Aku Setia, Sumpah!!

Aku Setia, Sumpah!!
apapun untukmu, Van


__ADS_3

"Uwah, dia gerak loh mas" reflek tangan Vani menarik telapak tangan Yudha yang sedang duduk disampingnya.


Vani menempelkan ke permukaan perutnya yang membuncit.


"Iya, mereka bergerak. Uwah, geli banget" komentar Yudha membuat Akbar tertawa karena tak seperti bayangannya, berharap Yudha akan terharu.


"Kok geli sih, mas" kata Vani yang mulai cemberut.


"Ya memang geli, Van. Nggak sakit ya?" tanya Yudha, ini memang pengalaman pertamanya memegang perut wanita yang sedang hamil.


"Nggak sakit kok, cuma kali ini kan agak berbeda karena kembar. Kelihatan lebih besar daripada biasanya" kata Vani.


Meski geli, Yudha masih saja menaruh telapak tangannya di perut Vani. Merasa ada kehangatan menjalar ke setiap aliran darahnya.


Yudha sangat yakin jika itu adalah anaknya.


"Kamu jangan kecapekan lagi, ya. Banyak yang mencemaskan kamu" Yudha kembali merasa khawatir karena Vani harus mengurus banyak hal seorang diri.


"Iya, kan ada Varo yang bantuin. Kamu tenang saja. Tapi makasih loh sudah banyak banget bantuin aku" kata Vani.


Yudha menarik tangannya, terlalu lama membiarkan tangannya berada diatas perut Vani membuatnya sedikit merasa sesak.


Mengingat dia tidak bisa melakukan hal yang lebih dari itu. Sebenarnya Yudha ingin membawa Vani kedalam dekapannya, seperti kemarin saat mereka berlibur.


Tapi tentu itu tak mungkin, Yudha tak lagi punya keberanian lebih untuk melakukannya.


"Kamu makan apa sih, Vee? Anteng banget dari tadi?" tanya Vani.


"Lollipop, bun. Mau?" Vee menawarkan pada bundanya.


"Boleh nih?" tanya Vani.


"Nggak boleh sih" Vee tetap menjilati lollipop itu tanpa mau membaginya dengan Vani.


"Ish, anak kecil ini" gumam Vani yang menggerutu.


"Kamu mau?" giliran Yudha yang menawarkan.


"Beliin ya mas, tiba-tiba pengen nih lihat si Vee makan gitu. Kayak manis banget, jadi ngiler" kata Vani yang entah tiba-tiba menginginkan lollipop juga.


"Kamu ngidam ya?" tanya Yudha heran, biasanya Vani tidak suka makanan manis seperti itu.


"Iya kali, tapi aku pengen yang bentuknya Spongebob ya mas. Bisa minta tolong carikan nggak?" tanya Vani memelas.


"Memangnya ada?" tanya Yudha.


"Nggak tahu mas, pokoknya aku minta tolong carikan yang bentuknya Spongebob ya" kata Vani membayangkan lucunya lollipop Spongebob.


"Setelah ini carikan ya, Bar" perintah Yudha.


"Loh, kok nyuruh pak Akbar sih mas? Aku maunya kamu yang cariin. Nggak tahu nih, kok maunya kamu yang sedikit usaha ya? Kayaknya bayinya suka sama kamu deh mas" Vani tersenyum saat mengatakannya.


"Fix, dia adalah anakku" kata Yudha dalam hatinya.


"Iya, aku cariin kalau kamu sudah sampai rumah ya" Yudha mengalah.


Akbar sungguh heran dibuatnya, seorang Aryudha bisa patuh pada seorang ibu hamil seperti Vani.


"Tapi dimana aku cari lollipop itu ya, Bar?" tanya Yudha.


"Biar saya cari informasi dulu, pak" kata Akbar mematuhi atasannya.


Hingga sampai di rumah Vani, Akbar belum juga menemukan informasi mengenai penjual lollipop berbentuk Spongebob seperti permintaan Vani.


"Mas Yudha cari saja di toko dekat sini, siapa tahu ada" kata Vani setelah sampai di ruang tamunya.


"Bisa nggak kalau minta yang lain saja?" Yudha menawar kali ini.


"Nggak bisa dong mas, kan pengennya lollipop" kata Vani.


"Yasudah, aku cariin dulu. Kamu balik ke kantor saja ya, Bar" kaya Yudha yang tak ingin pekerjaannya semakin terbengkalai gara-gara ibu hamil ini.


"Iya, pak. Kalau begitu saya permisi dulu ya pak, bu Vani" pamit Akbar pada keduanya.


Sepeninggal Akbar, Yudha benar-benar pergi mencari lollipop berbentuk Spongebob seperti yang Vani inginkan.


Hampir dua jam mencari ke beberapa toko yang ditemuinya, tapi Yudha tak kunjung mendapatkan apa yang Vani pinta.


Teringat pada seorang temannya yang menjadi produsen permen meski masih berskala UMKM, Yudha segera menghubunginya.


★★★★★


Hari semakin sore, tapi Vani tak juga mendapatkan setidaknya hanya sebuah kabar dari pencarian Yudha.


"Kasihan mas Yudha, seharusnya aku nggak usah minta yang macam-macam sama dia" rasa sesal Vani karena telah merepotkan Yidha lagi, dan lagi.


"Bunda, papa Yudha datang lagi" teriak Vee senang karena melihat papa kesayangannya.

__ADS_1


Vani segera keluar dari rumahnya, menyambut pria yang selalu mau direpotkan olehnya.


"Mas Yudha, kamu lagi bercanda ya?" mata Vani sampai membola karena terkejut saat melihat Yudha menurunkan sekarton penuh lollipop.


"Maaf agak sedikit lama, tadi masih nungguin orangnya bikin sih" kata Yudha yang sudah memasuki ruang tamu.


Pria itu menaruh karton berukuran agak besar diatas meja. Dan saat membukanya, tentu yang paling merasa senang adalah Vee. Karena menurutnya, lollipop itu Yudha belikan untuknya.


"Tapi kok bentuknya cuma Spongebob semua sih pa?" tanya Vee.


"Iya, kan bunda kamu lagi pingin yang bentuknya Spongebob, Vee" kata Yudha.


"Ya nggak sebanyak ini juga kali, mas. Bisa diabetes aku kalau ngabisin ini sendiri" kata Vani.


"Loh, kok jadi sewot? Kan kamu sendiri yang mau, Van" kata Yudha, seolah pengorbanannya tak dihargai.


"Yasudah, aku makan ya" Vani mengalah, memang dia kan yang menginginkannya.


"Gitu dong, aku kan jadi senang" kata Yudha.


Vani mengambil satu dari sekian banyak lollipop di dalam karton. Setelah membukanya, Vani hanya memakannya sedikit saja. Bahkan tidak sampai habis.


"Kok udahan sih? kan masih banyak itu lollipop kamu" kata Yudha yang melihat Vani hanya memakan sedikit saja permennya.


"Sudah nggak pengen, mas. Nih kamu mau nggak makan yang ini?" Vani menawarkan permen bekasnya pada Yudha.


Tentu saja Yudha menolaknya, banyak yang masih disegel utuh kenapa malah ditawarkan bekasnya sih?


"Aku nggak suka, Van" tolak Yudha.


Entahlah, Vani merasa sedih mendengar penolakan Yudha.


Melihat raut wajah sedih ibu hamil yang satu ini, Kenapa Yudha kadi merasa bersalah?


"Kok kamu sedih sih?" tanya Yudha.


"Nggak apa-apa. Mas Yudha jijik ya, maaf ya. Seharusnya memang kan kamu ambil yang baru, bukan ini" kata Vani yang jadi sangat sensitif.


Yudha menghela napasnya dengan berat, sungguh hatinya terlalu lembek jika sudah melihat Vani merengek seperti ini. Padahal yang Yudha tahu, Vani adalah wanita yang kuat.


"Mungkin ini yang dinamakan ngidam" dalam hati Yudha hanya bisa menghela nafasnya.


Tanpa Vani sadari, Yudha sudah mengambil lollipop milik Vani dan memasukkannya ke dalam mulut.


Vani terkejut, tapi bibirnya tersenyum senang dengan ulah Yudha.


★★★★★


"Yud, aku sudah mengirimkan email ke kamu ya. Hasil tes DNA nya sudah keluar. Kamu bisa cek di email kamu" perkataan Mela melalu sambungan telepon di pagi ini membuat Yudha melebarkan matanya.


Dia baru saja bangun tidur saat Mela meneleponnya tadi.


"Oke thank's ya Mel" Yudha segera menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu ucapan Mela selanjutnya.


Dengan gerakan cepat dan terburu-buru, Yudha membuka email melalui ponselnya.


Loading yang tidak sampai dua menit terasa sangat lama bagi Yudha yang sungguh penasaran.


Setelah membaca hasil tes DNA dalam emailnya, Yudha sungguh tak bisa menahan turunnya air mata.


"Terimakasih tuhan, dari semuanya. Hanya kali ini aku merasa jika kau benar-benar ada. Terimakasih karena dari kesalahanku kau mau menitipkan keturunan yang sangat aku impikan meski bikan melewati rahim istriku" gumam Yudha dengan air mata yang membanjiri pipinya.


Kebahagiaan di hati Yudha benar-benar membuncah. Berkali-kali dia menciumi foto Vani yang tersimpan di galeri hapenya.


"Terimakasih Van, kau sudah bersedia mengandung kedua anakku meski dengan susah payah".


"Aku janji sama kamu Van, aku nggak akan membiarkan kamu merasa kesulitan di masa kehamilanmu yang hanya kurang beberapa bulan ini" janji Yudha pada dirinya sendiri.


Mood Yudha pagi ini terisi penuh, sepagi ini dia sudah berencana untuk memberikan banyak hadian pada Vani.


Meski Vani tidak tahu bahwa dia sedang hamil anak dari Yudha, tetap Yudha akan memberi yang terbaik untuk buah hatinya.


Di rumahnya, Vani sudah selesai dengan urusan Vee dan Varo.


Wanita itu terkejut dengan kedatangan Yudha sepagi itu.


"Ngapain mas? Kepagian kamu datangnya, aku masih mau nganterin anak-anak sekolah" kaya Vani yang tidak jadi mengeluarkan sepeda motornya, karena Yudha menghalanginya.


"Aku saja yang anterin mereka, ya. Kamu santai-santai saja dirumah" kata Yudha sambil menyerahkan beberapa paper bag pada Vani.


Hadiah-hadiah untuk wanita yang mau mengandung anak kembarnya.


"Ngapain ngasih hadiah sih? Aku nggak sedang ulang tahun loh mas" kata Vani.


"Nggak apa-apa, buat ibu hamil yang paling cantik sedunia" senyum Yudha yang sangat powerfull membuat Vani sedikit oleng.


"Kamu bisa saja" kata Vani malu-malu.

__ADS_1


"Papa Yudha datang?" tanya Vee yang sudah siap dengan tangan menggandeng Varo.


"Pagi ini kalian biar papa Yudha yang antar ke sekolah ya" kata Yudha, mengambil Vee untuk menggendongnya.


Varo melepas pegangan tangan adiknya dengan wajah merengut. Pria kecil itu masih belum bisa menerima kehadiran Yudha di tengah keluarganya.


Bahkan dia masih memanggil Yudha dengan sebutan om, lain dengan Vee yang terlihat sangat menyayangi Yudha dengan tulus.


"Kamu nggak kesiangan ke kantornya kalau masih harus nganterin mereka?" tanya Vani.


"Nggak kok, sekalian mau melihat lokasi. Aku beli lahan disekitar sini, Akbar bilang ada progres yang bagus. Dia bilang mau membuka usaha di sekitar sini" kata Yudha, beruntung memang dia akan meninjau lokasi, seperti yang sudah dia katakan.


"Benar? Kamu nggak bohong?" tanya Vani. Dia hanya takut Yudha melakukan itu karena kasihan padanya.


"Enggak kok, yaudah aku anterin mereka dulu ya. Nanti kesiangan malah terlambat" kata Yudha.


"Vee sama Varo pamit dulu sama bunda, ya. Kita berangkat sekarang" kata Yudha, menurunkan Vee sementara dia sendiri berjalan menuju mobilnya.


Sepeninggal mereka, Vani ingin berbelanja pada tukang sayur yang biasa berhenti di dekat rumahnya.


Terlihat beberapa ibu-ibu yang juga ingin membeli sayuran.


"Pagi bu" sapa Vani ceria, seperti biasanya.


"Pagi juga Vani. Perut kamu sudah kelihatan besar banget, sudah berapa bulan?" tanya Bu Weni, tetangganya.


"Enam bulan bu, doain lancar ya bu" kata Vani, sambil memilih sayuran yang akan dibelinya.


"Iya, semoga lancar ya. Tapi kok besar banget sih? Ibu kira sudah delapan bulan" kata Bu Weni lagi.


"Kelihatan besar memang karena saya lagi hamil anak kembar, bu" kata Vani.


"Uwah, hebat dong kamu. Selamat ya, Van. Pasti Jovan senang banget ya" kata Bu Weni.


"Iya, bu. Adiknya Jovan juga ada yang kembar, mungkin sudah keturunan kembar kali ya bu" kata Vani tersenyum.


"Tapi yang sering datang malah pria lain, pakai mobil lagi. Jangan-jangan bapak sambungnya Vee ya? Kok saya dengar Vee sampai nyebut orang itu papa, sih?" tanya seorang tetangganya yang lain, rupanya sedang membicarakan Yudha.


"Oh, itu masih saudara sama almarhum ibu saya. Ibu dengar kan kalau Varo manggilnya om Yudha?" kata Vani, masih dengan tenang menjawabnya.


"Masak sih? Saya kok nggak pernah lihat pria itu datang ke rumah kamu waktu ibu kamu masih hidup?" lanjut orang itu bertanya.


"Mulai ini, pasti mereka sudah bergosip sejak tadi" pikir Vani, masih berusaha tersenyum.


"Iya, dulu dia ada di Jakarta. Sekarang sedang ada kerjaan di kota ini. Mungkin kalau urusan pekerjaannya sudah selesai, dia juga kembali ke Jakarta, bu. Karena memang rumahnya disana" jawab Vani.


"Oh, gitu. Saya kira bapak sambungnya Vera. Kan kamu sama Jovan lagi LDR" kata ibu itu, sudah tidak bisa dibiarkan.


"Bu, saya kira utusan ibu dirumah sudah sangat banyak. Jadi, saran saya lebih baik ibu mengurusi kehidupan ibu sendiri. Nggak usah urusi kehidupan saya. Salah atau benar, semua itu akan jadi tanggung jawab saya sama Tuhan nantinya".


"Jadi, ibu nggak usah ikut-ikutan capek mengurusi urusan saya" Vani menjawabnya dengan menohok.


Semuanya jadi terdiam, memang tadi sebelum Vani datang mereka sibuk membicarakannya karena melihat sebuah mobil mewah mengantar Vee dan Varo.


"Nih mas uangnya, saya beli ini" kata Vani sedikit tersulut emosi.


"Kembaliannya, bu" kata tukang sayurnya.


"Ambil saja mas" kata Vani meninggalkan kerumunan, semuanya jadi terdiam.


"Kurang kerjaan sekali mereka itu. Memang anoa salahnya kalau mas Yudha mau antar jemput Vee. Nggak bikin capek mereka juga" gerutu Vani yang berjalan pulang.


Dia sampai melempar kantong kresek berisi sayuran yang baru saja dibelinya. Setelah duduk dan mengatur nafasnya, matanya tak sengaja melihat paper bag yang tadi pagi Yudha berikan padanya.


"Apa ya isinya?" gumam Vani melihat isi dalam bungkusan itu.


"Uwah, bagus banget gamisnya" kata Vani dengan mata berbinar.


Yudha sengaja membelikan gamis berwarna merah maron dengan taburan batu Swarovski di atasnya.


Lengkap dengan semua aksesoris yang diperlukan, seperti bross cantik dan phasmina yang berwarna senada.


Yudha membelinya langsung dari Turki, kebetulan ada koleganya yang sedang berada disana. Dan menawarkan beberapa dagangannya pada Yudha.


Teringat pada Vani, Yudha mengiyakan saja tawaran koleganya meski harga yang harus dikeluarkan olehnya cukup mahal.


Apapun tak akan terasa mahal dan berat bagi Yudha jika berurusan dengan Vani.


Apalagi setelah mengetahui jika anak dalam kandungan Vani benar-benar anaknya, semakin dalam rasa cinta Yudha pada istri orang itu.


Apapun untukmu, Van.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2