cleaning service juga nggak apa-apa deh mas. Yang penting halal" jawab Vani.
"segitu butuhnya kamu cari kerja, memangnya suami kamu nggak mencukupi kebutuhan kamu apa?" tanya Yudha, tapi hanya di dalam hati.
Terbesit rasa kasihan di hati Yudha pada wanita masa lalunya ini. Tapi apa yang bisa dia perbuat?
Bukan haknya juga untuk menopang kehidupan wanita ini. Apalagi dia tahu dari dulu prinsipnya yang tidak suka merepotkan orang lain, apalagi sekarang yang notabene telah berkeluarga.
" Ya jangan bagian itu, berat, nanti kamu capek. Kan udah tua" kata Yudha menggoda Vani.
Mendengar itu, Vani reflek mencubit pinggang Yudha gemas.
"aduh... sakit tau, ngapain sih cubit-cubit" kata Yudha.
"abisnya daritadi ngatain tua-tua mulu. Emang situ nggak nyadar lebih tua dari aku?"kata Vani sebal.
"haha.. iya, iya, nanti aku bantu cariin kamu kerjaan deh. Udah jangan sewot mulu. Mulut sampai bisa dikuncir itu" kata Yudha.
"udah deh. Males aku sama mas Yudha, nyebelin banget sih jadi orang" kata Vani ingin berlalu.
"eh.. tunggu dong, santai aja buk... kalem.. nggak pingin ngobrol dulu gitu?" tanya Yudha agak tak rela jika harus berpisah lagi.
"nggak, aku jadi tiba-tiba sibuk kalau mas Yudha lagi mode nyebelin gitu" kata Vani pura-pura cuek, padahal pingin dicegah.
"iya udah, iya. Aku nggak godain lagi deh adek cantik, bentar dong ngobrol bentar sama abang"kata Yudha.
Vani jadi tertawa mendengar omongan Yudha.
"apaan sih mas. Bisa ae abang godain enengnya" ucapnya membalas godaan Yudha.
"Serius nih kamu nyari kerjaan?" tanya Yudha.
"iya mas... aku serius, kan aku udah bilang waktu itu kalau aku kebanyakan waktu luang. Dan kebanyakan dirumah itu bisa bahaya, soalnya kebanyakan rebahan dan makan bisa obesitas nantinnya" kata Vani pura-pura sedih.
__ADS_1
"hengmh .. bisa aja nyari alasannya. Yaudah, sini kasih nomer ponsel kamu. Biar nanti kalau ada informasi aku kabari kami secepatnya."ucap Yudha.
"08124... " ucap Vani merapal nomer ponselnya pada Yudha.
"ok aku save ini."kata Yudha, bersamaan dengan acara simpan menyimpan nomer kontak, ponselnya berdering. Tertera nama Akbar, sang sekretaris meneleponnya.
"..."
"iya pagi, ada apa?" tanya Yudha.
"..."
"iya, saya tidak lupa meeting itu. Saya sudah di parkiran, sebentar lagi sampai. Tunggu sebentar ya" lanjutnya sambil menutup panggilan.
"Aku ada urusan Vani, nanti aku hubungi kamu ya"ucap Yudha sambil berjalan meninggalkan Vani.
"iya"ucap Vani.
"eh.. Tadi kan belum tau nomernya mas Yudha" Vani membatin. Tapi yang punya nomor sudah jauh melangkah. "yasudah pulang aja"
Akhirnya Vani pulang dengan tangan hampa. Tidak ada pekerjaan yang didapat.
****
Seharian berlalu begitu saja.
Tinggallah Yudha sendiri memandangi langit sore dari jendela besar di salah satu sisi ruangannya.
Dengan secangkir kopi di tangan kanannya, dan tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana.
Berdiri memandangi langit yang masih betah dengan pancaran sinar matahari, suasana sore yang cerah, di musim panas seperti ini. Dia masih betah diposisinya berdiri untuk sejenak melepas penat setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.
"Jadi ingat Vani" batinnya mendesah.
Yang dia tahu, dulu Vani adalah gadis pecinta musim panas. Baginya, panasnya sinar matahari lebih disukai meskipun kadang menyebabkan pusing dan dehidrasi, daripada musim hujan yang menyebabkan masuk angin.
Alasan yang konyol, Yudha jadi senyum-senyum sendiri. Apa mungkin sekarang dia masih suka dengan musim panas dan alasan konyolnya itu ya?
Mulai mengingat pertemuannya pagi tadi. Vani mencari pekerjaan, tapi apa pekerjaan yang cocok buat dia ya...
Ide jahil muncul di pikirannya.
Sejenak berfikir akan menjahili apa pada wanita lugu itu.
****
Sementara di sisi lain, di sore yang cerah, di bagian bumi yang lain, tapi masih satu langit. Vani tengah memperhatikan layar ponselnya untuk melihat akun sosial medianya.
Sebenarnya dia tidak begitu sering upload status maupun foto dan video di akunnya itu, tapi dia suka membaca status orang lain.
Baginya itu sangat menghibur, karena dia bisa tahu kalau bukan cuma dia yang terkena masalah dalam hidupnya.
Melalui status-status dari akun lain di dumay itu, banyak orang yang dengan senang hati mengumbar masalah pribadinya, ada yang sedang senang dengan kehidupannya, ada yang sedang sedih, ada yang cari jodoh, ada yang cari kerja, eh... sama kayak dia dong?
Dengan duduk di atas kursi di teras rumahnya, dia sedang asyik mengutak-atik layar ponselnya dengan serius. Sesekali tersenyum bila ada yang dirasa lucu.
Sampai tiba-tiba ponselnya berdering, tapi nomor asing yang nampak disana.
Dengan ragu dia menjawab telpon itu dengan menggeser ikon berwarna hijau.
"assalamualaikum" sapanya mulai obrolan.
"iya waalaikumsalam salam ibu"
"siapa ya?" tanya Vani.
"maaf ibu, saya dari rumah sakit mau menyampaikan bahwa adik ibu mengalami kecelakaan dan harus segera dioperasi. maka dari itu disarankan agar ibu segera membayar biayanya, paling tidak biaya pendaftaran rumah sakit agar adik ibu bisa segera ditangani" cerocos laki-laki di seberang sana.
Agak terkejut, tapi Vani mulai sadar bahwa dia tidak punya adik. Kan dia anak tunggal.
"ada-ada saja"batinnya, tapi seru juga kalau diladeni.
"adik saya laki-laki apa perempuan pak?" Vani mulai merespon.
"laki-laki ibu"jawabnya
"oh .iya.. biarkan saja dia tidak usah ditangani pak. Lagian dia itu nakal sekali. Jadi biar saja, biar tau rasa dia" kata Vani berpura-pura.
__ADS_1
"tidak bisa begitu nyonya. ini masalah nyawa, bagaimana nyonya bisa setega itu dengan adik nyonya sendiri" jawab yang disana.
"biarlah pak, lagian dia juga cuma saudara tiri, nakal juga, biarlah dia terima hasil dari perbuatannya" kata Vani lancar, dia tau ini pasti penipuan.
"jangan seperti itu nyonya. Biarlah dia adik tiri, tapi dia adik anda sendiri. Kalau bukan anda yang membantu lantas mau siapa lagi?" tanya orang itu mulai emosi.
"biarlah pak. Biarlah dia kalau perlu biar mati sekalian, biar saya bisa senang" kata Vani menimpali.
"bagaimana anda bisa setega itu nyonya? itu adik anda sedang butuh pertolongan, tapi anda malah dengan tenangnya ingin membiarkan dia mati? sungguh jahat anda sebagai seorang kakak" kata laki-laki yang disana sambil mematikan teleponnya.
tut. tut. tut.
tiba-tiba sambungan teleponnya mati, Vani hanya menaikkan bahu. Heran!!
hahaha... Vani tertawa puas, orang disana mau menipunya, malah orang itu sendiri yang tertipu sampai memutuskan teleponnya sendiri.
Sedangkan laki-laki si penelepon penipu itu masih jengkel dengan perkataan si wanita.
Dengan bersungut-sungut, dia berkata lirih.
"dasar wanita jahat, kenapa tidak ditolong saja sih?" katanya.
Tapi laki-laki itu malah menepok jidatnya sendiri, niatnya akan mengerjai Vani malah dia sendiri jadi korbannya.
iya, laki-laki itu adalah Yudha.
Mungkin efek pekerjaan yang tidak ada habisnya, membuat otaknya agak sedikit melenceng.
Bagaimana bisa dia sangat menghayati perannya saat ingin mengerjai Vani tadi? sampai-sampai emosi dan menutup panggilan teleponnya dengan sepihak.
"kenapa aku jadi bodoh begini?" ucapnya sambil tertawa. Lalu jarinya mulai asyik membuka chatting di aplikasi ikon telepon hijua, yaitu wa.
yudha :
"sore" (sent)
Disisi lain, Vani agak bingung karena ada chatting dari penelpon penipu tadi. Tapi dia balas juga karena memang sedang gabut.
Vani :
"maaf, kalau mau menipu saya, anda salah pak. adik saya bukan laki-laki, tapi perempuan. Itu saja masih dalam proses rencana yang tidak akan bisa terwujud" (sent)
Melihat layar hapenya menyala dan bergetar, Yudha jadi senyum-senyum sendiri dengan balasan Vani.
Yudha :
"kenapa hanya direncanakan? harusnya diwujudkan" (sent)
jadilah mereka saling berbalas pesan
Vani :
"ya soalnya orang tua saya sudah punya cucu. Tidak mungkin bereproduksi. Kalau bapak cuma mau iseng. Maaf, saya blokir" (sent)
Yudha :
"haha.. galak amat bu...
oke.. oke .. ngaku, ini aku Yudha, Maaf bikin jengkel. Kamu lagi ngapain?" (sent)
Vani :
"Yudha siapa ya? anaknya bu Eulis yang jualan toge itu ya?" (sent)
Yudha :
"ganteng gini masak jualan toge?" (sent)
Vani :
"ada kok malah penjual ****** ***** tapi ganteng" (sent)
Yudha :
malah selfie, terus ngirim ke Vani biar dia percaya...
__ADS_1