Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
Si kecil Sahril


__ADS_3

"Perasaanku kenapa nggak enak yah? Seperti ada sesuatu yang akan terjadi" kata Vani, ringisannya terlihat jelas saat menahan sesuatu yang terasa bergerak-gerak di perutnya.


"Kamu tenang ya, Bun. Jangan banyak pikiran, baca istighfar yang banyak" kata Jovan memberi saran.


Vani menurut, segera dia berdzikir untuk meminta ketenangan hati.


Anaknya terus saja bergerak di dalam perutnya, terasa sangat tidak nyaman.


"Assalamualaikum..." terdengar seseorang sedang uluk salam. Rupanya Tita yang datang.


"Waalaikumsalam, Tita. Kamu sendirian saja?" tanya Vani, dia sangat senang dengan kehadiran sahabatnya itu.


Melihat kedatangan Tita, Jovan juga merasa sangat lega. Setidaknya, dia bisa sebentar saja untuk mencerna segala hal yang baru saja didengarnya pagi ini dari Yudha.


Sejujurnya perasaannya juga sama galaunya, dia butuh waktu menyendiri barang sebentar untuk menenangkan diri.


"Ta, aku titip Vani sebentar ya. Aku mau melihat keadaan Varo dan Vee sebentar saja" kata Jovan meminta izin.


Mendengar nama kedua anaknya disebut, tentu Vani langsung mengizinkan tanpa pertanyaan lebih lanjut.


"Iya, kamu tengok dulu saja mereka. Siapa tahu Vee sedang rewel" kata Tita.


"Aku pergi dulu ya, bun. Kamu nggak apa-apa ya aku tinggal sebentar?" tanya Jovan.


"Iya, nggak apa-apa, yah. Kamu hati-hati ya" kata Vani.


Jovan pergi keluar, dia berjalan kaki mengikuti arah hatinya. Dia sedang kalut, pikirannya kusut.


"Apa aku mundur saja, biarkan saja Vani meraih kebahagiaannya bersama Yudha jika memang itu yang mereka berdua inginkan?" kata hati Jovan terlalu menakutkan untuk dia jalani.


"Tapi setahuku, Yudha itu punya istri. Tidak mungkin aku menyerahkan istriku untuk dimiliki suami dari wanita lain" masih bergumam, Jovan terus saja melangkahkan kakinya entah kemana.


Cukup jauh melangkah, kaki Jovan mulai terasa pegal. Diapun berhenti sebentar.


Seperti orang kebingungan, Jovan berdiri dengan pandangan hampa melihat ke sekelilingnya.


Rupanya dia sedang berada di bawah jembatan layang. Di pemukiman kumuh yang dijejali beragam manusia dari berbagai pelosok.


Terlihat seorang anak kecil menangis sendirian. Seorang anak lelaki seusia Varo.


Jovan yang merasa kasihan mendekatinya, ingin menanyakan padanya tentang keadaannya.


"Hai, nak. Kenapa kamu sendirian? Dan kenapa kamu menangis?" tanya Jovan yang sudah berada di samping anak itu.


Tapi anak itu masih bergeming, melanjutkan tangisannya.


"Namamu siapa?" tanya Jovan dengan lembut, berharap anak itu mau diam dan menjawabnya.


"Namaku Sahril, om" jawab anak itu.


"Oh, Sahril. Kamu kenapa sendirian disini?" tanya Jovan.


"Mamaku mengusirku, om" jawabnya.


"Kenapa?" tanya Jovan lagi.


"Aku membuat adik menangis, mama marah padaku" jawabnya.


"Dimana rumahmu?" tanya Jovan, disekelilingnya hanya tampak kumpulan orang-orang yang tak mau menolongnya.


"Rumahku di gang itu" jawab Sahril menunjuk sebuah gang sempit dan kumuh, tak terlihat seperti adanya bangunan rumah permanen disana.


Hanya tampak bangunan yang terbuat dari triplek kotor dan atap seng yang sudah berkarat.


"Berapa umurmu, kenapa tidak sekolah?" tanya Jovan mulai bersimpati.


"Kata mama aku tujuh tahun, aku tidak sekolah om" jawabnya dengan polos.


"Astaghfirullah, kasihan sekali anak ini" gumam Jovan dalam hatinya.


"Mamamu pasti hanya sedang marah saja padamu, nanti pasti kalau dia sudah tidak marah lagi, dia akan mencarimu" kata Jovan.


Sahril kecil mulai berhenti menangis, hanya tersisa isakan kecil dari mulutnya.


Anak ini sungguh kasihan, bajunya kotor penuh tambalan. Wajahnya cemong, mungkin karena tidak dirawat dan habis menangis membuat wajahnya tampak lebih kotor.


"Mamamu sering mengusirmu, Sahril?" rupanya Jovan masih penasaran pada anak kecil ini.


"Sering, om. Kalau adik menangis, pasti aku dimarahi mama" jawabnya.


"Kemana ayahmu? Kenapa dia membiarkan mamamu mengusirmu?" tanya Jovan.


"Papa nggak sayang sama Sahril, kalau papaku yang sudah mati biasanya sayang sama Sahril. Tapi papaku yang sekarang suka marah-marah juga sama Sahril" kata anak kecil itu.


Jovan jadi memikirkan kedua anaknya. "Aku tidak boleh meninggalkan anakku. Ya Allah, terimakasih kau telah mempertemukan aku dengan Sahril kecil ini".

__ADS_1


Dengan memandangi wajah kecil Sahril, Jovan mempertimbangkan lagi keadaan rumah tangganya.


"Mungkin sekarang Yudha seolah bertindak sayang pada Varo dan Vee, tapi jika nanti seandainya mereka bersama. Dan Yudha telah memiliki darah dagingnya sendiri, mungkin nasib kedua anakku tidak jauh berbeda dengan Sahril ini".


"Kedua anakku akan di sisihkan, di marahi oleh mereka jika bertindak nakal".


"Karena tidak ada yang tidak akan berubah di dunia ini. Mungkin jika nanti mereka bersama, Vani juga akan bertindak seperti mamanya Sahril".


"Ya Allah, maafkan aku jika sudah terlalu bodoh karena tidak bisa melindungi keluarga kecilku. Maafkan aku yang dengan sengaja menyakiti istriku. Aku berjanji padamu ya Allah, aku akan menerima kedua anak dalam kandungan Vani. Aku akan menyayangi mereka seperti aku menyayangi Varo dan Vee".


Janji seorang lelaki, seorang ayah, seorang suami. Jovan bertekad untuk memperbaiki dirinya.


Menjadi Jovan yang baru, Jovan yang lebih baik lagi.


"Nak, kamu sudah makan?" tanya Jovan.


Sahril menggeleng, daritadi dia terlihat memegangi perutnya. Mungkin karena dia memang merasa kelaparan.


"Ayo ikut om, kita beli makanan disana" ajak Jovan, dia melihat ada penjual makanan di dekat mereka yang sedang duduk.


Sahril menurut, membiarkan Jovan menggenggam tangannya dan ikut berjalan di sampingnya.


"Om, nanti nggak dimarahi sama mamanya om?" tanya Sahril dengan polosnya.


"Enggak, nak. Om bahkan sudah punya anak sepantaran kamu. Dia namanya Varo, kalau adik kamu namanya siapa?" tanya Jovan.


"Namanya Siska, om. Siska disayang sama papa, tapi papa nggak sayang sama Sahril. Sahril biasanya dipukul sama papa kalau papa sedang marah-marah" kata Sahril kecil mengadukan perilaku orang tuanya.


"Sudah, sekarang kamu makan dulu ya. Makan yang banyak biar kamu cepat besar" dengan senyumnya, Jovan memperbolehkan Sahril untuk memilih makanan yang disukainya.


Tidak banyak menu yang tersedia, hanya ada ayam goreng, ikan dengan bumbu merah, sayur lodeh, sayur bening dan beberapa macam gorengan.


"Sahril mau makan ayam goreng apa boleh, om?" tanya Sahrul agak takut.


"Boleh, kamu boleh pilih yang kamu sukai" kata Jovan.


Sahril tersenyum, dia hanya meminta nasi dengan ayam goreng dan sayur bening. Dia terlihat bersemangat saat menikmati makanannya.


Jovan melihatnya dengan haru, begitu bahagianya anak ini meski hanya dibelikan sepotong ayam goreng.


Kembali teringat rumah tangganya, Jovan lebih memilih untuk tetap mempertahankan biduk rumah tangga yang hampir goyah itu dengan Vani. Istrinya yang begitu dia sayangi dengan tulus, istri yang pernah dikhianatinya.


Istri yang tidak sengaja telah mengkhianatinya. Istri yang begitu orang lain sayangi dan cintai. Dan Jovan tidak akan mengizinkan lagi jika Yudha ingin merebut segala yang dia punya.


Diapun menyadari jika telah berkhianat dari Vani, dengan menikahi Gina.


Bicara tentang Gina, Kemana dia pergi. Kenapa tak ada kabar sama sekali darinya?


Jovan kembali mengambil ponselnya, berusaha menghubungi istri keduanya. Dan tetap saja, panggilan itu tak pernah terjawab. Bahkan kini, ponsel Gina tak dapat lagi dihubungi.


"Kemana kamu, Gina? Apa yang terjadi sama kamu?" Jovan bertanya lirih pada hembusan angin.


"Om, boleh Sahril minta dibungkuskan buat mama dan adik? Mereka juga belum makan om. Papa sejak kemarin tidak pulang" kata Anak kecil itu.


Jovan tercengang, meski Sahril kecil sudah tersakiti. Anak itu tetap saja memikirkan nasib ibu dan adiknya.


"Kenapa papamu tidak pulang?" tanya Jovan.


"Sahril nggak tahu om, papa memang jarang pulang" jawab anak kecil itu.


"Bapaknya memang tukang mabuk, pak. Dia jarang dikasih makan. Biasanya anak ini ngemis di lampu merah sana kalau siang. Ibunya agak gila, kebiasaannya cuma marah-marah doang. Entah gila apa pura-pura gila, tapi kalau sama adeknya yang kecil sayang banget" kata ibu penjual makanan yang Jovan singgahi.


Jovan tercengang, dia masih sangat kurang dalam mensyukuri kehidupannya. Selalu mengeluh dan merasa kurang. Padahal ada kehidupan lain yang sangat jauh dari kesehariannya.


"Terimakasih tuhan, kau langkahkan kaki ini ke tempat yang tepat" kata Hati Jovan menuntun untuk tetap bertahan kali ini.


"Kamu boleh bawa dua bungkus buat ibu dan adikmu, Sahril. Dan ini, buat makan besok ya" kata Jovan memberikan selembar uang seratus ribu pada Sahril.


"Terimakasih om, semoga om selalu diberi kesehatan dan rizki yang banyak" kata Sahril dengan mata berbinar.


Mungkin uang yang tak seberapa bagi Jovan kali ini, sangat bernilai besar bagi Sahril dan keluarganya.


"Bu, tolong bungkuskan dua untuk Sahril ya. Ini uangnya, sekalian untuk membayar makanan Sahril yang tadi" Jovan membayar semua makanan yang Sahril mau.


"Om pergi duluan ya, Sahril. Kamu jaga diri baik-baik, semoga nanti lain waktu kita berjumpa lagi" kata Jovan berpamitan.


"Terimakasih om" kata Sahril dengan tulus.


Jovan kembali melangkahkan kakinya, kali ini dia akan mengunjungi anaknya yang sedang dalam pengawasan ibunya.


Menggunakan ojek online, Jovan telah sampai di depan rumah orang tuanya.


Sengaja dia tidak membawa motornya sendiri, karena Jovan masih ingin menikmati kesendiriannya.


"Assalamualaikum, bu" sapa Jovan saat memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, nak. Bagaimana keadaan istrimu? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ibu Jovan.


"Alhamdulillah, Vani sudah lebih baik, bu. Tapi daritadi dia mengeluh kalau perasaannya sedang cemas. Vani memintaku untuk melihat keadaan Varo dan Vee. Apa mereka baik-baik saja, bu?" tanya Jovan.


"Mereka baik-baik saja kok, lagi main sama kakungnya di belakang. Ada om kembarnya juga, kamu nggak usah khawatir ya" kata ibu Jovan.


"Oh, aku mau ketemu mereka, bu" Jovan meneruskan langkahnya ke belakang rumah, tempat ayah dan anak-anaknya bermain.


"Ayaaahh.." Vee berteriak girang saat melihat ayahnya datang.


Segera dia berlari dan meminta ayahnya agar mau menggendongnya.


"Ehm, manja sekali anak ayah ini. Lagi ngapain sih?" tanya Jovan sambil menciumi pipi gembul Vee.


"Bikin kandang kelinci sama kakung" jawab Vee.


"Dapat kelinci darimana?" tanya Jovan yang ikut melihat kegiatan mereka.


"Tadi Hamza datang bawa kelinci, dikasih temannya" jawab ayah Jovan.


Sedikit terhibur, Jovan bisa sedikit melupakan kegelisahan yang sedang dirasakannya dengan melihat keluarganya berkumpul seperti ini.


Sedangkan di tempat lain, dalam sekapan Yudha. Gina masih terus diikat kaki dan tangannya. Bahkan dia tak mendapat asupan makanan ataupun minuman.


Yudha dengan teganya membiarkan Gina tersiksa. Dan yang lebih mengherankan, tak ada air mata penyesalan yang keluar dari kelopak mata indah milik Gina.


Wanita itu sama egoisnya dengan Yudha, Gina merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.


"Berjanjilah untuk tidak mengganggu Vani lagi, nanti pasti kau akan aku bebaskan" kata Yudha sore ini, selepas dari kantornya, Yudha kembali mengunjungi tawanan barunya.


"Tidak akan pernah, aku tidak sudi meminta kebebasan darimu laki-laki brengsek. Cuih" dengan beraninya Gina bahkan meludahi wajah Yudha yang menatapnya sengit.


Yudha mengelap wajahnya, kesabarannya mulai terkikis. Habis karena melihat wanita seegois Gina.


"Bahkan saat aku terbebas dari sini, hal pertama yang akan aku lakukan adalah menghancurkan kehidupan Vani. Karena dia terlebih dahulu yang membuat hidupku hancur" Gina masih saja menyalahkan Vani karena Jovan meninggalkannya dulu.


Gina terlalu berharap jika Jovan akan menaruh hati padanya. Sedangkan Jovan hanya menganggap Gina sebagai seorang teman, tidak lebih.


"Kau memang wanita tak tahu diri ya, Gina" ejek Yudha.


"Apa bedanya aku denganmu? Kaupun sama hinanya denganku, tak tahu malu atau memang tak punya malu? hahahaha" ejek Gina tak kalah telaknya.


"Bahkan kau lebih menyedihkan daripada aku, kau tak bisa mendapatkan cintamu, kau hanya bisa merampasnya, kau hanya bisa menidurinya, hahaha, bahkan Vani tak tahu apapun, kau tak terasa olehnya, hahaha" tawa Gina menggelegar di telinga Yudha.


Emosinya meninggi, Yudha kehilangan kontrol atas kewarasannya. Tak butuh tenaga yang berlebih, tangan Yudha terangkat. Dan benar-benar mematahkan leher Gina.


Krak!!!


Bunyi patahan tulang yang digeser dengan paksa oleh kedua tangan Yudha.


Bunyinya membuat gigi terasa ngilu, tapi tentu tidak bagi pria seperti Yudha dan anak buahnya.


Seonggok nyawa seperti Gina tak ada harganya bagi mereka.


Tapi, dengan hilangnya nyawa Gina. Sesuatu yang buruk pun terjadi pada perut Vani.


Tiba-tiba saja perutnya terasa berkedut kencang bersamaan saat tangan Yudha mematahkan tulang-tulang leher Gina.


Vani meringis menahan gejolak di perutnya, terasa sakit dan entahlah. Seperti ada kulit yang dipaksa terkelupas.


"Kenapa Van?" Tita yang sedang bersama Vani menjadi kalang kabut.


"Sakit, Ta" gumam Vani.


Tita memencet bel yang tersedia, dan tak lama seorang suster datang dengan tergesa


"Ada apa, Bu?" tanya suster itu.


"Tolong, teman saya kesakitan. Saya takut terjadi sesuatu dengan anaknya" kata Tita dengan terbata, dia tak tega melihat Vani yang meremas perutnya.


"Sepertinya air ketubannya merembes, bu. Sebentar saya panggilkan dokter" kata suster itu yang keluar dengan tergesa, bahkan setengah berlari.


"Tapi ini masih tujuh bulan, Van. Belum waktunya lahiran, bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai harus dipaksa melahirkan?" kata Tita yang cemas melihat kondisi Vani.


"Biar aku hubungi Jovan dulu, ya" kata Tita yang tergesa saat menghubungi Jovan.


Sedangkan Vani hanya bisa menahan sakitnya, dia hanya bisa berdoa agar kedua anaknya bisa diselamatkan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2