
"Aku turut berduka cita ya mbak Vani. Aku juga langsung kesini setelah mengajar tadi" kata Gina yang sudah berpindah tempat dengan duduk diantara Vani dan Jovan.
Lalu memeluk Vani sambil mengucap berbelasungkawa.
"Iya, terimakasih" jawab Vani sambil mengurai pelukan Gina.
"Kamu tahu darimana?" tanya Vani.
"Oh, tadi pagi nggak sengaja lihat di hapenya Jovan tentang berita meninggalnya kedua orang tuamu, mbak" jawab Gina.
Vani mengernyit bingung, bagaimana bisa Gina melihat hape Jovan? Sedangkan Jovan bilang kalau hapenya hilang dari kemarin.
"Bagaimana bisa kamu lihat hapenya Jovan tadi pagi? Apa pagi ini kamu lagi sama suamiku?" tanya Vani, dia bingung dengan ucapan Gina.
Jovan melirik tajam pada Gina, dia tak berani bersuara. Dia takut Gina berbicara yang tidak-tidak. Daripada nantinya harus menyakiti hati Vani, apalagi Vani sedang berduka.
"Oh, enggak. Maksudku, tadi pagi Jovan mengabari melalui hape" kata Gina yang memang sengaja membuat Vani merasa tidak nyaman pada suaminya
Meski tak begitu percaya, tapi Vani hanya diam setelah mendengar pengakuan Gina. Vani sedang tidak mood untuk mengobrol.
Vani lebih memilih menghubungi Tita untuk menanyakan keadaan kedua anaknya.
Meski Hildan dan Vee adalah teman baik disekolah, tapi Vani masih tidak nyaman untuk membiarkan Vee dan Varo ada dirumah Tita tanpanya.
"Assalamualaikum, Ta"
Sapa Vani saat panggilannya sudah terhubung.
"Waalaikumsalam, kenapa Van?"
tanya Tita.
"Anak-anak nggak nyusahin kamu kan, Ta?".
^^^"Enggak kok Van. Mereka anteng, sekarang lagi makan bareng. Nanti kalau sudah selesai bakalan aku anter ke rumah kamu. Mereka juga sudah mandi kok"^^^
"Yasudah, makasih ya. Aku juga mau mandi dulu".
^^^"Iya Van, jangan khawatir ya. Assalamualaikum"^^^
"Waalaikumsalam"
Vani sudah lega saat mendengar kabar anaknya.
Tanpa pamit, Vani beranjak daru ruang tamu untuk ke kamar mandi. Dia akan mandi seperti apa yang telah dia katakan pada Tita barusan.
Dalam hatinya, sebenarnya Vani juga tidak merasa nyaman karena Gina terlihat dengan sengaja mendekat pada Jovan.
__ADS_1
Dan apa tadi? Jovan bahkan membiarkan tingkah laku Gina. Sangat menyebalkan bagi Vani.
"Aku bantuin kamu ya, bun" tanya Jovan yang ikut beranjak dari tempat duduknya.
"Nggak perlu, aku juga mau solat dulu. Kamu temui para tamu saja yah, temani ibu disana" kata Vani menolak tawaran suaminya.
Jovan mengalah, dia masih merasa bersalah. Jadi, dia tidak bisa memaksa kehendaknya.
Meski ragu, dia tetap saja kembali menemui para tamu.
" Kamu sendirian saja kesininya, Gin?" tanya ibu Jovan.
"Iya bu, orang yang aku sayangi lagi sibuk sama perempuan lain" kata Gina diiringi senyum memaksa.
Sengaja dia berkata begitu saat Jovan sudah berada ditengah mereka.
Jovan menatap Gina tajam. "Gina kan masih mau meniti karirnya, bu. Mana kepikiran dia sama laki-laki. Iya kan, Gin?" Jovan menekankan pertanyaannya.
Berharap Gina tidak akan berbicara macam-macam.
"Iya, bu. Apalagi laki-laki yang aku sayang juga sedang berduka. Masak iya aku harus memaksa dia buat mengantarku kesini. Selagi masih bisa sendiri, kenapa harus menyusahkan orang lain kan, Bu?" pertanyaan menohok bagi Jovan, sungguh kalau sampai Gina asal bicara nanti, dia tidak akan memaafkan.
"Kamu memang wanita yang mandiri ya, nak. Cantik lagi. Semoga nanti kamu dapat pria single yang juga sayang sama kamu ya. Pasti beruntung pria yang nantinya mendapatkan kamu" kata ibu Jovan.
Tidak tahu saja kalau anaknya sangat beruntung punya dua istri yang istimewa. Dengan kepribadian berbeda.
Mertua yang tidak mengetahui menantunya.
Sementara Vani sudah selesai dengan ritual mandinya.
Kini, diatas hamparan sajadah didalam kamarnya. Dia menghadap sang pencipta, sejenak melupakan keriuhan dunia untuk mengadu pada-Nya.
Setelah salam, Vani mulai menengadahkan kedua tangannya. Meski sudah sangat sembab, tapi air mata itu masih saja bisa lolos dari kedua mata Vani.
"Ya Allah, ampunkanlah dosa kedua orang tuaku. Terimalah mereka disisimu, tempatkanlah mereka berdua di surgamu" Vani mengawali doanya dengan pandangan mata yang mengabur, karena air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata.
"Ya Allah, berikanlah keikhlasan di hatiku. Beri aku kekuatan untuk menghadapi dunia tanpa arahan dari mereka, tanpa bimbingan mereka, tanpa kehadiran mereka saat aku sakit, saat aku sedih maupun bahagia".
"Ya tuhanku, jika keikhlasan semudah melafalkan, maka berilah aku hal itu. Kenapa terasa sulit untukku mengikhlaskan mereka? Bantu aku ya Allah, bantu untuk memberi kelapangan jalan bagi mereka, jika aku sudah ikhlas. Kuatkan aku Ya Allah".
Vani mengusap wajahnya, mengakhiri doanya. Tak lupa mengirim hadiah berupa Al-Fatiha bagi kedua orang tuanya.
Tapi Vani tak lekas beranjak, jari-jarinya masih menggamit butiran tasbih. Dia masih ingin berlama-lama di tempat sujudnya. Masih berusaha menguatkan hatinya.
Semakin lama, dia juga menyadari jika bukan hanya dia yang bersedih. Tapi juga ada Varo dan Vee yang bersedih dan membutuhkannya.
Dan juga, janin dalam kandungannya. Tak baik seorang ibu hamil untuk terlalu lama bersedih.
__ADS_1
"Jangan biarkan kelak anakmu menjadi tukang cemberut karena selama masa kehamilan, mamanya selalu bersedih. Gembira dong, biar anaknya nanti ceria".
Tiba-tiba Vani mengingat perkataan Yudha. Vani jadi heran, kenapa selama masa kehamilannya ini, dia selalu saja ingin ada Yudha didekatnya.
Daripada melakukan video call dengan Jovan, dia sepertinya lebih sering melakukan video call dengan Yudha meskipun pria itu ada di kota yang sama dengannya.
"Mungkin bawaan bayi, ya nak. Nggak apa-apa, biar nanti kalau kamu dewasa, bisa sukses kayak papa Yudha ya nak" kata Vani berbicara pada perutnya.
Dia baru bisa tersenyum kali ini, sambil mengusap perutnya yang sudah sangat membuncit meski usia kandungannya masih enam bulan.
Vani baru keluar dari kamarnya selepas ashar, tadi dia sekalian melakukan solat ashar.
Itupun karena Jovan memanggilnya karena Gina yang akan berpamitan untuk pulang.
"Yang sabar ya mbak, semoga almarhum diterima di sisinya" kata Gina sambil memeluk Vani singkat.
"Iya, terimakasih ya. Kamu langsung balik ke kota Pesisir?" tanya Vani, dia tahu kalau Gina bertugas disana.
"Nggak mbak, aku mau mampir ke rumah ayah. Aku jadi kangen sama orang tuaku, lama juga nggak ketemu sama mereka" kata Gina.
"Yasudah, aku pamit mbak. Assalamualaikum" Gina berjalan keluar dari ruang tamu dengan langkah yang sengaja diperlambat.
Ingin Jovan ikut mengantarkan sampai ke mobilnya.
Tapi rupanya pria itu malah asyik merangkul pundak Vani. Membiarkan Gina berjalan tanpa kawalan darinya.
"Sialan kamu, Jo. Akupun juga ingin diperlakukan sama seperti kamu memperlakukan Vani. Awas kamu, Jo" batin Gina masih belum bisa puas meski sudah membuat banyak nyawa melayang sia-sia demi kepuasannya.
Nyatanya, manusia tidak pernah merasa puas.
Karena bukan hanya kedua orang tua Vani uang menjadi korban dari kecelakaan itu. Tapi banyak sekali korban lainnya.
Bayangkan saja, kecelakaan yang dialami oleh rombongan yang menggunakan jasa bus
Banyak orang tersakiti hanya untuk memuaskan nafsu seorang wanita bernama Gina.
Satu perbuatan yang dianggap hanya untuk menghakimi wanita lain. Malah merugikan banyak sekali orang-orang yang tidak ikut campur dan tidak ikut andil.
Bahkan tidak mengenal sama sekali pada Gina. Tapi harus ikut menjadi korban dari keserakahan seorang wanita yang sedang dilanda cemburu.
Sungguh sangat mengerikan hati seorang wanita yang sedang sakit hati.
.
.
.
__ADS_1
.