Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
pengambilan sample


__ADS_3

"Duduk" kata Mela setelah keduanya masuk ke dalam ruangan.


Yudha duduk dihadapan Mela, dipisahkan oleh meja yang diatasnya terdapat berlembar-lembar rekam medis dari pasien yang Mela tangani.


"Aku mau melakukan tes DNA itu sekarang, Mel. Aku bisa mati penasaran kalau harus menundanya lagi" keluh Yudha pada sahabatnya.


"Cg, nggak semudah itu Yud. Aku harus membicarakan ini dulu sama dokter obgyn yang menangani Vani juga" kata Mela.


"Lakukan saja, Mel. Asalkan aku bisa segera tahu jawabannya" kata Yudha.


Melihat tampang Yudha yang seperti ini membuat Mela tidak tega juga.


"Iya, aku usahakan secepatnya untuk berdiskusi dengan dokter itu. Kamu tenang saja, secepatnya akan aku usahakan agar tesnya bisa segera dilakukan" kata Mela.


"Aku sangat berharap sama kamu. Berapapun biayanya, kamu nggak usah khawatir. Kalau nanti janin itu benar-benar anakku, aku pastikan kamu akan dapat bonus yang banyak dariku" kata Yudha dengan iming-iming dana rekening.


"Bukan itu yang aku cari. Aku cuma nggak mau kamu terus salah langkah dengan berharap pada wanita yang sudah bersuami, Yud" kata Mela. Heran dia kenapa pria setampan Yudha bisa bertekuk lutut pada wanita sesederhana Vani.


"Yasudah, aku mau bertemu dengan dokter itu sekarang juga. Mungkin vani juga sudah dipindahkan ke ruang rawat" kata Mela berdiri.


Dia akan segera menemui dokter kandungan.


Yudha mengekor pada Mela. Dia juga ingin mengetahui keadaan Vani.


Sampai di ugd, mereka hanya bertemu dengan suster.


"Pasien atas nama Vani dipindahkan ke ruang berapa, sus?" tanya Mela.


"Ruang Mawar nomor 2, dok" kata suster itu.


Masih ditemani Mela, Yudha beranjak ke ruangan yang suster maksud. Ruang VIP, seperti yang Yudha inginkan.


Rupanya dokter masih ada didalam ruangan Vani, proses pemindahan pasien baru saja selesai.


"Dokter, bisa bicara sebentar?" tanya Mela.


"Ada apa, dok? Kalau tentang kondisi pasien, seperti yang sudah saya beritakan sebelumnya kalau pasien hanya kelelahan. Tidak ada yang perlu dicemaskan, baik ibu dan janinnya semuanya sehat, dokter" kata dokter Malik, dokter kandungan yang menangani Vani.


"Ada hal lain dok, serius. Hanya bisa kita bicarakan di ruangan dokter" kata Mela dengan tampang serius.


Dokter Malik jadi penasaran, diapun menyetujui permintaan Mela.


"Baiklah pak Yudha, saya tinggal dulu" kata Malik.


"Keadaannya bagaimana, dok?" tanya Yudha.


"Baik. Bu Vani tadi sempat siuman, sekarang tidur lagi karena pengaruh obat yang kami berikan. Agar bu Vani bisa beristirahat dengan tenang" kata dokter Malik.


Yudha sedikit tenang, sekarang dia membiarkan Mela melakukan tugasnya. Membujuk dokter Malik agar mau memenuhi permintaannya.


"Ada apa, dok?" tanya Dokter Malik heran, tak biasanya Mela mengajaknya bicara serius.


Kedua dokter spesialis yang berbeda kasus penanganan itu sedang berbicara serius di ruangan Dokter Malik, dokter spesialis kandungan yang menangani Vani di rumah sakit ini.

__ADS_1


"Ehm... Dokter tahu siapa pak Yudha yang tadi?" tanya Mela mengawali dengan berbasa-basi.


"Sepertinya saya pernah lihat beliau sebagai seorang pengusaha sukses yang sering dijadikan bintang tamu di acara talk show. Benar begitu, dok?" tanya Dokter Malik.


"Ya, dokter benar. Karena satu dan lain hal yang saja juga tidak tahu. Pak Yudha menginginkan agar beliau bisa melakukan tes DNA pada janin yang sedang dikandung oleh pasien bernama Vani, pasien yang baru saja dokter Malik tangani tadi" kata Mela menjelaskan.


"Saya fikir, bu Vani itu istrinya pak Yudha loh, dok. Jadi, bukan ya?" tanya Dokter Malik heran. Karena raut wajah penuh kekhawatiran terbaca jelas dari wajah Yudha selama Vani dalam prosesnya pemeriksaan tadi.


"Bukan, dok. Saya juga tidak bisa memahami, bagaimana hubungan mereka. Tapi yang saya tahu, pak Yudha menginginkan supaya bisa melakukan tes DNA, tapi tanpa sepengetahuan dari bu Vani. Bagaimana, dok?" tanya Mela, berharap Dokter Malik bisa memaklumi keadaan Yudha.


"Bukannya itu menyalahi aturan tes DNA yang harus diketahui oleh kedua belah pihak, dok?" dokter Malik menegaskan aturan sederhana yang mungkin sedang dilupakan oleh Mela.


"Ya, saya tahu dokter. Mungkin pak Yudha punya alasan lain agar tes ini tidak sampai diketahui oleh bu Vani, dok" kata Mela.


"Saya tidak berani menyalahi aturan yang sudah ada, dok. Kalau sampai diketahui oleh pihak lain, jabatan kita taruhannya, dok" kata dokter Malik menegaskan.


"Saya mohon, dokter. Sekali ini saja tolong bantu saya. Saya yakin pak Yudha mempunyai alasan yang kuat sampai beliau melarang kita untuk mengatakannya pada bu Vani" kata Mela dengan tampang memelas.


Untuk bisa membantu Yudha, dengan suka rela Mela mau menangkupkan kedua tangannya.


"Jangan seperti ini dokter Mela, saya mohon. Tapi untuk membantu pak Yudha, itu sangat beresiko. Bagaimana caranya supaya saya bisa mendapatkan sample, itu juga harus sepengetahuan bu Vani juga kan, Dokter Mela".


Lama-lama, dokter Malik merasa resah juga berhadapan dengan Mela. Untuk menolak permintaannya juga sulit, karena sebenarnya memang mudah saja mendapatkan sample darah Vani dengan alasan cek laboratorium.


Cuma, kan memang menyalahi aturan. Dokter Malik semakin bingung.


"Tolonglah dok, saya janji sama dokter kalau hal ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua" kata Mela.


"Dokter lupa ya? Untuk mengambil sample darah kan memang mudah, saya bisa melakukan itu dengan alasan untuk keperluan pemeriksaan".


"Dokter Malik nggak usah mencemaskan hal itu, urusan tes DNA biar saya yang tangani. Saya juga bisa melakukan itu sendiri. Yang saya butuhkan hanya bantuan dari dokter Malik untuk mengambil sample darah bu Vani".


Dokter Malik belum tahu jika dulu sebelum praktek di rumah sakit ini, Mela sudah pernah menjadi anggota dari rumah sakit tentara. Di bagian forensik, dan kebetulan untuk urusan tes DNA sudah sering Mela lakukan saat mencari keluarga korban.


"Baiklah, kalau hanya untuk mengambil sample darah. Maka saya bisa membantu dokter Mela, tapi untuk urusan selanjutnya, saya tidak mau ikut campur lagi ya, dok" kata Dokter Malik.


"Iya, terimakasih dok. Setelah saya mendapat sample darahnya, saya tidak akan mengganggu dokter lagi. Akan saya tangani sendiri" kata Mela.


"Tapi dokter harus janji sama saya, jangan pernah dokter Malik menceritakan hal ini pada siapapun" kata Mela lagi.


"Ya, saya janji. Saya tidak akan bocorkan hal ini pada siapapun" kata Dokter Malik.


"Sekali lagi terimakasih banyak atas bantuan dokter. Kalau bisa kita lakukan sekarang, lebih baik kita segerakan. Saya sudah tidak tahan dengan rengekan pak Yudha untuk melakukan tes itu" kata Mela dengan senyuman, terlalu lega hatinya karena telah berhasil meminta bantuan pada dokter Malik.


"Sama-sama dokter Mela. Baiklah, saya akan kembali ke ruangan bu Vani untuk bisa mengambil sample darahnya sekarang juga" kata dokter Malik.


"Mari, dokter. Kita sama-sama ke ruangan bu Vani. Saya juga mau menemui pak Yudha" kata Mela yang berjalan beriringan dengan dokter Malik.


Mereka berdua akan melakukan tugasnya masing-masing.


Sampai di ruangan Vani, benar dugaan Mela kalau Yudha pasti akan berbuat aneh.


Terbukti dengan tidak tahu malunya, pria itu masih saja menggenggam tangan Vani. Meskipun Yudha sudah melihat kalau ada Dokter Malik dan juga Mela yang memasuki ruangan Vani.

__ADS_1


"Yud, dokter Malik sudah bersedia membantu kamu untuk mengambil sample darah Vani. Kamu minggir dulu ya, biarkan dokter Malik melakukan tugasnya" kata Mela.


Mata Yudha berbinar mendengar ucapan Mela. Segera dia melepas genggaman tangannya, dan tanpa tahu malunya lagi, Yudha masih sempat sedikit mencium punggung tangan Vani sebelum benar-benar melepaskannya.


Mela hanya bisa menggelengkan kepalanya, malu karena Yudha terlalu over protective pada istri orang


Dengan cekatan, dokter Malik berusaha mengambil sample darah Vani secukupnya.


Tak butuh waktu lama untuk melakukan itu. Dengan mudahnya, dokter Malik sudah menyelesaikan tugasnya.


Dan menyerahkan sample darah Vani yang sudah terkumpul di dalam tabung kaca berukuran kecil agar visa segera dilakukan serangkaian tes.


"Silahkan dokter Mela. Sebenarnya, dokter Mela bisa saja melakukan semuanya sendiri. Kenapa masih meminta bantuan dari saya?" tanya Malik sedikit heran.


"Kalau saya lakukan sendiri, nanti dokter Malik akan curiga karena menemukan bekas tusukan jarum di nadi bu Vani. Kalau saya ijin pada dokter Malik terlebih dahulu kan urusannya bisa lebih mudah" kata Mela.


Kedua pria dihadapan Mela mengangguk paham. "Benar juga apa yang dikatakan Mela, dia bekerja dengan rapi" kata dokter Malik dalam hatinya.


"Baiklah, saya permisi dulu ya dokter dan juga pak Yudha. Kalau terjadi sesuatu pada Bu Vani, tolong segera hubungi saya" kata Dokter Malik berpamitan.


"Terimakasih atas bantuan dokter" kata Yudha.


Sepeninggal dokter Malik, segera saja Mela mengingatkan Yudha.


"Kamu bisa nggak sih, bersikap wajar saja. Ingat Yud, Vani itu istri orang. Bukan istri kamu. Kalau kamu mau mesra-mesraan, telpon istri kamu sendiri. Suruh dia pulang, suruh dia mau melayani kamu sebagai seorang istri yang baik" kata Mela, panjang lebar nasehatnya semoga bisa Yudha pahami.


"Kamu nggak tahu seberapa besar sayangnya aku sama dia, Mel. Melihatnya seperti ini, tentu saja aku khawatir" kata Yudha yang sedikit tidak terima saat Mela memarahi.


"Huft, sudahlah. Terserah kamu saja. Ayo ikut aku untuk ambil sample darah kamu juga. Segera akan aku lakukan tesnya. Semoga saja janin itu bukan anak kamu" kata Mela masih saja menggerutu saat Yudha mengekor padanya agar bisa mengambil sample darah.


Sampai di ruangan Mela, segera saja dokter itu juga mengambil sedikit darah Yudha.


Tak butuh waktu lama, Yudha segera kembali ke ruangan Vani setelah Mela melakukan tugasnya.


Mela berjanji akan menemui Yudha saat hasil tesnya keluar.


"Mungkin dua minggu lagi hasilnya bisa keluar, dan selama aku belum hubungi kamu, aku mohon sama kamu jangan pernah menghubungiku".


Ucapan Mela terus saja terngiang di kepala Yudha.


"Dua minggu lagi, waktu yang sangat lama. Bisa nggak sih dipercepat saja" gerutu Yudha yang tak jadi menghubungi Mela agar mau mempercepat tesnya.


Tadi Mela sempat mengancam jika tidak akan meneruskan tes itu jika Yudha masih saja tidak sabar. Dan terus mengganggu Mela dengan menanyakan hasilnya.


Yudha mendesah pasrah, dia harus bisa menunggu selama dua minggu ke depan.


Sebenarnya dia sudah tidak sabar, tapi demi masa depannya. Dia akan sabar menunggu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2