Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
ingin bertemu


__ADS_3

"Bapak benar mau masuk kantor? Wajah bapak sangat pucat. Saya pastikan urusan kantor akan berjalan dengan aman pak, sementara bapak sedang istirahat" bujuk Akbar. Yudha bersikeras ingin pergi ke kantornya, padahal terlihat jelas dari wajahnya jika dia sedang sakit.


"Aku tidak apa-apa, Bar. Nanti aku ada urusan, aku harus memastikan sesuatu" kata Yudha yang sedang memakai sepatunya.


"Bapak mau memastikan apa? Biar saya yang akan melakukannya untuk bapak" kata Akbar.


"Tidak, biar aku sendiri saja" kata Yudha.


Akbar tahu, dia sudah sangat paham. Kalau sudah seperti ini, pasti sesuatu yang akan Yudha kerjakan berhubungan dengan Vani.


Kadang Akbar sampai jengah, sebegitu pentingnya Vani dalam kehidupan Yudha. Padahal dia seorang wanita yang sudah berkeluarga.


"Bapak ingin pastikan kalau bu Vani benar hamil atau tidak?" kata Akbar. Yudha menghentikan kegiatannya mendengar penuturan asisten yang selalu tahu isi hatinya ini.


"Maksudmu apa?" tanya Yudha pura-pura tidak mengerti.


"Ya, bu Vani sekarang sedang hamil pak. Saya tahu jika beberapa hal yang lalu, dia dan suaminya sedang kontrol kehamilan di bidan dekat rumahnya" kata Akbar.


Yudha tertarik dengan obrolan ini, sekarang dia mengentikan kegiatannya. Dan fokus dengan pembicaraannya dengan Akbar.


"Kamu tahu darimana?" tanya Yudha.


"Saya tahu semuanya pak, bahkan saya tahu jika bu Vani sedang hamil anak kembar" kata Akbar.


Yudha tertegun, bisa dipastikan jika anak dalam kandungan Vani adalah anaknya. Karena dia sidah sangat menderita beberapa hari ini.


"Nanti akan saya cari tahu lagi pak, benarkah anak itu adalah anak bapak atau bukan" kata Akbar.


"Bagaimana kau akan mengetahuinya?" tanya Yudha.


"Bisa kita lakukan tes DNA. Semua sudah sangat mudah, tapi memang untuk melakukan itu butuh waktu hingga kehamilannya cukup besar" kata Akbar.


"Darimana kamu bisa tahu hal yang seperti ini, Bar? Padahal kau belum menikah" kata Yudha penuh selidik.


"Saya hanya berjaga-jaga, ternyata benar kan bapak sedang bingung" kata Akbar.


"Sebaiknya hari ini bapak dirumah saja, istirahat dulu. Urusan kantor pasti aman, bapak tidak perlu khawatir. Kalau kondisi bapak sudah membaik, nanti bapak bisa masuk kantor lagi" kata Akbar masih berusaha membujuk atasannya.


"Baiklah, hari ini aku dirumah saja. Besok pasti aku masuk kantor" kata Yudha.


"Iya pak, begitu lebih baik" kata Akbar.

__ADS_1


"Sebenarnya aku merasa mual dan pasti akan muntah kalau di pagi hari saja. Selebihnya, semuanya baik-baik saja. Aku bosan kalau terus dirumah saja, Bar. Sendirian memang menyakitkan. Kau sendiri tidak berencana ingin berumahtangga, Bar?" tanya Yudha yang sudah merebahkan dirinya di ranjang. Masih dengan setelan jas yang baru saja dia pakai.


"Kenapa juga jadi aku yang jadi bahan pembicaraan?" batin Akbar yang tidak berminat menjawab pertanyaan Yudha.


"Jawab, Bar. Apa kau punya pacar? Kenapa aku lihat hidupmu hanya seputar kantor dan pekerjaan saja? Pernahkan kau merasakan nikmatnya ************, Bar?" tanya Yudha mulai melantur.


Tidak bisa dipungkiri jika seputar ************ memang menjadi hal yang prioritas bagi kamu adam. Entah bagaimana caranya, hasrat itu harus bisa tersalurkan.


"Ehm, saya belum memikirkan itu pak" kata Akbar.


"Aku tidak yakin kalau kau tidak pernah melakukannya. Kau kan sudah sangat dewasa, pasti kau pernah melakukan itu, kan?" tanya Yudha penuh selidik.


Yudha sedikit penasaran dengan kehidupan pribadi Akbar yang selalu setia padanya. Bahkan selama 24 jam, Akbar selalu siap untuk menjalankan perintah Yudha.


"Jawab, Bar. Kenapa diam?" tanya Yudha.


"Tidak pernah, pak. Saya masih berusaha untuk tetap setia lada bapak" jawab Akbar yang membuat Yudha merasa senang sekaligus sedih.


Yudha senang karena Akbar yang sangat bisa diandalkan, tapi dia juga sedih karena untuk bisa membuktikan kesetiannya, Akbar rela mengesampingkan kehidupannya sendiri.


"Sebenarnya aku tidak keberatan kalah kamu mau punya pacar bahkan menikah, Bar. Aku malah merasa tidak nyaman kalau kamu harus mengorbankan hidupmu hanya untuk setia pada pekerjaanmu. Kau juga butuh bahagia, Bar" kata Yudha.


Jika Yudha sudah bisa tenang dengan hidupnya, maka Akbar akan berusaha untuk membahagiakan dirinya sendiri.


"Berapa usiamu sekarang, Bar?" tanya Yudha yang masih belum mau mengakhiri sesi tanya jawabnya dengan Akbar.


"28 tahun pak" jawab Akbar.


"Kau sudah boleh menikah, Bar. Dulu, saat aku seumuran kamu saat ini. Saat itulah pertama kali aku bertemu dengan Vani. Seorang gadis kecil yang baru saja lulus SMA. Dia gadis yang sangat ceria" kata Yudha dengan bibir yang tersenyum.


"Pasti akan membutuhkan waktu yang lama kalau pak bos sudah bernostalgia seperti ini" batin Akbar.


Beruntung ponselnya berdering, Akbar bisa lari dari sesi pembicaraan yang membuatnya semakin tidak suka pada Vani.


Bisa saja Akbar menghabisi semua yang menjadi alasan untuk Vani menjauhi Yudha. Tapi dengan bodohnya, Yudha malah rela menyakiti dirinya sendiri demi melihat Vani bahagia.


Akbar tidak suka sesuatu yang membuat bosnya merasa tertekan atau bersedih. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun karena Yudha yang selalu menjadi pelindung bagi wanita yang sedang hamil anak dari bosnya.


"Saya permisi akan mengangkat telepon dari klien kita, pak" pamit Akbar.


"Iya, pergilah. Aku akan istirahat saja" kata Yudha yang memilih memejamkan matanya lagi selepas kepergian Akbar.

__ADS_1


★★★★★


"Ayo berangkat, dek. Kenapa lama sekali kamu?" tanya Vani yang sudah siap diatas motornya. Sementara Vee masih ogah-ogahan.


"Aku kangen deh sama papa Yudha, bun" celetuk Vee saat menaiki motor bundanya.


"Papa Yudha sedang sibuk, Vee" kata Vani.


Vani juga sedikit heran, sudah beberapa minggu ini Yudha tidak pernah menghubunginya, padahal biasanya tiap hari selalu menelpon, bahkan tidak jarang pria itu mendatanginya atau anak-anaknya.


"Nanti pulang sekolah Vee mau telepon papa Yudha ya bun?" tanya Vee.


"Iya, sekarang kamu sekolah dulu ya" kata Vani.


"He em" kata Vee senang.


Vani cukup senang karena kehamilannya kali ini sangat berbeda. Kalau dulu saat hamil Varo dan Vee, setiap pagi pasti dia merasakan morning sickness yang cukup parah.


Bahkan dia sangat lemas saat pertama hamil, karena tidak pernah mau makan apapun apalagi yang berhubungan dengan nasi.


Tapi di kehamilan kali ini, dia sangat biasa saja. Bahkan bisa melakukan kegiatannya seperti biasa, meskipun dia sedang hamil anak kembar.


★★★★★


"Terus saja kamu nggak perhatikan aku, Jo" kata Gina merajuk, sudah beberapa hari ini Jovan seperti sedang menjauhinya.


"Kamu maunya apa sih? Aku kan sudah bilang kalau sedang sibuk, jangan seperti anak kecil begitu dong" kata Jovan yang tidak mau menemani Gina malam ini.


"Aku juga butuh perhatian kamu, Jo. Jangan mbak Vani terus dong" kata Gina.


"Kamu tahu kan kalau Vani sedang hamil. Dia jauh lebih butuh perhatian, Gina. Bukankah kamu sendiri yang bersedia tidak hamil. Jadi, jangan halangi keinginanku untuk selalu memperhatikan istriku yang sedang hamil" kata Jovan yang setiap malam pasti akan menghubungi Vani sejak tahu kehamilan istri tuanya itu.


Gina tidak bisa berkata apa-apa, memang keinginannya sendiri untuk tidak mau hamil dan punya anak.


Baginya, mengurus anak sangat merepotkan. Dan, hamil itu sangat tidak penting.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2